Luka Terdalam

Luka Terdalam
BERAKHIR SEPERTI INI


__ADS_3

...Happy reading 😌...


Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan meletakkan gitar itu di samping ku. Ku ambil ponsel ku dan mulai membaca pesan dari Kak Ardi. Aku mulai membaca dari pesan yang pertama ia kirim. Di lihat dari tanggalnya itu adalah hari di mana aku sedang marah padanya karena ia tidak mengangkat panggilan ku waktu itu.


πŸ“¨[Kak Ardi] Maaf, ada banyak tugas kuliah. Aku kelelahan dan tertidur, jadi tidak bisa mengangkat telepon darimu.


πŸ“¨ [Kak Ardi] Harapan ku ingin secepatnya bisa menyelesaikan kuliah dan menjemput mu,, dan aku ingin kamu selalu berada di samping ku kelak.


Aku tersenyum ketika membaca bagian ini. Kemudian aku membaca pesan berikutnya.


πŸ“¨[Kak Ardi] Jika kamu sudah berada di kota, tolong hubungi aku secepatnya.


πŸ“¨[Kak Ardi] Hai, jutek ku...


Masih ngambek?


πŸ“¨[Kak Ardi] Aku kangen kamu, tolong hubungi aku secepatnya atau aku bisa gila.


Beberapa pesan berikutnya pun, sama. Sebuah ungkapan kerinduan dan kata-kata manis.


πŸ“¨[Kak Ardi] An, hari ini aku benar-benar merindukan kamu.


πŸ“¨[Kak Ardi] Untuk pertama kalinya aku merasa takut. Tidak pernah setakut ini.


πŸ“¨[Kak Ardi] Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi nanti saja setelah kita bertemu.


Setelah pesan itu cukup lama baru ada pesan selanjutnya. Aku terus memeriksa tanggal dari pesan yang terkirim. Hingga kemudian ada pesan yang cukup panjang dan membuat ku sangat penasaran.


πŸ“¨[Kak Ardi] Anita, aku dengar kamu telah membeli rumah kontrakan mu yang dulu. Selamat ya.Gadisku yang mandiri, aku mencintaimu. Ada gitar yang aku titipkan pada tetangga mu. Sudah lama aku membelinya untukmu, tapi aku lupa karena terburu-buru waktu itu. Aku mendatangi rumah Om Wandy untuk mengantarkan ku ke tempat kerjamu. Tapi ternyata dia sedang ada pekerjaan di luar kota. Hehe, aku terlalu merindukanmu...


πŸ“¨[Kak Ardi] Anita, aku tidak tau harus bagaimana menjelaskan nya. Aku juga tidak tau kalau akhirnya akan menjadi seperti ini. Ternyata selama ini Papaku telah mengangkat seorang gadis yatim piatu sebagai anak dari panti asuhan. Dan aku telah DI JODOH KAN DENGAN GADIS ITU. Papa ingin kami segera menikah. Aku bisa saja menolaknya, tapi aku juga baru tau kalau Papa ternyata mengidap kanker dan beliau ingin aku mengabulkan keinginan terakhirnya untuk menikahi saudari angkat ku itu. Jika kamu bertanya apa aku masih mencintaimu?


Tentu saja iya. Bahkan cintaku amat sangat besar padamu.


Dari posisi berbaring aku langsung mendudukkan tubuhku. Aku masih tidak percaya hingga kembali membaca pesan itu berulang-ulang.


Aku langsung menghubungi nomernya saja untuk menanyakan langsung.


Berulang kali aku menghubungi nomer Kak Ardi tapi selalu saja mesin operator yang menjawabnya. Ku putuskan untuk menghubunginya nanti malam saja mungkin dia sedang sibuk.


Dari semenjak aku membaca pesan terakhir itu, pikiran ku samasekali tidak tenang. Bahkan aku mengabaikan perut kosong ku hingga malam tiba.


Aku kembali menghubungi Kak Ardi dengan jantung berdebar-debar. Ternyata nomernya aktif namun belum ada jawaban. Aku kembali menekan tombol hijau untuk mengulang panggilan ku. Hingga akhirnya ada yang menjawabnya.

__ADS_1


"Halo?"


Aku terdiam ketika mendengar suara seorang wanita yang menjawab panggilan ku.


"Halo?" Terdengar lagi suara wanita itu.


"Maaf, sepertinya saya salah sambung," kataku lalu mengakhiri panggilan tersebut. Seiring dengan air mata yang mengalir membasahi setiap sudut mataku.


Beginikah rasanya patah hati?


Ini sangat menyakitkan!


Tok tok tok!


"Anita...!?"


