Luka Terdalam

Luka Terdalam
MAKANAN APA YANG KAMU SUKA?


__ADS_3

...Happy reading...


“Tapi...kita jalani saja dulu ya, Bang? Aku...--”


“Iya, Abang ngerti. Ingat, jangan terbebani dengan hubungan ini. Kita jalani saja bagaimana semestinya dan Abang akan selalu sabar untuk menunggu.”


“Terimakasih ya, Bang.” Aku benar-benar merasa lega setelah mendengar apa yang di ucapkan Bang Fauzan. Aku juga berharap dengan seiring berjalannya waktu aku bisa merelakan masa laluku dengan kehadiran Bang Fauzan di sisiku.


“Sama-sama, Dek. Abang yang harusnya berterimakasih karena sudah di berikan kesempatan.”


“Hah...?” Aku melongo ketika mendengar panggilan baruku itu dari Bang Fauzan.


“Kenapa menatap seperti itu?” Tanya Bang Fauzan yang melihat mataku yang sudah pasti membola.


“Abang tadi manggil aku...--”


“Oh, itu biar kita terasa lebih dekat lagi. Kamu nggak keberatan, kan?”


“He'em....” Aku mengangguk.


“Sekali lagi terimakasih.”Sambil Bang Fauzan meletakkan tangannya di atas kedua tanganku. Kemudian Bang Fauzan kembali menjalankan mobilnya.


Setelah sampai di desa, Bang Fauzan mengajak ku menyaksikan acara adat tahunan yang biasa di adakan di desa tersebut. Di desa ku pun dulu juga sering mengadakan acara serupa, jadi bisa di bilang aku sudah biasa melihatnya dan tidak ada yang istimewa bagiku.


Sepertinya Bang Fauzan faham dengan rasa bosanku sehingga ia mengajak ku untuk segera pergi dari sana.


Kami sampai di pasar malam yang letaknya tidak jauh dari tempat acara tadi. Aku merasa jauh lebih senang apa lagi melihat banyak pedagang cemilan di sana.


Bang Fauzan tersenyum ke arahku saat melihat wajah ceriaku ketika berada di sana. Sebaliknya aku yang menjadi pemandu jalan sementara Bang Fauzan mengikuti kemana aku berjalan untuk memilih-milih cemilan yang menurutku enak.


Usai membeli beberapa macam cemilan tersebut kami berjalan-jalan sebentar sebelum akhirnya kami kembali menuju ke mobil Bang Fauzan yang tak jauh dari tempat itu.


Aku kaget saat Bang Fauzan menggenggam sebelah tanganku.


“Bang....”


”Ada apa?” Tanya Bang Fauzan menoleh ke arahku.


“Malu banyak orang,” kataku sambil berusaha melepaskan tangan kami.


Bang Fauzan akhirnya melepaskan tautan tangan kami tapi malah berganti merangkul pundak ku.


“Bang, kok malah gandengan lagi? Kan aku malu di liatin orang....”


“Malu kenapa...?”


“Ya malu aja, Bang. Di sini banyak orang. Emang Abang nggak malu apa?”


“Buat apa malu? Kita cuma bergandengan saja, itu hal biasa untuk pasangan seperti kita, kan?”

__ADS_1


Dulu bersama Kak Ardi aku bahkan tidak pernah memikirkan orang sekitarku di saat aku berduaan dengannya. Kami bercanda dan tertawa tanpa beban samasekali.


“Tau, ah....” Aku berjalan mendahului Bang Fauzan.


”Dek...,kalau kamu masih seperti ini, bagaimana kita bisa dekat layaknya pasangan-pasangan yang lain? Bukannya Adek bilang ingin memberikan kesempatan pada Abang?”


Benar apa yang di katakan Bang Fauzan. Aku hampir lupa bahwa sebelumnya aku telah memberikan kesempatan untuknya.


Tapi kan aku hanya memberikan kesempatan untuk bisa memasuki hatiku. Tidak harus bergandengan sepanjang jalan. Batinku.


Aku masuk ke mobil dan mencoba cemilan yang tadi aku beli.


”Wekk...!” Aku mengeluarkan kembali cemilan itu dari mulutku lalu membuangnya melalui jendela mobil yang ku buka.


“Kenapa, Dek? Ada apa dengan makanannya?” Tanya Bang Fauzan yang juga sudah berada di dalam mobil.


“Nih, Abang cobain sendiri.” Sambil memberikan cemilan yang ku beli tadi. “Tampilannya doang menggoda, rasanya nggak enak samasekali,” tambahku.


