Luka Terdalam

Luka Terdalam
INGIN HADIR DI HARI PERNIKAHAN ORANG YANG KU CINTAI


__ADS_3

...Happy reading...


Beruntung cuaca tidak terlalu terik karena matahari tampaknya lebih betah bersembunyi di balik awan. Tidak terik tapi juga tidak mendung. Aku mengekor di belakang Pak Erik yang sedang bercengkrama dengan rekannya masalah proyek yang kami kerjaan saat itu. Sejak menginjakkan kaki di tempat tersebut sebetulnya aku sudah kehilangan konsentrasi karena terusik oleh kenangan ku bersama Bang Fauzan.


Biasanya Bang Fauzan sudah menyambut kami di sana dengan senyumnya, lebih tepatnya dia selalu tersenyum padaku saat kami bertemu dalam sebuah pekerjaan. Itu lah yang menjadi penyemangat ku. Walau bertugas di bawah terik matahari tapi ada penyejuk juga di sana.


“Oiya, Anita. Tolong kamu buat laporan bagian penting apa yang sudah di sampaikan Pak Sasli tadi, Kamu sudah mencatatnya, kan? Nanti buat laporan mengenai hal itu dan besok harus sudah ada di meja saya.”


Aku gelagapan begitu mendengar suara Pak Erik yang tiba-tiba memecah lamunan ku. Jangankan membuat laporan, aku bahkan tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan karena terlalu larut dalam pikiran ku sendiri.


Setelah berada di dalam mobil menuju kembali ke perusahaan Pak Erik kembali menanyai ku apa aku sudah mencatat isi dari pertemuannya dengan Pak Sasli tadi. Ku jawab saja sejujurnya kalau aku sedang tidak fokus dan tidak mencatat sedikit pun tentang inti dari percakapan tersebut.


Pak Erik tidak sedikit pun marah padaku. Dia juga adalah orang yang menjadi saksi bagaimana ikatan ku dan Bang Fauzan. Ia tau bagaimana kami saling mencintai dan saling membutuhkan. Walau dulu aku pernah menolak lamarannya, tapi tidak sedikit pun Pak Erik dendam padaku. Bahkan ia juga menyemangati ku agar aku tetap melangkah ke depan dan mengambil hikmah dari kejadian itu. Jika di luar jam kantor maka tidak ada yang namanya atasan dan Karyawan. Tapi kami berbicara layaknya seorang teman walau sebetulnya usia Pak Erik jau lebih tua dariku.


Tak dapat membendung rasa ingin tahuku akhirnya setelah pulang dari kantor aku pergi ke daratan tinggi untuk mencari sinyal dan memeriksa pesan dari ponselku.


Beberapa menit akhirnya aku mendapatkan sinyal. Hp ku berdenting hingga beberapa kali karena banyaknya pesan yang masuk. Mataku langsung mencari nama Bang Fauzan dari sekian banyak pasan yang masuk.


Ada beberapa pesan yang masuk dari Bang Fauzan. Aku membaca satu persatu pesan tersebut hingga pesan terakhir saat ia memberitahukan tanggal pernikahannya.


Tak dapat ku tahan air mata ku meski aku tau kabar itu pasti akan datang padaku dan bahkan aku sempat berjanji akan datang jika di undang.


Ku atur nafas ku perlahan berusaha menenangkan gejolak yang ada di dalam dadaku. Aku berpikir dengan kata-kata apa aku membalas pesan tersebut. Karena bahkan Bang Fauzan mengatakan agar lebih baik aku jangan datang sebab ia tidak tau apakah dia bisa menahan dirinya jika melihat aku ada di sana.


Tapi aku melihat ada pesan dari nomer baru yang memberikan undangan untuk ku menghadiri upacara pernikahan tersebut. Sepertinya salah satu kerabat Bang Fauzan yang sengaja mengirimkannya.


Aku hanya bisa tersenyum prihatin melihat kata-kata yang ia tuliskan. Aku memang sakit, kecewa dan terluka. Tapi aku masih memiliki nyawa untuk menjadi tamu undangan di hari tersebut.

__ADS_1


Sepertinya orang yang mengirim pesan ini menantangku!


