Luka Terdalam

Luka Terdalam
TIDAK ADA YANG BERUBAH


__ADS_3

Malam setelah minum obat dari dokter, pagi nya aku sudah merasa jauh lebih baik.


Sebetulnya Om Wandy melarang ku pergi dan menyuruh ku untuk beristirahat saja dulu. Tapi bukan Anita namanya jika tidak keras kepala.


Aku tetap pergi ke perusahaan tersebut untuk mengurus pencairan uang sewa tanah ku tersebut. Setelah semua sudah beres aku kembali ke rumah Om Wandy. Aku pikir aku akan langsung mendapatkan uang tersebut, tapi nyatanya aku harus menunggu hingga beberapa hari lagi. Itu pun pencariannya secara bertahap. Semoga uang tersebut sudah berada di tangan ku sebelum genap seminggu. Batinku.


Om Wandy masih belum pulang, aku mencoba mencari keringat dengan berberes-beres rumah. Lalu kemudian aku pergi ke warung yang biasa menjual berbagai macam lauk yang sudah siap saji. Aku membeli beberapa jenis lauk lalu kemudian menatanya di meja. Aku sengaja membeli lebih untuk sekalian makan malam. Karena Om Wandy biasanya sering bangun di malam hari dan mencari makan ke dapur.


Setelah makan dan minum obat aku tertidur karena ngantuk akibat efek obat yang ku minum. Saat aku terbangun hari sudah sore. Aku pergi mandi saja untuk menghilangkan sisa kantuk ku.


Akibat terlalu sibuk mengejar ambisi ku, aku sampai lupa kalau aku seharusnya bisa menelepon Kak Ardi mau pun Kak Laras.


Aku menghubungi Kak Laras terlebih dahulu agar setelah itu aku bisa sepuasnya menelepon Kak Ardi.


Kami saling menanyakan kabar masing-masing. Aku sedih dan merasa prihatin atas kejadian yang menimpa Kak Agil. Akibat kecelakaan yang di alaminya, hingga kini ia belum bisa berjalan apa lagi bekerja. Dan kini mereka terpaksa harus tinggal di rumah kedua orang tua Kak Agil. Meski orang tua Kak Agil terbilang orang yang cukup berada, tapi tidak membuat Kak Laras berdiam diri saja. Ia menggunakan keahlian memasaknya untuk menerima cateringan. Hanya pekerjaan itu yang bisa ia kerjakan agar tetap bisa merawat dan mengasuh anaknya yang masih kecil. Anak pertama Kak Laras seorang putra, yang di beri nama Rifqi.


Aku menyemangati Kak Laras dan berjanji akan berkunjung bila ada waktu. Aku tidak memberitahukan Kak Laras tentang usaha ku untuk membeli rumah kontrakan yang pernah kami tempati dulu. Biar nanti menjadi kejutan.


Aku beralih menelepon Kak Ardi. Setelah beberapa kali aku menelpon baru lah Kak Ardi menerima panggilan ku.


"Halo, Anita?"


"Kak, apa kabar?" Tanya ku.


"Aku baik. Kamu bagaimana? Apa kamu sedang berada di rumah Om Wandy?"


"Yup, tapi hati ku ada bersama Kakak. Hehe...."


"Udah makin pinter ngerayu aja, kamu. Aku kangen kamu, An."


"Aku juga. Tapi jangan pernah lakukan hal konyol lagi dengan datang kemari. Aku nggak mau Kakak kenapa-kenapa."


"Ehm, nggk kok. Nggak janji maksudnya. Hahaa...!"


"Kak, aku serius, ya. Awas aja kalau Kakak sampai nekat," ancam ku.

__ADS_1


"Ok bos, siap!"


"Ya sudah, nanti kita lanjutkan, ini udah hampir maghrib," kataku.


Om Wandy datang sedikit agak malam karena katanya sedang banyak tugas kantor. Setelah mandi ia langsung pergi ke dapur.


"Om, itu udah aku siapin makan malam. Selamat menikmati," kataku sambil menyalakan ponselku untuk kembali menelepon Kak Ardi.


"Wahh, kamu yang masak, ya?"


Om Wandy tidak melewatkan kesempatan untuk meledek ku.


"Ya, anggap aja begitu!" Teriak ku dari sofa ruang tamu. Karena rumah tersebut tidak terlalu besar, jadi Om Wandy masih bisa mendengar suaraku.


Kak Ardi memang tidak menyusulku, tapi sebagai gantinya kami bertelpon ria hingga sampai lewat tengah malam.


