Luka Terdalam

Luka Terdalam
KEMARAHAN YANG TERBAYARKAN


__ADS_3

...Happy reading...


Apa aku bermimpi?


Aku kembali memejamkan mataku ketika seolah kembali tertidur hingga suara itu berhenti memanggilku.


Tidak lama ku dengar seseorang masuk dan menutup pintu. Perlahan aku membuka mataku untuk melihat siapa yang masuk. Aku membuka mataku sepenuhnya ketika melihat Kak Laras.


“Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih sakit atau terasa pusing?” Tanya Kak Laras mendekat.


“Kak, kenapa aku harus di rawat di sini?” Tanpa menjawab, aku yang malah memberikan pertanyaan untuknya.


“Maaf, Kakak juga nggak tau kalau dia salah satu Dokter yang bekerja di sini.” Berarti aku tidak salah mengira kalau yang memanggil namaku tadi adalah Kak Ardi.


“Apa dia Dokter yang menanganiku?”


“Bukan, tapi Dokter yang menanganimu saat ini sepertinya berteman baik dengannya.” Terlihat ada kecemasan di wajah Kak Laras.


“Ada apa? Kenapa Kak Laras terlihat cemas? Apa masalah biaya pengobatan? Kakak tenang saja, aku masih bisa mengajukan ke perusahaan untuk memperpanjang kontrak tanahku. Lagian tabungan ku masih cukup untuk biaya saat ini. Aku janji, setelah ini aku akan lebih memperhatikan kesehatanku dan aku nggak akan seperti ini lagi,” ucap ku bersungguh-sungguh menggenggam tangan Kak Laras.


Kak Laras menggeleng pelan. “Bukan itu masalahnya.”


“Lalu?”


“Nggak ada apa-apa. Sebaiknya fokus pada kesehatanmu saja, jangan banyak berpikir dulu.”


“Kak....”


“Anita, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada yang sakit?”


Degg!


Suara itu!


Aku hampir tidak ingin menoleh mengetahui siapa orang yang menanyaiku itu. Ingin rasanya aku kembali berpura-pura tidur namun itu sudah tidak mungkin. Dia sudah tahu aku sedang terbangun.


Aku membuang wajahku ke arah berlawanan ketika ia mengambil posisi berdiri di sebelah.


Tidak lama Dokter yang menanganiku datang untuk memeriksa keadaanku. Karena Kak Ardi masih berdiri di sana, jadilah aku selalu menatap ke arah Dokter yang sedang memeriksaku. Ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih itu kepadaku.

__ADS_1


“Bagaimana? Apa masih merasa sakit atau mual?” Tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan karena memang aku sudah tidak merasakan sakit seperti kemarin lagi.


“Oh iya, katanya kalian dulu pernah satu sekolah,ya?” Sambil melihat ke arahku dan Kak Ardi bergantian. Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan isyarat saja.


Pasti dia tahu dari Kak Ardi mengenai hal itu. Aku tidak tau sejauh apa Kak Ardi menjelaskan hubungan kami pada temannya itu. Semoga dia tidak menceritakan semuanya.


“Kata orang dunia ini sempit, dan hal itu sepertinya benar adanya,” kekehnya. Setelah itu ia pergi dan seorang suster kemudian mengganti botol infusku.


“Oiya, aku mau mengganti pakaian Anita dulu,” ucap Kak Laras setelah suster itu pergi.


“Oh, baiklah aku juga harus memeriksa pasienku.” Kemudian Kak Ardi pergi meninggalkan ruangan tempatku di rawat. Aku senang Kak Laras berhasil mengusirnya secara halus, sebab aku hampir tidak bisa bernafas sejak ia masuk dan berdiri di dekatku tadi.


“Kak, aku ingin di pindahkan saja. Bukannya sembuh, bisa-bisa aku bakal mati kalau lama-lama di sini,” pintaku pada Kak Laras.


“Sayangnya Dokter yang bisa menanganimu hanya ada di sini. Ini salah kamu sendiri karena tidak memperhatikan kesehatan kamu. Sementara orang yang kamu tangisi pasti sudah berbahagia di sana!” Bukannya prihatin Kak Laras malah mengomeliku. “Kalau mau mati ya mati sekarang aja. Dasar, nyusahin," lanjut Kak Laras.


