
"Om, katanya pergi beberapa hari, tapi kok udah kembali?" Aku bertanya dengan mulutku yang masih mengunyah cemilan.
"Atasan Om, udah kelar urusannya. Selain itu Om juga khawatir ninggalin kamu lama-lama. Ternyata ke khawatiran Om itu sangat tidak perlu, karena...--"
Om Wandy menggantung ucapannya sambil melirik ke arahku. Aku menghentikan kunyahanku sambil menatap pada Om Wandy juga. Aku tau Om Wandy melihat Kak Ardi bersamaku tadi. Dan pasti Om Wandy akan meledekku. Aku pun sudah menyiapkan mentalku untuk setiap ledekan dari Om Wandy.
"Apa?" Aku bertanya sambil memperlihatkan wajah jutekku. Kemudian aku kembali mengunyah makanan yang ada di mulutku.
"Nggak apa-apa...." Om Wandy kemudian kembali menyeruput kopinya. Lalu ia beranjak dari kursinya sambil membawa kopinya. "Oiya, jangan lupa eskrim nya di makan. Kalau perlu di habiskan aja."
"Iya, nanti Anita makan eskrimnya. Tapi kalau untuk menghabiskan sepertinya nggak mungkin. Karena Anita nggak boleh banyak-banyak makan eskrim," jawabku.
"Kenapa nggak boleh? Bukannya itu bagus,ya? Anita tenang aja, Om sudah tau harus bawa Anita berobat kemana nanti."
"Om...!!" Aku berteriak karena kesal. Sementara Om Wandy langsung pergi ke teras membawa kopinya. Dan aku yakin, Om Wandy pasti sudah tergelak di sana.
-
-
-
Setelah sudah siap dengan seragam sekolahku, aku pun langsung pergi ke teras dan mengenakan sepatu ku sambil duduk di bangku. Ku lihat Om Wandy sudah menungguku di dekat mobilnya sambil berbicara melalui ponselnya.
Saat aku menghampiri Om Wandy, tiba-tiba ada motor yang berhenti di depan rumah, di dekat mobil Om Wandy yang juga sedang terparkir di sana.
"Selamat pagi,Om," Kak Ardi turun dari motornya lalu menyapa Om Wandy yang baru saja mematikan HPnya.
"Selamat pagi. Mau jemput Anita?" Tanya Om Wandy.
"Apa boleh, Om?" Tanya kak Ardi kembali. Sambil kak Ardi tersenyum padaku.
"Boleh, tapi hati-hati, ya. Jangan ngebut," pesan Om Wandy. "Anita, nggak apa-apa kan pergi ke sekolah bareng temannya dulu. Kebetulan Om ada urusan mendadak." Aku pun menjawab dengan mengangguk saja.
"Ayo," ajak Kak Ardi.
Aku pun naik ke motor Kak Ardi, sementara Om Wandy sudah pergi lebih dulu meninggalkan halaman rumah.
"Kenapa nggak bilang dulu kalau mau menjemputku?" Protesku pada kak Ardi.
"Kenapa? Apa, Om kamu marah? Tapi sepertinya nggak." Kata Kak Ardi sambil fokus menyetir.
__ADS_1
"Bukan itu..., tapi aku nggak mau kalau Om Wandy semakin ngeledekin," jelasku.
"Kalau Om kamu ngeledekin, itu artinya dia nggak ada masalah dengan hubungan kita?"
Aku hanya bergumam. Tapi Kak Ardi sepertinya sudah tau jawabannya.
"Kak, cepetan dikit," kataku, ketika mulai memasuki gang menuju sekolah kami.
"Aku sudah janji sama Om kamu, untuk hati-hati. Keselamatan kamu kamu saat ini tanggung jawab aku."
"Iya, iyaa...." Sebetulnya aku malu ketika harus berpapasan dengan teman-teman lamaku yang kemarin sempat mengejekku. Untungnya mereka tidak melihatku. Mungkin karena ramainya murid-murid yang juga melewati jalan itu, sehingga mereka tidak begitu fokus ke arahku.
Tidak lama aku dan kak Ardi sudah sampai di sekolah. Kami berjalan menuju ke kelas, dan Kak Ardi tiba-tiba menggegam tangan ku, membuat tangan kami saling bertautan.
"Kak...." Aku berusaha melepaskan. "Malu di lihat yang lain," kataku.
Udah..., nggak apa-apa," kata Kak Ardi.
