Luka Terdalam

Luka Terdalam
KABAR LAMARAN


__ADS_3

...Happy reading...


Salah satu dari mereka yang duduk di sana beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam. Tidak lama ia kembali dengan membawa nampan berisi minuman. Ia meletakkan minuman tersebut di atas meja dan mempersilahkan semu yang ada di sana untuk minum. Seseorang lagi


datang dari dalam membawa piring berisi kue dan meletakkannya di meja yang sama.


“Ayo, di minum dulu ee...-- ”


“Namanya Anita,” sebut Bang Fauzan mengenalkan namaku.


Aku hanya tersenyum gugup sambil mengangguk. Aku mengambil air yang ada di hadapan ku dan meminumnya sedikit walau sebetulnya air tersebut sangat sulit melewati tenggorokan ku.


Bang Fauzan mengenalkan keluarganya satu persatu. Dari Ibu hingga adik-adiknya. Di memiliki dua orang adik perempuan dan satu adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Adik perempuan yang pertama sepertinya seumuran denganku sedangkan yang satu lagi masih SMA. Bang Fauzan adalah anak pertama di keluarganya. Ia juga tulang punggung bagi keluarga mereka sejak Ayahnya meninggal.


Ibunya Bang Fauzan memiliki sebuah butik dan juga toko perabotan. Aku juga baru tau kalau umur Bang Fauzan itu ternyata udah hampir kepala 3. Selama ini aku tidak pernah bertanya atau mencari tau tentang hal itu. Tapi dia terlihat sangat muda dari umurnya. Pujiku di dalam hati.


Awalnya aku mulai bisa menguasai diriku, sampai salah satu dari keluarga Bang Fauzan tiba-tiba melayangkan pertanyaannya padaku.


“Apa kedua orang tuamu juga sudah tau tentang hubungan kalian? Maksud Tante apakah mereka tidak keberatan? Karena kami tidak mau nantinya begitu kami sudah siap untuk melamar malah nantinya keluarga perempuan belum siap.”


Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Bang Fauzan yang duduk tidak jauh dariku. Kemudian aku tertunduk sambil meremas ujung blazer ku. Bang Fauzan nampak mengerti dengan tatapan ku tadi sehingga ia buka suara untuk menjawab pertanyaan dari Tantenya tersebut.


“Tante, aku dan Anita ini masih dalam masa proses untuk saling mengenal dulu, untuk ke depannya nanti kita akan bahas lagi. Dan orang tua Anita keduanya kini sudah tiada,” tutur Bang Fauzan.


Aku juga belum tau apakah dia sudah mengetahui jati diriku yang sebenarnya atau belum. Tapi jika mengingat bagaimana ia dulu membantuku pulang pergi ke desa waktu itu, seharusnya dia sudah tau tanpa aku menjelaskan lagi. Ke khawatiran mulai mengusik hatiku bagaimana jika keluarganya tau dan tidak menerima ku sebagai wanita yang sejak kecil mendapatkan julukan anak pembawa sial.


Jujur saja, beberapa hari sebelum aku menginjakkan kaki ku di rumah ini, aku mulai merasakan debaran aneh yang dulu pernah aku rasakan beberapa tahun yang lalu. Meski perasaan itu masih samar, tapi aku bisa mengartikan itu perasaan apa. Sepertinya aku mulai menyukai Bang Fauzan. Suka dalam artian bahwa aku mulai bisa menerima dia sebagai pasangan.


“Oh,maaf. Tapi, emang mau berapa lama lagi saling mengenalnya? Ingat, Fauzan ini umur nya udah hampir kepada tiga, lho...udah nggak sabar kan Mbak buat nimang cucu?” Seraya menoleh pada Ibunya Bang Fauzan yang tersenyum kecil.

__ADS_1


Menikah?


Cucu?


Ingin rasanya aku bersembunyi menenggelamkan ragaku sebentar ke dasar bumi. Aku juga ingin protes pada Bang Fauzan tapi tidak mungkin aku lakukan itu di hadapan keluarganya. Sebelumnya kami sudah sepakat hanya ada perkenalan saja, tidak membahas masalah yang berhubungan dengan pernikahan apa lagi cucu. Meski hatiku sudah menerima kehadiran Bang Fauzan, tapi aku belum siap untuk menikah. Aku ingin jeda sebentar untuk membetulkan kembali serpihan-serpihan yang sudah pernah hancur sebelumnya.


