
...Happy reading...
Dani sudah menelponku bahwa ia sudah berangkat dari rumah untuk menjemputku.
Walau ada rasa sedikit gugup tapi aku sudah siap dengan segala kemungkinannya.
Dani sudah sampai di tempat biasa dan aku pun menuju kesana. Ia sudah membukakan pintu mobil untukku dan aku langsung masuk ke dalam.
Sesekali Dani melihat ke arahku namun ia tetap fokus menyetir.
“Kamu rileks aja, jangan keliatan tegang gitu.” Dani akhirnya bersuara.
“Aku nggak tegang, ini memang caraku sebelum menghadapi sebuah pekerjaan.” Aku memaksa untuk tetap tersenyum sambil menoleh sebentar.
Rasanya baru sebentar kami menaiki mobil tapi kenapa sudah sampai.
Dani turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untukku.
“Ayo.” Dani mengulurkan tangannya memberiku pegangan. Aku keluar dari dalam mobil dan memperhatikan rumah yang ada di depan mataku itu.
“Ini rumah mu?” Aku bertanya karena aku hadir di acara ulang tahun waktu itu bukan disini tempatnya.
“Ini rumah orangtua aku. Yang kamu datang waktu acara ulang tahun kemarin itu rumah aku. Rumah aku jauh lebih kecil, tapi nggak apa-apa kan kalau nanti kita udah nikah kamu aku ajak tinggal disana?”
“Dani, kamu kan udah janji nggak bahas soal nikah dulu, terutama di depan orangtua kamu.” Bukan masalah rumah, harta mau pun tahta. Tapi yang ku inginkan saat ini adalah ketulusan dari sebuah keluarga yang nantinya mau menerimaku.
“Iya, maaf.”
Aku melepaskan genggaman tangan Dani saat mulai memasuki rumah.
“Masih marah?” Dani menatap padaku.
“Nggak sopan kalau kita pegangan tangan di depan orangtua kamu. Tapi aku emang masih marah ya, sama kamu. Nanti aku lanjutin marahnya setelah dari sini.” Aku menatap kesal dan berbicara dengan nada mengancam. Sementara Dani ku biarkan saja dulu menertawaiku.
“Ma, Pa, kenalin ini Anita.” Dani memperkenalkan aku pada kedua orangtuanya.
“Selamat malam Om, Tante.” Aku pun menyalami Mama dan Papa Dani bergantian.
“Mari silahkan duduk. Panggil Tante Linda saja.”
“Iya, Tante.”
“Panggil saja Om Fadlan.”
“Iya, Om,” angguk ku.
Tante Linda mengajak ku untuk duduk di sampingnya. Aku menoleh ke arah Dani dan dia tersenyum seraya mengangguk.
Dari pandangannya aku sadar Tante Linda seperti menelitiku.
__ADS_1
“Tumben, yang ini beda ya, Dan?” Sambil melihat pada Dani dengan senyuman yang berusaha di tahan. Sedangkan Dani langsung menatap ke arah lain dan terlihat salah tingkah.
Sangat manusiawi jika aku mulai menduga-duga apa yang anak dan Mama ini maksudkan. Sementara Papanya Dani hanya senyum-senyum saja.
Pengalamanku yang sering di hina sejak kecil membuatku mulai berpikir negatif. Tapi aku juga belum bisa menyimpulkan apakah itu sebuah hinaan atau bukan.
Tidak lama ada wanita paruh baya yang membawakan minuman dan meletakkannya di atas meja.
“Ayo di minum dulu, jangan sungkan.”
Aku pun mengambil minuman itu dan meminumnya sedikit setelah itu kembali ku letakkan di atas meja.
“Kamu bekerja?”
“Iya Tante,”
“Di perusahaan mana?”
“Aku udah nggak bekerja di perusahaan, tapi di berikan kepercayaan untuk mengurus perkebunan.”
“Oh, begitu. Bener-bener beda ya, Pa?” Kali ini Tante Linda menoleh ke arah suaminya yang langsung di angguki oleh Om Fadlan dengan senyuman. Dan lagi-lagi Dani terlihat semakin salah tingkah.
Obrolan terus berlanjut hingga akhirnya muncul juga pertanyaan paling inti.
“Kamu ngekost apa tinggal bersama orangtua kamu?”
“Sejak orangtuaku berpisah aku di asuh oleh orangtua angkat ku. Tapi sekarang mereka sudah berpulang. Dan saat ini aku tinggal bersama sepupuku.”