“Ya sudah, jangan di makan,” ucap Bang Fauzan mengambil menyambut cemilan tadi dan meletakkannya di kursi belakang.


“Bang, nggak ada air apa di sini?” Tanyaku sambil mataku mencari-cari botol air minum. Karena biasanya kalau di mobil Om Wandy selalu sedia air mineral.


“Tunggu sebentar, Abang beli dulu, ya?” Ucap Bang Fauzan ingin membuka pintu mobil.


“Bang, sekalian beliin cemilan lagi, ya...? Yang di samping penjual cemilan yang aku beli tadi sepertinya enak deh, Bang,” pintaku.


“Udah, itu aja. Jangan lupa beli airnya, Bang.”


“Ok, siap.”


“Jangan lama-lama, Bang...!” Pesanku.


Setelah menunggu beberapa saat di dalam mobil, Bang Fauzan datang membawakan air dan cemilan yang tadi ku minta.


“Terimakasih, Bang...,” ucapku seraya membuka botol air mineral dan meminumnya. Kemudian aku mencoba cemilannya.


“Bagaimana?” Tanya Bang Fauzan ketika aku mulai mengunyah cemilan itu.


“Hm, mendingan lah dari yang sebelumnya, meski nggak bisa di bilang enak,” jawabku.


“Selera mu tinggi juga, ya,” kekeh Bang Fauzan.


“Aku emang nggak pandai memasak, tapi bukan berarti aku nggak bisa membedakan mana makanan enak dan mana makanan yang biasa-biasa aja,” sahutku seraya meletakkan cemilan tadi di dashboard.


“Makanan yang Adek suka apa?” Tanya Bang Fauzan.


“Hmm...banyak.”


“Sebutkan beberapa, yang paling Adek suka saja.”

__ADS_1


Bukan hanya beberapa, aku hampir menyebutkan seluruh makanan yang aku suka dan juga memberitahukan makanan yang tidak aku suka.


“Dan...--”


“Hmm...?” Gumam Bang Fauzan sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.


“Aku nggak bisa dekat-dekat dengan orang yang merokok. Aku ada masalah pernafasan,” lanjutku.


“Oh, maaf.” Bang Fauzan sontak membuka kaca jendela mobil dan membuang rokok yang tadi baru di hisapnya. Aku pun juga membuka kaca jendela mobil sambil mengibas-ngibaskan tanganku untuk mengurangi sisa asap dari rokok Bang Fauzan tadi.


“Maaf, untung tadi Adek kasi tau Abang. Lain kali Abang nggak akan ngerokok di dekat Adek, atau mungkin Abang akan berusaha berhenti nanti.”


“Nggak perlu seperti itu, Bang. Kalau aku nggak ada di dekat Abang, ngerokok aja,” jelasku.


“Tapi kan Abang maunya selalu di dekat Adek,” sambil nyengir.


“Ck! Kalau Abang selalu di dekat aku, Abang kerjanya gimana?”


“Kalau kerja, ya kerja. Tapi kan Abang maunya kalau pulang kerja ada Adek yang nunggu di rumah. Hehe....”


“Aihh...,Bang. Aku nggak suka, ah ngomongin yang begitu. Bisa-bisa aku ilfil, nih!”


“Iya iya...maaf. Kita pulang, ya?”


“Hm'em...,” angguk ku karena aku pun sudah mengantuk.


-


-


-


Sudah enam bulan ini aku mencoba dekat dengan Bang Fauzan. Jujur, aku merasa nyaman walau belum bisa mengartikan rasa nyaman itu sendiri. Bulan depan dia mengajak ku untuk menemui keluarganya, dengan maksud ingin memperkenalkan ku sebagai teman dekatnya.


Sebenarnya aku belum siap, tapi Kak Laras terus menyemangatiku agar aku mau membuka diri dan bisa lebih dekat dengan keluarga Bang Fauzan. Selama ini Kak Laras juga selalu memberikan contoh bagaimana membina rumah tangga yang baik dan rukun. Dengan melihat keharmonisan rumah tangga Kak Laras dan Kak Agil, sedikit banyaknya mengubah jalan pikiranku bahwa tidak semua kehidupan pernikahan itu akan berakhir dengan perceraian.


...**Tbc...


-


-


-


Jangan lupa like, komen dan klik ❤


Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis🤗


Thanks all...😍**

__ADS_1


__ADS_2