
...Happy reading...
“Aku nggak mau semakin terlihat buruk di mata keluarga Abang. Sudah cukup aku mendapatkan julukan anak pembawa sial dari keluarga ku sendiri, aku tidak ingin menambah julukan baru lagi.”
“Tapi Abang nggak bisa menikah dengan orang lain selain sama kamu, dan kamu tau itu. Abang nggak bisa jauh-jauh dari kamu, Dek....” Aku dapat melihat kesungguhan di mata itu, tapi aku juga tidak berdaya dengan takdir ku sendiri.
“Kita bisa sama-sama berjuang untuk saling melupakan.” Aku mengubah posisi ku mengenyamping karena aku juga sakit saat mengucapkan kalimat itu. Dan lagi-lagi air mata ku tidak bisa aku tahan.
“Apa, melupakan!? Kamu tau itu nggak mudah, bisa-bisanya kamu berucap seperti itu!”
“Memang nggak mudah, Bang...tapi kita sudah nggak ada pilihan lain. Aku juga nggak mau merebut seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarganya demi ke egoisan ku!” Kali ini Bang Fauzan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sepertinya sadar dengan apa yang aku ucapkan.
Aku juga cukup tahu diri karena sebelum Bang Fauzan mengenalku, dia adalah milik keluarganya dan aku bukanlah apa-apa. Ilmu yang ku dapatkan di sekolah yang telah Ayah pilihkan waktu itu kini masih melekat di otak ku. Sedikit banyaknya aku tau kewajiban seseorang anak laki-laki terhadap orang tuanya. Kini aku mengerti hikmah dari kejadian beberapa tahun yang lalu sehingga aku di paksa untuk menimba ilmu di sana. Aku boleh saja kekurangan kasih sayang dari keluarga ku, tapi aku tidak akan kekurangan moral.
Bang Fauzan meremas kasar rambutnya raut wajahnya terlihat sangat frustasi dengan keputusan ku. Ia mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu besar itu. Kemudian aku mendekatinya mencoba membujuk meski sebenarnya akulah yang paling terluka di dalam situasi ini. Pengalaman ku dengan banyak luka mulai dari aku yang di buang keluarga ku hingga di tinggal menikah oleh orang yang ku cintai telah membuat aku sedikit lebih bisa menyikapi keadaan.
“Bang, kita harus relakan semua ini. Mungkin aku memang tidak di takdirkan untuk bahagia. Tapi aku yakin, akan ada kebahagiaan untuk Abang.” Sambil aku ikut duduk di sampingnya.
“Kalau pun kita nggak bisa bersama, tapi Abang tidak akan menikah dengan siapa pun juga!”
“Tapi keluarga Abang sudah mencarikan Abang jodoh. Kalau Abang menolak maka keluarga Abang akan menyalahkan aku.”
“Jadi kamu ingin Abang menikah dengan orang lain!?”
__ADS_1
“Tidak ada pilihan lain,” aku menjawab dengan berurai air mata. Wanita mana yang mau merelakan orang yang di cintainya menikahi orang lain. Tapi keadaanlah yang membuat ku harus memutuskan semua ini.
“Kita akan tetap meminta restu setelah kita menikah nanti. Mereka pasti akan pasrah dan memberikan restu pada kita,” ucap Bang Fauzan seraya menegakkan duduknya dan menatap ku dengan sorot matanya yang sulit ku baca.
Aku mengernyit tidak mengerti apa arti dari ucapannya tersebut. Belum habis aku berpikir, Bang Fauzan meraih tengkuk ku lalu me*u*at b*bir ku me*ag*tnya dengan lembut. Lalu kemudian pag*tan itu semakin memanas dan Bang Fauzan membuat tubuh ku terbaring di atas kasur yang menjadi tempat duduk kami tadi.
“Bang...!” Aku sempat menyerukan namanya sebelum akhirnya mulutku kembali di bungkam oleh Bang Fauzan dengan b*bir dan l*d*hnya yang semakin menari-nari liar di rongga mulut ku. Aku mencoba mendorong tubuhnya agar menyingkir dari atas tubuhku. Tapi tubuh itu seakan tidak tergeserkan samasekali.
