
...Happy reading...
🎵Siapa yang mau...
Menghuni gedung tua...
Siapa yang sudi ...
Singgah di hati ini ...
🎵Tanpa keramaian kemewahan sunyi sepi ...
Semua hampa termakan lapuknya usia ...
🎵Sudah berulang kali pernah aku mencoba ...
Membangun dan membina keutuhan di jiwa ini ...
🎵Kecewa dan kecewa yang selalu ku rasa ...
Merana dan tersiksa yang tiada akhirnya ...
Aku menutup telingaku dengan bantal ketika lagu itu lagi yang di putar Pakde Kus. Setiap pagi dia selalu memutar lagu yang sama dan bahkan hingga berulang. Ia sengaja mengeraskan suaranya di bagian lagu itu. Andai aku memiliki kemampuan menyihir ingin rasanya ku buat pemutar musik itu rusak saja.
....
Di saat teman-teman seumuranku sibuk dengan urusan rumah tangganya aku sendiri masih menikmati kesendirianku. Lebih sering bergaul dengan ibu-ibu komplek dan anak-anak kecil.
“Anita, Kakak mau bicara serius sama kamu,” kata Kak Laras setelah teman-teman kecilku pulang untuk tidur siang.
“Siap, mendengarkan. Tapi jangan lama-lama, aku ngantuk.” Kami duduk di ruang tengah seperti biasa. Aku belum puas tidur karena tadi malam aku begadang menyelesaikan laporan bulanan agar secepatnya di kirim pada Pak Erik dan buruh bisa sesegera mungkin menerima gaji mereka.
__ADS_1
“Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ingat, Kakak nggak bisa seumur hidup ngurusin kamu. Ada masanya Kakak, tua dan lemah. Begitu pun kamu, siapa yang akan menjaga kamu di masa tua kalau bukan anak-anak kamu?”
“Ya, mana aku tau, Kak. Lagian masih lama, kan. Memangnya seorang anak hanya akan mengurusi orangtuanya saja? Kelak mereka juga punya kehidupan sendiri.”
“Memang benar. Tapi setidaknya akan ada orang yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kamu dan ada di samping kamu di saat kamu sudah tidak berdaya. Jangan terlena. Ingat, umur semakin nambah. Ada masanya perempuan itu tidak mampu untuk bereproduksi lagi.”
Beberapa hari ini aku memikirkan ucapan Kak Laras. Bahkan kemarin Mama juga sempat datang dan membujuk ku agar mau memikirkan lagi. Ya, Mama dan Kak Laras sudah bisa sedikit berdamai meski Kak Laras tetap saja selalu terlihat waspada.
Keluarga yang lain pun mulai bersikap baik padaku. Sementara aku tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri saat ini.
Meski mereka mulai menunjukkan kasih sayangnya tapi rasa itu sudah hampa...
Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Esoknya aku bicara dengan Kak Laras kalau aku mau mengikuti kemauan mereka.
“Tapi syaratnya jika aku merasa cocok maka aku akan lanjut. Jika tidak, jangan memaksa.” Itulah perjanjiannya.
Kak Laras mulai memperkenalkanku dengan beberapa teman dari Kak Agil yang masih single. Mereka tak lain adalah Karyawan dari perusahaan tempat Kak Agil bekerja dan tentunya umur mereka juga lebih muda dari Kak Agil. Ada yang seumuran denganku ada juga yang di bawah umurku walau tak terpaut begitu jauh.
“Nggak banget.” Aku menjatuhkan tubuhku di sofa samping Kak Laras.
Kak Laras menghembuskan nafas kasar seraya bersandar.
“Serius? Masa nggak ada satu pun yang cocok sih, An?” Kak Laras kembali duduk tegak menghadap ke arahku.
“Bukan masalah cocok nggak cocoknya, aku jijik denger dia pamerin jabatan sama harta yang dia punya. Udah ah, aku capek mau istirahat.” Aku pun masuk ke kamar untuk beristirahat.
Pagi datang
Lagu yang sama lagi terdengar dari rumah Pakde Kus. Aku mengambil bantal lalu menutupi telinga ku. Tapi mataku sudah tak mau lagi terpejam. Aku memutuskan untuk segera bangun dan berolah raga sebentar.
