
...Happy reading...
Tepat seminggu sebelum hari pernikahan aku pulang ke kota mengikuti saran dari Kak Laras untuk mengambil cuti lebih awal. Itu artinya aku tidak akan bertemu dengan Bang Fauzan untuk seminggu ke depan.
Aku tidak membawa barang terlalu banyak karena sebagian besar barang-barang ku lebih banyak di rumah.
Tadinya Bang Fauzan berniat ingin mengantar ku tapi ia juga harus menyelesaikan pekerjaan sebelum mengambil cuti.
Aku teringat bagaimana Bang Fauzan menanyaiku akan bulan madu kemana jika kami sudah menikah nanti. Dan ku jawab nanti akan ku tanya pada Kak Laras terlebih dahulu. Bang Fauzan malah menyentil dahiku. Katanya aku tidak boleh bertanya pada Kak Laras dan harus memutuskan sendiri. Aku belum pernah menikah, jadi wajar aku bertanya dulu pada orang yang lebih berpengalaman. Dia juga mengatakan otak ku terlalu cetek tidak dapat memilih hal mana yang patut di rundingkan dan mana yang tidak. Belum apa-apa dia sudah posesif seperti itu, bagaimana jika sudah menikah nanti. Batinku.
Aku sudah sampai di rumah ku.
“Asslamua'laikum....” Sambil masuk ke dalam karena pintu rumah sedang terbuka.
“Wa'alaikumsalaam...,” sahut Kak Laras yang terdengar dari arah dapur.
Aku langsung menuju ke dapur dan membuka kulkas. Setelah menghilangkan dahaga dengan air dingin yang ada di sana aku langsung menuju kamarku untuk mandi dan berganti pakaian. Kemudian aku kembali ke dapur menemui Kak Laras.
“Kak, bagaimana persiapan nya?” Tanya ku seraya menjatuhkan bokong ku di kursi meja makan.
“Semua lancar dan aman-aman saja,” jawab Kak Laras tersenyum ke arahku sambil ia menyusun beberapa barang di sudut ruangan dapur. “Udah nggak sabar, ya?”
“Kan, aku nanya aja, Kak...bukan berarti nggak sabar....”
Kak Laras terkekeh. “Kirain,” ucapnya.
“Bang Fauzan, tuh yang nggak sabaran,” kata ku seraya menggeser layar handphone ku dan melihat beberapa foto yang di unggah teman ku di sosial media. Ia sedang berbahagia karena baru saja melahirkan. Ia memasang caption dengan ucapan, “welcome my little princess” aku tersenyum dan ikut senang melihat kebahagiaan keluarga kecil mereka. Sebentar lagi aku akan menjadi salah satu yang bisa merasakan kebahagiaan seperti mereka. Batinku. Tapi aku belum pernah mengatakan pada Bang Fauzan bahwa aku sebenarnya takut hamil dan melahirkan. Entah kenapa aku merasa ngeri saja saat membayangkan perutku melendung lalu kemudian di belah. Itulah yang ada di dalam benak ku.
“Kak...!” Aku memanggil Kak Laras.
“Ya, ada apa?” Jawab Kak Laras masih sibuk melanjutkan pekerjaannya.
“Setelah menikah Kakak pergi bulan madu kemana?”
“Hmm...nggak jauh-jauh sih, Kakak pergi ke puncak selama tiga hari. Itu saja, karena Kak Agil juga waktu itu harus kembali bekerja.”
__ADS_1
“Apa Kakak langsung hamil?”
Kak Laras tersenyum dan tidak langsung menjawab. Tapi ia beranjak dan mendekat ke arah ku. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah ku.
“Kakak hamil setelah dua bulan menikah, jadi waktu itu tidak langsung hamil. Ada apa, apa si Fauzan ingin cepat-cepat kamu hamil?”
“Ng nggak, bukan begitu. Bang Fauzan nggak pernah ngomong sih...hanya nanya mau bulan madu kemana.”
“Ya sudah, kalian putuskan saja sendiri. Masalah bulan madu itu urusan kalian, setelah menikah nanti Kakak udah nggak ada hak untuk mencampuri kehidupan kalian,” jelas Kak Laras.
