Luka Terdalam

Luka Terdalam
ATURAN KAK LARAS


__ADS_3

...Happy reading ...


Sebelum pulang aku menyempatkan untuk mampir menemui taman-teman sekantorku dulu. Mereka heboh melihat kedatanganku di sana.


Riris dan Disa berebutan untuk memelukku. Hampir saja kami terjungkal ulah keduanya.


“Aku nggak bisa lama-lama, harus buru-buru balik. Takutnya kemalaman.” Aku berpamitan setelah menyapa mereka semua.


“Kirain kamu mau bekerja di sini lagi,” celetuk Surya dari kursi kerjanya.


“Hehe, kalau kamu yang jadi bosnya ntar aku balik deh,” candaku. Lalu meninggalkan ruangan kantor.


Di perjalanan, Gea tidak henti-hentinya mengucapkan rasa terimakasihnya hingga aku bosan mendengarnya.


“Sekali lagi terimakasih banget. Aku nggak tau bagaimana nasib aku kalau nggak ada kamu.”


“Masih ada Tuhan, Gea....”


“Ya, kan lewat perantara kamu. Sekali lagi makasih ya.”


Semoga setelah ini kamu di berikan kehidupan yang jauh lebih baik lagi dan mendapatkan orang yang bisa menyayangi kamu dengan tulus...


Aku selalu berdo'a untuk orang-orang terdekatku. Untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka. Meski hidupku di anggap tidak berguna bagi keluargaku sendiri, setidaknya aku masih bermanfaat untuk orang lain.


Berdukalah jika kamu merasa hidupmu menderita.


Menangislah jika kamu merasa sedih.


Tapi jangan tunjukkan semua itu di hadapan orang lain.


Tetap tersenyum dengan di bumbui sedikit kenarsisan.


Memberikan energi positif untuk orang-orang di dekatmu.


Jika kelak kamu tiada, maka mereka akan mengingatmu dengan segala kabaikan itu.


Mobil yang kami tumpangi berhenti di depan rumah Gea. Setelah Gea turun taksi kembali berjalan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke rumahku. Tidak lama mobil kembali berhenti di depan rumahku. Aku pun turun dari mobil setelah membayar ongkos taksi.


Ku lirik jam di dinding kamarku yang menunjukkan pukul 7 malam. Gegas aku pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Tok tok tok!


“Anita...! Kamu belum tidur?” Terdengar suara Kak Laras dari luar setelah ketukan itu.


“Belum. Ada apa Kak?” Tanyaku seraya membukakan pintu.


“Mama kamu neleponin Kakak seharian ini. Katanya nomer kamu nggak aktif dan dia malah nuduh Kakak yang melakukan semua itu.”


Knapa selalu seperti ini!


“Ya, nanti aku telepon Mama.”


“Oiya, Kak Agil berencana untuk membeli rumah lagi di kota kelahirannya. Jika semua sudah beres, mungkin bulan depan kami akan pindah.” Terdengar dingin nada bicara Kak Laras. Rasa lelahku berubah menjadi ketakutan. Rasa takut akan di tinggalkan orang yang paling dekat denganku.


“Kakak membeli rumah? Kakak mau pindah? Kenapa? Bukankah Kak Agil sudah merasa cocok bekerja di kota ini? Dan dia sudah menjadi orang kepercayaan perusahaan. Kenapa harus pindah?” Aku merasa heran dengan keputusan Kak Laras yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


“Kak Agil akan minta di pindahkan ke kantor ke cabang yang ada di sana.”


“Kak, bagaimana dengan aku? Bukankah Kakak sudah berjanji bahwa kita akan selalu berdekatan.”


“Itu dulu, waktu kamu masih nurut sama Kakak. Tapi sekarang Kakak udah nyerah ngurusin kamu. Minta Mama kamu datang buat ngurusin kamu jika ada apa-apa. Walau rasanya mustahil tapi semoga, sih.” Aku mengekor di belakang Kak Laras yang berjalan menuju keluar.


“Kak aku mohon jangan tinggalin aku. Aku akan nurut dan melakukan apa yang Kakak minta, tapi jangan pindah,” aku memohon dengan air mata yang mulai merebak.


Kak Laras berhenti tepat di dekat pintu lalu berbalik. “Kamu yakin mau nurut?”


“Aku janji.” Sambil mengangguk penuh harap.


“mana buku tabungan kamu?” Tanya Kak Laras seraya memintanya. Tanpa banyak bertanya aku mengambil buku tabunganku dan memberikannya pada Kak Laras.


“Semua,” ucap Kak Laras lagi setelah buku tabungan itu sudah berpindah ke tangannya. “Semua buku tabungan kamu termasuk ATM dan lain-lain. Oiya, satu lagi. Surat-surat penting juga.” Aku melongo sambil menatap Kak Laras.