-


-


-


Seminggu aku di rawat dan aku merasa keadaan ku sudah benar-benar membaik. Ada kemajuan dari hasil pemeriksaan terakhirku. Selain itu aku juga rutin meminum obat karena besar harapanku untuk sembuh dan segera pulang. Setelah ini aku bertekad untuk benar-benar menjaga kesehatanku.


Tok tok tok!


"Permisi, Dokter Rio menunggu Nona Anita di ruangannya,” ucap seorang perawat wanita berdiri di depan pintu.


Aku sedikit heran, apa ada hal penting yang belum di sampaikannya mengenai kesehatanku? Batinku. Lalu kemudian aku menuju ke ruangan Dokter Rio seraya berharap semoga tidak ada sesuatu yang serius seperti Dokter yang ada di film-film yang memanggil pasiennya lalu mengatakan umur pasien tidak lama lagi.


Tok tok tok!


Aku mengetuk daun pintu yang terbuka sedikit itu. Terdengar suara Dokter Rio mempersilahkan aku masuk.


“Ada apa Dok?” Tanyaku ketika sudah duduk di kursi pasien.


Terdengar suara seseorang yang juga masuk ke ruangan itu. Sontak aku menoleh ke arah pintu tersebut dan merasa agak terkejut melihat Kak Ardi sudah melangkah mendekati posisiku.


“Oh iya, aku harus memeriksa keadaan pasien dulu, silahkan kalian ngobrol-ngobrol sebentar barangkali saja ada yang mau di bicarakan karena lama tidak bertemu.” Dokter Rio beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah ke arah pintu. Aku hanya terbengong heran hingga akhirnya memahami bahwa ada persekongkolan antara kedua Dokter itu.

__ADS_1


Merasa di jebak aku pun langsung beranjak dari tempat duduk ku dan ingin pergi menuju pintu.


“Anita..., aku mohon aku ingin bicara sebentar.” Seperti yang ku duga, Kak Ardi akan menahanku.


“Bicara apa? Bukankah Kakak bukan Dokter yang menanganiku?” Aku membalas masih dengan posisi membelakangi.


“Di luar dari masalah itu. Aku mohon.”


“Baik, hanya sebentar, aku nggak punya banyak waktu.”


“Bisa kita duduk dulu?”


Aku menghela nafasku sebelum akhirnya aku kembali duduk di tempatku semula. Sementara Kak Ardi juga menduduki kursi yang ada di sampingku.


“Kak, apa-apaan ini!?” Kesal ketika Kak Ardi memutar kursi yang ku duduki dan membuat kami duduk saling berhadapan.


“Marah lah padaku, kalau perlu pukul aku sepuas yang kamu mau. Tapi tolong, jangan bersikap seakan kita tidak saling mengenal.” Tatapan dan cara berbicara yang sama, hanya saja dia terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Kalau tampan jangan di pertanyakan lagi, sejauh ini memang belum pernah aku melihat pria yang lebih tampan darinya. Dan mata coklat itu entah anugerah apa yang Tuhan berikan sehingga ia memilikinya. Namun sayang, dia kini sudah milik orang lain.


“Lalu aku harus bagaimana? Setelah di janjikan sebuah kebahagiaan, lalu di tinggal begitu saja bahkan hanya lewat pesan! Lalu aku harus bagaimana!?” Kak Ardi yang tadi dengan tegas menatapku kini hanya bisa tertunduk diam.


“Kakak tidak mimikirkan betapa hancurnya aku saat itu! Aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi dengan waktu yang hampir bersamaan. Kemudian orang yang menjadi tumpuan penyemangat hidupku pun mengirimkan kabar yang sangat menyakitkan!” Aku menumpahkan kemarahanku setelah sekian tahun aku menyimpannya.


“Maaf.” Hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya.


Aku hanya bisa tersenyum perih mendengar satu kata maaf atas luka yang ia berikan.


“Baik, masalah kita sepertinya sudah selesai, jadi tidak ada yang perlu di bahas lagi.” Seraya aku berdiri.


Kak Ardi kembali mengangkat wajahnya lalu berkata, “tapi masalahnya aku masih mencintaimu. Perasaanku masih sama, tidak berubah sedikit pun.”


Degg!


...Tbc...


-


-


-

__ADS_1


**Terimakasih banyak atas dukungannya baik like, komen dan vote/hadiahnya.


Thanks all...😘😘**


__ADS_2