
...Happy reading...
Tiada sedetik pun aku melupakan rasa sakit itu. Meski ragaku terlelap tapi selalu saja kenangan-kenangan itu bermunculan memenuhi ruang pikiran ku. Aku bahkan menangis di dalam tidurku.
Sangat berat aku menghadapi hari-hariku dengan kenangan yang terus membayang. Aku sering tidak fokus saat bekerja karena pikiranku tak tentu arah.
Suatu sore di akhir pekan beberapa rekan kerjaku yang juga tinggal di perumahan yang tak jauh dari tempat tinggal ku terlihat ramai mengendarai motor entah kemana mereka pergi tapi jujur saja aku jadi sangat penasaran.
Setelah libur akhir pekan berakhir, kami kembali bekerja seperti biasanya. Di sela jam istirahat makan siang aku mencoba bertanya kemana saja mereka pergi dengan mengendarai motor.
Ternyata mereka pulang ke desa mereka masing-masing setiap akhir pekan dengan mengendarai motor itu. Katanya ada jalan yang lebih cepat untuk sampai ke desa, tapi medan yang di tempuh pun tidak mudah apa lagi di saat musim penghujan.
Mendengar dari cerita rekan-rekanku itu aku mulai berpikir kenapa aku tidak membeli motor saja untuk pergi ke desa agar aku bisa lebih sering menjenguk makam Ayah, Bunda dan juga Oma.
Tidak butuh waktu lama aku sudah memiliki sebuah motor Trail yang menurutku sangat cocok dengan medan yang ada di sana. Aku mencoba perjalanan pertamaku sore itu dengan beberapa rekan kerjaku yang ingin pulang ke desa.
Ternyata sangat menyenangkan naik turun gunung dengan mengendarai motor. Aku jadi teringat dulu aku sering balapan sepeda dengan teman-temanku. Dulu aku juga sering naik motor bersama Ayah saat pergi ke kebun.
Di saat musim hujan jalan akan menjadi becek dan berlumpur. Tapi aku malah senang karena melewati jalan tersebut bisa melatih kelincahan kita dalam mengendarai motor. Kadang kami berlomba untuk dapat lolos dari jalan yang berlubang dan berair hampir menyerupai kolam. Yang tertinggal maka bulan depan ia harus mentraktir teman-teman yang lolos lebih dulu.
Ternyata ini therapy yang sangat manjur. Perlahan aku mulai pulih dari kedukaanku. Meski tidak mungkin aku melupakan sepenuhnya.
Sore sebelum aku kembali ke tempatku bekerja aku singgah sebentar untuk melihat rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalku. Terlihat sepi dan seperti tidak berpenghuni. Karena Kak Ilham dan Kak Rama memang tidak tinggal di sana. Mereka sudah memiliki rumah masing-masing di kota tempat mereka bekerja.
Suasana di pekarangan rumah itu masih sama, terasa sangat sejuk karena di kelilingi pepohonan dan masih ada juga beberapa jenis tanaman bunga di sana. Hanya saja tampak tidak terurus.
Aku mendudukan tubuhku di bangku kayu yang ada di bawah pohon. Bangku itu dulunya sengaja Ayah buat agar aku bisa bermain. Dulu aku sering menidurkan boneka ku di sana.
__ADS_1
Beberapa saat berada di sana dan mengenang masa-masa kecil ku, aku pun beranjak ingin menuju ke motorku untuk melanjutkan perjalanan pulang.
"Anita!?" Ku dengar ada suara yang nemanggil namaku. Aku pun berbalik menoleh ke arah suara itu.
Ku lihat Kak Silvi istri dari Kak Ilham berdiri di sana. Aku ingin menghampirinya tapi aku ragu.
"Sejak kapan kamu ada di sini?"
"A aku, hanya singgah sebentar sebelum kembali ke tempat kerja," jawabku.
"Mari, masuk dulu," ajak Kak Silvi. Aku ingin sekali rasanya menerima ajakan Kak Silvi, tapi aku juga masih ingat bagaimana Kak Rama dulu mengusirku.
