Luka Terdalam

Luka Terdalam
ACARA KHATAM AL-QUR'AN


__ADS_3

Setelah usai menelpon Om Wandy, aku pergi ke kamarku untuk mandi.


Sorenya Om Wandy datang ke rumah untuk menjemput dan menemani Bunda berbelanja. Sementara aku dan Ayah menunggu di rumah. Tidak lama Bu Hamidah datang. Bu Hamidah adalah salah satu Guru di sekolahku. Beliau akan membimbingku dalam membenahi cara mengaji ku selama beberapa hari ke depan. Niat Bunda dan Ayah ternyata adalah mengadakan acara khatam Al-Qur'an untuk ku.


Aku mengundang para Guru di Sekolahku. Tetangga, dan teman-temanku juga datang. Tidak terkecuali Kak Ardi.


Ku lihat Kak Ardi tidak gugup atau sungkan, saat berbicara dengan Ayah dan Bunda. Namun cara berbicaranya sangat lah sopan. Jika aku yang ada di posisi Kak Ardi, belum tentu aku bisa setenang itu.


Kak Ardi satu tahun di atas usiaku, tapi dia terbilang dewasa dalam bersikap. Ia juga tau, kapan waktunya bercanda dan kapan waktunya untuk serius.


Acara khatam Al-Quran pun selesai dan berjalan lancar. Ku lihat Kak Ardi belum pulang dan malah membantu untuk bersih-bersih rumah.


"Kak! Kenapa belum pulang?" Tanyaku.


"Nggak apa-apa. Lagian kalau pulang pun bingung mau ngapain," jawab Kak Ardi sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Ya sudah, aku istirahat dulu ya, Kak?" Tanpa menunggu jawaban Kak Ardi, aku langsung masuk ke kamarku untuk berganti pakaian lalu merebahkan tubuhku di atas kasur.


Aku terbangun saat hari sudah mulai gelap. Dan itu pun, aku terbangun karena mendengar suara ketukan pintu yang berulang kali. Ku lihat jam yamg ada di dinding kamarku. Sudah hampir Maghrib, dan sudah jelas aku telah melewatkan waktu Ashar.


"Anita...!" Terdengar suara Bunda memanggilku dari luar kamar.


"Iya, Bun...! Sebentar," jawabku, sembari menuju ke pintu dan membukanya.


"Sudah hampir Maghrib, Nak," kata Bunda.


"Iya, Bun." Aku pun kembali menutup pintu kamarku dan menuju ke kamar mandi.


Setelah mandi aku langsung menunaikan sholat Maghrib. Beberapa saat setelah salam, ponselku berbunyi, ku lihat nama Kak Ardi yang muncul di layar ponselku.


Ku tekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. "Assalamua'laikum. Ada apa, Kak? Maaf, tadi siang aku tinggal tidur karena kecapean."


"Wa'alaikumsalam. Iya, nggak apa-apa, aku ngerti. Aku hanya kangen aja sama kamu, An...."


*Hahh!? Kangen? Bukankah pertemuan terakhir kami baru tadi siang? Kenapa Kak Ardi bisa kangen secepat ini.


"Kakak kenapa? Bukankah baru tadi siang kita ketemu," jawabku sembari merapikan mukena dan sajadahku dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku masih memegang ponsel. Kemudian aku menjatuhkan tubuhku di kasur.


"Nggak boleh kangen sama pacar sendiri?" Kak Ardi malah menggodaku.


Aku tidak tau ada apa dengan Kak Ardi. Kenapa bisa dia bisa jadi seperti ini. "Iya...,iya. Sekarang udah nggak kangen lagi, kan?"


"Siapa bilang udah nggak kangen? Malah aku semakin kangen."


Uhh,, seketika rasa lelah yang masih tersisa di sekujur tubuhku setelah acara hari itu, langsung menghilang. Aku senyum-senyum sendiri di kamarku.

__ADS_1


"Anita..., kamu masih di sana, kan?"


"Hmm, iya, Kak."


"Kapan Ayah dan Bunda mu pulang?"


"Mungkin besok, atau mungkin lusa."


"Apa kamu juga ikut?"


"Kalau itu, aku belum tau, Kak. Lihat bagaimana nanti saja," jawabku.


"Ya sudah, jangan lupa untuk mengabari aku."


Seiring berakhirnya obrolanku dan Kak Ardi, terdengar suara Bunda memanggilku untuk makan malam bersama. Ku biarkan ponselku tergeletak di kasur, lalu aku pergi menuju ke dapur, di mana Ayah dan Bunda sudah ada di sana.


"Jika Ayah dan Bunda pulang nanti, apa Anita juga harus ikut?" Tanyaku di sela makan kami.


Bunda menatapku, kemudian beralih memandang ke Ayah, sepertinya Bunda meminta bantuan untuk menjawab pertanyaanku.


