Luka Terdalam

Luka Terdalam
KE RUMAH SANTI


__ADS_3

...Happy reading ...


Beberapa hari ini aku memikirkan ucapan Dani. Aku bingung harus berbicara dengan siapa sebab aku belum samasekali memberitahu Kak Laras pasal hubunganku dengan Dani. Akhirnya aku teringat pada Santi. Aku ingin menemuinya sekalian menjenguk bayinya.


Aku meminta bantuan pada Kak Laras untuk memesan barang-barang bayi sebagai buah tangan.


“Sekalian aja Kakak pesan buat keperluan bayi Kakak nanti.”


“Masih lama. Lagian pakaian Rifqy waktu bayi masih banyak dan masih bagus.”


“Tapi perut Kakak udah gede segini.” Aku melihat ke arah perut Kak Laras. “Pake uangku aja deh belinya. Beli sekarang aja mumpung ada yang lucu-lucu tuh,” ucapku seraya menunjuk beberapa pakaian bayi di layar ponsel.


“Itu namanya pemborosan. Lagian baju-baju bayi itu hanya sebentar di pakenya.”


“Emang Kakak aja pengen ngirit mulu,” cibirku.


“Ini nih, salah satu alasan yang bikin Kakak nggak percaya kamu pegang uang banyak. Kamu semaunya ngeluarin uang tanpa berpikir dulu. Kamu nggak dapet bedain mana yang di butuhkan dan mana yang hanya sekedar keinginan!”


“Kan ada uangnya, Kak.”


Kak Laras mengatur posisi duduknya seraya menatap aku. “Kita nggak tau kapan kamu akan masuk Rumah Sakit lagi. Kemarin pergelangan tangan yang di iris dengan pisau. Mana tau besok-besok kamu memotong leher kamu sendiri!” Kak Laras terlihat geram saat mengatakan itu. “Kamu lupa dulu pernah sakit dan hampir kehabisan biaya untuk Rumah Sakit? Apa mereka ada membantumu? Tidak, kan!? Jangankan membantu, menjenguk pun tidak samasekali. Tiba-tiba mereka datang setelah kamu sudah seperti ini.” Aku tertunduk diam tak bisa membantah.


“Jangan terlalu terbawa suasana. Kakak tau kamu rindu yang namanya kasih sayang orangtua. Tapi nggak harus mengorbankan semuanya. Kamu faham!?” Aku masih diam dengan bibir mencebik.


“Jangan marah-marah..., kata orang nggak baik kalau lagi hamil marah-marah terus. Nanti kalau Kakak tiba-tiba lahiran disini aku gimana? Kakak juga belum beli baju bayi.” Aku menatap Kak Laras masih dengan posisi setengah menunduk.


“Dasar bandel! Percuma di bilangin!” Kak Laras beranjak dari tempat duduknya ingin menuju keluar.


“Kak...! Terus kapan dong Kakak bisa percaya sama aku!?” Aku mengeraskan suaraku agar Kak Laras bisa mendengar.


“Kalau pikiran kamu udah dewasa, bisa ngurus diri sendiri dan nggak boros! Dan ada satu lagi....”


“Apa!?” Aku menyembulkan kepalaku dari balik tembok ruang tengah agar bisa mendengar ucapan Kak Laras.


“Kalau udah ada yang mampu membimbing kamu.” Aku kembali mencebik dan kembali ke posisku. Sementara Kak Laras sudah berjalan keluar.

__ADS_1


Aku sudah berada di rumah Santi dan kebetulan suaminya tidak ada karena sedang bekerja jadi kami leluasa untuk mengobrol. Setelah menidurkan bayinya Santi mengajak ku duduk tidak jauh dari tempat tidur bayinya agar ia masih bisa mengawasi bayinya itu. Sementara anak sulungnya sedang bermain dengan art di bawah.


“Aku udah punya sepasang nih, kamu kapan?” Ujar Santi menanyaiku.


“Ihh, belum kepikiran. Mana aku belum tau cara melahirkan,” ucapku. Santi malah menertawaiku bahkan terbahak-bahak.


“Kamu kenapa sih? Mentang-mentang udah pengalaman,” sewotku.


“Kamu tuh polos apa b*go, sih? Lucu tau nggak.” Santi kembali tertawa.


