
Tidak lama Kak Ardi mengajak ku keluar dari tempat itu. Sepertinya Kak Ardi memahami rasa tidak nyaman ku saat berada di dalam sana. Lalu Kami berdua duduk di sebuah kursi taman yang tidak jauh dari tempat acara ulang tahun.
"Maaf, teman-temanku memang seperti itu, mungkin nanti kamu juga akan terbiasa," ucap Kak Ardi.
"Hm'm, nggak apa-apa." Aku mengangguk.
Detik berikutnya Kak Ardi memegang tanganku. "An, ada yang lupa aku katakan dari tadi."
Aku menatap serius pada Kak Ardi. Khawatir bukan berita baik yang akan ku dengar. "Apa...?"
"Hari ini kamu sangat cantik."
Aku kaget, setelah kemudian aku langsung tertunduk malu.
"Apa sebelumnya aku nggak cantik?" Kataku setelah aku sudah berhasil menguasai perasaanku.
"Sebelumnya kamu sangat cantik dan manis. Tapi hari ini lebih dari itu," jawab Kak Ardi.
Uhh..., jantungku hampir melompat dari tempatnya. Dan jika seperti di film-film, mungkin hatiku akan terlihat jedag jedug.
-
-
-
Hari ini aku sengaja untuk bangun pagi, meski dengan bersusah payah. Setelah usai sholat subuh, aku langsung merapikan tempat tidur ku meski aku sangat tergoda untuk merebahkan kembali tubuhku di sana. Aku bersenandung sambil belajar beres-beres rumah seperti yang telah Bunda ajarkan. Tak hentinya aku melihat jam dinding. Karena hari ini Kak Laras akan datang, aku tidak lupa dengan janjinya beberapa hari yang lalu.
Beres-beres rumah itu menurutku tidak lah sulit, tapi memasak lah yang menjadi tantangan terbesarku. Aku hanya bisa memasak nasi dengan ricecooker, menyeduh mi instan, dan merebus telur. Aku lebih sering membeli makanan jadi atau membeli lauk saja. Karena di dekat rumah kontrakan ku banyak yang menjual berbagai macam lauk, jadi aku tidak perlu khawatir. Biasanya aku akan membeli beberapa macam lauk lalu tinggal menghangatkan nya.
Usai beres-beres aku duduk di sofa ruang tengah sambil meluruskan kaki ku. Kemudian ku ambil ponselku dan mengetik pesan untuk Kak Laras. Aku hanya ingin tau apa dia sudah dalam perjalanan. Setelah menunggu beberapa saat, belum juga ada balasan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mandi saja, karena aku sudah merasa sangat gerah setelah bersih-bersih rumah tadi.
Aku sudah selesai mandi dan mengenakan kaos rumahanku. Kaos adalah pakaian kebesaran ku. Hehe....
Ku periksa kembali handphone ku barangkali sudah ada balasan pesan dari Kak Laras. Aku tersenyum senang ketika melihat sebuah pesan dari Kak Laras yang mengatakan bahwa ia dan Kak Agil sedang dalam perjalanan.
Ku letakan kembali handphone ku lalu melepaskan hahduk yang ada di kepalaku untuk mengeringkan rambuku yang basah setelah keramas tadi.
__ADS_1
Aku pergi mengambil pesanan lauk ku lalu kemudian aku kembali ke rumah dan makan. Aku pernah mendengar, ada yang bilang, bahagia juga butuh tenaga.
Setelah makan aku merasa sangat mengantuk dan tertidur di sofa.
Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun ku lihat jam yang ada di dinding sudah menunjukan pukul 13.43. Seharusnya Kak Laras sudah datang sebelum sholat dhuhur, kenapa sudah jam segini belum datang juga. Buru-buru aku pergi mengambil air whudu untuk menunaikan Sholat.
Aku pun sudah selesai melaksanakan sholat. Kembali ku lirik jam yang ada di dinding, tepat pukul 14.00.
Semoga Kak Laras baik-baik saja.
Handphone ku berdering. Ku angkat panggilan tersebut setelah melihat nama si penelepon.
