
Hujan sudah reda, aku pun di antar Kak Ardi pulang ke rumah. Saat turun dari motor Kak Ardi memanggilku.
"Boleh minta no kontak mu, An?" Kak Ardi seraya memberikan ponselnya.
Ku masukan no kontak ku lalu ku kembalikan lagi ponsel Kak Ardi.
"Terimakasih, nanti aku hubungi kamu," ucap Kak Ardi.
Aku hanya mengangguk lalu masuk ke dalam.
Di kamar aku langsung menuju tempat tidurku lalu menjatuhkan tubuhku disana. Ahh, ini seperti mimpi yang menjadi nyata. Kini aku memiliki kekasih, aku masih tidak percaya. Sebelum aku ketiduran dan lanjut bermimpi aku segera beranjak dan berganti pakaian lalu ber'wudhu dan sholat.
Malam setelah usai melaksanakan sholat Maghrib Kak Ardi menghubungiku dengan mengirimi pesan.
📨[Kak Ardi] "Selamat malam. Lagi apa?"
📨[Me] "Selamat malam juga, Kak. Aku baru selesai sholat. Apa Kakak udah sholat?"
📨[Kak Ardi] "Udah. Tadi setelah sholat langsung mampir ke rumah teman, lagi ada acara bakar-bakar jagung. Mau aku jemput?"
Aku berpikir sebentar, ingin rasanya aku bilang "iya" tapi ku urungkan saja niatku karena aku malu jika bertemu dengan teman-teman Kak Ardi di sana.
📨[Me] "Nggak perlu, Kak. Aku capek dan mau istirahat aja."
📨[Kak Ardi] "Ok, tapi lain kali jangan menolak ajakan ku ya? Selamat istirahat."
Ku matikan HP ku setelah melihat pesan dari kak Ardi. Aku berbaring di kasurku sambil memejamkan mataku yang sebetulnya belum mengantuk. Aku terus saja mengingat tentang kejadian tadi siang saat aku jadian sama kak. Ardi. Aku senyum-senyum sendiri di kamar ku. Untung aku hanya sendiri, kalau ada yang melihatku seperti ini pasti orang-orang akan mengira aku sedang berhalusinasi.
-
__ADS_1
-
-
Setelah pulang sekolah, Kak Ardi mengajak ku untuk pergi ke sebuah tempat. Ini adalah kencan pertama kami. Aku sangat senang, lagi-lagi Kak Ardi mengajak ku ke sebuah tempat yang sangat sejuk dan tenang. Di tempat itu kami bisa melihat laut dari kejauhan.
"Kamu suka tempat ini?" Tanya Kak Ardi.
"Hm'm," sambil aku mengangguk. Lalu aku kembali menikmati suasana sejuk dan pemandangan yang begitu indah di hadapanku.
Rupanya Kak Ardi memperhatikanku sejak tadi. Lalu aku menoleh pada Kak Ardi. "Kakak bisa banget buat aku senang. Terimakasih ya, Kak," kataku.
Kak Ardi membalas memandangku, sambil mengulas senyum di wajah tampan nya.Ahh..., wajar saja jika teman-teman wanitanya ada yang berharap lebih.
Senyum dan tatapan **K**ak Ardi hanya untuk ku, tidak boleh ada wanita lain yang melihatnya. Itulah kata-kata yang ada di dalam hatiku.
"Aku lah yang seharusnya berterimakasih, karena sudah bersedia aku ajak ke tempat ini. Aku akan pergi kesini jika aku butuh ketenangan." Kak Ardi memandang lurus, dan tatapannya berubah menjadi sendu.
"Hm, kalau boleh tau, apa yang membuat Kakak membutuhkan ketenangan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Meski aku tau, setiap orang pasti ada kalanya membutuhkan tempat yang tenang dan waktu untuk sendiri. Aku pun juga seperti itu. Sebab itu lah aku sangat senang saat Kak Ardi mengajak ku ke sini. Hanya saja aku ingin tau saja apa penyebabnya.
Kak Ardi masih menatap lurus pada pemandangan di sana. Tiba-tiba aku merasa jadi tidak enak karena sudah bertanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan Kakak. Lupakan saja," ucapku kemudian.
