
...Happy reading...
“Udah, nggak usah malu-malu gitu. Abang suka dengan yang Adek lakukan tadi, tapi sayangnya kita belum halal,” kekeh Bang Fauzan. “Sebaiknya hubungan kita ini memang harus secepatnya di resmikan,” lanjutnya.
Aku melangkah ingin pergi dari sana karena Om Wandy sudah menunggu ku. Kemudian aku berbalik memandang ke arah Bang Fauzan yang masih berdiri di sana.
“Bang....”
“Ada apa...?” Bang Fauzan mendekati posisiku berdiri.
“Bagaimana jika Abang mengetahui sesuatu yang buruk mengenai aku?”
Bang Fauzan mengernyit tidak mengerti. “Bicara yang jelas, Dek. Abang kurang faham yang Adek maksud.”
“Bang...aku aku....” Aku menangis sebelum bisa berucap. Bang Fauzan jadi panik saat melihat ku menangis.
“Ada apa...? Bicara saja, apa perlu kita cari tempat untuk bicara, hmm?” Sambil Bang Fauzan mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Ku jawab hanya dengan menggeleng.
“Ini sudah sore, Om Wandy sudah menunggu ku dari tadi. Nanti saja kita bicara,” kataku seraya mengusap sisa air mata di sudut mataku.
“Abang jadi bingung, apa kamu menangis karena merasa bahagia atau menangis karena merasa terpaksa untuk menikah dengan Abang.” Lagi-lagi Bang Fauzan membawaku di dalam dekapannya.
“Kenapa Abang bicara seperti itu?” Tanyaku menahan dada Bang Fauzan seraya menengadah.
“Abang takut kehilangan kamu, Dek. Sebelum ada ikatan pernikahan di antara kita Abang tidak akan merasa tenang.” Bang Fauzan menempelkan jidat kami berdua. Hembusan nafas yang begitu hangat menyapu wajahku.
Aku diam meresapi itu. Akhh...! Ada sesuatu yang salah dalam diriku. Salahkah jika aku mengharapkan perlakuan lebih darinya.
-
-
-
Aku sudah sampai di kota sekitar jam 10 malam. Aku langsung beristirahat karena besok aku harus bangun pagi.
Bukannya langsung tertidur aku malah susah tidur karena otak ku terus memikirkan bagaimana besok.
Meski masih mengantuk, aku tetap bangun saat pagi. Aku merasa lega ketika Kak Laras mengatakan bahwa keluarga Bang Fauzan akan tiba pukul 1 siang nanti. Setidaknya aku masih memiliki banyak waktu untuk bersiap-siap.
Ketika hendak masuk ke kamar mandi handphone ku berbunyi. Aku terkejut ketika melihat Bang Fauzan yang menelepon ku.
“Dek...?”
__ADS_1
“Iya, Bang...?”
“Adek lagi apa?”
“Tadi aku mau mandi, tapi Abang telepon jadi aku angkat dulu panggilannya. Abang udah nyampe?”
“Oh, iya. Abang nyampe subuh karena berangkat dari sana udah lewat tengah malam.”
“Ya sudah, mending Abang istirahat aja, dulu, Abang pasti capek,” titahku.
“Capek sih nggak, Dek. Cuma ngantuk dikit. Tapi Abang mau dengar suara kamu dulu sebelum Abang beristirahat, biar Abang tidurnya lebih nyenyak lagi,” pinta Bang Fauzan dengan suara serak khasnya.
“Kan, Abang udah dengar...aku mau mandi, Bang,” rengek ku
“Ya sudah, Adek mandi dulu, Abang mau istirahat sebentar. Love U....”
Aku pun langsung memutuskan panggilan dan meletakkan ponselku di atas meja rias. Namun ponselku kembali berdering dan Bang Fauzan lagi yang menelepon ku
“Kenapa, Bang...?” Tanyaku.
“Adek belum jawab ucapan Abang yang terakhir tadi.”
”Yang mana?” Tanyaku tidak mengerti.
Oh! Kini aku mengerti apa yang di maksud Bang Fauzan.
Aku memutar bola mataku lalu ku jawab, “love u too....”
Dasar! Kelakuan seperti ABG! Makin kesini Bang Fauzan makin aneh saja menurutku. Tapi diam-diam aku menyukai sikapnya itu.
Mobil keluarga Bang Fauzan sudah datang. Kak Agil dan Kak Laras sudah berada di luar untuk menyambut kedatangan mereka. Oma Maryam sudah sedari tadi duduk di ruang tamu bersama Om Wandy sambil mengobrol.