"Ini sudah terlalu sore, mungkin lain kali." Aku berbalik dan menuju ke motorku yang ku parkirkan di tepi jalan.
"Anita!"
"Anita, ada yang ingin Kakak sampaikan ke kamu." Aku pun langsung berbalik ke arah Kak Ilham dan Silvi yang berdiri di teras.
Keraguanku hilang ketika Kak Ilham yang mengajak ku untuk masuk ke rumah yang penuh dengan kenangan itu.
Kami sudah berada di ruang tamu. Kak Silvi membuatkan aku secangkir teh hangat dan menyuruhku untuk minum terlebih dahulu. Sementara Kak Ilham masuk ke dalam dan tidak lama ia keluar lagi dengan sebuah map berwarna coklat.
"Anita, sebelumnya kami ingin meminta maaf, atas ke khilafan kami selama ini. Dan kami juga ingin mengembalikan hak kamu yang telah di amanahkan Ayah dan juga Bunda sebelum beliau meninggal. Ini ada surat tanah yang di hibahkan atas nama kamu, tapi karena ke khilafan kami waktu itu kami sengaja menahannya dan tidak menyampaikan nya. Sebetulnya ada juga sejumlah uang tabungan juga untuk melanjutkan pendidikan kamu setelah lulus sekolah waktu itu. Tapi uang itu sudah habis dan terakhir Kak Rama menggunakannya untuk pengobatan anaknya yang sudah lama sakit. Itu pun masih belum cukup sehingga ia harus menjual tanah bagiannya. Kami juga saat ini sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membantu, karena ada banyak masalah di perusahaan tempat Kakak bekerja."
Aku terkejut dan menutup mulut ku. Bukan karena surat tanah dan uang itu, tapi aku hanya kasihan saja pada anaknya Kak Rama yang masih kecil itu harus menderita sakit. Dengan keadaanku sekarang ini aku tidak membutuhkan apa pun lagi. Aku sudah merasa cukup dengan apa yang telah aku miliki. Aku juga tidak tega mendengar Kak Ilham yang mengalami banyak masalah
"Kamu mau kan memaafkan kesalahan kami?" Tanya Kak Silvi memecah keteganganku.
__ADS_1
"Aku tidak merasa kalian bersalah padaku, hanya aku sedih saja orang yang ku anggap keluargaku satu-satunya telah membuangku juga. Tapi sekarang aku sudah tidak mempermasalahkannya. Soal surat tanah itu aku tidak membutuhkannya, kalian bisa menjualnya untuk biaya berobat dan kebutuhan kalian sehari-hari."
"Tapi kami tidak bisa menerimanya, ini adalah hak kamu. Tolong bantu kami dengan menerima surat tanah ini. Semoga kehidupan kami ke depannya bisa lebih baik lagi." Kak Ilham memohon agar aku menerima map berisi surat tanah tersebut.
"Baik lah, aku menerimanya. Soal uang itu aku mengikhlaskannya, lagi pula aku sudah menganggap kalian keluarga. Sampaikan salam ku juga pada keluarga Kak Rama dan semoga anaknya lekas sembuh." Ku akhiri obrolan itu karena hari sudah terlihat gelap. Mungkin aku akan kemalaman tiba di perumahan.
-
-
-
Aku kembali ke kota untuk melihat rumahku dan juga aku sudah sangat rindu jajanan yang ada di sana. Kali ini aku mencoba kemampuanku dengan mengendarai motorku untuk pulang ke kota.
Ketika memasuki halaman rumah ku lihat Kak Agil sedang duduk di teras bersama Om Wandy. Sepertinya mereka tidak mengenaliku karena aku sedang memakai helm. Tapi sangat jelas terlihat wajah mereka seperti bertanya-tanya ketika melihat ke arahku.
...**Tbc...
-
-
-
Jangan lupa like komen dan klik ❤
Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 🤗
__ADS_1
Thanks all...😘😘**