
...Happy reading...
“Bagaimana? Tapi kalau Adek keberatan juga nggak apa-apa, lagian berangkatnya malam, khawatir Adek masih capek.”
“Aku mau, jemput aku ya, Bang...?” Sahutku.
“Ok, nanti Abang kabarin lagi biar kamu bisa siap-siap. Abang mau istirahat juga sebentar. Love U....”
“Dihh! Jawab nggak, ya?”
“Ya di jawab lah, Dek...masa harus di ajarin lagi.”
“Iya iya..., love u too, Abang....”
Aku tersenyum kembali mengingat obrolan ku dengan Bang Fauzan barusan. Aku memejamkan mataku membawa senyum itu ke dalam mimpiku.
Seperti biasa, Kak Laras akan menggedor pintu kamar untuk membangunkan ku.
“Anita...!?”
”Ck! Iya iya...! Ini udah bangun!” Sahutku meski mataku akhirnya kembali terpejam.
Hening setelah itu, Kak Laras akan berhenti menggedor pintu jika aku sudah menyahuti teriakannya. Tiba-tiba aku teringat janjiku yang ingin kembali malam itu bersama Bang Fauzan. Sontak aku membuka mataku dengan kesadaran penuh. Ku periksa ponselku dan ada pesan dari Bang Fauzan bahwa sebentar lagi ia menjemputku.
Ku lirik Jam dinding yang ada di kamarku lalu aku pergi ke kamar mandi untuk ber'wudhu dan melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu.
Setelah usai sholat Kak Laras memanggil ku dari luar untuk makan malam.
“Kak, aku kembali malam ini juga,” kataku seraya menghampiri Kak Laras yang sedang menata piring di atas meja.
“Apa! Malam-malam begini!?” Tanya Kak Laras terkejut.
“Iya, aku kembali bersama Bang Fauzan, sebentar lagi dia menjemputku.”
“Ya sudah, hati-hati. Kamu nggak makan dulu?”
“Nggak sempat, keburu Bang Fauzan datang.” Seiring dengan bunyi klakson mobil dari luar. Bang Fauzan datang tepat waktu.
Aku membuka kulkas lalu mengambil jus dan susu dari sana. Tak lupa aku mengambil beberapa cemilan yang ada di sana untuk sekedar mengganjal perutku di perjalanan.
Setelah berpamitan kami pun langsung berangkat. Saat di dalam mobil aku meminum susu kemasan yang tadi ku bawa.
“Mau...?” Seraya menyodorkan susu tersebut pada Bang Fauzan.
“Nggak, Abang nggak suka susu. Adek aja yang minum,” tolak Bang Fauzan.
“Ayo, minum dikit doang, nggak boleh nolak.” Aku bersikeras agar Bang Fauzan meminum susu itu.
Akhirnya Bang Fauzan mau meminumnya walau dengan mimik yang terlihat aneh setelah ia meminum susu tersebut. Aku tersenyum puas lalu membantunya untuk membuka botol air mineral. Sepertinya Bang Fauzan benar-benar tidak menyukai susu. Terlihat bagaimana ia menenggak banyak sekali air mineral untuk membilas rasa susu di lidahnya.
__ADS_1
“Abang sukanya apa?” Tanya ku setelah menyimpan kembali botol air mineral yang Bang Fauzan serahkan kembali padaku.
“Kan, Abang sukanya kamu.”
“Serius, Bang...,” rengek ku.
“Hmm, apa ya..., nanti juga kamu bakal tau, Dek.”
“Ihhh, nggak adil dong...kemarin aku nyebutin apa yang aku suka dan yang nggak aku, suka waktu Abang nanya. Sekarang giliran aku yang nanya Abang malah nggak mau kasi tau. Apa jangan-jangan Abang sukanya selingkuh, ya?” Sinisku seraya memalingkan wajahku ke jendela mobil.
“Kok jadi nuduh Abang gitu?”
“Nggak nuduh, Bang...tapi itu praduga.” Aku masih enggan menatap Bang Fauzan.
“Ya sudah, Abang sebutin ya...kamu dengerin baik-baik.” Kemudian Bang Fauzan menyebutkan semua makanan yang ia suka dan tidak suka. Dan susu tadi termasuk kategori yang paling tidak di sukai Bang Fauzan. Tapi makanan yang di sukai Bang Fauzan hampir semuanya makanan rumahan.
Aku tertunduk lesu mengingat aku yang hanya memiliki keahlian memasak mi instan saja. Pria semapan dan sedewasa Bang Fauzan telah salah memilih istri. Batinku.
