
...Happy reading...
Kami pun berjalan sambil aku berpegangan di lengan Bang Fauzan karena udara dingin mulai terasa ketika kami sudah sampai di ujung jembatan itu.
“Sini....” Bang Fauzan menarikku ke sisinya agar lebih dekat lagi. ”Kenapa, dingin, ya?”
“He'em.”
“Apa sebaiknya kita kembali saja?”
Aku pun menggeleng, “tunggu sebentar,” ucapku seraya merapatkan tubuhku ke Bang Fauzan.
Udara memang terasa cukup dingin, tapi suasana di tempat itu benar-benar indah dan teramat syahdu. Aku masih ingin berada di sana walau tubuhku terasa mau menggigil.
Bang Fauzan membalas mendekapku, aku pun tanpa ragu menyembunyikan wajahku di dadanya. Hangat dan nyaman ku rasakan saat berada di sana.
“Dek...,” lirih Bang Fauzan.
“Hmm?” Aku pun mengangkat wajahku.
Kami saling menatap di remangnya malam yang hanya di sinari cahaya lampu warna warni. Rembulan pun tampak bersembunyi di balik awan.
Perlahan Bang Fauzan membelai wajahku lalu menurunkan wajahnya, dan bibir itu singgah di bibirku. Entah aku yang memang menginginkannya, tapi naluriku menggerakkan agar aku membuka bibirku seakan memberi peluang untuk Bang Fauzan bisa menerobos kesana. Merasa dapat ijin Bang Fauzan pun melanjutkan dengan me*um*t bibirku dengan lembut. Beberapa detik ciuman itu berlanjut, lalu tiba-tiba Bang Fauzan mengakhirinya seraya melonggarkan jarak kami berdua.
“Ayo, kita pulang ini sudah larut,” ajaknya bahkan ia lebih dulu berjalan meninggalkan ku yang masih berdiri kebingungan.
Ada apa ini? Kenapa Bang Fauzan terlihat seperti sedang marah? Apa karena aku terlalu agresif sehingga ia tidak suka? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Aku melangkah pelan mengikutinya dari belakang, bahkan jarak kami sudah sangat jauh. Aku masih kebingungan dengan sikapnya.
“Dek..., buruan,” panggilnya seraya menoleh ke arahku dan dia pun berhenti menungguku di sana.
Entah kenapa sikapnya sangat menyakiti hatiku sehingga aku merasa ingin menangis. Sebelumnya aku wanita yang kuat, tapi ketika ada orang yang memanjakanku dan menyayangiku kini aku seperti kehilangan kekuatan itu.
Aku bahkan menghentikan langkahku berdiri diam tanpa menghiraukan Bang Fauzan yang menungguku di sana. Karena terlalu lama menunggu akhirnya Bang Fauzan kembali berjalan ke arah ku.
“Dek...ada apa?” Tanyanya ketika sudah berada di dekatku.
“Abang yang kenapa...? Hiks hiks...,”aku pun akhirnya benar-benar menangis di hadapannya.
“Kenapa, Dek?” Bang Fauzan memegangi kedua bahuku sambil bertanya kabingungan. Aku masih menangis tanpa bisa menjawab dan menjelaskan semuanya.
“Ayo, kita masuk ke mobil. Nggak enak jika ada yang liat.” Bang Fauzan berusaha membujuk ku.
“Aku nggak mau!” Tolak ku masih sesegukan.
“Kenapa, Dek...? Ada apa, kenapa jadi nangis seperti ini?”
__ADS_1
“Kenapa Abang tiba-tiba ninggalin aku di sana? Pasti Abang mikir aku cewek agresif, kan? Hiks hiks....”
“Apa...!?” Bu bukan...Dek. Abang nggak berpikir seperti itu, Abang juga nggak ada maksud buat ninggalin kamu. Abang minta maaf,ya?”
“Bohong...!” Ucapku masih terisak.
“Bener, Dek....” Bang Fauzan meraih tubuhku ke dalam dekapannya sambil mengusap punggungku.
“Abang pasti marah, kan tadi?” Kataku seraya menghapus sisa air mataku yang menggenang di pipi.
“Dengerin.” Bang Fauzan merangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Abang samasekali nggak marah, dan Abang nggak pernah berpikir buruk tentang kamu. Tapi..., Abang hanya tidak ingin melewati batasan sebelum ada ikatan pernikahan di antara kita. Jangan sampai kita khilaf, Abang ini lelaki normal, Dek....”
“Emang ada ya lelaki nggak normal!?” Aku memukul dada Bang Fauzan meski tubuh itu tidak tergoyahkan sedikit pun.