Kak Ardi beralih memandangku. Dan aku pun membalasnya. Untuk pertama kali nya aku tidak canggung saat berhadapan dengannya.
"Nggak apa-apa, lagian kita adalah sepasang kekasih. Jadi wajar kalau kamu bertanya seperti itu."
Kata-kata Kak Ardi yang mengatakan kalau kami adalah sepasang kekasih, seketika membuat hatiku berbunga-bunga.
__ADS_1
Kemudian kak Ardi mulai bercerita tentang Ibunya yang meninggal setelah melahirkan dia. Ia dari kecil di asuh oleh Bibik yang bekerja di rumahnya. Pekerjaan Papanya yang merupakan seorang Dokter, membuatnya banyak kehilangan momen kebersamaan. Bahkan ia hampir tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Kak Ardi memiliki seorang Kakak perempuan, yang kini juga bekerja sebagai Bidan di sebuah Rumah Sakit. Kak Ardi ternyata juga sangat merindukan kehangatan keluarga, sama sepertiku. Tapi aku masih cukup beruntung ada Bunda dan Ayah yang menyayangiku. Hanya saja aku mendapat julukan anak pembawa s*al. Sementara Kak Ardi di kenal sebagai anak dari seorang Dokter terbaik, yang cukup di kenal masyarakat di sini.
"Aku akan selalu ada buat Kakak," ucapku setelah kak Ardi selesai bercerita mengenai keluarganya.
"Terimakasih,ya sudah mau mendengarkan aku," kata Kak Ardi seraya memegang tanganku.
"Hm'm." Aku mengangguk.
"Bagaimana dengan keluarga mu?" Tanya Kak Ardi.
Degg!
Irama jantungku menjadi lebih cepat. Aku bingung menjawab pertanyaan Kak Ardi. Haruskah aku menceritakan juga, bagaimana aku yang tak di inginkan keluargaku sendiri.
"Aku tinggal bersama Ayah dan Bunda, ada Kakak sepupu dan Om ku juga yang sering menjenguk ku di sini. Bunda dan Ayah menyekolahkan ku di sini, katanya agar aku bisa mandiri." Hanya itu yang bisa ku ceritakan. Aku belum ada keberanian untuk menceritakan lebih detil soal kehidupan pribadiku.
"Om? Yang selalu mengantarmu setiap hari ke sekolah?" Tanya Kak Ardi.
"Iya," jawabku singkat.
Setelah obrolan itu kami saling diam sambil menikmati sejuknya angin di tempat itu. Kemudian Kak Ardi mengajakku pulang. Kami saling berpegangan tangan saat menuju ke motor Kak Ardi. Karena tempat tersebut agak tersembunyi dan sedikit menanjak, jadi Kak Ardi meninggalkan motornya di tepi jalan dan kami berjalan kaki untuk menuju kesana. Aku sudah tidak terlalu canggung lagi saat berduaan dengan Kak Ardi.
Beberapa saat kami sudah sampai di depan rumahku. Kak Ardi menghentikan motornya dan aku pun turun dari motor Kak Ardi. Setelah Kak Ardi pergi ku balikan badanku untuk menuju ke rumah. Aku terkejut melihat Om Wandy ada duduk di bangku teras rumahku. Ku percepat langkahku untuk sampai di teras.
"Om, udah lama?" Tanyaku.
"Nggak, kok. Buruan buka pintu dulu, dari tadi Om udah kebelet," kata Om Wandy. Lalu aku pun buru-buru mengambil kunci dari dalam tasku dan membuka pintu.
"Ini kamu masukin ke kulkas dulu, eskrimnya sedikit mencair," kata Om Wandy sambil menyerahkan beberapa kantongan padaku. Aku pun memeriksa sebentar isi kantongan tersebut, sementara Om Wandy sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Kemudian aku masuk ke dalam dan menyimpan beberapa makanan di dalam kulkas.
__ADS_1
Aku masuk ke kamarku dan berganti pakaian. Setelah aku kembali ke dapur ku lihat Om Wandy sedang menyeduh kopi saset lalu membawanya ke meja. Aku ikut duduk di sana dan mengambil beberapa cemilan yang tadi di bawa oleh Om Wandy.