“Gimana, kamu puas sekarang?” Suara Bang Fauzan membuyarkan lamunan ku.
Aku memandang pada Bang Fauzan yang tersenyum sambil fokus mengemudi.
“Apa nanti aku harus memasak makanan yang semua Abang sebutkan tadi?” Tanya ku sendu.
“Abang, kan hanya menjawab pertanyaan Adek saja, apa pun yang nanti Adek masak pasti Abang makan.”
“Apa pun,” sambil Bang Fauzan menoleh dan tersenyum membalas ku.
Senyum mu, Bang...😌
Aku terpana melihat senyum itu dan hanya bisa memujinya di dalam hati.
“Abang sudah makan?” Tanyaku.
“Hm, sudah tadi sore. Adek sendiri udah makan?” Tanya Bang Fauzan kembali.
Dan ku jawab hanya dengan menggeleng. “Waktu Abang menjemput tadi sebetulnya aku baru bangun, jadi nggak sempat makan. Tapi aku udah bawa roti dari rumah.”
“Apa sebaiknya kita nyari tempat makan dulu?”
“Nggak, aku masih kenyang abis minum susu tadi.”
“Ya sudah, kita singgah makan di perbatasan kota saja, gimana?” Usul Bang Fauzan.
“He'em,” angguk ku.
Mungkin sekitar 2 jam lebih lagi baru tiba di perbatasan, jadi aku memutuskan untuk tidur dulu menyambung tidurku yang belum puas saat di rumah tadi. “Bang, nanti bangunkan aku kalau sudah tiba di perbatasan,” pesanku yang di angguki oleh Bang Fauzan.
Rasanya baru sebentar aku tertidur, Bang Fauzan sudah membangunkan aku.
__ADS_1
”Dek, kita sudah sampai di perbatasan. Ayo makan dulu, nanti Adek sakit,” ucap Bang Fauzan membangunkan ku.
“Kok udah nyampe sih, Bang? Perasaan baru sebentar aku tidurnya.” Aku enggan rasanya membuka mataku.
“Tapi kita emang udah nympe, Dek....”
Dengan terpaksa aku membuka mataku lalu melihat ke arah luar melalui jendela kaca mobil. Ternyata benar, kami sudah sampai di perbatasan. Jika aku tidak makan sekarang maka tidak ada lagi tempat pemberhentian setelah ini. Karena hanya akan ada perkebunan saja yang akan di lewati.
“Ayo,” ajak Bang Fauzan.
Andai tidak ada orang lain lagi ingin rasanya aku minta di gendong saja.
Dengan rasa ngantuk aku berusaha keluar dari mobil dan menuju salah satu tempat makan yang ada di sana.
“Bang, ini sudah jam berapa?” Tanyaku.
Bang Fauzan pun melirik ke jam tangannya. ”Jam 9 lewat 7 menit, Dek.”
“Berarti tadi aku emang baru sebentar tidurnya...,” gumamku pelan. Namun masih dapat di dengar oleh Bang Fauzan.
“Adek tidurnya hampir dua jam, bukan sebentar,” sahut Bang Fauzan.
“Dua jam itu sebentar, Bang...kalau dua malam baru lama,” jawabku tidak mau kalah.
“Kalau dua malam bukan tidur namanya, Dek...ckckck.” Bang Fauzan berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
Karena masih di dera rasa ngantuk, akhirnya aku makan hanya sedikit. Aku memainkan ponselku sambil menunggu Bang Fauzan yang masih makan.
“Dek, ayo...,” panggil Bang Fauzan setelah ia selesai membayar makanan kami.
Ketika kami berjalan menuju ke mobil, tanpa sengaja aku melihat ke arah jembatan yang di hiasi lampu warna-warni yang berada tak jauh dari tempat makan tersebut. Ada banyak orang juga di sana yang terdiri dari pemuda pemudi. Sepertinya mereka juga Karyawan salah satu perusahaan yang juga berdiri di sana. Mereka mencari hiburan bersama pasangannya dengan berjalan-jalan di tempat itu. Maklum, kota agak jauh jadi hanya tempat itu saja yang mudah mereka jangkau.
“Mau melihat-lihat kesana dulu?” Tanya Bang Fauzan yang sepertinya sudah mengerti.
“Boleh?” Tanyaku menoleh pada Bang Fauzan yang berdiri di sampingku.
“Apa pun.” Lagi-lagi Bang Fauzan memperlihatkan senyumnya yang sangat menawan itu.
...**Tbc...
-
-
-
Jangan lupa like, komen dan klik ❤
Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis 😅🤗**
__ADS_1