Luka Terdalam

Luka Terdalam
TIDAK MAMPU MEMBELI MARTABAK


__ADS_3

...Happy reading ...


Dengan adanya Kak Laras, aku jadi tidak leluasa untuk melanjutkan pembicaraan ini. Meski terlihat acuh tapi aku yakin Kak Laras pasti mengawasi kami. Kak Laras orangnya sangat tidak terduga.


“Hm, begini...kamu pergi dulu. Bukannya Kakak mengusir,” ucapku pelan seraya menatap Erlang dengan isyarat. Ia pun faham lalu mengangguk.


Setelah Erlang pergi aku berjalan ke dapur membuka kulkas lalu mengambil susu dari sana. Aku menghangatkan susu itu sebentar lalu menuangnya di gelas.


Gerak gerik ku tak luput dari pengawasan Kak Laras. Aku duduk di meja makan seraya menikmati segelas susu hangat tadi.


“Ada apa dia datang kesini?” Tanya Kak Laras seperti perkiraanku.


“Hanya memberitahukan kalau Papa sedang sakit,” jawabku sesantai mungkin. Kak Laras tersenyum miring. Aku tahu dia pasti mencibir di dalam hati.


“Untuk apa repot-repot sampai datang kemari? Bukannya bisa melalui telepon.” Seperti dugaanku lagi. Kak Laras selalu memiliki cara untuk mematahkan setiap alasan.


“Dia nggak benar-benar datang untuk memberitahukan hal itu. Kebetulan dia lagi bekerja di kota ini jadi sekalian mampir. Aku iseng nanya kabar Papa. Itu aja.” Beruntung sebelumnya aku sudah tahu kalau dua bulan lalu Erlang bekerja di salah satu perusahaan di kota ini. Jadi alasanku masih masuk akal.


“Oiya, hari ini aku pengen banget makan puding buatan Kakak. Boleh ya?” Aku bersikap semanis mungkin seraya memeluk pinggangnya dan wajahku menempel di perutnya yang mulai membesar seperti ada balon di dalamnya.


“Iya, nanti agak siangan Kakak buatkan.”


“Ok. Aku mau mandi dulu.” Aku berdiri lalu melangkah ingin menuju ke kamar. “Boleh nambah, nggak?” Aku berbalik. “Buatin bolu pandan juga,” pintaku. Kak Laras hanya diam seraya merapikan meja. Tapi aku tahu dia pasti akan membuatkannya.


Maaf, jika aku harus membuat Kakak agak sibuk hari ini, karena aku harus membantu Papa. Walau dulu mereka tidak peduli padaku tapi aku tidak ingin membalas. Karena jika aku membalas, lalu apa bedanya aku dengan mereka.


Usai mandi aku pergi ke dapur dan memeriksa beberapa ruangan. Setelah memastikan bahwa Kak Laras sudah pulang ke rumahnya aku pun langsung meninggalkan rumah dengan memacu motorku menuju ke tempat dimana Erlang ku suruh menunggu disana.


Aku berhenti di dekat rumah makan di pinggir jalan. Aku sempat menyuruh Erlang untuk mengisi perutnya dulu tadi karena aku yakin dia pasti belum makan apa-apa. Aku tidak berani mengajaknya makan di rumah dan aku juga yakin Erlang tidak akan mampu menelan nasi jika melihat tatapan Kak Laras yang menghunus.


Aku menarik uang jajan di ATM ku. Aku juga meminjam uang pada Om Wandy dan mau tidak mau aku harus berterus terang padanya mengenai hal yang sebenarnya. Om Wandy mau mengerti dan berjanji tidak akan memberitahukannya pada Kak Laras.


“Anggap saja ini bisnis, jika mendapatkan bonus dari Pak Erik, akan ku tambah juga bonus Om Wandy beserta pokoknya.” Itu yang ku ucapkan pada Om Wandy dan dia hanya tertawa saja menanggapi ucapanku.

__ADS_1


“Ini kamu ambil untuk melunasi biaya perawatan Papa. Simpan sisanya untuk membeli obat dan lainnya. Upayakan harus cukup hingga bulan depan,” ucapku seraya berpesan. Erlang tertunduk saat menerima uang dariku. Terlihat jelas ia sangat terpaksa jika bukan dalam keadaan terdesak.


“Aku akan menyicilnya dengan uang gajiku nanti.” Ia berjanji. Aku tertawa kecil di dalam hati.


“Jangan di pikirkan. Sebisa mungkin Kakak akan membantu jika di perlukan. Simpan gajimu yang tidak seberapa itu untuk keperluanmu sendiri.” Dia pun terkekeh mendengar ucapanku. Aku tahu benar berapa gaji Karyawan baru yang masih dalam masa training. Aku sudah pernah di posisi itu.