"Iya, Kak. Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa. Emang kalau mau nelpon harus nunggu ada apa-apa dulu, ya?" Jawab Kak Ardi dengan pertanyaan yang membuat aku bingung menjawabnya. Kak Ardi selalu bisa membuat aku tersenyum-senyum sendiri.
"Hm, aku lagi nungguin kedatangan Kak Laras, hari ini. Udah jam segini belum datang juga."
"Oh, mungkin lagi macet di jalan. Semoga Kakak mu baik-baik saja."
"Padahal tadi aku mau ngajak kamu jalan-jalan sore ini. Tapi mungkin lain kali saja."
Ku dengar bunyi klakson mobil dari luar rumah. Aku langsung menuju jendela lalu menyibakan tirai penutup jendela untuk melihat siapa yang datang. Ku lihat sebuah mobil memasuki halaman rumah. Yang jelas itu bukan mobil milik Om Wandy. Aku berteriak girang saat melihat Kak Agil yang keluar dari dalam mobil. Aku tidak peduli jika Kak Ardi kaget mendengar suara ku. Setidaknya ia tau sedikit sifat kalem ku yang tersembunyi selama ini. Haha....
"Kak, udah dulu ya? Kak Laras udah datang," pamit ku pada Kak Ardi. "Muaach...." Ku berikan Kiss bye ku untuk Kak Ardi. Ku anggap sebagai kompensasi karena telah membuat dia kaget.
Aku langsung membuka pintu menyambut kedatangan Kak Laras.
"Kakak...!" Aku dan Kak Laras saling berpelukan. Kemudian kami masuk ke dalam rumah.
Sementara Kak Agil mengeluarkan koper dan beberapa barang bawaan mereka.
"Kakak kenapa kurusan? Bukankah Kakak sedang hamil?" Tanyaku setelah kami sudah duduk di sofa ruang tengah tempat biasa kami mengobrol.
"Iya, Kakak hamil. Tapi ini masih hamil muda, jadi belum kelihatan," jawab Kak Laras.
Aku hanya mengangguk saja meski belum mengerti apa itu hamil muda.
__ADS_1
Kak Laras menyuruh Kak Agil untuk membawa koper ke kamar yang dulu menjadi tempat tidur Kak Laras. Kemudian Kak Agil memanggilku untuk menyimpan beberapa makanan yang telah mereka bawa sebagai oleh-oleh.
Setelah menyimpan makanan tersebut aku kembali mendekati Kak Laras yang sepertinya kurang sehat.
"Apa Kakak, sakit?" Aku bertanya pada Kak Laras yang tersandar lemah di sofa.
"Nggak, Kakak hanya sedikit pusing dan agak mual saja. Kata Bidan, Ini biasa terjadi pada awal-awal kehamilan."
Lagi-lagi aku hanya ber "oh" saja meski masih kurang paham.
"Ya sudah, Kakak masuk ke kamar saja dan istirahat dulu," titahku.
Ku bantu Kak Laras berdiri karena ku lihat Kak Laras terlihat sangat lemah. Tiba di kamar, Kak Laras seperti orang yang sedang bersendawa lalu ia buru-buru pergi ke kamar mandi.
"Kak..., Kakak kenapa!?" Aku berteriak memanggil Kak Laras dari luar kamar mandi.
Tidak lama Kak Laras keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat pucat. Ku bantu Kak Laras menuju tempat tidur dan berbaring di sana.
"An, tolong kamu singkirkan pewangi ruangan itu." Sambil Kak Laras menunjuk pewangi ruangan yang terletak di sudut ruangan kamar.
Aku pun langsung menuruti perintah Kak Laras. Aku mengambil pewangi ruangan itu lalu membawanya ke kamar yang biasa di tempati Ayah dan Bunda. Kemudian aku kembali ke kamar Kak Laras. Ku lihat ada Kak Agil yang sudah duduk di samping Kak Laras sambil memegang minyak kayu putih dan membantu Kak Laras menghirup aroma minyak kayu putih itu.
Aku menjadi kasihan pada Kak Laras. Aku tidak tega melihat keadaannya.
-
-
-
**Hai Kakak" semua...
mohon dukungan nya, ya,,
Like, komen, rate dan jangan lupa klik ❤ yang mau menyumbangkan hadiahnya juga boleh 😄😄
Terimakasih🤗**
__ADS_1