Luka Terdalam

Luka Terdalam
HARI PERTAMA SEKOLAH


__ADS_3

Hari kelulusan pun tiba, teman-temanku yang lain sibuk membicarakan sekolah yang akan jadi pilihan mereka kelak.


Aku duduk di bawah pohon tempat biasa aku dan temanku berkumpul di jam istirahat. Jika kami sedang tidak ingin pergi ke kantin, maka di sanalah kami berteduh dan membicarakan banyak hal.


"Nggak ngumpul sama yang lain?"


Aku melihat ke arah sumber suara tersebut. Ternyata Pak Adji yang menghampiriku dan ia ikut duduk di sebelahku. Seperti biasa, jantungku selalu tidak normal saat berada di dekat Pak Adji.


"Kalau boleh tau, Anita mau melanjutkan kemana?" Tanya Pak Adji.


Ku jawab saja sekolah seperti yang Ayah tetapkan untukku waktu itu tanpa ku jelaskan alasannya. Pak Adji hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Apa pun dan dimana pun sekolahnya, tetap diri kita yang akan menentukan seperti apa hasilnya kelak. Yang penting jangan patah semangat untuk selalu berusaha dan bersungguh-sungguh dalam belajar," ucap Pak Adji sebelum ia pergi.


Aku pikir itu hanyalah sekedar ucapan untuk memberiku hiburan. Aku pun beranjak dan pergi meninggalkan tempat dengan banyak kenangan tersebut.


-


-


-


Aku berbaring sambil menatapi seragam Sekolah ku yang akan ku pakai besok. Rok panjang serta kerudung yang sudah di persiapkan oleh Bunda. Ahh..., ku tutupi wajahku dengan bantal tak sanggup ku bayangkan bagaimana besok aku mengenakannya.


Pagi yang begitu cepat datang. Aku sudah selesai mandi dan ku kenakan seragam sekolahku lalu aku berdiri di depan cermin. Tidak lama Bunda masuk lalu mengambil kerudung yang masih aku letakkan di atas kasur.


"Sini Bunda bantu," ucap Bunda seraya memasangkan kerudung untukku. "Wahh..., Anita terlihat lebih cantik seperti ini," ucap Bunda tersenyum.


Aku masih cemberut dan menatap malas ke cermin. "Biasa aja," ucapku dalam hati.


Setelah sarapan Bunda mengantarku hingga di depan pintu. Ku lihat di depan sudah ada Om Wandy yang akan mengantarku ke sekolah. Karena tempat kerja Om Wandy masih satu arah dengan sekolahku, maka Om Wandy yang akan mengantarku setiap hari.


Sebetulnya aku juga masih kesal dengan Om Wandy yang telah melaporkanku pada Ayah dan Bunda hingga aku harus seperti ini.


"Wahh..., Om pangling loh hampir nggak mengenali Anita, kirain gadis dari mana tadi," ucap Om Wandy saat aku sudah duduk dalam mobilnya.


Aku tau Om Wandy hanya mengusili ku saja dengan berpura-pura tidak mengenaliku. Padahal sudah jelas ia tadi datang untuk menjemputku.


"Huhh, basi. Buruan jalan," ucapku dengan nada kesal.


" Iya tuan putri...." Lalu Om Wandy menjalankan mobilnya.


Sepanjang jalan aku hanya diam saja dan akhirnya Om Wandy pun bersuara.

__ADS_1


"Mulai dari sekarang berteman lah sewajarnya saja, pilih lah teman yang membawa pada kebaikan, dan jangan berteman dengan anak laki-laki."


"Hmm...." Ku jawab dengan bergumam saja.


Karena sekolah ku memasuki gang jadi Om Wandy menurunkan ku di depan gang saja. Lagian jarak sekolah sudah tidak terlalu jauh jadi aku berjalan kaki untuk sampai ke sekolah ku.


"Hati-hati jalan nya dan jangan terlalu buru-buru...," pesan Om Wandy saat aku mulai memasuki gang. Ya, tentu saja itu ledekan, tapi hanya aku yang memahaminya. Sebagian dari keluarga besarku sebetulnya sangat supel dan humoris,hanya saja mereka takut pada Oma Siti yang orangnya terkesan sangat serius. Tapi selain Oma Nur dan Oma Siti, ada Oma Maryam yang sangat baik padaku. Oma maryam adalah adik dari Oma Siti, meski mereka bersaudara tapi sikap Oma Maryam sangat baik.


