Luka Terdalam

Luka Terdalam
BAK DI SAMBAR PETIR


__ADS_3

...Happy reading...


Setelah menyerahkan surat tersebut ia pun berpamitan.


Kak Laras menyerahkan surat tersebut pada Kak Agil karena tiba-tiba Rifqy menjadi cerewet minta di gendong. Karena penasaran dengan isi surat tersebut Kak Agil pun segera membuka amplop yang menyelimuti surat tersebut.


“Buruan Gil, Mama penasaran apa isi suratnya,” titah Tante Irna tidak sabar. Semua yang ada di sana pun langsung mendekati Kak Agil untuk mendengarkan isi pesan yang ada di sana.


Kak Agil tak kunjung bersuara maka Tante Irna pun mengambil surat tersebut dari genggaman tangan Kak Agil. Begitu pun Tante Irna dan hampir semua yang ada di sana mendadak bergantian membaca isi surat tersebut namun tidak berkomentar apa pun atau menjelaskan apa isi surat tersebut.


“Ada apa?” Tanya ku seraya memegangi simpul sarung yang ada di dadaku. Karena aku baru saja habis melakukan perawatan ala-ala adat yang biasa di lakukan oleh calon pengantin wanita di daerah kami.


Aku yang merasa penasaran langsung mendekat dan mengambil surat itu yang kini sudah berada di tangan Om Wandy lalu membacanya.


*Assalamuala'ikum warahmatullahi wabarokatuh.


Kepada keluarga Anita, sebelumnya kami meminta maaf atas nama keluarga Fauzan sebagai pihak laki-laki*.


Kami tidak bisa melangsungkan hubungan anak kami atau memberikan restu.


Karena kami tidak bisa merestui anak kami menikah dengan wanita yang telah menutup-nutupi identitas keluargany. Andai kami tahu sejak awal, maka kami tidak akan membuang-buang waktu untuk menyiapkan semuanya sampai sejauh ini.


Jika sekiranya pihak keluarga ada yang kurang puas dengan pernyataan ini, kami menunggu di kediaman kami untuk membicarakan kembali hal ini secara baik-baik.


TTD


Keluarga pihak laki-laki.


Degg!


Bak di sambar petir aku membaca isi surat yang di tulis atas nama keluarga Bang Fauzan. Jantung ku seakan berhenti berdetak, keringat dingin mulai keluar melalui pori-pori ku. Berulang kali aku membacanya namun tak merubah isi surat tersebut. Pandangan ku mulai kabur karena air mata yang mulai mengembun dan akhirnya tumpah dengan begitu derasnya.

__ADS_1


Kak Laras mengambil surat tersebut dari tanganku sementara Tante Irna langsung memeluk tubuh ku dari arah samping. Sambil mengusap-usap punggung ku.


“Sabar sayang..., mungkin ini hanya kesalah pahaman saja. Nanti biar Om mu yang pergi ke sana untuk menanyakan lebih jelas lagi. Pasti ada orang yang sengaja mengirimkan surat ini untuk menggagalkan pernikahan mu.” Tante Irna mencoba menghibur ku namun aku bukanlah anak kecil yang bisa langsung merasa tenang meski sebetulnya aku juga berharap apa yang ia ucapkan itu memang benar.


Aku terduduk lemah dengan tubuh ku yang terasa berayun dan pandangan ku pun mulai terasa gelap. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.


Aku terbangun setelah malam hari dengan memakai sarung adat yang masih menempel di tubuh ku. Aku menoleh ke samping tempat tidur ku, ada Tante Irna dan juga Oma Maryam.


“Sayang, ayo minum dulu.” Sambil membantu ku untuk minum. Aku pun meminum air putih tersebut beberapa teguk.


Sedikit banyaknya aku masih ingat kenapa aku bisa berada di tempat tidur ku itu. Aku kembali menangis mengingat surat yang telah membuat aku tidak sadarkan diri.


Oh tuhan...


Semoga ini hanya mimpi.


Tapi sangat jelas ini bukan mimpi dan mana mungkin aku membodohi diriku sendiri dengan mengatakan bahwa ini hanya sebuah mimpi.


