
"Maaf, aku hanya nggak rela aja ada pria lain yang melirik kamu."
Ku balas genggaman tangan Kak Ardi sambil aku tersenyum. "Aku nggak bisa melarang mereka untuk melirik ku, tapi mata dan hatiku hanya memilih pria yang ada di hadapan ku saat ini." Aku menirukan ucapan Kak Ardi satu tahun yang lalu. Aku masih sangat mengingatnya.
Lalu kami saling menatap sambil tersenyum hingga pelayan cafe datang membawakan makanan yang sudah kami pesan.
Akhirnya kami berdua bisa sama-sama lagi menyaksikan matahari terbenam di cafe penuh kenangan itu.
Kemudian Kak Ardi mengantar ku pulang ke kostan ku dengan mobilnya.
"Kenapa tidak naik motor saja seperti biasanya?" Tanya ku pada Kak Ardi yang menyalakan mobilnya.
"Mana mungkin aku pergi naik motor dengan perjalanan jauh, An. Emang kamu mau kalau aku sakit?"
Benar juga apa yang di katakan Kak Ardi. Dia pasti sudah sangat lelah dengan perjalanan nya, tapi aku malah main protes saja tanpa mempedulikan keadaannya.
Kami sudah sampai di depan kostan ku.
"Nanti malam aku hubungi kamu," ucap Kak Ardi.
Aku mengangguk dan hendak membuka pintu mobil. Namun Kak Ardi menahan ku dengan memegang lengan ku.
"Ada apa,Kak?" Tanyaku menoleh pada Kak Ardi.
Kak Ardi mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening ku. Kemudian ia menatap wajahku dan bertanya, "boleh?"
Aku tau maksud Kak Ardi yang meminta ijin untuk melakukan lebih. Aku tertunduk tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Tapi jauh di dasar hatiku jelas aku juga sangat merindukan nya.
Kak Ardi mengangkat wajah ku lalu mengecup bibir ku dengan lembut.
__ADS_1
Kami kembali mengulang kecupan yang dulu pernah kami lakukan sebelum berpisah setahun yang lalu. Tapi kali ini dengan durasi yang cukup lama. Kak Ardi melepaskan ciuman itu ketika melihat ku hampir kehabisan nafas.
"Kak! Cukup. Bukannya dulu Kakak janji hanya akan mengulangnya jika kita sudah halal. Tapi Kakak melanggarnya," kataku sambil mengatur nafasku.
"Maaf, aku terlalu merindukan kamu," jawab Kak Ardi yang kini beralih menumpukan wajah di lengannya yang sedang memegang kemudi.
"Ya sudah, aku masuk dulu." Aku meraih pundak Kak Ardi mengubah posisinya agar menatapku lalu kemudian aku mencium pipinya. "Lain kali tolong di kendalikan," ucapku. Stelah itu aku langsung keluar dari dalam mobil.
Malamnya Kak Ardi menelpon ku dan kami mengobrol hingga sama-sama tertidur.
Saat aku ingin pergi ke kantor Kak Ardi sudah menunggu ku di depan dengan mobilnya. Kak Ardi mengantar dan menjemput ku saat pulang dari kantor.
"Besok aku akan kembali. Aku minta jaga diri kamu baik-baik," kata Kak Ardi sambil mengemudikan mobilnya ketika menjemputku sore itu.
Aku hanya diam sambil memandangi kendaraan yang berlalu lalang melalui jendela mobil.
"Aku akan sering-sering kesini jika ada waktu," tambah Kak Ardi.
"Tapi aku akan tetap berusaha agar secepatnya kita bisa bersama." Ucapan Kak Ardi sangat bersungguh-sungguh. Aku tau Kak Ardi tidak pernah main-main dengan ucapannya. Selama ini aku sedikit mengenal karakternya dengan baik.
Sebelum kembali Kak Ardi datang ke kostan ku dan mengantar ku ke kantor tempat ku bekerja. Aku masih ingin lebih lama lagi bersama dengannya tapi keadaan mengharuskan kami untuk berpisah.