Sebelumnya aku sudah meminta ijin pada atasan ku dengan alasan ada urusan keluarga. Untungnya aku selalu mendapatkan ijin tanpa mendapatkan banyak pertanyaan.


Kemarin aku sempat mendengar rekan-rekan ku membicarakan tentang mereka yang tidak ingin datang. Tapi ada juga yang ingin tetap datang untuk memenuhi undangan tersebut dan memberikan ucapan selamat. Tapi aku tidak bilang bahwa aku juga akan hadir di sana.


Pagi-pagi aku sudah berangkat dengan motor ku agar sebelum lewat tengah hari aku sudah sampai di kota. Karena sorenya aku berniat akan melanjutkan perjalanan ku ke kota tempat Bang Fauzan tinggal. Ya, aku bertekad untung tetap datang ke acara pernikahan orang yang masih sangat ku cintai itu.


Kak Laras agak terkejut dengan kedatangan ku tersebut. Karena aku datang di tanggal yang tidak semestinya.


“Assalamu'alaikum....”


“Wa'alaikumsalaam,” sahut Kak Laras dengan masih memasang wajah herannya. Ia mengekori ku hingga di depan pintu kamar.


“Anita..., apa ada masalah?” Tanyanya dari luar kamar saat aku nenutup pintu dan berganti pakaian.


Kak Laras yang sudah tau kalau kota tersebut adalah tempat kelahiran Bang Fauzan, ia langsung memasang wajah marah dan tampak meyelidik.


“Untuk apa?”


“Besok hari pernikahannya, dan aku di undang,” jawabku berusaha acuh dengan tatapan Kak Laras yang semakin tajam ke arah ku.


“Kamu di undang? Apa nggak salah? Kalau memang benar, maka ku katakan bahwa mereka itu memang tidak memiliki hati!”


“Aku yang meminta untuk di undang.”


“Kamu yang meminta? Kapan?” Delik Kak Laras.

__ADS_1


“Aku tau dari teman-temanku kalau dia akan menikah, jadi aku mengucapkan selamat dan aku bilang akan datang jika di undang.”


“Kamu yakin?” Masih dengan tatapan menyelidik.


“Yakin, seyakin yakinnya orang yang yakin. Tapi sekarang aku lapar, apa Kakak sudah masak?” Tanya ku seraya melangkah menuju ke dapur. Aku berbasa-basi saja bertanya walau sebenarnya aku tau Kak Laras selalu memasak karena Kak Agil adalah orang yang sangat disiplin termasuk urusan makan. Dan Kak Laras pasti akan melunak jika mendengar kata-kata lapar dariku.


“Silahkan pergi jika kamu sudah mendapatkan ijin dari Om Wandy,” kata Kak Laras sambil meletakkan beberapa menu lauk di atas meja.


Aku sudah menyiapkan kata-kata untuk berbicara dengan Om Wandy.


Rupanya niat ku ingin pergi benar-benar di sampaikan oleh Kak Laras pada Om Wandy. Terbukti Om Wandy langsung datang ke rumah ku selepas pulang dari dari kantornya.


Aku memberikan alasan yang masuk akal agar mendapatkan ijin untuk pergi. Bukannya aku takut pada Om Wandy, karena ia tidak mungkin akan menyakiti ku. Tapi aku lebih khawatir pada Bang Fauzan kalau sampai Om Wandy menyusul ku dan meyakitinya. Dengan aku meminta ijin maka jalanku lebih aman dan lancar meski yang aku hadiri kelak adalah sebuah pemandangan yang mungkin akan membuatku semakin terluka.


Aku mendapat ijin, tapi dengan satu syarat Om Wandy juga akan ikut sekaligus mengantar ku. Tidak ada pilihan lain, menyetujui syarat itu atau tidak samasekali.


Akhirnya aku setuju dan sore itu juga kami berangkat dan tiba pukul 11 malam di sebuah penginapan yang tidak terlalu jauh dari tempat pernikahan Bang Fauzan di langsungkan. Karena tadi kami sudah beristirahat dan makan malam waktu di perjalanan, jadi aku langsung beristirahat saja sebab besok aku harus bangun pagi.


...**Tbc...


-


-


-


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya 👍

__ADS_1


Thanks all...😍**


__ADS_2