
...Happy reading...
Perasaan bisa saja tidak berubah tapi keadaan sudah tidak sama lagi. Jadi percuma saja di katakan kalau hanya akan menambah rasa sakit.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam sambil menatap keluar lewat kaca jendela mobil. Aku masih terbayang pertemuanku dengan Kak Ardi di Rumah Sakit itu. Setelah sekian tahun kami di pertemukan lagi oleh sebuah keadaan.
Apa benar dunia ini sempit?
Dua hari setelah kepulanganku Pak Erik datang ke rumah dengan membawa seorang wanita yang mungkin hampir seumuran dengannya. Ia memperkenalkannya padaku sebagai calon istrinya. Aku dapat melihat dari garis wajahnya bahwa wanita itu masa mudanya dulu pasti sangat cantik. Kulitnya putih matanya sipit dan sepertinya ia juga memiliki darah campuran. Dan dia terkesan sangat ramah sehingga kami seperti orang yang sudah kenal lama saja.
“Selamat ya Pak, semoga lancar hingga hari H,” ucapku memberi selamat.
“Oiya, begini maksud kedatangan kami selain mengundang kamu, saya juga ingin menawarkan lagi masalah tanggung jawab perkebunan sama kamu. Karena setelah menikah kemungkinan saya akan menetap di kota, dan kebetulan saya juga sudah membangun perusahaan sendiri di sana. Dan saya akan fokus untuk membesarkan perusahaan yang baru berdiri itu. Sementara hanya kamu orang yang bisa saya percaya untuk mengurus perkebunan. Bagaimana?”
Aku berpikir sebentar. “Kenapa nggak di jual saja?” Kataku kemudian.
“Masalah menjual itu perkara mudah, saya bisa saja menjualnya pada perusahaan. Tapi bagaimana dengan para pekerja di sana yang terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki ijazah. Kalau berpindah ke tangan perusahaan maka perusahaan pasti akan merekrut para pekerja baru lagi.”
Masuk akal menurutku. Aku tahu benar nasib para pekerja di sana karena aku sendiri yang waktu itu mempekerjakan mereka.
“Baik, aku setuju. Terimakasih atas kepercayaannya, sebisa mungkin saya akan menjaga kepercayaan ini,” ucapku mantap.
“Saya sudah tahu itu,” balas Pak Erik seraya tertawa kecil.
Setelah Pak Erik dan calon istrinya berpamitan Kak Laras mendekatiku dan mengajak ku untuk berbicara.
“Kamu terima tawaran Pak Erik? Keadaanmu sendiri aja baru mulai membaik.”
“Mulai membaik. Itu artinya kelak aku akan baik-baik saja. Perkebunan Pak Erik itu jaraknya masih berdekatan dengan perkebunanku. Jadi bisa aja, dong Kak Agil sekalian mantau kalau lagi kesana. Hanya sampai aku benar-benar pulih saja, setelah itu aku yang akan mengurus semuanya.” Kak Laras diam mungkin sedang berpikir. “Lumayan lho dapat bonus dari Pak Erik,” tambahku seraya menaik turunkan kedua alisku.
Kak Laras beranjak dari duduknya tanpa menjawab lagi dan sepertinya dia tidak keberatan. Aku tersenyum sambil melenggok masuk menyusulnya ke dapur. Aku mengambil segelas susu yang ada atas meja lalu meminumnya.
“Hueekkk...! Aku mengeluarkan kembali sebagian susu yang ada di mulutku sementara sebagian sudah aku telan. Susu itu terasa aneh tidak seperti biasanya. Aku sempat menduga kalau itu pasti efek samping obat yang aku minum selama ini yang berpengaruh pada indra perasaku.
“Kamu minum susu Kakak?” Tanya Kak Laras yang sudah berdiri di dekatku.
__ADS_1
“Tapi rasanya nggak enak.” jawabku seraya menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya.
“Ini susu buat ibu hamil!”
“What!? Aku mendelik kaget hampir menyemburkan air yang ada di mulutku. Aku menatap dengan penuh tanda tanya pada Kak Laras sambil melihat ke arah perutnya. Dan Kak Laras pun mengangguk.
“Serius??” Aku memastikan lagi.
“He'em,” angguk Kak Laras seraya mengambil lap dan membersihkan bekas susu yang tertumpah di lantai tadi.
