Luka Terdalam

Luka Terdalam
SEMINGGU ITU LAMA


__ADS_3

...Happy reading...


Aku mengemasi beberapa barang ku yang perlu saja. Aku pulang ke kota kali ini hanya dengan motor ku saja karena, Bang Fauzan sedang ada pekerjaan di luar sehingga ia tidak dapat menguntitku.


Aku membunyikan klakson motorku begitu sampai di halaman rumah. Biasanya Rifqy yang lebih dulu datang menyambut ku. Dia sudah sangat hapal dengan suara motor ku.


“Kak, Rifqy mana?” Tanya ku ketika tak ku lihat bocah itu.


“Lagi jalan sama Papanya, mau liat rumah yang katanya mau di jual kemarin.”


Bulan lalu Kak Laras memang sudah bercerita tentang rumah yang mau di belinya yang letaknya tidak jauh dari rumah ku.


Aku penasaran ingin melihat rumah tersebut jadi ku ajak Kak Laras untuk pergi kesana menyusul Kak Agil dan Rifqy. Karena letaknya tak jauh dari rumah jadi kami cukup berjalan kaki saja kesana.


Tiba di sana ku lihat Kak Agil yang sedang menggendong Rifqy bercengkrama dengan seseorang yang mungkin pemilik rumah tersebut.


“Kak, apa nggak salah?” Bisik ku pada Kak Laras ketika sudah berada di depan rumah yang di maksud.


“Bener, kok,” jawab Kak Laras.


“Apa nggak ada tempat lain?” Bisik ku lagi.


“Pasti ada kalau di cari, tapi hanya rumah ini saja yang bisa membuat kita tetap berdekatan.” Aku hanya menganguk-angguk kan kepala ku karena walau bagaimana pun, aku juga tidak ingin berjauhan dengan Kak Laras.


“Wahh, ini ya rumahnya yang kalian ingin beli?” Tanya Om Wandy yang juga datang ke tempat itu.


“Iya, tapi sepertinya tabungan kami belum cukup, karena pemilik rumah ini sekalian mau menjual tanah yang ada di bagian belakang rumah ini juga. Jadi kalau mau membeli rumah ini, harus mau membeli tanah kosong itu,” jelas Kak Laras seraya menunjuk ke tanah kosong di bagian belakang rumah tersebut.


“Ya sudah, beli saja. Untuk kekurangannya nanti aku akan bantu,” usul ku.


“Jangan, Kakak nggak mau. Ingat, dua bulan lagi kamu akan menikah,” tolak Kak Laras seraya mengingatkan.


“Apa hubungannya, Kak? Lagian kalau Kakak beli tanah dan rumah ini, nantinya di buat saja rumah itu agak ke belakang dikit, terus di depan Kakak bisa bangun toko. Gimana?”


Kak Laras nampak sedang berpikir.


“Aku sih setuju sama pendapat Anita,” sela Om Wandy.


“Tapi, An...Kakak nggak mau nyusahin kamu lagi.”


“Hah! Kapan Kakak nyusahin aku? Bukannya selama ini aku yang nyusahin Kakak? Anggap saja sebagai pinjaman deh, gimana?”


“Nanti Kakak bicarakan dulu sama Kak Agil.”


“Gitu, dong...,” ucapku seraya menggandeng bahu Kak Laras.


”Tapi nanti jangan langsung di tempati, harus di renovasi dulu,” saran Om Wandy.


Rumah tersebut lumayan besar, hanya saja sudah terlihat tua dan ada beberapa bahan bangunan yang lapuk.


“Khawatir nanti akan roboh jika kalian sedang menjalankan misi rahasia,” tambah Om Wandy. Aku yang tadi sudah mode serius mendadak terpingkal karena ulah Om Wandy.


Tak ayal Kak Laras langsung melotot ke arah kami berdua karena suara tawa kami


mengundang perhatian orang-orang yang berada tak jauh dari tempat kami berbincang.


“Pokoknya Kakak harus beli rumah ini secepatnya, karena nanti aku mau numpang bulan madu di rumah Kakak,” candaku sambil masih tertawa.

__ADS_1


“Oh iya, An...bener banget. Tapi khusus kamu jangan di renovasi dulu,ya?” Sahut Om Wandy semakin tergelak.


“Dasar kalian ponakan sama Om sama-sama se'deng. Kalau ngomong nggak pernah ada faedahnya,” omel Kak Laras.


Tak ingin membuat Kak Laras semakin mengamuk aku menghampiri Kak Agil lalu mengambil alih Rifqy dari gendongannya dan membawanya pulang.


