Luka Terdalam

Luka Terdalam
SEDIH DAN BAHAGIA


__ADS_3

Sepanjang malam aku hampir tidak dapat tidur. Otak ku terus memikirkan bagaimana cara agar aku bisa memiliki rumah yang pernah aku tempati selama kurang lebih enam tahun tersebut.


Tiada hari di mana aku tidak memikirkan rumah itu. Aku mulai berhenti memikirkan nya ketika sudah memasuki bulan ketiga. Mungkin rumah itu sudah terjual dan aku harus berusaha ikhlas.


Pagi itu sebelum aku pergi ke kantor, aku kedatangan dua orang tamu dan salah satunya adalah Bang Fauzan.


"Ada apa, Bang?" Tanya ku sedikit keheranan karena ku lihat dari wajah mereka ada kepanikan.


"Ada yang ingin di sampaikan paman ini sama kamu," kata Bang Fauzan sambil mengisyaratkan orang yang bersamanya tadi untuk berbicara.


"Begini, apa Nak Anita ini cucunya Bu Siti?"


"Apa maksud Paman Oma Siti, Ibu dari Bu Diana?" Tanya ku ingin memastikan.


"Iya, benar sekali."


"Oh, iya. Aku cucunya." Meski sebenarnya aku merasa sakit untuk mengaku sebagai cucu beliau. "Ada apa, ya?" Tanya ku kemudian.


"Begini, bisa Nak Anita ikut kita ke desa? Karena di sini saya hanya di tugaskan untuk menjemput saja, selebihnya saya juga kurang tahu," ucap Paman itu.


"Sekarang?" Tanyaku panik.


"Iya, Nak."


"Tunggu sebentar, saya harus ijin dulu," kataku sambil masuk ke dalam lalu mengambil tasku.


Meski jarak kantor terbilang dekat, aku tetap meminta bantuan pada Bang Fauzan untuk mengantar ku ke sana. Setelah mendapatkan ijin aku langsung berangkat ke desa dengan mobil Bang Fauzan dan Paman yang tadi menyampaikan pesan Oma.


Tiba di sana ku lihat Oma Siti sedang terbaring lemah tak berdaya. Aku mendekatinya mencoba berbicara.


"Oma..., ini Anita." Aku berbicara pelan di dekat Oma. Ku pikir Oma tidak akan mendengar ku, ternyata Oma langsung bereaksi. Perlahan Oma menoleh ke arahku.

__ADS_1


"Cucu ku...."


"Iya, Oma." Aku lebih mendekat lagi pada Oma.


"Peluk Oma." Aku pun langsung memeluk Oma, tak terasa air mataku bercucuran. Aku sedih bercampur bahagia. Sedih melihat keadaan Oma, tapi bahagia karena akhirnya Oma mengakui ku sebagai cucunya.


"Maafin Oma, ya...?" Kata Oma dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Aku tidak sanggup lagi berkata-kata. Aku hanya mengangguk saja dengan air mata yang masih bercucuran.


Aku melepaskan dekapan ku saat tidak ada lagi ku rasakan respon dari Oma. Persis ketika aku kehilangan Ayah waktu itu, sepertinya Oma juga telah pergi.


"Omaa...?" Aku tetap berusaha membangun Oma.


"Oma mu sudah tidak ada, Nak." Aku tidak tau siapa yang berbicara saat itu, karena ada banyak orang yang berkumpul di belakang ku. Baru aku merasakan kebahagiaan itu, dan Oma sudah tiada.


Aku memperpanjang masa ijinku sampai tiga hari setelah pemakaman Oma. Mama tidak datang dan mungkin juga dia tidak tau kalau Oma sudah tiada.


Meski keluarga ku yang lain tampak menerima ku, tapi aku bisa merasakan kalau kebaikan mereka sangat di paksakan. Tapi ku abaikan saja dalam tiga hari ini untuk bersabar.


Meski aku belum sempat memberikan apa-apa pada mereka, setidaknya aku bisa menghadiahi orang-orang yang ku sayangi dengan do'a.