“Enak aja ngatain aku b*go. Kemarin yang mewek-mewek curhat sama aku siapa, coba?”


“Waktu melahirkan anak pertama aku juga nggak ada pengalaman. Tapi Dokter dan perawat akan memandu kita nantinya. Makanya suruh Dani cepat-cepat buat ngelamar kamu biar dapat pengalaman.”


“Nah, itu masalahnya, San. Aku belum siap.”


“Kamu ragu kalau Dani nggak bisa bertanggung jawab?”


“Bukan itu. Tapi masalahnya akunya aja yang emang belum siap untuk serius. Tapi bukan berarti aku main-main. Hanya belum siap untuk menikah aja.”


“Ya udah kalian jalanin aja dulu.”


“Wah, bagus dong. Itu artinya dia bener-bener serius sama kamu. Lebih cepat maka akan lebih baik.”


“Keluarga aku juga belum tau soal ini. Aku belum ada keberanian untuk berterus terang.” Aku mulai berpikir untuk bercerita sedikit tentang kisahku sebelumnya.


“San....”


“Biacaralah. Aku akan mendengarkan.” Sepertinya Santi sudah bisa menebak pikiranku. Aku pun menceritakan bagian inti dari permasalahanku tersebut. Aku juga jujur bahwa dari awal saat menerima Dani aku terpaksa dan mengira hubungan kami akan berakhir dengan cepat.


“Menurut aku ada baiknya kamu tetap menemui orangtuanya. Tapi sebelumnya kamu kasi tau Dani jangan dulu membahas soal pernikahan yang nantinya membuat orangtua Dani mikirnya kalian mau cepat nikah. Nanti pelan-pelan kamu ajak juga Dani menemui keluarga kamu biar kalian nggak terus-terusan ngumpet kalau mau pergi keluar. Aku dengernya geli tau nggak. Kayak anak ABG yang lagi di larang pacaran aja.”


Yang di katakan Santi memang benar. Kami seperti anak di bawah umur yang masih di larang pacaran.


Malam hari aku mencoba menghubungi Dani melalui pesan. Tidak lama ia meneleponku setelah membaca pesan yang aku kirim.

__ADS_1


“Sayang, aku senang akhirnya kamu hubungi aku lagi. Aku takut banget kalau sampai kamu marahnya lama.” Aku sempat tersenyum mendengar ucapannya.


“Maaf, aku hanya butuh waktu sendiri dalam beberapa hari kemarin. Aku nggak marah.” Aku memang tidak menghubunginya setelah malam itu. Panggilannya pun tidak pernah aku jawab.


Dani merubah obrolan kami ke panggilan video. Ku lihat senyumnya yang manis menghiasi layar ponselku.


“Sayang, kamu sakit? Kamu terlihat pucat.”


“Nggak. Aku sehat kok.” Aku mencoba tersenyum untuk menghilangkan ke khawatirannya.


“Sudah makan?” Aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Dani.


“Mau aku bawain sesuatu buat kamu?” Dani sepertinya mulai memahami inginku.


“Yakin?” Aku bertanya.


“Kamu meragukan kemampuanku?” Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang seperti tidak terima dengan ucapanku.


Aku pun menyebutkan apa yang aku inginkan.


“Ada lagi?” Tanyanya.


“Hmm, mi ayam enak kali ya. Mi ayamnya satu deh.”


“Udah, itu aja?”


“Oiya, burger satu isi sayur aja ya. Karena kan tadi udah ada mi ayam. Nggak baik kalau nambah daging lagi.”


“Ok. Ada lagi?”


“Itu aja dulu, ntar kalau kebanyakan aku bisa ndut.” Tanpa menyadari yang aku pesan memang sudah banyak.


Beberapa saat menunggu Dani menelponku dan aku pun gegas menghampirinya di tempat biasa ia menyetopkan mobilnya.


“Terimakasih,” ucapku tersenyum lebar ketika Dani menyerahkan semua pesananku. “Dani, aku bersedia ketemu sama orangtua kamu. Tapi tolong jangan bahas soal pernikahan dulu. Bisa, kan?” Aku menatap setengah memohon.

__ADS_1


Dani menatapku lalu membalas dengan senyum. “Iya, aku ngerti. Kamu sudah bersedia buat ketemu orangtua aku aja aku udah senang, kok.”


...Tbc ...


__ADS_2