-


-


-


Usai makan malam aku langsung kembali ke kamar ku untuk menunggu telepon dari Bang Fauzan.


Belum lama aku merebahkan tubuh ku di kasur handphone ku berdering tanda ada panggilan masuk. Aku tersenyum melihat siapa penelepon tersebut. Aku mengangakat panggilan itu lalu meletakkan handphone di telinga ku.


“Dek...?”


“Halo...?"


“Dek, kamu di mana?”


Aku sengaja tidak menjawab hanya sekedar ingin menjahilinya saja.


“Dek...kamu sibuk, ya?”


“Hm...nggak, kok,” jawabku sambil menahan tawa.


“Terus dari tadi Abang manggil kenapa nggak jawab...?”


“Kamu suka ya ngerjain Abang. Awas aja kalau kita udah nikah nanti,” ucap Bang Fauzan.


“Kalau udah nikah nanti aku maunya makan di suapin ya, Bang...?” Pintaku dengan suara manja yang di buat-buat. Dan kali ini pun aku menahan tawa ku yang hampir pecah. Entah kenapa aku masih belum puas menjahilinya.


“Adek mau di suapin pake apa?” Tanya Bang Fauzan kembali.


“Apa aja, yang penting Abang yang suapin.”


“Ok, Abang suapin pake mulut,” kekeh Bang Fauzan.


“Ihh...jorok. Wekkk!”


“Adek udah makan?” Bang Fauzan kembali berbicara serius.


“Hmm...udah. Abang sendiri udah makan?”


“Abang juga udah makan. Jangan terlalu capek ya, Dek. Dua bulan lagi kita akan menikah, Abang nggak mau kalau kamu sakit.”


“Ok. Abang juga jangan lupa jaga kesehatan mata dan kesehatan hati biar ginjal Abang tetap aman,” pesan ku.


“Iya iya, Abang akan selalu jaga, kok. Tetap seperti ini ya, Dek. Abang senang mendengarnya,” lirih Bang Fauzan.


Aku pun tersenyum-senyum sendiri mendengar suara serak Bang Fauzan yang khas itu.


“Bang...,” panggil ku.


“hmm, kenapa?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, manggil aja,” kataku masih tersenyum-senyum sendiri.


“Oh, kirain kenapa. Mau Abang bawain apa nanti?”


“Nggak ada, aku mau nya Abang cepat kembali,” pintaku.


“Abang usahakan secepatnya untuk kembali. Yakin nggak mau oleh-oleh?”


“Hmm, nggak. Emang Abang berapa lama di sana?”


“Sekitar satu minggu, tapi akan Abang usahain secepatnya kembali. Ok?”


“Kok lama banget sih, Bang...?” Rengek ku.


Ku dengar suara Bang Fauzan yang tertawa pelan di sana. “Satu minggu itu nggak lama, Dek...yang lama itu tiga bulan,” jawabnya.


“Ishh, Abang...! Nyindir, kan!?”


Hanya ada suara gelak tawa yang ku dengar. Niat ku ingin mengerjainya kini malah berbalik.


-


-


-


Aku melirik jam dinding yang ada di ruangan kerjaku. Entah sudah berapa kali aku menatap pada benda berbentuk m bulat tersebut. Kemarin aku bela-belain naik ke daratan tinggi untuk menelepon Bang Fauzan yang katanya akan kembali hari ini dan akan langsung menemuiku.


“Ciee...yang udah nggak sabar pengen ketemu,” ucap salah satu rekan kerjaku.


“Ada yang udah nggak sabar pengen kangen-kangenan, ehm ehm...,” timpal yang lainnya.


“Jam nya jangan di pelototin terus dong, Nit..., entar bisa-bisa hancur karena nggak kuat. Hahaha...!” Suara tawa memecah di ruangan itu.


Aku hanya bisa berdecak dalam hati. Mau membalas percuma, pasti akan kalah karena satu banding seisi ruangan sungguh tidak adil menurut ku.


...**Tbc...


-


-


-


Othor mau curhat boleh ya, ya ya...😭


Tadi pagi bab nya udah mau di up, begitu mau di salin dari memo malah jempol salah pencet alhasil semua hilang ke potong 😭😭😭


Akhirnya Othor ulang lagi deh dari awal 😭😭😭😭


Ok, itu aja curhatnya, sekian dan terimakasih🤧


Jangan lupa jejak dukungannya. Berupa like, komen dan ❤


Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 😍


Thanks all...😘**

__ADS_1


__ADS_2