
...Happy reading...
Sadar aku telah menghindarinya ia pun terus menghubungiku baik melalui pesan mau pun panggilan. Tapi aku selalu beralasan sibuk atau sedang pergi sehingga tidak sempat membalas dan menerimanya.
Ponselku kembali berdering untuk kesekian kalinya. Dengan membuang nafas kesal aku pun menerima panggilan dari Dani.
“Ada apa?”
“Apa kamu sedang sibuk?”
“Iya, aku lagi di jalan. Nanti saja telepon lagi,” balasku.
“Di jalan apa? Biar aku kesana.”
“Buat apa? Sebentar lagi pulang.” Kenapa tiba-tiba dia jadi ngotot seperti ini. Aku membatin.
“Aku di depan rumahmu.” Aku terkejut dan langsung melihat ke luar jendela. Dia sedang berdiri di sana dan melihat ke arah ku yang sedang menengok lewat jendela. Aku ketahuan berbohong.
Aku pergi luar menemuinya yang masih berdiri di dekat pagar depan rumah.
“Ada apa?” Tanya ku.
“Harusnya aku yang bertanya, ada apa?” Aku pun mengernyit. “Kamu menghindar dariku kenapa?” Lanjutnya bertanya.
“Menghindar? Untuk apa melakukan itu? Misalkan aku menghindar pun pasti nggak masalah kan, buat kamu?”
“Siapa bilang nggak ada masalah? Kamu pikir aku ke sini untuk apa? Berhari-hari aku mikir apa kesalahan aku sama kamu sampai kamu menghindar dari aku. Tolong jelasin.”
“Dan, kamu bucin ya sama aku?” Aku menaikan kedua alisku seraya menatap wajahnya yang terlihat kalut itu.
“Apa kamu pikir aku main-main? Ya sudah, kalau begitu besok malam datang ke rumah aku pukul 7 malam. Aku tunggu.”
“Untuk apa?”
“Besok aku ulang tahun. Kamu datang, ya? Yang lain juga hadir, kok.”
“Oh, ok. Akan aku usahakan untuk datang.”
Sore hari sebelum pergi ke rumah Dani aku sudah menyiapkan pakaian yang akan aku kenakan. Setelah mandi dan sedikit berdandan aku pun mengenakan dress yang sudah aku siapkan tadi.
Aku memesan taksi untuk mengantarku karena tidak mungkin aku menaiki motor dengan memakai dress. Aku tidak bisa membawa mobil dan sudah sempat beberapa kali aku belajar tapi tidak berhasil.
Beberapa saat taksi yang ku tumpangi sudah sampai di depan rumah Dani. Setelah aku membayar ongkos taksi itu pun pergi.
__ADS_1
Acara ulang tahun di adakan di taman yang ada di samping rumah tersebut. Rumah itu tidak terlalu besar tapi bertingkat dan sepertinya masih baru. Dulu aku pernah lewat di daerah ini juga tapi aku belum melihat ada rumah di sini.
Sepertinya acaranya hanya di hadiri para tamu yang masih bujangan saja. Aku tidak melihat ada teman-teman ku di sana. Aku bahkan tidak mengenali satu pun tamu yang hadir saat itu. Mungkin mereka semua adalah teman-teman Dani.
Dani tersenyum ke arah ku dari kejauhan. Dia mendekat dan berhenti di hadapanku.
“Terimakasih sudah mau datang,” ucapnya menyambutku.
“Selamat ulang tahun, ya. Maaf, aku nggak sempat bawa hadiah. Lagian aku juga bingung mau beli hadiah apa buat kamu karena aku nggak tau kamu sukanya apa.”
“Nggak usah di pikirin. Kamu mau datang aja aku udah senang.” Kami berjalan ke pusat taman di mana para tamu yang lain sudah berkumpul.
“Santi dan yang lainnya nggak datang?” Tanyaku.
“Udah aku undang, tapi sepertinya belum datang.”
Sepertinya mereka tidak akan datang. Pikirku.
-
-
-
Baru saja aku membuka mataku setelah tertidur kembali usai melaksanakan sholat subuh.
📨[Dani] Selamat pagi ❤
Aku hanya bisa menghela nafasku mengingat kejadian tadi malam.
Di puncak acara tiba-tiba Dani berlutut di hadapanku dan menyatakan perasaannya. Aku terkejut sekaligus malu. Tapi aku lebih tidak tega lagi jika harus membuatnya malu di hadapan teman-temannya jika aku menolak. Suara tepukan tangan mewarnai acara tersebut ketika aku mengangguk tanda menerimanya.