Aku malu, tapi juga merasa senang karena dengan seperti ini, orang-orang akan tau hubungan kami berdua. Terutama untuk para teman-teman perempuan Kak Ardi.
Saat berjalan menuju kelas, beberapa murid terlihat ramai, bahkan ada yang sampai bersorak melihat kami yang masih saja berpegangan tangan.
"Ckckck...,nambah lagi nih korban si Ardi," ucap salah satu murid laki-laki yang tak lain adalah teman Kak Ardi sendiri.
"Kak Dewi...," sapa ku.
"Sebentar, kalian ini pacaran?" Tanya kak Dewi, langsung ke intinya.
"Menurut kamu sendiri gimana, Wi?" Kak Ardi malah mengembalikan pertanyaan kak Dewi. Aku hanya diam saja.
"Nggak masalah kalau emang kalian jadian. Tapi tolong jangan berlebihan seperti ini ketika berada di sekolah. Kalian udah kayak mau nyebrang jalan, tau nggak!?" Kata Kak Dewi sambil memandang tangan kami yang masih bertautan.
Buru-buru aku melepaskan tanganku. Sementara kak Ardi hanya nyengir saja.
"Jangan cemari nama baik sekolah kita, dengan sikap kalian seperti tadi. Kalau di luar terserah kalian, tapi tidak saat berada di sekolah atau di dalam kelas," tegas Kak Dewi.
"Iya, Kak," jawabku.
"Iya, Bu Ustadzah...." Kak Ardi malah menjawab dengan ledekan saja nasihat dari Kak Dewi. Sepertinya mereka sudah biasa adu mulut dan saling ledek.
"Anita masuk dulu, Kakak mau bicara sama dia," titah Kak Dewi sambil melirik Kak Ardi yang masih saja cengengesan.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu masuk ke kelasku. Tapi sebelumnya aku sempat mendengar Kak Dewi berbicara pada Kak Ardi dengan nada mengancam. Aku hanya tersenyum saja mendengar kata-kata Kak Dewi.
-
-
-
Tibalah di hari penerimaan raport bagi murid-murid di sekolahku. Satu persatu nama juara kelas di panggil untuk maju ke depan. Aku senang saat namaku juga di panggil. Tapi targetku meleset untuk memenangkan tantangan dari Om Wandy. Aku hanya mendapatkan peringkat ketiga di kelasku. Aku kurang di bidang agama.
Saat keluar dari kelas ku lihat Kak Ardi berbicara dengan dua orang murid perempuan. Sepertinya mereka menanyakan sesuatu pada Kak Ardi. Kak Ardi langsung mengakhiri obrolannya ketika melihatku sudah berjalan meninggalkan kelas.
"Anita...!"
Aku mendengar Kak Ardi memanggilku. Tanpa menoleh aku melanjutkan langkahku. Namun tidak secepat sebelumnya.
"Kakak masih di sini. Kenapa belum pulang?" Tanyaku.
"Ya, aku nungguin kamu, An...."
"Sambil ngobrol sama cewek-cewek tadi?" Kataku.
"Mereka itu teman aku, dan mereka juga udah tau kalau aku adalah milik kamu. Bukan hanya mereka, bahkan satu sekolah juga udah tau. Kecuali para guru, mungkin ada beberapa. Hehe...."
"Oh," kataku.
"Terimakasih, udah cemburu."
"Siapa yang cemburu? Kepedean!" Aku mempercepat langkahku mendahului kak Ardi. Semoga Kak Ardi tidak melihat wajahku yang mungkin sudah memerah.
Kak Ardi menghentikan motornya ketika sudah sampai di depan rumahku.
"Apa kamu sudah punya rencana, akan pergi kemana liburan ini?" Tanya Kak Ardi.
"Belum," jawabku.
"Hm..., apa kamu akan pulang ke kampung?"
"Aku belum tau, Kak."
"Aku nggak berhak untuk melarang kamu pergi. Tapi jika boleh meminta, aku mau kamu tetap di sini." Kak Ardi tertunduk sendu setelah berkata seperti itu.
__ADS_1
"Aku juga nggak mau pulang. Tapi aku juga belum tau bagaimana nanti. Kalau Ayah dan Bunda memintaku untuk pulang, aku nggak mungkin menolak. Nanti aku kabari Kakak, ya," ucapku.
"Harus." Kak Ardi membalas dengan senyuman. Tapi senyumannya berbeda dari biasanya. Senyum ketidakrelaan.