Luka Terdalam

Luka Terdalam
ADA YANG MENJEMPUTKU


__ADS_3

...Happy reading...


Air mata ku kembali meluncur tanpa bisa aku menahanya. Baru sebentar aku merasa kebahagiaan ku benar-benar utuh sejak kedua Oma ku mengakui aku sebagai cucunya. Baru beberapa waktu lalu aku bisa merasa bahagia setelah meraih impian ku untuk membeli rumah, tapi dalam sekejap Tuhan mengambil kebahagiaan ku yang lain.


Om Wandy datang ke rumah ku dan berbincang dengan Kak Laras. Tidak lama ia masuk ke kamar ku yang memang sedang terbuka.


Om Wandy duduk di tepi kasur ku sementara aku masih duduk di kursi dekat jendela. Aku masih diam menatap kosong ke arah luar jendela. Sepertinya ia juga tidak tau harus berbicara. Hingga akhirnya Om Wandy pergi tanpa berucap sepatah kata pun.


Aku keluar dari kamar ku berniat untuk mengantar kepulangan Kak Laras pagi itu. Ku lihat Kak Laras masih sibuk di dapur dan bahkan masih mengenakan piyama tidurnya.


"Bukan nya Kakak akan pulang pagi ini?" Tanya ku.


"Mungkin besok," jawab Kak Laras sambil menyuapi anaknya. Aku bahkan belum sempat bermain dengan keponakan ku setelah kedatangannya kemarin.


"Aku baik-baik aja, sekarang," ucap ku seraya memangku Rifqy.


"Apa nya yang baik? Kamu bahkan hampir mirip dengan Rifqy yang masih harus di urusin," sungut Kak Laras.


Aku tidak mempedulikan ocehan Kak Laras aku asik bermain dengan Rifqy. Aku sangat gemas melihat pipinya yang bulat. Kemudian terdengar suara bel pintu. Ku biarkan Kak Laras yang beranjak karena aku sedang bermain dengan Rifqy.


Tidak lama Kak Laras menghampiri ku dan mengatakan kalau ada tamu laki-laki yang mencari ku. Karena merasa penasaran aku pun langsung menuju ruang tamu di mana ku lihat pria yang di maksud Kak Laras tadi sedang duduk di sana.


"Bang Fauzan?" Aku sedikit terkejut dengan kedatangan Bang Fauzan ke rumah ku pagi itu. "Tau dari mana tempat tinggal ku?"


"Aku berdo'a pada Tuhan agar di tunjukan jalan menuju rumah mu. Hehe...."


"Oh, begitu? Sepertinya Tuhan mengabulkan do'a Abang, ya?"

__ADS_1


"Begitu lah." Bang Fauzan masih dengan senyum nya. "Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Seperti yang Abang lihat," jawabku.


"Apa kamu berhenti dari pekerjaan?"


"Tidak. Tapi jika perusahaan mengeluarkan ku maka aku sudah siap."


"Lalu, ada masalah apa? Setauku, kamu salah satu Karyawan perusahaan yang selalu bisa di andalkan. Bahkan di segala cuaca," kekeh Bang Fauzan. Aku ikut tersenyum menanggapi ucapannya.


Bagaimana tidak, hanya aku Karyawan wanita yang tidak mundur dari pekerjaan itu meski harus kehujanan dan kepanasan ketika sedang bertugas.


"Mau minum apa, Bang?" Tanyaku mumpung ada Kak Laras yang nanti akan membuatkan nya.


"Apa aja, meski sebetulnya haus ku sudah hilang ...-- "


Aku memang sedih dan terluka, tapi aku juga orang yang bisa menyembunyikan semua itu terutama di hadapan orang lain. Karena sejak kecil aku sudah terlatih untuk itu.


"Minum nya apa aja kan, Bang? Ya sudah, aku ambilin air keran dulu," kataku sambil ingin berdiri.


"Ehm." Kak Laras sudah ada di ruangan itu juga dengan membawa nampan berisi secangkir kopi panas lalu meletakkan nya di atas meja. Kak Laras tadi juga sempat melotot pada ku setelah meletakkan cangkir kopi itu. Kak Laras mungkin ingin menegur sikap ku tadi, tapi tidak enak jika di hadapan Bang Fauzan. Padahal candaan seperti itu sudah biasa bagi ku dan Bang Fauzan.