Aku tersadar ketika mendengar suara ketukan yang begitu keras dari arah pintu kamar ku.


Aku tau itu suara Kak Ina. Aku buru-buru menghapus jejak air mataku lalu membuka pintu kamar ku.


"Lagi-lagi kamu ceroboh. Udah jam segini kenapa pintu sama jendela nggak di tutup?" Belum sempat aku berbicara, Kak Ina sudah mengomeli ku lebih dulu.


"Oh, e iya, Kak." Aku langsung pergi untuk menutup semua jendela.


"Hm, e nggak, Kak."


"Apa kamu habis nangis?" Kak Ina memegang kedua bahuku untuk menghadap ke arahnya. "Ada apa?"


Tak sanggup rasanya aku menceritakan kejadian yang baru aku alami. Aku langsung memeluk Kak Ina dan menumpahkan kesedihan di sana. Aku tidak tau pada siapa lagi untuk mengadu. Ayah dan Bunda sudah tiada, Kak Laras berada di kota yang berbeda dengan ku. Hanya Kak Ina saja yang dekat dengan ku saat ini.


Kak Ina mengusap lembut pundak ku. kemudian mengajak ku duduk di sofa ruang tamu.


"Kalau kamu seperti ini, mana Kakak tau apa masalah mu," bujuk Kak Ina agar aku berhenti menangis.


Tiba-tiba aku merasa sangat pusing. Penglihatan ku pun jadi gelap. "Kak..., aku...." Aku ingin bilang kalau kepala ku terasa pusing tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Ketika aku membuka mata ku, aku sudah berada di Rumah Sakit.


Aku mengedarkan pandangan ku di ruang rawat yang aku tempati. Di punggung tanganku terpasang jarum dan selang yang menghubungkan ke botol infus. Masih sadar dengan baik bahwa aku berada di Rumah Sakit saat ini pasti karena kemarin aku lupa makan.


Aku kembali teringat pada Kak Ardi. Suara wanita yang mengangkat panggilan ku kemarin masih terngiang di telinga ku. Aku kembali menangis di ruangan itu.


Aku berhenti sebentar ketika melihat seorang wanita yang membuka pintu ruangan ku. Aku tidak percaya ternyata itu adalah Kak Laras.


"Kak...."

__ADS_1


Kak Laras tersenyum lembut dan mendekati ku.


"Heh, gadis mandiri, bagaimana keadaan mu?"


Bukan nya menjawab, aku langsung mendudukkan tubuh ku dan memeluk Kak Laras yang berdiri di samping ranjang tempat ku berbaring.


"Hiks hiks hiks...."


Kak Laras membalas pelukan ku seraya mengusap lembut rambut ku.


"Sudah lah, mungkin kalian memang tidak berjodoh."


Aku mendongak pada Kak Laras. "Kakak sudah tau?"


"Hm'em. Sebelum acara pernikahannya dia sempat datang ke rumah untuk meminta maaf."


Aku kembali menangis dan sangat sakit rasanya jika mengingat orang yang ku cintai selama beberapa tahun itu kini telah menjadi suami dari wanita lain. Andai bisa ku buang saja rasa cinta ini.


Setelah satu malam aku di rawat di Rumah Sakit, siang nya aku sudah bisa pulang.


Fisik ku mungkin sudah pulih, tapi tidak dengan hati ku. Sudah beberapa hari ini aku hanya berdiam diri di kamar ku. Sudah beberapa hari ini juga Kak Laras berjuang untuk membujuk ku setiap jam makan tiba. Sebetulnya aku tidak merasa lapar samasekali, tapi aku merasa kasihan pada Kak Laras yang sudah repot-repot memasak untuk ku. Di tambah lagi ia sambil mengurus putranya yang sedang aktif-aktifnya itu.


"Anita, Kakak nggak bisa lama-lama di disini. Minggu depan Kakak akan kembali. Kamu jaga diri kamu baik-baik. Jangan di ingat lagi."


Aku hanya diam saja sambil menatap ke luar jendela di kamar ku. Mana mungkin aku tidak mengingatnya. Kenangan ku bersama Kak Ardi sudah terukir dan sangat membekas.


Aku kembali mengingat awal pertemuan kami. Bagaimana kami berdua akhirnya menjadi sepasang kekasih dan menjalani hubungan hingga beberapa tahun lamanya. Bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah melupakannya.


-


-


-


...**Tbc...


Jangan lupa like komen dan klik ❀


apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulisπŸ€—


Syukur2 jika ada yg berkenan membaca, karena sebagai penulis saya tidak berhak untuk memaksakan orang2 membaca tulisan saya πŸ˜…πŸ˜…


Thanks all...😘😘**

__ADS_1


__ADS_2