Luka Terdalam

Luka Terdalam
MERASA SEDIKIT TERHIBUR


__ADS_3

...Happy reading...


Selama aku dalam masa pemulihan Kak Agil dan Om Wandy yang membantu ku untuk mengurus perkebunan milik ku. Mereka bergantian memantau untuk perkebunan tersebut dan paling hanya satu atau dua kali saja dalam sebulan. Itu pun mereka lakukan di saat hari libur mereka bekerja. Untuk perkebunan Pak Erik sudah aku kembalikan tanggung jawabnya agar mencari orang lain saja.


Masalah pil tidur sudah teratasi, tapi kini masalah lambungku yang perlu mendapatkan pengobatan khusus. Kak Laras sudah kewalahan mengurusku karena masalah lambungku belum juga ada perubahan dan bahkan semakin parah. Hingga suatu hari aku kembali tidak sadarkan diri karena terlalu lama menahan sakit.


Dan lagi-lagi aku terbangun di sebuah ruangan Rumah Sakit. Aku melihat ke arah samping ku dan pemandangan yang selalu sama setiap aku membuka mata. Kak Laras dengan setia menunggui ku. Ia sedang mengupas buah lalu meletakkannya di piring setelah memotong-motong buah itu.


“Kak, aku haus...,” ucap ku. Kemudian Kak Laras mengatur posisi tempat tidur agar posisi ku lebih mudah untuk bisa minum.Dan Kak Laras mengambilkan air putih untuk ku dan membantuku untuk meminumnya. “Aku nggak mau makan buah itu,” kata ku setelah Kak Laras meletakkan gelas minum di atas meja samping ranjang Rumah Sakit yang menjadi tempat ku berbring.


“Siapa juga yang menyuruh kamu makan? Kamu cukup mendapatkan cairan dari botol infus itu, jadi nggak perlu makan.” Kak Laras kembali ke posisi duduknya lalu memakan buah yang tadi di potong-potongnya. Aku tau dia sedang kesal padaku karena aku yang tidak peduli dengan keadaan ku sendiri.


“Kak, aku mau buah,” ucap ku agar Kak Laras berhenti mengacuhkan ku. Kak Laras mendekat lalu meletakkan piring berisi buah itu di pangkuanku. “Aaa...,” aku membuka mulutku dengan maksud agar Kak Laras mau menyuapiku. Masih dengan raut wajah kesal Kak Laras pun mengambil sepotong buah dan menyuapiku.


“Apa bulan depan kamu akan nginap disini lagi?” Tanya Kak Laras di tengah kunyahan ku.


Aku membulatkan mataku dan menatap pada Kak Laras. “Apa Kakak mendo'a kan agar aku masuk Rumah Sakit lagi?”


“Bukan mendo'a kan..., tapi buat jaga-jaga kalau bulan depan nginap di sini lagi maka kita juga harus menyiapkan budgetnya dari sekarang!” Ketus Kak Laras seraya memasukan sepotong buah ke mulut ku. Aku hanya tertunduk sambil mengunyah buah yang ada di mulutku pelan-pelan.


“Ini, mulai dari sekarang belajar buat ngurus diri sendiri! Karena bulan depan Kakak sudah harus pindah,” kata Kak Laras meletakkan kembali piring di pangkuanku.


Aku tau dia mengkhawatirkanku sehingga bersikap seperti itu agar aku mau menurut karena selama ini aku seakan tidak perduli dengan kesehatanku yang berdampak juga pada orang-orang terdekatku terutama Kak Laras.


Aku melirik handphone ku lalu setelah Kak Laras keluar aku buru-buru mengambilnya dan memeriksa saldo ku. Aku membelalak ketika melihat saldo tabungan ku sudah di bawah rata-rata. Hasil tabungan ku selama bekerja dan bonus yang ku dapat benar-benar habis hanya untuk berbaring di Rumah Sakit saja.


Aku kembali meletakkan handphone ku ketika ku dengar suara langkah kaki yang menuju ke ruangan tempat ku di rawat. Aku ingin kembali berbaring dan pura-pura tidur tapi pintu keburu di buka dan aku sangat terkejut bercampur malu ketika melihat orang-orang yang berada di belakang Kak Laras sudah berdiri di depan pintu dan hendak masuk ke dalam.