Tidak lama Kak Laras masuk dan membantuku untuk mengenakan piyama.


“Badan kamu hangat, sepertinya kamu demam,” ucap Kak Laras begitu menyentuh tubuh ku.


“Istirahat saja dulu, mungkin ini nervous saja. Besok jika masih demam kita akan bawa dia ke klinik,” kata Tante Irna.


Setelah membantu ku berpakaian Kak Laras pergi dan tidak lama kembali dengan membawa sepiring nasi beserta lauk di dalamnya untuk ku.


“Ayo, makan dulu,” titah Kak Laras seraya menyodorkan sendok nasi ke mulutku.


Aku menggeleng karena samasekali tidak berselera makan. Dan air mata ku pun terus saja lolos dari pelupuk mataku tanpa terbendung lagi.


“Ayo, makanlah walau sedikit.” Kak Laras bersikeras menyodorkan sendok berisi nasi tersebut ke mulut ku.

__ADS_1


Aku pun menurut meski dengan sangat terpaksa. Setelah beberapa kali suapan aku menyerah sudah tidak sanggup lagi menelan makanan yang terasa hambar di lidah ku.


Tante Irna memberi ku obat penurun panas lalu menyuruh ku untuk tidur. Aku menerawang membayangkan kembali teringat isi surat tersebut. Aku kembali menangis meski tanpa bersuara.


Kini aku sendiri di kamar ku sementara Kak Laras, Oma dan Tante Irna sudah keluar setelah memberikan aku obat. Aku masih dapat mendengar kasak kusuk di luar sana mereka membicarakan masalah surat yang di kirim oleh keluarga Bang Fauzan.


Tiba-tiba aku mengantuk dan mata ku mulai terpejam mungkin akibat efek obat yang aku minum.


Pagi hari aku sudah jauh merasa lebih baik namun aku tetap merasakan sakit dan perih yang menusuk di hati ku. Aku melangkah menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Saat aku keluar dari kamar mandi ku lihat Kak Laras sudah berada di kamar ku.


“Bagaimana keadaan mu? Sudah tidak panas lagi?” Kak Laras sambil mendekati ku lalu menempelkan punggung tangannya di dahi ku. “Alhamdulillah, sudah nggak panas lagi,” ucapnya.


Kami duduk bersebelahan di atas kasur sambil aku mengelap wajah ku dengan handuk kecil yang ku bawa dari kamar mandi.


“Om Wandy dan Kak Agil pagi-pagi pergi untuk menemui keluarga Fauzan. Tujuannya untuk membicarakan lagi masalah yang ada di dalam surat kemarin. Dan Kakak minta, apa pun nanti keputusan akhirnya, kamu harus kuat, ya...?” Sambil Kak Laras mengelus punggung ku.


Aku kembali menangis dan memeluk tubuh Kak Laras untuk menumpahkan segala kemelut yang ada di jiwa ku.


Aku hanya berdiam diri di kamar. Setelah minum obat aku tidur dan berharap saat bangun nanti Kak Agil dan Om Wandy sudah datang dengan membawa kabar baik.


Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun ku lihat waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 sore. Aku pergi ke kamar mandi sebentar lalu menuju pintu kamar ku untuk melihat situasi di luar sana karena sejak pingsan kemarin aku samasekali belum pergi meninggalkan kamar ku.


Saat pintu terbuka sedikit aku mendengar suara Om Wandy dan Kak Agil yang bercengkrama di ruang tengah. Aku mengurungkan niat ku untuk melangkah keluar dan memilih untuk menguping pembicaraan mereka.


“Ada sekitar 25 persen surat undangan yang sudah terlanjur di sebar, nanti biar aku yang mewakili untuk meminta maaf pada mereka bahwa undangan tersebut di batalkan. 25 persen undangan tersebut mereka adalah orang-orang terdekat saja. Semoga mereka bisa memaklumi hal ini,” tutur Kak Agil.


Dari obrolan tersebut aku sudah dapat menyimpulkan bahwa pernikahan ku benar-benar gagal.


...Tbc...


^^^Jangan lupa jejaknya 👍^^^

__ADS_1


__ADS_2