Aku memeluk Kak Ardi dengan melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya. Ingin rasanya aku pergi bersamanya, tapi itu tidak mungkin.
"Ingat, jaga diri kamu baik-baik." Kak Ardi kembali berpesan padaku.
Aku melambaikan tanganku ketika Kak Ardi mulai menjalankan mobilnya dan menjauh dari tempat ku berdiri. Aku menyapu sisa air mataku yang tadi sempat lolos dari kedua kelopak mataku dan melangkah masuk ke tempat ku bekerja.
Beberapa bulan kemudian aku mendapatkan tawaran kenaikan gaji tapi aku harus bersedia di pindahkan ke sebuah cabang perusahaan yang baru. Meski harus pindah ke perbatasan kota, tapi gaji yang di tawarkan sangatlah menggiurkan, sehingga aku langsung saja menyetujuinya. Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk segera pergi ke tempat kerjaku yang baru.
__ADS_1
Aku mengirim pesan mengenai kepindahanku dan mungkin akan jarang menghubunginya bahkan mungkin akan sulit karena daerah tempat ku bekerja sangat terpencil dan dan jauh dari kota tempat ku saat ini. Tapi di sana aku tidak perlu memikirkan tempat untuk tinggal, karena perusahaan sudah menyediakan nya.
Mobil yang menjemputku sudah datang. Aku di bantu oleh supir untuk memasukan semua barang-barangku. Lalu kemudian supir itu mengemudikan mobil mengantar ke tempat bekerja ku yang baru.
Sebelum sore aku sudah sampai. Supir kembali membantu ku untuk memasukan semua barangku ke perumahan yang akan aku tempati selama bekerja di sana. Tempat itu benar-benar khusus di tempati untuk satu orang, terlihat dari ruang-ruang yang sudah di tata dengan pas-pasan.
Aku mengeluarkan baju-bajuku dari dalam koper dan memasukannya ke dalam lemari yang tersedia di sana. Aku juga menggantung beberapa pakaian kerjaku agar tetap terlihat rapi.
Semua barang-barang ku sudah tersusun rapi. Dan aku juga sudah membersihkan beberapa tempat yang masih terlihat kotor. Sepertinya perumahan itu benar-benar baru jadi, terlihat dari beberapa sisa material yang masih tertinggal di sana.
Selesai aku membereskan semuanya, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah terasa sangat lengket. Hanya ada satu kamar mandi tentunya, dan itu pun sudah termasuk toilet.
Aku duduk di atas kasur kecil yang kini menjadi tempat tidurku. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, aku memeriksa handphone ku. Ternyata benar-benar tidak ada sinyal di sini.
Aku pernah mendengar kalau ingin jadi orang yang sukses memang harus bisa bertahan di segala kondisi. Tidak ada orang yang langsung sukses tanpa melakukan apa-apa. Mungkin di tahap itu lah aku saat ini. Aku harus mampu bertahan di tempat itu dengan segala keterbatasan nya.
Pagi-pagi aku sudah siap dengan pakaian kerja ku. Beruntung beberapa bulan bekerja aku sudah lumayan mahir mengenakan high heels. Aku berkaca sebentar memastikan tidak ada yang kurang dengan penampilan ku. Aku harus menunjukkan kesan terbaik di hari pertama ku bekerja di tempat baru ini.
Aku kaget ketika melihat bokong ku yang semakin tampak menantang saat aku mengenakan heels itu. Selama ini aku tidak pernah sampai memperhatikan sedetil ini penampilan ku. Pantas saja Kak Ardi bersikap posesif padaku waktu itu. Sudah tidak ada waktu lagi bagiku untuk memilih sepatu yang akan ku kenakan, akhirnya aku pergi dengan penampilan ku saat itu.
-
-
-
...**Tbc...
Maaf jika masih banyak typo.
__ADS_1
Author belum sempat untuk mengedit.
Thanks all...😘😘**