__ADS_1
“Anita, ini Mama kamu ada kirim foto cowok, katanya dia ini anak teman Papa tiri kamu. Kebetulan dia juga nyari calon istri. Gimana menurut kamu?” Kak Laras memperlihatkan foto seorang pria dari layar ponselnya.
Aku melihat foto tersebut dan memperhatikan betul-betul pria yang ada di sana. Penampilannya lumayan, wajahnya juga terlihat ramah.
“Namanya Galih,” lanjut Kak Laras memberitahukan nama pria itu.
”Terserah aja,” jawabku seraya memasukan botol yang sempat ku ambil dari dalam kulkas.
Esok hari pria itu datang langsung ke rumahku. Di antara pria yang sudah pernah berkenalan denganku sebelumnya dia memiliki nilai yang lebih.
Dia sopan dan ramah seperti dugaanku. Selain itu dia juga sangat humoris dan tidak kaku. Selama sebulan kami melakukan pendekatan baik bertemu secara langsung maupun melalui chat.
Sejauh ini aku belum menemukan cela apa pun. Setelah sudah cukup menyiapkan diri dan mental aku setuju untuk di perkenalkan dengan keluarganya.
Aku menyalami kedua orangtua Galih dan beberapa anggota keluarga yang lain sambil memperkenalkan lagi namaku secara langsung.
“Sebelumnya kami sudah membicarakan hal ini dengan orangtua kamu. Tapi kami ingin menanyakan lagi secara langsung sama kamu, apa kamu sudah benar-benar siap menjadi seorang istri? Sudah mengerti tugas istri itu apa saja. Karena kami tidak ingin Putra kami mendapatkan istri yang tidak bisa mengurus suami dan rumah tangga dengan baik. Galih itu seorang manajer di perusahaan tempat dia bekerja, sebelumnya sudah banyak gadis yang juga bersedia menikah dengannya tapi karena kami sudah mengenal orangtua kamu dengan baik, jadi kami bersedia untuk menerima kamu menjadi bagian keluarga kami. Dan satu hal lagi, setelah menikah nanti kamu harus fokus mengurus Galih dan tidak perlu bekerja. Pandailah dalam mengatur keuangan. Jika cara kamu benar, gaji Galih itu pasti cukup dan kamu masih bisa menabung. Ingat, jangan boros.” Ibunya Galih menyampaikan dengan panjang lebar. Dari awal hingga akhir tidak sedikit pun menguntungkan aku. Bahkan aku di anggap bagai mengemis ingin menikah dengan anaknya.
Apa-apaan ini!?
Sekuat tenaga aku mencoba menahan emosiku yang sudah meluap-luap.
“Aku..., nggak bisa masak. Tapi mungkin aku bisa belajar, nanti. Kalau untuk bekerja sangat tidak mungkin aku meninggalkan pekerjaanku. Maaf, jika aku harus jujur dari sekarang.”
Terlihat mereka berbisik-bisik setelah mendengar penjelasanku. Tapi aku masih dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
“Kalau begitu kamu benahi dulu diri kamu, belajar cara mengurus rumah dan belajar memasak juga. Barulah setelah itu kami pikirkan kembali untuk melamar kamu sebagai istri Galih.” Ibu Galih berkata usai saling berbisik-bisik.
“Mending cariin Galih calon yang lain aja, dari pada nunggu dia belajar dulu. Mending kalau bisa, kalau nggak, gimana? Masih mending mantan Galih yang sebelumnya walau biasa-biasa aja yang penting dia masih bisa masak.” Sambil keluarganya yang lain ikut menimpali.
Aku berusaha menahan diriku dengan mengingat orang yang ada di hadapanku saat ini adalah orang yang lebih tua dariku dan aku harus tetap menghormatinya. Tapi arogansiku tidak bisa memaafkan perkataan mereka yang menurutku di luar batas. Cukup aku di tindas dengan cara seperti ini. Kali ini tidak lagi!
__ADS_1
“Kalau begitu suruh Putra Ibu memiliki rumah sendiri dulu, punya perusahaan dulu, bukan sekedar manajer! Baru setelah itu melamar aku. Percuma jabatan manajer kalau masih satu atap dengan orangtua kamu.” Aku menatap Pada Galih saat mengatakan kalimatku yang terakhir. Aku langsung pergi dari sana tanpa berkata apa-apa lagi.
...Tbc...