Handphone Kak Laras berbunyi kemudian ia menerimanya. Sepertinya Kak Agil yang menelepon. Setelah usai berbicara Kak Laras kembali melanjutkan ucapannya. “Kata Kak Agil orang yang mau menjual rumahnya menanyakan apa kami jadi membeli rumahnya. Kalau kamu nggak bisa nurut maka Kakak akan menelpon Kak Agil dan mengatakan jadi untuk membeli rumah tersebut.” Tanpa berpikir lagi aku menuruti perintah Kak Laras. Setelah mengambil semua aku pun menyerahkannya pada Kak Laras.


Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang ku sayangi. Kak Laras adalah sumber kehidupanku. Apa jadinya bila aku tanpa dirinya.


“Kakak nggak mengambil semua ini, tapi Kakak hanya mengamankannya saja. Untuk kebutuhan rumah akan Kakak urus. Jika perlu sesuatu tinggal bilang aja, tapi Kakak hanya akan mengijinkan untuk kamu membeli barang-barang yang di butuhkan saja. Tidak untuk membeli alat-alat motor yang nggak jelas itu!”


“Itu di modif, Kak.”


“Sama aja. Nggak ada manfaatnya, kan?”


“Bagaimana jika nanti Mama meminta uang?”


“Katakan aja apa adanya. Kakak nggak akan takut sama Mama kamu.”


Kenapa Kak Laras berubah seperti singa?


“Biarin! Singa adalah hewan paling kompak dalam menjatuhkan lawan!” Sahut Kak Laras seraya pergi meninggalkan rumah.


Aku masuk ke dalam dengan bibir yang masih ku tekuk karena kesal.


Beberapa saat Kak Laras kembali. Dia memberikan sebuah kartu ATM untukku.


“Itu khusus buat jajan kamu. Pergunakan dengan baik dan sehemat mungkin.” Aku tersenyum lalu mengangguk.


Tidak ada yang ku sembunyikan dari Kak Laras. Baik pin ATM mau pun hal penting lainnya. Kecuali hubunganku dengan Dani.


Esok hari aku pergi ke sebuah mesin ATM untuk melihat berapa jumlah uang jajan yang di berikan Kak Laras. Aku syok begitu melihat uang jajanku yang bernominal 700.000.


Mungkin tujuh ratus ribu perhari. Batinku. Aku pun kembali dan menemui Kak Laras di rumahnya.


“Kak, uang jajanku tujuh ratus ribu itu untuk perhari, kan?”


“Untuk satu minggu,” sahut Kak Laras tanpa menoleh. “Kalau mau di habiskan dalam satu hari, terserah. Tapi Kakak tetap akan transfer satu minggu kemudian.”


“Kak, mana cukup! Gimana aku mau beli martabak?” Rengek ku.


“Memangnya berapa harga martabak? Kamu beli setiap hari pun pasti cukup. Paling kamu makan satu porsi perharinya, walau sebetulnya kamu nggak boleh keseringan makan-makanan yang banyak mengandung minyak.”


“Tapi keperluan aku yang lain kan banyak.”

__ADS_1


“Kalau itu nanti Kakak yang urus. Bukannya Kakak udah bilang! Udah, jangan banyak alasan.”


“Kapan aku boleh pegang semuanya lagi?”


“Kalau kamu udah jadi singa.”


”Kakak nggak tau aja, kalau singa itu hewan yang paling menyayangi keluarganya.”


“Ya sudah, semuanya akan kembali kalau kamu sudah berkeluarga.”


“Jahat.” Aku pun bangkit dari dudukku ingin pergi dari sana.


”Terserah!”


-


-


-


Aku terbangun dari tidurku dan kembali teringat ucapan Kak Laras kemarin. Sepertinya aku harus terbiasa dengan peraturan baru yang Kak Laras buat.


Aku berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutku dengan handuk setelah mandi tadi.


Tring!


Aku berjalan mendekati ponselku yang berbunyi. Ada pesan dari Dani dan beberapa panggilan yang tidak sempat aku terima. Mungkin dia melakukan panggilan di saat aku sedang mandi tadi. Aku pun menghubunginya melalui vc lalu meletakkan ponselku di meja rias.


Dani memperhatikan aktivitas ku melalui layar ponsel.


“Ada apa?” Tanyaku sambil terus mengeringkan rambutku menatap cermin.


“Kamu cantik.”


“Oya? Kalau misalkan aku nggak cantik, apa kamu tetap bilang cinta ke aku?”


“Tapi nyatanya kamu cantik. Sangat!”


“Itu bukan jawaban. Mau jawab jujur apa aku matiin nih handphonenya?” Aku mengancam.


“Ada yang bilang, kecantikan hati itu lebih penting. Tapi yang di nilai lebih dulu pasti apa yang di lihat oleh mata. Kecantikan fisik itu bonus. Sepertinya aku dapat paket komplit.”


“Kamu nggak tau aja kalau sebetulnya aku tuh orang yang kejam.”


“Iya, kamu kejam. Buktinya kamu selalu menyiksa aku dengan membuat aku kangen setiap hari.”


“Gombal!”


...Tbc ...


-


-


-

__ADS_1


**Jangan lupa jejak dukungannya 👍 agar othor semangat untuk menulis.


Thanks all** ...


__ADS_2