“Iya, nggak apa, Tan.”
“Bagaimana dengan orangtua kandungmu?” Tante Linda seraya mengusap pundak ku.
“Mereka ada di daerah lain. Agak jauh dari sini.”
“Oh, ya sudah. Maaf jika Tante banyak bertanya.”
”Iya Tante, nggak apa. Sebisa mungkin aku akan menjawab,” senyumku.
“Udah lah, Ma. Cukup interogasinya.” Om Fadlan menyela.
Kemudian aku berpamitan. Tante Linda mengantarkanku sampai di depan rumah. Aku menyalaminya lagi lalu setelah itu masuk ke dalam mobil.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan pada Dani. Tapi aku memilih untuk tetap diam sambil menyusun pertanyaan itu di kepalaku. Hingga akhirnya Dani menghentikan mobilnya di tempat biasa.
Aku menoleh ke arah Dani yang masih duduk di belakang kemudi. “Apa maksud Mama kamu tadi?”
“Yang mana?”
“Jangan pura-pura lupa atau ku buat kamu hilang ingatan sekalian!”
__ADS_1
”Ok. Maaf. Tapi Mama orangnya memang seperti itu. Dia suka bercanda. Tapi tadi Mama memuji kamu.”
“Jangan bohong! Aku tau kamu punya kebebasan untuk memilih pasangan hidup, tapi aku juga berhak untuk menolak!”
“Sayang, kamu salah faham. Bukan seperti itu.”
“Salah faham? Tapi aku ngerasa kalau sebelumnya kamu juga udah ngenalin orang lain ke orangtua kamu sebelum aku!”
“Ya, itu memang benar! Aku sempat beberapa kali mengenalkan teman wanitaku pada Mama dan Papa. Tapi hubunganku selalu menemui berbagai masalah yang akhirnya membuatku memutuskan untuk menyudahi saja hubungan itu.”
Sudah ku duga!
-
-
-
Sejak pulang dari rumah orangtua Dani di malam itu aku menjadi tidak tenang. Aku tidak peduli jika sebelumnya Dani memiliki banyak mantan. Tapi kata "beda" benar-benar sangat mengusikku.
Hingga akhirnya aku berpikir untuk kembali meminta bantuan pada Santi. Aku menanyakan beberapa wanita yang pernah berhubungan dengan Dani.
“Aku nggak kenal mereka semua, hanya pernah melihat melalui foto yang di bagikan Dani waktu dia lagi liburan deh kayaknya. Itu pun udah lama banget.”
“Masih ada nggak, ya foto-fotonya?”
“Kenapa kamu nggak tanya langsung aja sih sama si Dani? Kalau perlu kamu kepoin tuh handphonenya dia.”
“Kalau aku berani kepoin ponselnya dia, mana mungkin aku minta bantuan kamu. Udah ah, susah ngomong sama emak-emak.” Aku memutus sambunganku dengan Santi.
Akhirnya aku memiliki ide untuk membuat akun abal-abal dan mulai berkelana dengan akun tersebut. Aku berhasil menemukan akun lama milik Dani yang ternyata disana masih ada foto-foto dia dengan seorang wanita. Aku membelalak kaget melihat foto-foto tersebut.
Tak ku sangka Dani yang terlihat manis dan polos itu bisa sangat mesra saat berfoto dengan seorang wanita. Yang membuat aku lebih terkejut lagi adalah wanita tersebut terlihat sangat seksi dengan pakaian yang sedikit terbuka.
“Ini beneran Dani?”
....
Walau masih banyak pertanyaan yang memenuhi otak ku tapi aku lebih memilih diam dan tidak lagi membahas apa pun mengenai masalah yang sempat kami ributkan sebelumnya. Dani semakin sering mengajak ku ke rumah orangtuanya hingga kecanggunganku perlahan berubah jadi sebuah keakraban, baik dengan Tante Linda mau pun Om Fadlan.
Aku tidak peduli tentang wanita masa lalu Dani, selama keluarganya memperlakukan aku dengan baik bagiku tak ada masalah.
...**Tbc...
-
-
-
__ADS_1
Dalam minggu ini kemungkinan othor bakal sibuk di real life. Semoga masih bisa up. Tapi jika sudah ada waktu othor akan bayar bab yg tertinggal biar ceritanya cepat kelar dan segera tamat 😅😅
Thanks all** ...