Setelah dari makam aku pamit pada keluarga ku untuk kembali ke tempatku bekerja. Bang Fauzan lagi-lagi jadi supir ku untuk mengantarku kembali.


"Bang, kenapa berhenti di sini?" Tanyaku ketika Bang Fauzan berhenti di depan sebuah rumah yang aku tahu itu adalah rumah kepala dusun di desa itu.


"Ikut saja, nanti juga kamu bakal tau," kata Bang Fauzan dan aku pun menurut saja.


Setelah mengucapkan salam dan mengetuk pintu kami langsung di persilakan masuk oleh tuan rumah. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa sebenarnya?


Tidak lama kepala dusun keluar dari dalam dengan membawa beberapa map di tangannya.

__ADS_1


"Begini, saya tidak ingin membuang-buang waktu dan langsung saja saya ingin menyampaikan amanah dari Bu Siti dan Bu Nur sebelum beliau meninggal. Ini adalah surat kepemilikan tanah yang mana atas permintaan almarhumah telah di wariskan atau di hibahkan atas nama Nak Anita sebagai cucu beliau." Sambil Kepala dusun tersebut memberikan dua buah map tersebut kepadaku.


"Keputusan ini tidak bisa di ganggu gugat lagi oleh siapa pun, termasuk anak beliau sekalipun."


Aku tidak dapat berkata-kata, hampir tidak percaya tapi ini nyata adanya.


Dari kepala dusun itu lah akhirnya aku tau penyebab pertikaian antar kedua kubu keluarga ku ini. Rupanya dulu Oma Siti dan Oma Nur sempat berselisih faham masalah perbatasan tanah yang mereka miliki. Hingga menyebabkan permusuhan karena saling merasa benar. Di tengah permusuhan itu, Mama dan Papa malah saling mencintai dan mengutarakan niat untuk menikah. Karena tidak mendapatkan restu Mama dan Papa sempat kabur dan menikah di suatu daerah. Mereka kembali ke desa dengan membawaku yang baru berumur beberapa bulan.


Kata orang, kalau pernikahan tanpa restu dari orang tua, maka pernikahan tersebut tidak akan langgeng atau bisa mengalami kesulitan dalam membina rumah tangga. Mungkin itu lah yang di alami oleh kedua orang tua ku. Namun di sini aku lah yang pada akhirnya menjadi korban.


-


-


-


Sudah sebulan setelah aku mendapatkan hibah surat tanah tersebut. Aku masih bingung dengan surat tanah itu. Aku juga sudah mengecek lokasi tanah tersebut yang ternyata tidak jauh dari lokasi perusahaan tempat ku bekerja. Aku terkejut melihat luas tanah tersebut. Gabungan antara tanah Oma Nur dan Oma Siti. Tanah perbatasan yang menyebabkan permusuhan itu kini menjadi milik ku. Ternyata dulu nya kedua Oma ku ini memang terkenal sebagai orang yang banyak memiliki tanah. Mereka bersaing untuk memperluas tanah mereka sampai akhirnya menjadi permusuhan hanya karena tanah perbatasan.


Kini aku sudah terbiasa dengan suasana di tempat ku bekerja.Aku sudah tidak mengeluh lagi seperti dulu saat pertama aku bekerja di sini. Aku dan atasan ku juga sekarang lebih akrab, bahkan kami seperti berteman saja.


Meski baru berjalan lebih satu tahun, perusahaan ini sudah terbilang sangat kemajuan. Bahkan hari ini aku bertugas untuk mencari lahan baru untuk kepentingan perusahaan ini. Aku dan dua rekan ku mendatangi desa-desa di daerah itu dan ada beberapa warga yang mau menjual tanah nya dan ada juga yang hanya ingin tanah nya di sewa saja. Namun tanah-tanah tersebut masih kurang karena perusahaan membutuhkan lahan yang lebih banyak lagi.


Setelah menerima gaji bulan ini aku berniat untuk pergi ke kota lagi sekedar melepas penat setelah berkecimpung dengan segudang pekerjaan yang melelahkan.


-


-


-


...**Tbc...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan klik ❤


Thanks all...😘**


__ADS_2