
Libur tengah semester yang di nantikan telah tiba. Namun bertepatan dengan kabar yang ku terima bahwa Ayah sedang sakit.
Ku kabari Kak Laras bahwa aku tidak jadi pergi berlibur ke tempatnya. Aku memilih pulang ke desa di mana Ayah dan Bunda menunggu kedatanganku.
Aku tidak dapat membendung air mataku ketika melihat keadaan Ayah. Badan Ayah yang dulu berisi kini tampak sangat kurus. Dan sepertinya Ayah sudah lama menderita sakit. Ku dengar Ayah mengalami komplikasi dengan berbagai penyakit yang bersarang di tubuhnya.
Ku dekati Ayah dan memanggilnya pelan. "Ayah, ini Anita."
Ku lihat samar, sebuah senyuman yang mengembang di bibir Ayah.
Perlahan Ayah mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepalaku. "Mengaji lah untuk Ayah."
Aku mengangguk menuruti keinginan Ayah. Selepas sholat maghrib aku langsung mengaji untuk Ayah. Setelah aku selesai giliran Kak Ilham dan Kak Rama yang mengaji secara bergantian.
Aku ke dapur untuk mengambil minum. Ku dekati Bunda yang terlihat sedang beres-beres di dapur. Aku bertanya pada Bunda kenapa tidak membawa Ayah pergi berobat ke Rumah Sakit yang fasilitas nya jauh lebih lengkap dan Ayah bisa mendapatkan penanganan khusus mengenai penyakit yang di derita Ayah saat ini.
Ternyata sebelumnya Ayah sudah sering berobat Rumah Sakit. Dan selama ini aku tidak tau kalau Ayah sering keluar masuk Rumah Sakit karena penyakit yang di deritanya. Bunda sengaja tidak memberitahuku atas permintaan Ayah.
Ayah meminta untuk di rawat di rumah saja, lalu setelah itu Bunda berinisiatif sendiri menyuruhku untuk pulang dan melihat kondisi Ayah.
Aku menangis merasa Ayah tidak menyayangiku dan aku juga sedih karena tidak tau apa-apa mengenai penyakit Ayah. Pantas saja Ayah terlihat kurus waktu itu, ternyata Ayah sedang sakit.
"Bukannya Ayah tidak menyayangi kamu, bahkan kami sangat menyayangi kamu seperti anak sendiri. Ayah hanya tidak ingin jika kabar tersebut mempengaruhi proses belajar kamu. Katanya kamu mau jadi orang yang sukses kan, Nak?" Bunda meraih tubuhku ke dalam dekapannya. Hangat dan menentramkan rasanya berada di pelukan Bunda. Ku lingkarkan kedua lengan ku di pinggang Bunda.
Kenapa aku tidak terlahir dari rahim Bunda saja?
Sore ini adalah sore ketiga aku mengaji untuk Ayah. Sebetulnya setiap habis sholat aku selalu mengaji. Tapi setelah sholat maghrib aku akan sedikit lebih lama mengajinya, hingga sholat isya aku baru berhenti.
Di saat aku sedang mengaji tiba-tiba Ayah terlihat gelisah dan terlihat seperti kesulitan bernafas. Kak Ilham langsung mendekati Ayah dan membisikan sesuatu di telinga Ayah. Beberapa saat kemudian Ayah sudah terlihat tenang dan tidur kembali. Tadinya aku pikir Ayah hanya sesak nafas saja dan sudah kembali tertidur. Tapi ku lihat orang-orang yang ada di ruangan itu terlihat sangat sedih dan bahkan menangis.
Kak Rama bergegas keluar dari ruangan itu lalu tidak lama datang bersama Pak Ustadz. Aku hanya diam saja memperhatikan saat Pak Ustadz memeriksa nafas dan denyut nadi Ayah. Hingga kemudian Pak Ustadz mengatakan bahwa Ayah sudah tiada.
Aku menangis mendekati Ayah lalu memeluknya.
"Ayah..., jangan tinggalin Anita. Ayah harus melihat Anita menjadi orang yang sukses dulu."
__ADS_1
"Ikhlas kan Ayah mu, Nak. Beliau sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi sekarang. Bantulah dengan do'a agar beliau mendapatkan kemudahan di sana." Pak Ustadz menasihati ku.
Aku tidak percaya Ayah tiada secepat ini. Aku benar-benar menyesal kenapa waktu itu aku tidak pulang saja setidaknya aku bisa tau lebih awal mengenai sakit Ayah.
Air mata masih mewarnai suasana pemakaman hari itu. Meski aku sudah menahannya tapi tetap saja air mataku menetes dengan sendirinya jika aku teringat saat-saat aku dulu bersama Ayah.
