Luka Terdalam

Luka Terdalam
TUGAS DI LAPANGAN


__ADS_3

Karena perumahan tersebut masih satu area dengan perusahaan, jadi aku tidak perlu repot-repot menggunakan taksi atau ojek untuk pergi kesana, karena transportasi semacam itu memang tidak ada di daerah ini. Aku cukup dengan berjalan kaki saja untuk datang ke kantor ku yang baru.


Aku langsung di sambut dan di antar ke meja ku. Aku mengitari ruang tersebut dengan ekor mataku. Sangat jauh berbeda dari kantor tempat ku bekerja sebelumnya. Tapi aku masih merasa heran, jika perusahaan ini masih baru lantas kenapa mereka sanggup menggajiku dengan tinggi bahkan hampir 2x lipat dari gajiku sebelumnya.


Waktu istirahat aku di ajak makan ke kantin oleh Karyawan yang lain. Kini aku sudah memiliki teman di perusahaan itu. Dari mereka aku tau kalau ternyata sebelumnya sudah ada yang menjabat di posisi ku saat ini, tapi dia mengundurkan diri karena tidak tahan dengan keadaan wilayah yang jauh dari keramaian dan sinyal juga menjadi faktor utamanya. Selain itu, karena perusahaan masih kekurangan Karyawan maka tak jarang Karyawan yang lain akan mendapatkan tugas lebih.


Kini aku mengerti kenapa mereka bisa menggajiku hampir 2x lipat dari gajiku awal. Lokasi perusahaan tersebut sangat jauh dari keramaian dan pusat perbelanjaan. Jalan menuju kesana pun sulit di jangkau jika musim hujan tiba. Tidak ada jaringan untuk berkomunikasi, dan kalau pun sedang terdesak maka kita harus mencari dataran tinggi untuk mencari sinyal. Perusahaan hanya menyediakan transportasi seminggu sekali untuk menuju ke kota. Dan itu pun jika masih kebagian tempat duduk. Kalau ingin menyewa taksi maka kita harus membayar taksi tersebut dengan jumlah berkali-kali lipat. Tidak ada untungnya gaji naik jika semua harus menutupi semua biaya transportasi itu. Seharusnya aku lebih teliti lagi saat menerima tawaran pekerjaan tersebut. Kini aku hanya bisa meratapi kebodohanku.


Malam usai melaksanakan sholat maghrib aku pergi ke dapur memeriksa lemari penyimpanan makanan ku. Beruntung aku kemarin membawa beberapa biskuit dan makanan instan lainnya. Tapi tidak satu pun makanan itu membuat ku berselera. Aku sangat ingin makan martabak. Tapi tidak ada penjual martabak di sini. Aku hampir menangis karena tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Akhirnya aku tidur tanpa makan malam.


Pagi kembali datang, aku sudah siap dengan pakaian kerjaku. Tapi kali ini aku memilih heels yang tidak terlalu tinggi. Aku juga mengenakan celana kulot yang pas di badanku, dan atasan berupa kemeja wanita. Aku melihat beberapa Karyawan wanita ada memakai pakaian seperti itu juga kemarin.


Kali ini aku sudah tidak merasa risih lagi ketika berjalan. Tidak seperti kemarin saat aku mengenakan span ketat dengan bokong yang terlihat menantang. Ada beberapa Karyawan lelaki yang sempat menatap ku dengan tatapan aneh dan bahkan ada yang sampai bersiul kala itu.


Aku membalas sapaan beberapa temanku di kantor lalu menduduki kursi kerjaku.


Tidak lama aku di panggil ke ruangan atasan ku kemarin. Aku mengetuk pintu lalu di persilakan masuk.


"Bapak memanggil ku?"


"Oh, iya. Silahkan duduk."


Aku pun menduduki kursi yang ada di depen meja atasan ku.