Aku pun mengetik balasan pesan ucapan selamat pagi itu dan mengirimnya.
📨[Me] Ya, pagi...
Kemudian aku pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku menuju ke beberapa warung di dekat rumah yang sudah menjadi langganan ku untuk memesan lauk. Sementara aku sudah memasak nasi dengan bantuan ricecooker.
Sejak kecil otak ku hanya ku pakai untuk berpikir bagaimana caranya agar aku bisa hidup jauh lebih baik lagi. Mendapatkan semua yang ku inginkan dan keluargaku mau menerimaku jika aku sudah menjadi manusia yang berguna bagi mereka. Kemarin untuk pertama kalinya Mama datang menemuiku. Walau hanya sekedar meminta hasil dari perkebunan, setidaknya aku merasa cukup berguna meski mungkin itu tidak ada apa-apanya di mata Mama.
Bukannya aku tidak pernah belajar untuk memasak. Tapi hasil yang selalu gagal menurutku hanya membuang-buang bahan dapur saja. Bayangkan saja, gula, tepung dan telur entah sudah berapa aku menghabiskannya namun tidak satu pun hasilnya bisa di makan ketika bahan-bahan itu sudah menjadi kudapan aneh. Jadi menurutku cukup sudah aku membuang-buang waktu ku untuk belajar memasak. Lebih baik waktunya aku gunakan untuk menghasilkan uang dan uangnya aku gunakan untuk membeli makanan jadi.
Sempat terlintas di pikiran ku untuk memilki pasangan yang pandai memasak. Mungkin akan menyenangkan jika aku berada di dapur bersamanya dan belajar memasak. Tapi sepertinya itu hanyalah hayalan belaka. Mana ada pria yang mau mengurusi istrinya, karena kebanyakan laki-laki lah yang meminta agar mereka di urus oleh istri.
__ADS_1
Aku berjalan sambil melamun dengan menenteng kresek yang di dalamnya ada box berisi beberapa macam lauk. Jarak rumah ku dengan warung tidak terlalu jauh, sebab itu aku hanya berjalan kaki saja. Selain dekat dengan berbagai macam warung, rumah ku juga tidak jauh dari pasar, Rumah Sakit, serta cafe dan hotel. Semua lengkap, itulah kenapa aku sangat mencintai daerah ini. Seakan tempat-tempat itu memahami kebutuhanku.
Tiba di rumah, aku membuka semua box yang aku bawa tadi dan memindahkan isinya ke wadah yang nantinya bisa sekalian aku hangatkan lagi.
Usai makan aku kembali ke kamar dan memainkan ponselku. Aku membuka aplikasi biru dengan logo f dan kembali melihat foto yang aku posting di sana beberapa minggu yang lalu. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat komen beberapa teman ku di sana. Mataku berhenti di sebuah komen yang terlihat tidak biasa.
"Apa kabar Dek...?
Degg!
Irama jantungku mulai berdetak lebih cepat ketika membaca komen itu. Aku tahu itu pasti Bang Fauzan.
Aku tidak merespon komennya yang sekaligus menanyakan kabarku itu. Kemudian aku sengaja memposting fotoku bersama Dani di momen ulang tahunnya tadi malam. Walau sangat terpaksa, tapi di foto itu aku mencoba tersenyum dan terlihat bahagia. Lagi pula siapa yang bisa menebak isi hati orang melalui foto. Batinku.
Foto pun berhasil terkirim. Dalam hitungan menit sudah puluhan like yang masuk dan ada emoticon love juga.
"So sweet ...
"Langgeng ya ...
"Semoga secepatnya naik pelaminan
Aku tersenyum dan menertawai kebodohanku sendiri saat membaca komen tersebut.
"Sehat terus Dek ...❤
Aku terperangah dengan komen yang barusan masuk. Kenapa harus ada emoticon love segala. Batin ku. Tanpa pikir panjang aku pun menghapus postingan tersebut.
Ada apa dengan para pria ini?
Di saat keadaan sudah mulai membaik mereka datang seperti rumput liar yang sangat mengganggu!
Beberapa bulan sudah hubunganku bersama Dani berjalan. Aku tidak memberitahu Kak Laras maupun Om Wandy, karena menurutku hubungan ini tidak terlalu serius dan mungkin akan berakhir bila sudah waktunya.
...**Tbc...
-
-
-
Alhamdulillah, bisa up dua bab hari ini meski kesibukan mewarnai hari othor.
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya 👍
Thnaks all**...