“Bang...cukup! Aku takut!” Aku berteriak ketika mendapat celah. Air mata pun mengalir dari sudut mata ku.
Bang Fauzan beralih menciumi leher ku sambil mengecu*inya tanpa mendengarkan aku yang memintanya untuk berhenti. Tangannya pun sudah berada di balik kaos ku me*aba dan bahkan m*re*as bagian tubuh ku.
Tubuhku bergetar, air mata ku semakin deras mengalir membasahi pelipis dan rambut ku. Aku kehabisan kata-kata untuk membuat Bang Fauzan berhenti.
“Aku nggak mau seperti Mama dan Papa yang menikah tanpa restu lalu berakhir dengan perceraian! Aku nggak mau anak ku nanti bernasib sama dengan ku. Hiks...hiks hiks....!” Akhirnya tangis ku pecah memenuhi sudut ruangan kamar hotel itu. Entah karena kata-kata ku atau karena suara tangis ku yang terlampau keras. Bang Fauzan yang tadi hampir menyibakkan penutup aset bagian atas ku langsung berhenti seperti tersadar.
Ia mengusap kasar wajahnya seraya mengambil posisi duduk di tepi kasur. Dan perlahan aku bangkit dari posisi ku dengan tubuh yang masih bergetar. Ku turunkan kembali kaos ku yang tadi sempat tersibak ke atas kemudian aku kembali menangis sambil menutupi wajah ku yang sudah banjir oleh air mata.
Bang Fauzan mendekat dan memeluk ku yang masih tergugu. “Maaf, Abang benar-benar menyayangi kamu dan takut kehilangan kamu, Dek....”
“Dek...,apa yang harus Abang lakukan...?” Bang Fauzan bersujud di pangkuan ku sepertinya ia sangat menyesal.
Aku berusaha menghentikan tangis ku dan mengatur nafas ku sebelum berbicara. Aku meletakkan tangan ku di kepala Bang Fauzan yang masih tertunduk di pangkuan ku.
__ADS_1
“Lakukan apa yang aku katakan tadi. Menikahlah dengan wanita yang di inginkan keluarga Abang. Dengan begitu Abang sudah membantu ku untuk mengubah pandangan keluarga Abang terhadap ku.”
“Dekk...!?” Bang Fauzan langsung mengangkat wajahnya.
“Jika di undang, akan aku usahakan untuk datang,” lanjut ku tanpa melihat wajah Bang Fauzan yang kini semakin menatap lekat ke arahku.
Bang Fauzan mensejajarkan posisi kami berdua lalu mengarahkan wajah ku agar menatap padanya. “Anita Agustina Aziz...aku sangat mencintaimu. Aku sudah menghapal nama itu untuk aku ucapkan di saat ijab qabul. Tapi jika kamu yang memintanya untuk mengganti nama itu dengan nama orang lain, maka akan aku lakukan. Aku lakukan demi kamu seorang.”
Aku kembali berkaca-kaca tidak tau harus sedih atau bahagia ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut orang yang ku cintai itu. Tapi sepertinya nama ku memang tidak di takdirkan untuk tertulis di sebuah buku dengan ikatan suci pernikahan.
🤧🤧
Bukan hanya ingin mengubah pandangan keluarga dari Bang Fauzan saja, tapi aku juga ingin memutus mata rantai atas cemoohan orang-orang tentang sejarah kedua orang tua ku yang pernah menikah tanpa restu. Jika aku juga melakukan hal yang sama, maka orang-orang itu akan semakin bersorak senang dan mengucapkan pribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Tentu aku tidak akan membiarkan hal itu. Meski aku di abaikan sejak kecil, tetap saja aku merasa sakit saat mendengar nama mereka di sebut dengan cemoohan.
...Tbc...
-
-
-
Othor bingung memilih kata-kata buat adegan dewasanya biar bisa di lolosin. Di tambah lagi othor yang masih lugu juga 😂😂✌
__ADS_1
**Jangan lupa jejaknya agar lelah othor terbayarkan dengan dukungan dari kalian👍
Thanks atas like & komennya 😍**