
Aku meninggalkan desa tempat asalku dan kembali rumah kontrakan karena beberapa hari lagi sekolah akan di mulai.
Ada banyak pesan yang masuk ke handphone ku ketika aku mengaktifkannya. Tentu pesan dari Kak Ardi lah yang paling banyak. Ada rindu, bahagia dan juga tawa saat aku membaca satu persatu pesan darinya.
Aku menelpon Kak Laras dan memberitahukan mengenai kepergian Ayah. Kak Laras menguatkan dengan memberikan aku nasihat agar aku bisa menjadi seperti yang Ayah inginkan selama ini.
Setelah menelpon Kak Laras aku langsung bersih-bersih rumah karena waktu itu aku pergi sangat buru-buru sehingga tidak sempat membersihkan nya. Saat aku sedang bersih-bersih handphone ku berdering hingga beberapa kali tapi aku tidak bisa menerimanya karena aku sedang mencuci piring. Setelah selesai barulah aku memeriksa handphone ku. Ternyata Kak Ardi yang menghubungiku.
Kemudian aku lah yang menelpon Kak Ardi.
"Kenapa nggak langsung di terima panggilan aku, kamu sengaja ingin buat aku mati karena terlalu lama menahan rindu?"
"Aku sedang bersih-bersih, Kak. Rumah berantakan waktu aku tinggal pergi. Dan aku jarang mengerjakan pekerjaan rumah, jadi perlu sedikit waktu lebih lama untuk beres-beres," sungutku.
"Oh, maaf. Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ayahnya kamu."
"Iya, Kak. Maaf nggak sempat mengabari waktu aku pulang ke desa kemarin."
"Iya, tadi aku menelpon Kak Laras, katanya kamu sudah kembali. Kenapa nggak langsung menghubungi aku, hmm? Apa kamu sudah menemukan laki-laki lain di desa?"
Degg!
Seketika jantungku berdetak cepat. Kenapa Kak Ardi bisa berkata seperti itu? Dan anehnya aku merasa bagai tertangkap basah saja. Aku jadi teringat pada, pria bernama Fauzan yang mengantarkan aku pulang waktu itu.
"Kakak bicara apa? Mana mungkin aku seperti itu!" Jawabku.
"Mana mungkin? Apa itu artinya kamu benar-benar akan menungguku?"
"Iya, lagi pula aku akan menyusul Kakak tahun depan."
"Aku senang mendengarnya."
Karena lelah dan mengantuk akhirnya aku tertidur saat sedang berbicara di telepon. Aku terbangun ketika menjelang malam. Ku lihat ada pesan dari Kak Ardi.
📨[Kak Ardi] Selamat beristirahat penyemangatku, semoga aku yang selalu ada di dalam mimpimu.
Aku tersenyum ketika membaca pesan itu. Kesedihan serta beban yang ada di hatiku sedikit terobati.
__ADS_1
Aku terkejut ketika ada suara yang menggedor-gedor dari luar kamar ku. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Ada apa, Kak?" Tanyaku pada Kak Ina yang sudah berdiri di depan pintu kamarku.
"Udah hampir malam, bahaya anak gadis tinggal sendiri dan pintu dalam keadaan terbuka."
"Apa!?" Aku ternganga kaget begitu tau kalau pintu rumah ku rupanya sejak tadi terbuka.
"Lain kali hati-hati, jangan ceroboh," pesan Kak Ina.
"Iya, Kak." Aku langsung menutup pintu dan menguncinya ketika Kak Ina sudah pulang ke rumahnya.
Akhh! Dasar ceroboh!
Masih tersisa dua hari masa liburan. Aku memilih untuk jogging saja sore itu. Dan lagi-lagi aku bertemu Pak Adji di saat aku duduk dan beristirahat di tempat dulu kami pernah mengobrol.
"Eh, Bapak!?" Aku kaget tiba-tiba Pak Adji duduk di sampingku.
"Bagaimana kabarmu?"
"A -- aku, baik. Bapak sendiri bagaimana?" Aku berusaha berbasa-basi juga bertanya meski aku yakin kalau keadaan Pak Adji sepertinya baik-baik saja.
Aku sedikit kaget lalu menoleh ke arah Pak Adji. "Bapak sakit apa?"