“Kak...jangan gitu, dong. Aku selalu butuh Kakak. Oiya, kalau misalkan aku nggak mau hamil, gimana?”
Kak Laras mengernyit lalu tiba-tiba memukul kepala ku dengan bungkusan tisu yang dia ambil dari atas meja sambil berkata, “kalau nggak mau hamil ya jangan nikah, aja. Dasar cewek aneh!”
“Auww!” Aku meringis karena kaget dengan serangan yang mendadak dari Kak Laras.
-
-
-
Sementara Kak Laras sedang sibuk mengurus keperluan untuk upacara pernikahan. Aku hanya diam di kamar sambil menjaga Rifqy dan menemaninya bermain. Setelah menidurkan Rifqy aku hanya memainkan ponselku dan melihat unggahan foto dari beberapa teman ku.
Tidak lama handphone ku berdering ada panggilan masuk dari Bang Fauzan. Aku pun langsung menerimanya.
“Halo, Bang...?"
“Dek, gimana kabar kamu?”
“Aku baik. Abang sendiri gimana? Apa Abang sudah ambil cuti?”
“Sudah, dan sekarang Abang lagi di perjalanan pulang. Apa Adek lagi kangen, hmm...?”
“Dihh...GR,” sahut ku. Padahal aslinya kangen banget.
__ADS_1
“Tapi Abang kangen, Dek...,” balas Bang Fauzan lirih di sertai suara seraknya.
Ahh..., membuat aku bagai melambung tinggi.
”Emang beneran Adek nggak kangen, hmm...?” Suara Bang Fauzan kembali terdengar.
“Ng...nggak, tapi kangen banget,” ucapku akhirnya mengakui.
“Ya sudah, Abang mau istirahat dulu. Abang ngantuk, nanti Abang telepon lagi ya?”
“Ok.” Kami pun menyudahi obrolan itu.
Beban yang ada di hatiku pun sedikit berkurang setelah mendengar suara dan kabar dari Bang Fauzan.
Kak Laras masuk ke kamarku lalu memperlihatkan contoh kartu undangan yang nanti akan di sebar. Aku hanya mengangguk-angguk saja tanda menyetujui. Lagi pula kartu undangan tersebut cukup bagus dari warna dan motifnya. Perpaduan warna abu-abu dan tinta emas. Dan undangan akan di sebar dua hari sebelum hari pernikahan.
Pagi hari Kak Laras sudah terlihat sibuk dan aku pun berusaha membantunya untuk mengurus Rifqy. Keluarga ku yang lain kabarnya akan datang sehari sebelum pernikahan. Aku berdebar mendengar berita itu, ada rasa khawatir di dalam diriku takut kalau mereka masih belum bisa menjaga mulut berbisa yang mereka miliki. Kalau mereka tidak di undang maka tetap saja mereka akan berkoar di belakang dan entah apa yang mereka lontarkan untuk menghina dan menjatuhkan ku. Aku bagai makan buah si malakama, jika tidak mengundang akan di cibir karena di anggap sombong dan tidak menghargai. Jika di undang pun pasti kelak ada saja yang mereka cibir dari prosesi acara pernikahan ku. Aku hanya bisa berdo'a semoga mereka segera di berikan hidayah.
Kesibukan makin mewarnai hari-hari kami terutama Kak Laras. Tante Irna dan Oma Maryam juga sudah datang sejak kemarin. Aku bahagia sekali mereka datang lebih awal dan turut serta mengambil kesibukan untuk acara pernikahan ku. Aku sangat terharu melihat antusias mereka dalam menyiapkan segalanya.
Dua hari sebelum hari besar itu, kami kedatangan tamu yang katanya masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Bang Fauzan. Ia di tugaskan untuk menyampaikan berita melalui sepucuk surat yang telah ia bawa.
...**Tbc...
-
-
-
Maaf jika kelak othor mendadak libur up, itu di karenakan othor sedang ada kesibukan di dunia nyata dan mungkin sedang ikut bekerja bersama Anita di luar daerah 😂😂 tapi akan othor usahain untuk membayar beberapa bab nya**.
**Jangan lupa like komen dan klik ❤
Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi othor yang masih kalem ini😂🤗
__ADS_1
Thanks all...😘**