Setelah kabar mengenai kedatangan keluarga Bang Fauzan kemarin, Kak Laras sebetulnya juga sudah menghubungi Papa. Walau bagaimana pun Papa adalah orang tuaku yang nantinya akan menjadi wali nikahku. Sedangkan Mama, kami masih belum tau keberadaannya hingga saat ini.
Kak Laras masuk ke kamar lalu mengajak ku keluar menemui keluarga Bang Fauzan. Baru acara lamaran saja aku sudah merasa panas dingin, kepalaku pun mulai berputar-putar.
Aku hampir tidak berani mengangkat wajahku untuk menatap orang-orang yang ada di ruangan itu. Mendadak aku menjadi gadis yang terlihat sangat penurut.
Acara lamaran berjalan lancar-lancar saja meski tatapan menyelidik tak luput dari mata Tantenya Bang Fauzan yang tempo hari menanyaiku. Mungkin dia heran, hanya ada Oma, Kak Laras, Om Wandy dan Kak Agil yang mendampingiku. Tapi ia tidak bertanya samasasekali mungkin tidak enak karena waktu itu Bang Fauzan sudah memberitahukan kalau kedua orang tuaku sudah meninggal. Lebih tepatnya kedua orang tua angkatku. Bahkan Papa tidak datang di acara lamaran ku meski sebelumnya Papa sudah di beri kabar. Akhh..., aku merasa benar-benar terbuang.
Pernikahan kami telah di tentukan akan di laksanakan 3 bulan lagi. Alasannya karena kami ingin mempersiapkan pernikahan itu dengan matang. Itu sebetulnya adalah ideku, karena di tanggal itu kebetulan adalah hari ulang tahun ku juga.
Beruntung mereka setuju. Tapi tidak dengan Bang Fauzan yang terlihat kecewa dan tidak puas dengan keputusan tersebut. Jadi untuk sementara kami berdua hanya bertunangan saja dulu.
__ADS_1
Setelah keluarga Bang Fauzan berpamitan aku langsung masuk ke kamar untuk mengganti pakaian. Karena aku sudah merasa sangat gerah dengan pakaian tersebut. Di tambah lagi tadi aku sangat gugup, dan bahkan aku sangat berhati-hati dalam bernafas.
Tring...!
Nada pesan dari ponsel ku berbunyi. Aku menjatuhkan tubuhku di kasur sambil memeriksa isi pesan tersebut.
📨[Bang Fauzan] Dek, sebetulnya Abang nggak kuat jika harus nunggu tiga bulan lagi, tapi demi Adek, Abang rela harus bersabar...
Abang sudah nunggu Adek selama dua tahun, tak apa lah jika harus menunggu lagi selama tiga bulan. Setelah ini Abang nggak akan ngebiarin Adek jauh-jauh dari Abang.
Aku tersenyum membaca pesan yang hampir mirip seperti curahan hati itu. Kemudian aku mengetik untuk balasannya.
📨[Me] Salah sendiri kenapa nungguin...
Tidak lama handphone ku berbunyi, bisa di tebak siapa yang menelepon. Aku tertawa geli sebelum menyambut panggilan itu.
“Iya, Bang...?”
“Dek..., lagi ngapain?”
“Rebahan aja, Bang. Capek tadi kelamaan duduk, udah gitu aku gugup banget,” jelasku. ”Emang Abang nggak capek?” Tanyaku kembali.
“Nggak, Abang nggak capek. Abang kangen sama Adek....”
“Kan baru ketemu tadi siang, Bang....”
“Ya beda lah, Dek...Abang maunya ketemu berduaan aja sama kamu.”
“Dihh, kemarin Abang sendiri yang bilang nunggu halal dulu,” ucapku mengingatkan.
“Kan ketemu doang, Dek...kalau Adek mau lebih ya nunggu halal dulu.” Ku dengar Bang Fauzan terkekeh di seberang sana.
“Ihh...Abang udah mulai ya mulutnya nggak di kondisikan,” kesal ku.
“Bercanda, Dek...tapi kalau beneran Abang nggak yakin juga bisa nolak. Hahaha...!”
“Udah Bang..., aku matiin nih!” Ancam ku. Padahal aku sendiri pun senyum-senyum sendiri ketika mendengar candaan Bang Fauzan.
“Jangan Dek, Abang belum selesai bicara. Oiya, nanti malam Abang kembali. Kamu nggak mau ikut sekalian?”
Aku berpikir sebentar, sebetulnya aku sangat ingin ikut Bang Fauzan kembali ke tempat kerja, tapi aku berakting seolah-olah sedang berpikir dulu.
...Tbc...
__ADS_1