Ia pun berpamitan untuk pergi dan segera melunasi biaya perawatan di Rumah Sakit. Aku menatap punggungnya dari kejauhan hingga motor yang ia kendarai membaur dengan kendaraan yang lain dan tak terlihat.


Aku sedikit merasa lega namun masih harus memutar otak untuk biaya pengobatan Papa selanjutnya. Karena katanya Papa harus tetap di rawat di rumah dan perlu obat-obatan untuk membantu kesembuhannya. Sedangkan kini keuanganku di pegang sepenuhnya oleh Kak Laras. Mustahil rasanya Kak Laras akan memberikan jika aku memintanya. Apa lagi kalau sampai dia mengetahui uang itu untuk biaya pengobatan Papa.


Sudah tiga hari ini aku hanya bisa menikmati bolu pandan dan puding yang di buat Kak Laras waktu itu. Entah sudah berapa kali keluar masuk kulkas sebab hanya itu yang bisa ku nikmati.


Ingin sekali aku makan martabak tapi uang jajanku sudah habis dan harus nunggu beberapa hari lagi transferan dari Kak Laras. Itu pun sepertinya aku bakal tetap menghemat agar bisa menyisihkan untuk biaya berobat Papa.


Om Wandy menertawaiku ketika aku dengan terpaksa dan sangat menyedihkan memasukan kue itu ke mulutku.


“Om nggak kepikiran gitu buat beliin aku martabak.”


Aku ikut tertawa di dalam hati.


Lelah raga, lelah pikiran untuk mengumpulkan uang.


Bahkan dalam keadaan cuaca yang tidak menentu. Tapi sekedar membeli satu kotak maratabak pun aku tidak bisa. Ck!


-


-


-


Aku duduk di kursi seraya memandang ke luar melalui jendela yang ku buka sejak usai sholat maghrib tadi. Aku butuh waktu untuk sendiri memikirkan semua masalah yang datang silih berganti.


Udara malam menyapu kulitku bagai sebuah belaian yang lembut lagi menyejukan. Berulang kali ku tarik nafas dalam-dalam namun tak ku temukan jalan yang bisa membantu untuk mengatasi semua masalahku.

__ADS_1


Bintang bertaburan menghiasi langit malam. Andai aku menjadi salah satu bintang yang ada di sana. Cukup menampakan sinar di malam hari tanpa perlu memikirkan urusan dunia seperti ini.


Dering ponsel memecah lamunanku. Aku menatap ponselku yang terus berkedip. Aku beranjak dari tempat duduk ku lalu mengambilnya tapi panggilan belum sempat ku terima karena keburu mati. Kemudian aku pun kembali duduk di kursi dekat jendela. Ternyata Dani yang menelpon ku saat ku lihat panggilan tak terjawab tadi. Aku pun berusaha menghubunginya untuk sekedar menunjukkan kepedulianku.


“Ada apa?” Tanyaku ketika ia sudah menerima panggilan dariku.


“Nggak ada. Hanya ingin menghubungi kamu aja. Kamu sudah makan?”


“Belum. Sepertinya aku nggak makan dulu malam ini.”


“Kenapa? Mau makan di luar?”


“Aku lagi nggak mood keluar rumah.”


“Tapi kamu harus tetap makan, aku nggak mau kalau nanti kamu sakit.”


“Aku mau makan martabak sayur, tapi ....”


“Ya sudah, aku bawain ya. Nanti aku hubungi kamu lagi kalau aku sudah berada di dekat rumah kamu.”


Di dalam hati aku bersorak girang membayangkan bagaimana aku menikmati makanan yang sudah beberapa hari ini aku rindukan.


Setelah mendapat telepon dari Dani aku pun pergi ke luar mendatangi tempat dimana dia menyetopkan mobilnya dan menungguku disana.


“Terimakasih. Maaf jadi merepotkan,” ucapku sekaligus senang saat menerima bungkusan berisi dua kotak martabak.


“Nggak merasa di repotkan kok. Justru aku senang bisa ngelakuinnya buat kamu. Ya udah kamu buruan makan ya.”


“Kalau begitu aku masuk dulu ya?” Dani mengangguk seraya tersenyum. Aku pun membalikan badanku ingin kembali ke rumah. Tapi ku hentikan langkahku dan berbalik memandang Dani yang hendak masuk ke dalam mobil.


“Tunggu!” Dani pun berhenti tak jadi masuk ke dalam mobil. Ia melihat ke arahku. Aku berlari kecil menghampirinya lalu mencium pipi kanannya. Dia terkejut dan ekspresi wajahnya sangat lucu. Kemudian aku pun berbalik dan meninggalkannya yang masih terpaku disana.


...Tbc ...

__ADS_1


__ADS_2