"Sakit karena tak dapat memiliki sesuatu yang di inginkan." Sambil Pak Adji tertawa kecil padaku.
"Oh." Aku tidak lagi melanjutkan pertanyaanku karena aku tidak ingin jika Pak Adji sampai mengutarakan perasaannya. Sebisa mungkin aku bersikap seakan tidak mengetahui tentang perasaannya meski sikap Pak Adji sangat terlihat jelas memiliki perasaan lebih terhadapku.
Pertemuan-pertemuan seperti itu sering terjadi. Entah kebetulan atau rekayasa aku juga tidak mengerti. Setiap akhir pekan saat aku keluar rumah sering kali aku bertemu Pak Adji. Tapi aku selalu berusaha menghindari setiap ucapannya yang akan mengarah pada perasaan.
Akhir-akhir ini aku semakin jarang menghubungi Kak Ardi, karena aku mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan ku. Keinginan ku agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan dan aku bisa kuliah di tempat yang sama dengan Kak Ardi.
Sore setelah pulang dari les aku membalas pesan Kak Ardi yang sudah menumpuk.
📨 [Me] Kak, sebentar lagi aku akan menghadapi ujian akhir, do'akan agar aku bisa mendapatkan nilai terbaik dan aku bisa kuliah di tempat yang sama dengan Kakak.
Tidak lama ada balasan pesan dari Kak Ardi. Ia menulis kata-kata untuk menyemangatiku. Kata-katanya selalu bisa membuat aku tersenyum dan benar-benar membuat aku jadi lebih bersemangat lagi.
__ADS_1
Ujian kelulusan sudah usai, tinggal menunggu pengumuman saja. Aku sudah berusaha sebaik mungkin selebihnya aku serahkan pada Yang Maha Kuasa.
Aku sangat senang sekali, ternyata aku berhasil lulus dengan nilai terbaik. Aku menghubungi Kak Laras dan mengabarkan berita bahagia ini.
Andai Ayah masih ada, pasti beliau sangat senang.
Tapi sepertinya Allah masih ingin mengujiku, ketika aku pulang ke desa untuk mengabarkan tentang kelulusan ku pada Bunda, aku telah di sambut dengan setumpuk pakaian dan beberapa barang lamaku yang di letakkan di depan pintu. Aku terkejut kenapa semua barang-barang itu ada di sana.
"Kak, kenapa Anita di usir?" Tanyaku pada Kak Rama yang menyambut ku di depan pintu saat itu. "Di mana Bunda?"
"Mulai sekarang kamu urus dan kamu pikirkan hidup kamu sendiri. Sudah cukup keluarga ini menampung benalu sepertimu. Dasar anak pembawa sial!" Aku terkesiap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kak Rama.
Kelopak mataku terasa panas, detik kemudian air mataku pun menetes. Aku tidak mengerti kenapa Kak Rama bersikap seperti itu. Kak Ilham pun hanya diam saja melihat Kak Rama memperlakukan ku seperti itu.
Aku bingung harus bagaimana lagi. Hingga kemudian aku melihat Yurish dan Arni melewati jalan di dekat rumah ku. Lalu aku memanggil mereka berdua.
"Anita!?"
Kami saling berpelukan untuk melepaskan rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kenapa baru pulang setelah dua hari pemakaman Bunda, kamu?" Tanya Arni selepas kami berpelukan.
"Apa!?"
"Apa kamu tidak tau kalau Bunda mu meninggal dua hari yang lalu?" Pertanyaan Yurish semakin membuatku terkejut dan tak dapat membendung air mataku.
Arni dan Yurish menemaniku ke pergi ke makam Bunda. Di sana aku menangis sejadi-jadinya. Akhirnya aku mengerti kenapa Kak Rama bersikap seperti itu padaku. Rupanya mereka juga terpengaruh oleh ucapan dari beberapa warga di desa itu. Sudah tidak ada lagi yang membelaku, bahkan orang yang ku anggap sebagai keluarga pun kini telah membuangku juga.
-
-
-
...Tbc...
**Maaf jika masih banyak typo yang bertebaran 😄😄
__ADS_1
Terimakasih dukungan nya all...😘**