Tiga hari setelah kepergian Ayah, aku berjalan-jalan menuju ke perkebunan di mana dulu aku sering ke sana bersama Ayah. Kurang lebih 5 tahun aku meninggalkan tempat itu,
Tiga hari setelah kepergian Ayah, aku berjalan-jalan menuju ke perkebunan di mana dulu aku sering ke sana bersama Ayah. Tidak banyak yang berubah dari tempat itu meski kurang lebih 5 tahun aku meninggalkan nya. Bahkan di saat pemakaman kemarin aku masih mendengar beberapa warga dari kaum ibu-ibu masih dengan lancarnya menyebut julukan ku. Tak lain mereka mengaitkan atas meninggalnya Ayah karena sudah memungutku.
Setelah puas berkeliling aku merasa sedikit lelah lalu mencari tempat duduk. Aku menduduki sebuah batang pohon yang tumbang dan ternyata dari situ aku bisa melihat pemandangan hijau perkebunan. Angin sejuk yang bertiup membelai lembut rambutku.
"Maaf, kamu baru ya di sini?"
Sontak aku terkejut dan langsung menoleh pada seseorang yang berdiri di dekatku. Seorang pria yang sepertinya jauh lebih dewasa dariku dengan tubuh yang tegap dan lumayan tinggi berdiri sana.
"Boleh, aku duduk di sini?" Ia kembali bertanya.
"Duduk saja, lagi pula ini tempat umum," jawabku. Aku kembali menatap pemandangan yang ada di hadapanku meski sudah berbeda rasanya dari sebelum kedatangan pria itu.
Aku beranjak dari duduk ku ingin pulang. Tapi pria itu tiba-tiba mencegahku.
"Aku sudah lama berada di sini, dan aku memang ingin segera pulang karena ini sudah sore," jawabku sedikit tersenyum agar pria itu tidak terlalu merasa bersalah.
"Baiklah. Tadinya aku pikir aku telah mengganggu. Oh, iya perkenalkan namaku Fauzan." Sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Anita," jawabku tanpa menyambut uluran tangannya. Aku berjalan menyusuri jalan setapak itu untuk menuju jalan utama. Dan pria itu masih saja mengikutiku.
Tiba di jalan utama pria itu menaiki motornya yang terparkir di pinggir jalan itu.
"Ayo aku antar pulang," ia menawariku tumpangan.
"Tidak. Terimakasih," tolak ku. Pria bernama Fauzan itu menjalankan motornya dengan sangat pelan di sampingku.
Ada beberapa warga yang berpapasan dengan kami di jalan itu, dan membuatku jadi risih ketika mereka memandang ke arah kami berdua.
__ADS_1
"Sebaiknya Abang duluan saja, apa nggak malu di liatin orang? Abang ngikutin aku dari tadi," ucapku.
"Ya, makanya kamu buruan naik biar aku antar pulang." Tidak ku pedulikan tawarannya dan terus melangkahkan kakiku. Tapi orang bernama Fauzan ini ternyata juga cukup keras kepala. Ia masih mengikuti ku dengan motornya.
"Anita! An...ni...ta..., ayo naik!"
Ku lihat di sana ada sekelompok warga yang pulang dari perkebunan dan akan berpapasan dengan kami. Tanpa berpikir lagi aku naik saja ke motornya. Ku lihat dari samping wajahnya terlihat sangat senang ketika aku sudah berada di belakangnya.
"Apa kamu warga baru di sini?" Ia kembali menanyakan hal yang belum aku jawab sejak bertemu tadi.
"Aku warga asli sini," jawabku.
"Aku pendatang, tapi kerabatku ada di sini. Sudah lebih tiga bulan datang ke desa ini, tapi kenapa aku baru melihatmu?"
"Aku baru datang seminggu yang lalu, dan aku sudah meninggalkan desa ini sekitar 5 tahun lamanya. Karena aku melanjutkan sekolah ku di kota A."
"Oh, pantas saja aku baru melihat mu."
Aku menyuruhnya berhenti ketika hampir sampai di depan rumahku.
"Kamu tinggal di sini?"
"Iya. Terimakasih atas tumpangannya," ucapku.
"Kamu keluarganya almarhum Pak Ibnu?"
Ku tarik nafasku terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan itu. "Aku putrinya."
"Oh, maaf. Aku tidak tau kalau Pak Ibnu memiliki anak perempuan."
"Kita tidak wajib tau semua hal, kan?" Entah kenapa aku selalu sensitif dengan hal-hal yang menyinggung masalah keluarga. Sikap dinginku akan langsung meresponnya.
-
-
__ADS_1
-
...Tbc...