Sebelum tidur aku pergi ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil, karena aku sudah dari tadi menahannya.


"Udah kelar kangen-kangenan nya?" Tanya Om Wandy ketika berlewatan dengan ku. Rupanya Om Wandy juga habis dari toilet.


"Nyadar juga."


"Hihihi...."


-


-


-


Setelah dua hari aku mendapat telepon dari pihak perusahaan induk tempat ku bekerja.


Aku sudah mendapatkan sebagian harga sewa dan menandatangani beberapa dokumen. Sisa harga sewa akan di transfer ke rekening ku dalam dua hari berikutnya.


Tak mengapa jika aku tidak mendapatkan harga sewa tanah ku dalam beberapa tahun ke depan, serta menunda keinginan ku untuk memiliki perkebunan. Tapi setidaknya aku sudah memiliki tempat untuk bernaung. Untuk biaya hidup sehari-hari aku masih bisa menggunakan uang dari gajiku.

__ADS_1


Aku mentransfer uang tersebut lalu menghubungi Bude Yayu. Setelah uang muka di terima, Bude Yayu langsung mengirimkan surat rumah beserta surat pembelian rumah.Setelah aku memeriksa dan memastikan keaslian surat-surat tersebut, aku langsung melunasi sisanya.


Aku bersyukur bisa mengenal orang seamanah Bude Yayu. Bahkan ia menghadiahi ku isi rumahnya tersebut. Katanya aku orang pertama yang ingin membeli tanpa melakukan penawaran. Meski hanya ada beberapa barang, tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku.


Aku merasa ini bagai mimpi yang terlalu nyata. Ketika aku memasuki rumah itu, aku seakan bisa melihat kenangan-kenangan ku bersama Ayah dan Bunda. Aku memasuki setiap ruangan yang ada disana. Bahkan tidak ada yang berubah sedikit pun dari sejak aku meninggalkan rumah itu. Ku lihat masih ada beberapa jarum pentul ku yang tertinggal di atas meja rias ketika dulu aku masih sering menggunakannya waktu masih sekolah.


Aku duduk di atas kasur yang pernah menjadi tempat tidurku dulu. Rumah itu dulunya memang di kontrakan beserta isinya, sebab itu lah harga sewanya juga lumayan tinggi. Ku jatuhkan tubuh ku di sana lalu memejamkan mataku. Ku biarkan air mata bahagia mengaliri sudut mataku.


Kemudian ku sapu air mataku ketika mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Kak Ina, ayo masuk," ajak ku ketika melihat Kak Ina berdiri di depan pintu dan ada beberapa tetangga juga.


"Wah, selamat ya Anita, masih muda tapi udah punya rumah sendiri," ucap salah satu ibu-ibu tetangga ku.


"Iya, Bu. Mari masuk dan liat-liat aja. Tapi belum ada apa-apa ini, karena aku juga baru masuk ke rumah ini," kataku.


"Nggak apa-apa, kita ngerti kok. Lagian kita ke sini cuma mau liat keadaan rumah ini aja. Meski udah lama tetanggaan sama pemilik rumah sebelumnya, saya belum pernah lho, masuk ke sini," ucap Bu Diah.


Aku hanya diam saja ketika Ibu-ibu itu mulai menggosip. Katanya dulu setelah rumah ini selesai di bangun, Bude Yayu memang jarang menempatinya. Dia lebih lebih sering pulang ke bermalam di rumah orang tuanya yang sakit-sakitan. Setelah orang tuanya meninggal, ia ikut suaminya yang pindah tempat kerja dan menetap di sana. Ia juga sudah membangun rumah lagi. Tiga orang anak Bude Yayu juga kini sudah berkeluarga dan menetap di sana. Sebab itu lah ia memutuskan untuk menjual saja rumahnya yang lama. Sebetulnya hanya tahun pembangunannya saja yang terbilang lama, tapi bangunan rumah ini masih terlihat baru dan kokoh.


Aku juga mendengar Ibu-ibu itu mengatakan kalau rumah ini angker dan tidak ada yang mau membelinya selain aku.


Jujur saja, aku tidak merasa takut sedikit pun, apa lagi sampai terpengaruh. Aku lebih takut jika tidak memiliki uang untuk bertahan hidup jika di bandingkan melihat hantu, setan atau sejenisnya. Haha...


-


-


-


...Tbc...


**Jangan lupa like komen dan klik ❤ apa pun bentuk dukungan kalian, itu sangat berarti bagi kami sebagai penulis.


Thanks all...😘**

__ADS_1


__ADS_2