Luka Terdalam

Luka Terdalam
MEMBERIKAN KESEMPATAN


__ADS_3

...Happy reading...


“Siapa tadi?” Tanya Kak Laras ikut duduk di kasur ku.


“Bang Fauzan,” jawabku malas.


“Hm...sebenarnya Kakak sudah lama pengen nanyain ini ke kamu,” ucap Kak Laras.


“Apa?” Aku yang semula dalam posisi telungkup di atas kasur langsung mengambil posisi duduk menghadap Kak Laras.


“Jawab sejujurnya, apa kamu memiliki perasaan sama teman kamu itu?”


“Bang Fauzan?”


Kak Laras menjawab dengan mengangguk. Dan aku pun menjawabnya juga dengan menggelengkan kepalaku.


“Kenapa? Apa karena Ardi?”


“Kenapa karena dia? Ya nggak lah, Kak.” Walau sebetulnya memang iya, aku belum bisa melupakannya dan aku belum siap untuk menerima kehadiran orang lain di hatiku.


“Jangan bohong.”


“Kak...apa pentingnya sih bahas yang beginian? Lagian Kak Ardi itu sudah menikah, buat apa mikirin orang yang sudah berstatus sebagai suami.”


“Kenapa kamu nggak mengganti status kamu juga, sebagai seorang istri?”


“Kakak kan tau aku itu belum bisa memenuhi syarat utama menjadi seorang istri,” kataku beralasan.


“Kalau kamu sudah menjadi seorang istri, nanti dengan sendirinya kamu akan belajar dan memahami semuanya.”


Aku teringat kembali ke masa beberapa tahun silam di mana Papa dan Mama yang hampir setiap hari bertengkar. Membayangkan kembali semua itu aku jadi tidak ingin samasekali memikirkan untuk menikah.


“Ya ya ya...nanti aku akan belajar kalau sudah ada jodohnya,” ucapku seraya berbaring memenggungi Kak Laras dan menutupi telingaku dengan bantal. Itu adalah caraku mengusir secara halus.


“Bukannya sudah ada,ya?”


“Siapa?” Tanyaku masih dengan posisi memunggungi.


“Fauzan.”


“Kan udah bilang, aku sama Bang Fauzan itu teman. Bawel, ihh.”


“Bukannya dulu kamu sama Ardi awalnya juga berteman, ya?”


Hatiku rasanya bagai tercabik bila harus mendengar namanya kembali. Tapi aku berusaha agar tidak peduli dan terlihat biasa saja. Meski tanpa sengaja aku menjerit memanggil namanya di saat aku terbangun di dalam gelapnya malam.


“Kenapa tidak mencoba untuk membuka hati kamu lagi? Menurut Kakak, Fauzan adalah pria yang baik. Ya, mungkin saat ini kamu belum memiliki perasaan apa pun padanya, tapi jika kamu berusaha, Kakak yakin dengan sendirinya kamu akan bisa menerima dia.”


Aku memikirkan kata-kata Kak Laras yang terakhir.

__ADS_1


Apa sebaiknya aku memberikan saja kesempatan pada Bang Fauzan?


Lalu bagaimana jika aku tetap tidak bisa menerimanya?


“Baiklah, aku akan bicara saja nanti dengan Bang Fauzan,” batinku.


-


-


Aku sudah memikirkan dengan matang keputusanku untuk mengikuti saran dari Kak Laras.


Kebetulan waktu itu para Karyawan dari lapangan juga makan siang di kantin sama dengan Karyawan bagian kantor. Sebab kantin mereka di alih fungsikan dan kantin mereka yang baru masih dalam tahap pembangunan. Jadi untuk sementara mereka akan bergabung dengan kami di saat jam istirahat makan siang.


Karyawan lapangan yang terdiri dari sekelompok pria itu pun membuat histeris para Karyawati bagian kantor. Suasana kantin menjadi lebih ramai dari biasanya.


Aku sengaja mencari tempat duduk paling ujung dan aku sangat yakin bahwa Bang Fauzan pasti akan menyusulku bila melihatku di sana.


Benar saja, tidak lama ia datang dan mengambil posisi duduk di hadapanku.


“Nggak akan ada seseorang yang akan duduk di sini, kan?” Tanyanya. Dan aku hanya menjawab dengan menggeleng sambil tersenyum tipis.


”Sudah memesan makanan?” Tanyanya lagi.


“Sudah.”


“Ada apa?”


”Apa yang kamu pikirkan? Apa ada masalah?” Bang Fauzan bertanya serius.


“Ehm, iya. Masalahnya aku selalu mikirin Abang,” candaku sambil mengulum senyum.


“Alhamdulillah...akhirnya. Haha...!”