“Nita...!” Disa dan Riris menghambur memeluk ku. Aku panik dan malu karena mereka datang di saat aku awut-awutan.


“E he heyy, kenapa kalian ada di sini?”

__ADS_1


“Tadi kita ke rumah kamu, tapi katanya kamu lagi sakit dan sedang di rawat di sini,” jelas Disa yang paling aktif saat berbicara.


“Oh,” balasku dengan masih menahan rasa malu apa lagi tiba-tiba beberapa rekan pria dari kantor tempat ku bekerja juga ada di ruangan itu.


“Bagaimana keadaan mu, Nit?” Tanya Heru yang biasa membantuku jika aku kewalahan menghadapi pekerjaanku yang menumpuk setiap akhir bulan.


“Baik, aku nggak apa-apa, kok. Hanya butuh sedikit perawatan saja,” jawabku sambil nyengir dan mencoba merapikan rambutku yang tak tentu arah.


“Kamu nggak kepikiran buat kembali ke perusahaan? Kasian lho Pak Erik uring-uringan semenjak nggak ada kamu,” kekeh Surya yang dari dulu memang suka menjahiliku.


“Sembarangan!” Delik ku.


“Oiya, kenapa kamu nggak nikah aja sih, Ris sama Pak Erik. Kan, lumayan banyak duitnya,” saran konyol dari Disa pada Riris.


“Kenapa aku? Kalau mau, ya kamu aja,” tolak Riris.


“Bukannya aku nolak, tapi kasian Pak Erik kalau di malam pertama bakal bengek dengan goyangan ku,” balas Disa sambil menyombongkan body semoknya.


-


-


-


Bolak balik aku melihat sisa saldo ku yang kian menipis setelah pulang dari Rumah Sakit kemarin.


“Kenapa? Saldonya nggak akan berubah meski kamu pelototin siang dan malam,” kata Kak Laras yang tahu apa yang sedang ku pikirkan.


Masa panen masih lama lagi, itu pun mungkin tidak seberapa dengan biaya yang aku keluarkan untuk membayar biaya Rumah Sakit. Sedangkan kini aku sudah tidak bekerja di perusahaan lagi. Dengan keadaan yang tidak bekerja malah harus keluar masuk Rumah Sakit untuk berobat.


Aku tidak mengasihani dirku sendiri, tapi lebih ada rasa bersalah pada Kak Laras yang selalu di repotkan dengan keadaanku.

__ADS_1


Walau kini aku sudah berusaha menjaga kesehatan ku, tapi penyakitku memang sudah agak parah sehingga tetap saja aku harus menjalani perawatan. Dan akhirnya aku di bawa ke kota tempat Kak Agil di mana katanya ada Dokter yang bisa menangani penyakitku di sana.


Dengan mobil Om Wandy kami berangkat sore itu karena sejak siang aku selalu muntah-muntah.


Aku tertidur saat di perjalanan dan terbangun saat sudah berada di sebuah ruangan Rumah Sakit. Ruangan Rumah Sakit yang tampak asing karena memang aku baru pertama kali di rawat di sana. Aku berusaha membuka mata ku saat ku dengar suara-suara di ruangan itu. Aku dengar suara Kak Agil dan Om Wandy tapi ada suara orang lain lagi yang berbincang dengan mereka berdua. Dari cara mereka berbicara, tampaknya mereka sudah saling kenal. Karena tak mampu membuka mata, khirnya aku kembali tertidur.


Aku terbangun keesokannya dan sedikit demi sedikit aku berhasil membuka mataku. Ku lihat seseorang berpakaian putih yang berdiri di samping tempat ku berbaring. Seakan orang itu memang sudah menungguku untuk terbangun bahkan ia menyebut namaku.


“An...?”


...**Tbc...


-


-


-


Jeng jeng...


siapakah dia 😅😅


Besok lanjut!


Jangan lupa jejaknya 👍 agar othor semangat nulis.


Maaf jika tidak sempat balas komen kalian satu persatu. Tapi othor selalu baca dan benar-benar sangat senang walupun yg komen cuma dikit dan yg like gak seberapa. Tapi terimakasih banyak untuk kalian semua yg selalu mampir.


Oiya, cover di ganti lagi nih...


semoga suka ya 😂😂

__ADS_1


__ADS_2