
...Happy reading...
Aku tidak pernah membeda-bedakan siapa pun dalam berteman. Baik status sosial mau pun agama. Tapi tidak untuk yang satu ini. Keluargaku mau pun diriku sendiri sudah memiliki peraturan yang tidak boleh samasekali di langgar, yaitu tidak boleh menikah dengan orang yang berbeda keyakinan apa pun alasannya.
“Sekali lagi maaf, aku takut akan menyinggung jika aku katakan alasannya.”
“Menyinggung?” Apa karena perbedaan keyakinan kita?”
Aku tersenyum tipis seraya menunduk. Dan akhirnya dia mengerti juga tanpa aku menjelaskannya.
Hari berikutnya kami tetap berteman tanpa mengurangi keakraban kami sebelumnya. Hanya saja kami jadi jarang bertemu karena belakangan ini aku ada kesibukan.
Aku bertemu Arman yang dulu sering menjemputku untuk bermain sepeda. Pertemuan kami pun tidak di sengaja ketika ia sedang menunggui mobilnya yang sedang di perbaiki di bengkel milik Om Wandy. Selain tempat pencucian mobil dan motor, Om Wandy juga membuka bengkel di dekat rumahnya.
Arman tidak mengenaliku begitu pun aku. Tapi ia masih ingat pada Om Wandy dan akhirnya mereka berbicara panjang lebar sore itu. Aku yang kebetulan singgah ingin mencuci motorku, akhirnya membuatku juga bertemu dengannya.
Kami saling bertanya kabar dan saling menceritakan keadaan masing-masing.
Arman mengajak ku untuk mencoba bisnis baru di dunia pertambangan. Dari awal aku tidak tertarik, karena menurutku resikonya terlalu tinggi apa lagi aku tidak memiliki pengalaman samasekali di bidang itu.
“Aku ingin fokus memelihara usahaku saat ini saja, lagi pula ini adalah cita-citaku sejak dulu.”
“Kamu nggak harus langsung menerimanya, boleh liat-liat dulu. Yah hitung-hitung liburan sekalian nyari pengalaman baru. Aku perhatiin kamu masih sama tangguhnya seperti yang dulu, aku yakin kamu pasti tertarik.” Arman melirik ke arah motorku.
“Kamu masih ingat aja,” kataku. Lalu kami pun tertawa.
-
-
-
Setelah makan malam Arman meneleponku untuk menanyakan apa aku akan ikut untuk pertemuan sekaligus acara yang di adakan di sebuah kapal.
“Gimana, berminat nggak?
“Kalau berminat sih belum, liat bagaimana nanti aja.”
“Ya udah, kamu tetap ikut aja biar melihat secara langsung dan kemungkinan nantinya kamu akan tertarik.”
__ADS_1
“Udah, ikut aja. Biar aku bisa nitip mata buat ngawasin dia di sana!” Sahut Reka yang ikut menimpali obrolan kami di telepon.
Reka adalah istri Arman, mereka baru setahun menikah dan saat ini Reka tengah hamil. Arman sudah menceritakan bagaimana persahabatan kami yang sudah terjalin sejak masa kecil. Reka orangnya sangat ramah, sehingga dengan mudah kami bisa menjadi teman.
“Setidaknya kamu ikut buat menghadiri acaranya lah, gimana?” Arman kembali menanyaiku.
“Ok, aku ikut.”
....
Pagi aku berangkat menuju kota di mana Arman tinggal. Tiga jam perjalanan aku sudah sampai di sana.
Aku beristirahat sebentar di sebuah penginapan karena acara tersebut di akan di adakan pukul 2 siang dan kami akan pergi satu jam sebelum acara di mulai.
Setelah mendapatkan telepon dari Arman aku pun pergi dengan naik taksi menuju ke lokasi yang sudah di share.
“Ayo naik,” ajak Arman yang sudah berada berada di sebuah kapal yang agak kecil.
Aku pun naik ke kapal yang akan membawa kami ke sebuah kapal besar yang berada di tengah laut. Sekitar 15 menit kami pun sampai.
“Bisa naik?” Tanya Arman sambil melihat ke arah tangga besi yang tegak dan menjulang tinggi.
Tanpa banyak bicra aku langsung menaiki tangga itu dan dengan cepat sampai di atas. Arman tertinggal jauh dan baru sampai sekitar 2 menit setelah aku.