Aku tidak mengindahkan ucapan Om Wandy dan terus berjalan sambil mengangkat sedikit rok ku agar aku bisa lebih leluasa melangkah. Saat melewati jalan itu ternyata aku berpapasan dengan beberapa temanku waktu SMP. Mereka adalah teman nongkrongku saat bermain gitar di perempatan.


"Eh Anita?" Mereka bergantian memanggil namaku. Bahkan ada yang sampai mendekatiku karena masih merasa kurang yakin kalau itu aku.


Jadilah aku bahan ledekan mereka pagi itu. Beramai-ramai mereka menyanyikan lagu untukku.


🎵🎶Jilbab, jilbab putih...


lambang kesucian...🎶🎵


Aku hanya bisa membiarkan mereka meledek ku karena rok dan kerudungku sungguh membatasi gerakku, ku lanjutkan saja perjalananku hingga tiba di Sekolah.


Aku mencoba berbaur dengan murid yang lain. Ternyata mereka semua sangat ramah dan peduli. Di hari pertama aku sudah berteman dengan mereka semua.


Pukul 08.00 kami di suruh berkumpul di lapangan untuk mendengarkan pengarahan dari salah satu Kakak OSIS.


Karena ini hari pertama jadi belum ada penentuan jadwal pelajaran. Bisa di bilang ini hari perkenalan untuk murid-murid baru. Dan dua hari selanjutnya kita akan mendapatkan tantangan dari Kakak-kakak OSIS.


Pulangnya aku naik ojek karena Om Wandy hanya bertugas mengantarku saat pagi saja.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam," jawab Bunda dari dalam.


Ku salami Bunda dan ku cium punggung tangannya. Lalu ku buka kerudungku begitu sudah sampai di kamar. Ku jatuhkan tubuhku di kasur untuk menghilangkan sejenak rasa lelahku.


"An...,ayo makan dulu sana, nanti kamu sakit lagi."


Ku lihat Bunda sudah berdiri di depan pintu kamarku yang memang sedang terbuka.


"Anita masih capek," jawabku.


"Gimana Sekolah nya?" Tanya Bunda seraya menghampiriku dan duduk di dekatku yang masih berbaring.


"Ya gitu lah Bun...."

__ADS_1


"Apa Anita udah dapat teman?"


"Udah...."


"Baguslah kalau begitu. Oiya, lusa Bunda akan kembali. Jadi Anita harus belajar memakai kerudung sendiri."


Ahh..., cobaan apa lagi ini,,


-


-


-


Pagi ini aku belajar mengenakan kerudung sendiri. Aku sengaja bangun lebih awal agar punya banyak waktu untuk memasang kerudung. Setelah cukup berusaha akhirnya aku bisa.


Setelah sarapan aku pergi ke teras dan ku lihat Om Wandy sudah ada di depan rumah dengan mobilnya. Ku ambil sepatuku setelah ku kenakan ku salami Bunda yang yang mengantarku ke teras seperti biasanya.


"Selamat pagi gadis manis...," Om Wandy menyapaku ketika aku masuk ke dalam mobil. Aku masih marah pada Om Wandy jadi aku diam saja. Aku jarang sekali marah, tapi ketika aku marah aku akan betah berlama-lama untuk tidak berbaikan.


Aku turun di depan gang yang kemarin dan melanjutkan ke sekolah dengan berjalan kaki. Tapi na'asnya aku berpapasan lagi dengan beberapa temanku yang mengejekku kemarin.


"Assalamu'alaikum Bu Ustadzah...," ucap salah satu temanku itu.


Tidak ku pedulikan ucapan salamnya karena menurutku itu hanya ledekan saja.


"Gak jawab salam dosaa...!" Teriaknya seraya tertawa berbarengan.


Ahh, ku jawab saja di dalam hati. "Wa'alaikumsalam."


Tidak lama terdengar lah lantunan lagu seperti yang mereka nyanyikan kemarin


🎵🎶Jilbab, jilbab putih...


lambang kesucian...🎶🎵


Sungguh ini benar-benar cobaan yang berat bagiku. Ku balikan badanku menatap ke arah mereka yang mengejekku lalu aku melirik pada batu-batu yang ada di sisi jalan. Namun aku teringat pada nasehat Ayah.


Ayah akan mengabulkan keinginanmu jika kamu sudah menjadi pribadi yang lebih baik lagi


"Sabar, sabar, sabar...."


Lalu ku lanjutkan lagi perjalananku hingga sampai ke sekolah dan aku langsung menuju kelasku.

__ADS_1


__ADS_2