Aku pun ikut tertawa dengan kata-kata yang aku ucapkan tadi.


“Semoga apa yang kamu katakan itu bisa menjadi kenyataan. Karena ada yang bilang, bahwa ucapan itu adalah do'a.” Bang Fauzan mulai kembali serius menatapku. Ia juga mengembalikan kata-kataku waktu itu.


Obrolan kami terhenti ketika ada Karyawan lain yang mengambil posisi duduk di sebelahku. Karena susah untuk mencari tempat yang masih kosong, mungkin sebab itulah dia ikut duduk bersama kami.


“Ehmm...!”


Aku memandang pada Bang Fauzan yang tiba-tiba seperti terkena masalah tenggorokan. Padahal sebelumnya baik-baik saja.


“Maaf sudah mengganggu, saya akan mencari tempat lain saja,” kata orang yang tadi duduk di sebelahku ingin beranjak.


”Lho, Bang...kenapa?” Tanyaku pada pria tadi.


“Saya ingin bergabung dengan teman-teman saya di sana saja sekalian ada yang mau di bicarain,” sambil ia menunjuk ke arah salah satu meja yang sudah di isi Karyawan lain.

__ADS_1


“Tapi kan di sana udah nggak ada tempat duduk lagi, Bang?” Kataku mencoba untuk mencegah.


Tuk tuk tuk...!


Bang Fauzan mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Seiring dengan berlalunya pria tersebut.


Aku mendelik beralih menatap Bang Fauzan. ”Abang sengaja, kan biar orang itu pergi?” Tudingku.


”Harusnya dia sudah mengerti kalau di meja ini ada kita berdua.”


“Dia juga nggak akan duduk di sini jika meja lain nggak penuh,” kesalku.


“Ya, tapi kan nggak harus duduk di sebelah kamu juga. Karena kursi di sebelah aku pun masih kosong,” jawab Bang Fauzan sedikit protes.


“Huhh! Cemburu ternyata!” Ucapku dalam hati. Aku kembali teringat pada Kak Ardi yang dulu juga pernah cemburu. Ya, meski akulah yang sebenarnya lebih pencemburu😪


Tuh kan, keinget Kak Ardi lagi 😣


“Sebetulnya ada yang ingin aku bicarakan dengan Abang, tapi nanti saja kita cari waktu yang tepat,” kataku mengganti topik. Dan kebetulan makanan kami sudah datang.


“Pasti sangat penting, ya?” Tanya Bang Fauzan di sela makannya dan terlihat dari wajahnya ia tampak sangat tidak sabar.


“Bisa jadi.” Aku menjawab dengan ambigu seraya mengangkat kedua bahuku. Agar Bang Fauzan makin penasaran.


“Oiya, minggu depan ada acara di desa, dan ada pasar malam juga. Apa kamu mau Abang jemput?”


Menurutku itu ide bagus, dan aku pun langsung menyetujuinya.


Akhir pekan sudah tiba, Bang Fauzan datang untuk menjemputku. Karena khawatir akan tiba-tiba hujan di jalan, jadi Bang Fauzan berinisiatif agar kami pergi naik mobil saja.


Di perjalanan aku lebih memilih untuk diam. Karena jika banyak bicara khawatir aku lupa apa yang nanti ingin aku bicarakan.


“Jika kurang sehat, sebaiknya kita tunda saja perginya,” saran Bang Fauzan yang mengira aku sedang sakit. ”Acaranya akan berakhir minggu depan,” tambahnya.


“Jangan..., kita harus pergi sekarang saja,” dan aku pun bersikeras agar rencanaku malam itu bisa tersampaikan.


“Ya sudah, nanti kalau kamu merasa bosan bilang saja, jangan sungkan. Kita akan langsung pulang.” Ku jawab dengan mengangguk.


“Bang...aku....”


Bang Fauzan perlahan menepikan mobilnya dan berhenti. ”Ada apa? Bicaralah.”


Aku tertunduk sebentar sambil mengumpulkan keberanian ku dan kembali menyusun kata-kata yang nanti akan aku ucapkan.


“Sebetulnya aku ingin bicara mengenai hubungan kita. Aku mau mencoba untuk membuka hatiku kembali.” Dadaku bergemuruh usai mengatakan itu. Namun ada rasa lega akhirnya aku mampu menyampaikannya.


“Kamu serius?” Dan aku mengangguk untuk menjawab bahwa yang ku ucapkan itu memang benar.


“Alhamdulillah..., terimakasih atas kesempatan ini. Sebisa mungkin Abang akan berusaha untuk membantu menutup luka hatimu,” ucap Bang Fauzan dengan kesungguhan.

__ADS_1


...**Tbc...


Jangan lupa jejaknya 👍**


__ADS_2