“Berarti Rifqy bakal punya adek,dong...?”
“Iya, dan kamu bakal jadi Tante lagi.” Terdengar suara Kak Agil menyahutiku.
“Jangan Tante, dong...nggak keren amat,” protesku.
“Terus apa...emang udah jadi Tante,kan?”
“Iya, tau...tapi jangan di perjelas juga kali. Kan bisa pake panggilan lain biar kesannya aku nggak seperti tante-tante.”
Percuma aku berdebat yang pada dasarnya memang posisiku tidak akan bisa menang.
-
-
-
Dua hari sebelum resepsi pernikahan Pak Erik aku menghubungi Om Wandy agar bisa menemaniku pergi. Sebulan yang lalu Om Wandy sudah keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan membuka usaha tempat pencucian mobil. Tapi ia masih sering mendapat panggilan dari bekas atasannya untuk mengawal jika sedang ada pekerjaan di luar daerah.
Kualitas menyupir Om Wandy memang tidak di ragukan lagi. Selain itu ia juga memiliki kemampuan bela diri. Sebab itu aku selalu merasa aman jika pergi di temani olehnya.
Seperti biasa Om Wandy bersedia untuk mengantarku. Sehari sebelum resepsi kami pun sudah berada di kota tempat Pak Erik melangsungkan acara pernikahannya.
Pagi setelah bangun tidur aku sibuk menyiapkan pakaian yang akan ku kenakan barulah setelah itu aku mandi.
__ADS_1
Kali ini aku berdandan sendiri mengikuti panduan dari video tutorial make up yang simpel. Tidak butuh waktu lama aku pun sudah selesai. Untuk rambut aku hanya mengepangnya saja karena menurutku gaya rambut di kepang sesuai dengan pakaian yang aku kenakan.
Aku turun ke bawah menemui Om Wandy yang sudah menungguku di lobby hotel tempat kami menginap.
Beberapa saat kami sudah sampai di sebuah hotel yang cukup mewah tempat resepsi di langsungkan. Aku hampir ingin membatalkan kedatanganku karena aku merasa akan sangat kecil jika aku berada di sana. Tapi aku sudah berjanji dan bahkan kemarin aku dan istrinya Pak Erik sempat berbicara di telepon dan mengatakan aku sudah ada di kota ini.
“Nanti telepon aja kalau sudah merasa bosan,” pesan Om Wandy membuyarkan lamunanku.
“Om yakin nggak mau ikut? Kali aja dapat jodoh,” kataku menawari.
“Buruan turun, bawel!”
“Iya iya...,” seraya aku turun lalu merapikan dress ku.
Om Wandy langsung menjalankan mobilnya kembali ke penginapan.
Aku berjalan sambil memperhatikan orang-orang yang masuk ke sana. Pakaian yang di kenakannya juga sama seperti tema yang sudah di tentukan untuk acara tersebut. Jadi aku berjalan di belakang mereka agar tampak tidak sendirian.
Aku terperangah begitu memasuki ballroom hotel tersebut. Jiwa kampunganku bak menciut dengan kemewahan yang ada di sana. Aku biasa hanya melihat acara resepsi yang di adakan sebuah gedung biasa saja atau acara nikahan yang di adakan di rumah mempelai.
Aku memang dari kampung, tapi jangan sampai aku terlihat kampungan. Batinku.
Aku melangkah dengan tenang menghampiri Pak Erik dan istrinya dan mengucapkan selamat. Saat aku ingin melangkah pergi istri Pak Erik malah menahanku dan mengajak untuk berfoto dulu. Sebetulnya aku keberatan, tapi mau menolak pun tidak enak. Akhirnya sang fotografer berhasil mengambil beberapa foto kami.
Ingin segera pulang tidak mungkin karena Om Wandy saat ini pasti baru sampai di hotel. Akhirnya aku mencoba mencari meja kosong untuk duduk lalu mengambil segelas minuman dari salah satu pelayan yang lewat.
Beberapa saat ada seorang pria yang tiba-tiba duduk di hadapanku di meja yang sama. Dia tampak memegang sebuah camera di tangannya dan sepertinya sedang ada masalah dengan cameranya tersebut.
...Tbc...
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya 👍