“Bawel juga ternyata, ya.” Bang Fauzan malah mencubit hidungku. “Ayo, Abang nggak mau kalau nanti kamu sakit lama-lama di sini.” Akhirnya kami kembali menuju ke mobil untuk melanjutkan perjalanan kami.
Selama di perjalanan aku benar-benar terjaga meski sebetulnya aku sedang berusaha untuk memejamkan mataku dari tadi. Sikap Bang Fauzan yang tiba-tiba meninggalkan ku tadi masih melekat di pikiran meski ia sudah meminta maaf.
Aku membuka pintu mobil ketika sudah sampai di depan perumahan yang ku tempati.
“Tunggu dulu.” Bang Fauzan menghentikanku dengan menahan lenganku.
“Ada apa?” Aku pun langsung menoleh padanya.
Bang Fauzan menarik ku ingin memberikan kecupan di kening ku. Buru-buru aku mendorong tubuhnya, “udah...entar khilaf,” sinisku. Kemudian aku langsung membuka pintu mobil dan menuju ke rumah ku.
Bang Fauzan turun dari mobil dan mengikuti hingga ke depan pintu.
“Kan emang benar, Abang sendiri yang bilang!?” Jawabku seraya mencari kunci di dalam tas ku.
“Tapi Dek..., Abang nggak akan tenang kalau kamu masih cemberut gini.”
“Mending Abang pulang, nggak enak kalau ada security liat kita di sini.”
“Dek....”
“Aku ngantuk, Bang...aku mau istirahat. Besok Abang juga harus bangun pagi, kan?”
“Tapi jangan marah lagi, ya...?”
“Siapa yang marah, Bang...aku cuma ngingetin kata-kata Abang aja.” Jauh di dasar hatiku aku masih merasa kecewa karena Bang Fauzan seperti sedang menolak ku walau tadi ia sudah menjelaskan alasannya.
“Adek emang bilang nggak marah, tapi Abang ngerasa kalau Adek masih marah. Abang nggak akan pergi dari sini kalau Adek nggak benar-benar maafin Abang.”
“Jangan seperti anak kecil, Bang...!”
“Kita sama-sama seperti anak kecil.” Sahut Bang Fauzan.
__ADS_1
“Nggak, Abang doang yang seperti anak kecil,” balasku membela diri.
“Ya sudah, kasihani lah anak kecil ini dan maafkan lah segala kesalahannya.” Bang Fauzan meraih kedua tanganku seraya memohon dengan kedua lutut yang bertumpu di lantai.
Aku tak dapat menahan tawaku ketika mendengar kata-kata Bang Fauzan tersebut. Padahal jelas-jelas aku lah yang terlihat kekanakan tapi dengan mudahnya ia mengakui semua itu menjadi kesalahannya.
“Jangan begitu,Bang...nggak enak kalau ada yang liat,” kataku seraya menyuruh Bang Fauzan untuk berdiri.
“Tapi udah nggak marah lagi, kan?”
“Ehm, nggak,” jawabku seraya menggeleng.
Kami saling memandang dan tertawa. Lalu Bang Fauzan semakin mendekat dan mengecup keningku, tapi kali ini aku tidak menolaknya.
“Hm, boleh?” Tanya Bang Fauzan yang berhenti di depan wajahku.
Aku tidak menjawab, tapi aku melingkarkan kedua lenganku di lehernya dan mendahului maksud Bang Fauzan. Aku tidak peduli jika Bang Fauzan terkejut dengan sikap ku tersebut, tapi aku yakin dia tidak akan berani marah. Ku akhiri dengan memberikan gigitan kecil yang membuat ia terkejut dan meringis.
“Dek, kamu....”
“Itu hukuman karena Abng udah buat aku kesal,” ucapku.
“Kenapa pernikahan kita nggak di percepat aja, biar resepsinya nyusul belakangan,” ucap Bang Fauzan dengan wajah kecewa. Aku merasa lucu saat melihatnya.
“Bang...,aku pilih tanggal dan bulan itu karena aku sekalian ingin merayakan ultahku.”
Bang Fauzan menatapku lalu tersenyum. “Apa pun,” seraya mengusap pucuk kepalaku.
“Ya udah, Abang pulang dan istirahat dulu,” titahku.
“Ok, kamu juga langsung istirahat ya,” pesan Bang Fauzan lalu melangkah pergi.
“Bang...!” Panggil ku. Dan Bang Fauzan pun berbalik. ”Hati-hati.”
Bang Fauzan pun mengangguk sambil tersenyum.
Aku masuk ke dalam setelah mobil Bang Fauzan meninggalkan area perumahan.
...Tbc...
-
-
-
**Jangan lupa untuk memberikan like, komen dan klik ❤
__ADS_1
Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis.
Thanks all...😍**