"Setelah jam makan siang nanti kita akan turun ke lapangan untuk melihat langsung perkembangan perusahaan ini dan kamu pasti sudah tau kan tugas kamu apa?"


"Iya, Pak."


"Baiklah, hanya itu saja. Apa ada yang ingin di tanyakan?"


"Tidak. Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya," pamit ku.

__ADS_1


Aku kembali ke kursiku sambil membayangkan bagaimana nanti aku saat berada di luar kantor itu.


"Ada apa?" Tanya salah satu temanku.


"Nanti siang aku akan bertugas di lapangan," jawabku.


"Wah, belum apa-apa udah dapat pekerjaan tambahan." Teman ku itu cekikikan menertawaiku.


Jam istirahat sudah habis, aku pun sudah kembali ke ruangan ku setelah makan siang bersama teman-temanku. Tidak lama atasanku datang ke mejaku dan langsung mengajak ku pergi. Aku hampir lupa kalau aku ada tugas di luar siang itu.


Untung hari itu aku mengenakan celana, jadi akan lebih mudah bagiku saat berjalan di area proyek perusahaan tersebut. Aku sempat syok saat tiba di sana. Hanya ada tanah kosong yang sangat luas. Tadinya aku berpikir akan melihat lahan perkebunan atau sebuah bangunan.


"Pak, kenapa lahan ini kosong? Apa yang akan kita lakukan di sini?" Reflek aku langsung bertanya pada atasanku.


"Ini adalah jalan perusahaan kita yang akan menghubungkan ke beberapa desa. Dengan ada nya jalan baru tersebut maka perusahaan ini akan lebih mudah di jangkau dan akan mudah juga bagi perusahaan untuk merekrut Karyawan baru," jelasnya.


"Oh."


Pria itu juga melihat ke arahku dengan tatapan yang sama. Aku berusaha bersikap acuh meski otak ku masih berusaha mengingat siapa pria itu.


Aku fokus melakukan pekerjaan ku meski aku agak risih karena hanya aku sendiri saja wanita di sana.


Satu setengah jam berada di bawah terik matahari membuat kepala ku mulai terasa pusing.


"Minum lah, dulu." Pria yang menurut ku tidak asing tadi memberikan sebotol air mineral padaku.


Aku menerimanya dan langsung meminum air tersebut karena memang merasa haus. Belum lagi aku harus menunggui atasanku yang masih saja berbicara dengan rekan-rekan nya.


"Nggak nyangka, ya kita bisa bertemu di sini," ucap pria tadi.


"Aku lupa, di mana kita pernah bertemu?" Tanya ku.

__ADS_1


"Kamu Anita, kan?"


Aku diam sejenak lalu mengangguk. Aku makin penasaran dengan pria itu.


"Meski kamu lupa sama aku, tapi aku sangat mengingat mu. Kita pernah berkenalan di desa tempat asalmu, namaku Fauzan."


Akhirnya aku bisa ingat dengan pria itu. "Oh, maaf. Iya, sekarang aku ingat," kataku.


"Nggak apa-apa, aku sudah biasa di lupakan," jawabnya terkekeh.


"Tapi nggak di lupain sama pacarnya kan, Bang?" Kataku membalas candaan Bang Fauzan.


"Nggak, karena aku belum punya pacar."


"Oh, semoga bisa punya pacar secepatnya ya, Bang."


"Aku nggak mau punya pacar, tapi aku maunya punya istri." Dan Bang Fauzan kembali terkekeh.


Kami larut dalam obrolan yang cukup santai tersebut. Di tengah panas nya terik matahari siang itu, aku jadi sedikit terhibur dengan candaan Bang Fauzan. Ternyata dia orangnya sangat santai dan humoris juga. Aku tidak kaku lagi seperti saat pertama kali bertemu.


-


-


-


...Tbc...


**Maaf kan jika ada typo yang meresahkan😄😄


Thanks all...😘**

__ADS_1


__ADS_2