"Di minum dulu Bang, kopinya," kataku mempersilakan. "Oiya, ini Kakak sepupuku yang aku ceritain waktu itu. Dan ini Bang Fauzan teman kerjaku di bagian lapangan." Aku saling mengenalkan keduanya. Kak Laras jadi antusias mendengarkan obrolan kami.


"Anita, sebetulnya kedatangan ku ke sini untuk menjemput mu. Tapi jika kamu masih ingin liburan, nanti akan aku bicarakan lagi dengan Pak Erik. Sebetulnya atas perintah beliau juga aku datang ke mari." Pak Erik adalah atasan ku di perusahaan tempat ku bekerja. Kami sudah seperti keluarga besar di perusahaan itu. Bos dan Karyawan hanya berlaku di saat jam kerja saja, di luar dari itu kami semua bergaul layaknya seorang teman.


Tak jarang Pak Erik ikut bergabung di meja makan yang sama dengan kami. Bahkan ia sering meminta bekal yang kami bawa dari rumah. Maklum, Pak Erik adalah duda beranak satu. Tapi anaknya ikut bersama istrinya. Aku juga baru tau hal itu dari beberapa rekanku.

__ADS_1


Kami juga pernah mengerjai Pak Erik dengan memberikan cabai yang banyak di makanan kami lalu membiarkan Pak Erik mengambilnya. Tentu saja ide itu tercetus dari otak ku setelah mengetahui kalau atasan kami itu tidak tahan makanan yang pedas. Pak Erik pernah terlihat seperti mau pingsan karena kepedasan. Bukannya prihatin, salah satu teman ku malah menyarankan agar Pak Erik di berikan nafas buatan dari Ibu penjaga kantin perusahaan yang kebetulan juga seorang janda. Tentu saja kelakuan temanku itu jadi bahan lawakan yang membuat ruang kantin jadi ramai dengan suara ketawa para Karyawan yang lain.


Setelah cukup berpikir akhirnya aku setuju untuk kembali ke tempat ku bekerja. Sore itu aku bersiap untuk berangkat dan Bang Fauzan sudah menunggu ku di depan.


Sebelum aku pergi Kak Laras tak henti-hentinya memberikan ku nasihat. Aku memang cekatan dalam bekerja, tapi aku sangat ceroboh dalam menjaga diri sendiri. Itu lah yang selalu menjadi ke khawatiran Kak Laras.


"Aku janji, akan menjaga diri ku dengan baik," kataku. Kemudian aku berpamitan pada Kak Laras. Aku juga meninggalkan kunci cadangan untuknya agar kapan pun dia datang kesini dia bisa menginap. Karena mungkin aku akan jarang pulang ke rumah ini.


Aku juga sempat menyarankan agar ia mengajak Kak Agil mencari pekerjaan di kota ini saja. Barangkali ada perusahaan yang mau menerimanya meski dengan keadaan yang tidak sesempurna dulu. Kak Agil belum dapat berjalan dengan sempurna pasca kecelakaan yang di alaminya. Tapi Kak Laras bisa bantu-bantu nambah keuangan dengan menerima pesanan kue dari ibu-ibu pengajian. Kemampuan Kak Laras dalam membuat kue juga tidak di ragukan lagi. Selain itu aku juga di untungkan jika ada yang menjaga rumahku.


Di perjalanan


"Anita, kenapa nomer kamu tidak aktif? Sejak tadi malam aku menghubungi mu. Apa kamu mengganti nomer mu?" Tanya Bang Fauzan yang sambil menyetir.


"Oh, i iya. Aku mengganti nomer ku karena nomer itu sering di teror orang. Aku juga tidak tau siapa," jawabku sambil membuang pandangan ke luar melalui jendela mobil.


"Oh, pantas saja tidak bisa di hubungi." Bang Fauzan tersenyum sambil melihat sekilas ke arah ku. Kemudian ia kembali fokus menyetir.


-


-


-


...Tbc...


**Maaf jika masih ada typo, karena othor nulisnya mode gemetar sambil pegangan di pohon toge 😂😂 (canda...

__ADS_1


Thanks all...😘😘**


__ADS_2