"Anita maunya bagaimana? Ikut pulang, apa mau tetap di sini?" Ayah yang menjawab.


"Anita mau tetap di sini," jawabku seraya mengaduk-aduk nasiku yang baru sedikit ku makan, karena selera makanku menghilang, khawatir jika Ayah dan Bunda akan memaksaku untuk ikut pulang.


"Bunda dan Ayah tidak bisa memaksa jika Anita ingin tetap di sini. Tapi Bunda minta, jagalah diri dengan baik. Anita seorang gadis, jadi jagalah kehormatan dan nama baik keluarga," nasihat Bunda.


Aku diam sejenak mencerna kata-kata dari Bunda.


"Bunda rasa, Anita sudah cukup mengerti untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik," tambah Bunda seraya memberesi piring-piring kotor yang ada di meja.


"Iya, Bunda," jawabku setelah aku benar-benar mengerti.


...Ardi POV...


Sejak aku tau bahwa dia juga menyukaiku dan membalas cintaku, tak bisa rasanya ku ungkapkan rasa bahagiaku. Hatiku lah yang telah memilih dia untuk menjadi yang ku rindukan. Entah mengapa dengan suka rela aku membagi semua kisahku dengannya. Hidupku menjadi lebih berarti sejak kehadirannya. Aku tidak rela jika harus berjauhan dengannya. Jika boleh, aku ingin terus bisa melihat dia setiap saat.


...Ardi POV END...


Sebelum Ayah dan Bunda kembali ke kampung, kami menyempatkan untuk pergi berjalan-jalan. Kami mengunjungi tempat-tempat wisata hingga tempat makan yang cukup terkenal.


Besoknya Ayah dan Bunda kembali ke kampung, dan tinggal lah aku seorang diri. Ku ambil ponselku yang tergeletak di atas meja rias, lalu ku hubungi Kak Ardi.


Beberapa kali aku menelpon, tapi hanya ada suara mesin penjawab saja yang terdengar.


Aku benar-benar merasa bosan, hingga akhirnya aku kepikiran untuk menelpon Kak Laras. Sudah lama aku tidak mendapat kabar dari dari Kak Laras.

__ADS_1


Panggilan pertamaku langsung mendapat sambutan dari Kak Laras.


"Assalamua'laikum, Kak."


"Wa'alaikumsalam. Anita, gimana kabarnya? Kenapa baru menghubungi Kakak, sekarang?" Kak Laras langsung memberondongku dengan pertanyaan.


"Maaf, kemarin Anita sibuk untuk menghadapi ujian kenaikan kelas," jawabku.


"Lalu, gimana hasilnya?"


"Alhamdulillah, Anita dapat peringat ketiga di kelas, dan Anita juga dapat hadiah dari Om Wandy," kataku.


"Ohh, jadi ceritanya HP baru nihh?"


"Iya, dong...," jawabku sambil cekikikan. "Kak Agil, mana?"


"Dia lagi kerja."


"Kakak nggak kuliah?"


"Kakak, istirahat dulu hingga melahirkan nanti. Nggak tau apa lanjut apa tidak setelah itu."


"Hah, melahirkan! Emangnya Kakak hamil?" Aku terkejut dan juga senang mendengarnya. Itu artinya sebentar lagi aku punya keponakan.


"Hm'm. Oiya, minggu depan Kakak akan ke tempat kamu, sekalian Kak Agil juga ada urusan di sana."


"Assikk....!" Aku berlonjak saking senangnya. Ku dengar suara Kak Laras sedang tertawa.


"Ya sudah, sebentar lagi waktunya jam makan siang, Kakak mau nyiapin makan buat Kak Agil,dulu. Katanya dia akan pulang untuk makan siang di rumah"


"Babay, Kak Laras. Muaach, muachh...," ucapku di akhir obrolan kami.


Setelah ku matikan ponselku, ternyata ada beberapa pesan yang masuk, dari Kak Ardi. Ku baca satu-persatu pesan yang Kak Ardi kirim.


📨[Kak Ardi] Ada apa, An?


📨[Kak Ardi] An, Kenapa?


📨[Kak Ardi] Maaf, tadi aku dan teman-temanku sedang sibuk menyiapkan pesta kejutan untuk salah satu teman kami yang sedang berulang tahun.


📨[Kak Ardi] Kenapa nomer kamu sibuk? Tolong jangan buat aku khawatir, dan balas pesan aku sekarang.


Saat membaca pesan dari Kak Ardi, aku benar-benar merasa terhibur. Ide untuk mengerjai Kak Ardi muncul di kepalaku. Sambil tersenyum ku ketik balasan pesan untuknya.


📨[Me] Sepertinya aku ingin ikut Bunda dan Ayah saja pulang ke kampung. Lagian Kakak juga sibuk,kan?

__ADS_1


__ADS_2