Kepalaku terasa berputar. Andai aku pingsan saja dan terbangun di rumah sakit mungkin itu jauh lebih baik.


-


-


-


Setelah dari rumah keluarganya Bang Fauzan kala itu, aku selalu di landa kegelisahan. Ingin rasanya aku menceritakan saja semua kisah hidupku dan membiarkan Bang Fauzan untuk mempertimbangkan keputusannya sebelum ada ikatan yang benar-benar serius di antara kami.


Aku juga meminta pendapat pada Kak Laras sebagai keluarga yang selama ini masih peduli padaku.


Apa yang di katakan Kak Laras memang ada benarnya. Tapi aku khawatir saja jika nanti aku dan Bang Fauzan sudah menikah lalu masalah ini muncul dan mengusik kehidupan pernikahan kami. Aku sudah tidak memiliki kekuatan jika harus menghadapi cobaan lagi. Saat ini saja aku sudah sangat berupaya untuk tetap hidup setelah melewati berbagai cobaan yang aku alami.


Hari demi hari terus berjalan, sampai suatu ketika Kak Laras mendapat telepon dari keluarga Bang Fauzan untuk mengabarkan kedatangan mereka yang ingin melamarku.


Karena tidak ada sinyal untuk mengabariku jadi sore itu Om Wandy datang untuk menjemputku langsung.


Aku terkejut setengah mati karena Bang Fauzan tidak memberitahuku tentang akan ada lamaran.


Aku meminta waktu sebentar untuk menemui Bang Fauzan terlebih dahulu. Kebetulan sore itu dia masih berada di lapangan sedang mengawasi Karyawan yang lain.


“Ada apa Dek samapai datang kemari?” Tanya nya seraya mendekatiku.

__ADS_1


“Abang nggak kasi tau aku dulu kalau keluarga Abang mau datang ke rumah,” ucap ku panik.


“Apa? Abang juga nggak tau apa-apa Dek....”


“Serius, Abang nggak tau? Tapi Om Wandy datang menjemputku karena katanya besok keluarga Abang bakal datang.”


“Dek..., Abang mau tanya, apa Adek bersedia jadi istri Abang?” Bang Fauzan meraih kedua tanganku sambil memandang ku dengan tatapannya yang teduh.


“Bang...bukannya aku nggak mau. Tapi kekurangan aku tuh banyak banget dan...--”


“Cukup jawab jawab saja, hmm...?” Dan aku mengangguk malu-malu.


“Jawaban itu sudah cukup bagi Abang. Selebihnya Abang nggak peduli, yang penting kamu selalu setia berada di sisi Abang, itu sudah lebih dari cukup.” Bang Fauzan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Aku pun membalas dengan melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.


Ini pertama kalinya kami berdua berada sedekat ini. Ada rasa nyaman ketika aku menyandarkan tubuh ku di dada bidang itu.


Aku buru-buru melepaskan pelukan kami ketika mendengar ada yang berteriak dan bersorak dari kejauhan. Beberapa Karyawan yang sudah berkumpul hendak pulang melihat ke arah kami berdua.


“Akhh...,” aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan ku.


“Buat apa di tutup, Dek...?” Ucap Bang Fauzan yang kini malah kembali memeluk lalu mencium pucuk kepalaku.


Aku meletakkan kedua tangan ku di dada Bang Fauzan dan menengadah membuat pandangan kami bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Bang Fauzan kembali mengecup kening ku. Aku memejamkan mataku menghayati kecupan yang begitu lembut itu.


“Dek...jangan seperti itu. Abang jadi nggak kuat.” Ucapan Bang Fauzan berhasil menyadarkan ku. Aku langsung membuka mataku dan mendorong tubuh Bang Fauzan.


Cihh, padahal tadi aku sendiri yang meletakkan tangan ku di sana.


Aku jadi salah tingkah karena perbuatan ku sendiri. Apa yang Bang Fauzan pikirkan tentang aku.

__ADS_1


...Tbc...


__ADS_2