“Makanya tuh perut di kempesan. Cukup istri kamu aja yang hamil, Man.” Arman pun tertawa.
“Ayo kita cari tempat duduk dulu, biasanya acaranya selalu molor. Maklum, kita hanya bawahan jadi udah jadi resiko untuk menunggu,” kekeh Arman.
Mataku menjelajahi setiap orang yang ada di kapal itu. Tidak satu pun aku melihat makhluk sejenisku. Semuanya laki-laki.
“Man, aku cewek sendiri?” Tanyaku pada Arman yang duduk di sebelahku.
“Bukannya kamu laki, ya?”
“Sialan!”
Ponsel Arman berdering ada panggilan video dari Reka.
“Hai...Anita, tolong jagain ya! Kamu tonjok aja kalau dia berani macem-macem!” Pesan Reka dari layar ponsel yang di pegang Arman.
__ADS_1
“Tapi nyatanya cuma aku sendiri doang cewek disini!” Balasku sedikit mengeraskan suaraku karena angin bertiup cukup kencang. Reka pun tertawa mendengar ucapanku.
Setelah sedikit menginterogasi Arman, Reka pun mematikan sambungannya. Saat itu juga aku melihat ada seorang wanita yang datang ke kapal dengan pakaian yang sangat minim. Ia memakai dress yang terlihat longgar di bagian bawahnya sehingga angin yang bertiup cukup kencang berhasil membuat gaunnya yang terbuat dari bahan yang sangat ringan itu melambai-lambai.
Puluhan pasang mata laki-laki yang ada di sana pasti sangat menikmati pemandangan itu. Tapi si wanita itu seakan tidak perduli dan tidak terganggu samasekali dengan kostumnya itu.
Apa wanita itu sengaja?
Kenapa pergi ke tempat seperti ini dengan pakaian terbuka?
Aku memandang ke arah para pria yang duduk tak jauh dari tempat ku duduk bersama Arman. Aku sangat yakin di balik kacamata hitam yang mereka pakai pasti mereka sedang menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka. Tampak wanita tersebut tengah asik mengobrol dengan beberapa pria sambil tertawa-tawa tanpa mempedulikan pakaiannya yang terus melambai-lambai. Aku merasa gemas dan ingin sekali memberikan jaketku pada wanita itu.
Setelah memperhatikan beberapa kelompok pria yang ada di sana, tatapanku pun sampai pada Arman yang duduk di sebelahku. Aku hanya bisa tersenyum kecut ternyata Arman juga bagian dari laki-laki itu.
Jadi begini rupanya para pria jika melihat pemandangan baru di luar rumah. Ck!
“Kamu juga menikmatinya?” Tegurku pada Arman yang menatap lurus ke arah wanita tersebut.
Arman tersenyum-senyum sambil sesekali meminum-minumannya di botol.
Beberapa saat muncul seorang pria yang juga naik melalui tangga besi kapal tersebut. Aku melepaskan kacamata hitamku sebentar untuk mengenali dengan jelas siapa pria tersebut.
Dani!?
Penampilan mungkin bisa berubah, tapi senyum dan lesung pipi itu tidak mungkin salah!
Tampak wanita tadi langsung menghampiri Dani dan bergelayut manja. Dani pun membalas dengan merangkul pinggang wanita itu.
Aku kembali mengenakan kacamataku seraya mengambil kacang kulit yang ada di hadapanku walau sebenarnya aku tidak suka makan kacang.
“Anita, kamu kan masih sendiri nih, coba kamu perhatikan para pria yang ada di sana.” Sambil Arman menunjuk beberapa kelompok pria yang duduk dan ada juga yang berdiri sambil bercengkrama. “Kali aja ada nyangkut,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum seraya menunduk dan kembali mengupas kacang kulit lalu memasukannya ke mulutku.
“Ada.” Sambil mengunyah kacang di mulutku.
“Yang mana? Nanti aku bantu sampai pelaminan.” Arman menoleh seraya tersenyum.
“Kamu,” ucapku menoleh sebentar lalu kembali membuka kacang kulit. Sementara Arman tertawa geli mendengar ucapanku tersebut.
__ADS_1
Itu adalah caraku untuk mengatasi rasa muak ku pada lelaki.
...Tbc...