
"Kamu bisa nyanyi?" Tanya ku pada Salwa.
"Aku bisa nyanyi, tapi belum pernah bernyanyi dengan di iringi alat musik. Emang kamu bisa main gitar?
Ku mainkan saja gitar yang ada di pangkuanku tanpa menjawab pertanyaan Salwa.
π΅πΆπ΅πΆ
Tuhan boleh...hentikan denyut nadi ku...
Tuhan boleh...hentikan detak jantung ku tapi jangan hatiku...
Hati ini untuknya...πΆπ΅πΆπ΅
Semilir angin yang bertiup membuatku semakin terhanyut dalam petikan gitarku. Di tambah suasana di bawah pepohonan yang memang sangat sejuk siang itu. Aku pun mengakhiri petikan gitarku seiring berakhirnya lagu yang ku nyanyikan.
"Wah wah...,ternyata kamu yang bawa kabur gitar kita," ku dengar suara dari arah belakang tempat duduk kami. Ku lihat ada beberapa siswa sudah berdiri di sana. Kak Ardi juga ada di sana sambil bersandar di sebuah pohon.
"Maaf, hanya pinjam sebentar," ucapku seraya mengembalikan gitar tersebut.
Lalu mereka pun pergi. Ku lihat Kak Ardi berjalan ke arahku.
Salwa menunjuk kak Ardi dengan matanya memberitahukan bahwa dia tidak ingin mengganggu pembicaraan kami.
"Jangan tinggalin aku, tetap disini," ucapku pada Salwa yang ingin pergi. Karena aku merasa tidak nyaman jika hanya berdua saja. Akhirnya Salwa menungguku dengan berdiri beberapa meter dari tempatku dan Kak Ardi.
"Nanti setelah pulang sekolah aku mau ajak kamu jalan-jalan. Mau ya, An?"
"Aku nggak suka jalan-jalan, apa lagi sama orang yang belum di kenal," ucapku.
"Ya, mana mungkin bisa kenal kalau kamu selalu menghindar begini. Mau, ya? Hanya sebentar, setelah itu aku akan antar kamu pulang dengan selamat, aku janji," ucap Kak Ardi memohon.
Aku diam sejenak memikirkan ajakan Kak Ardi setelah akhirnya aku menyetujuinya. "Ok, tapi janji hanya sebentar."
"Ok, siap." Ku lihat Kak Ardi sangat senang saat aku menerima ajakan nya.
__ADS_1
"Ehm..., ada yang bakal kencan nih," ucap Salwa saat kami akan kembali ke kelas.
"Aku juga terpaksa nerima ajakan Kak Ardi...."
"Awalnya terpaksa, tapi setelah itu kita nggak ada yang tau selanjutnya," ucap Salwa tertawa sambil menyenggol lenganku.
"Ihh..., apaan? Nggak lah."
"Ke kantin dulu yukk, haus nih," ajak Salwa. Aku pun setuju karena aku juga merasa haus. Setelah menghilangkan rasa dahaga kami pun langsung kembali ke kelas karena jam istirahat sudah hampir habis.
Setelah jam pelajaran terakhir sudah usai aku pun langsung mengemasi buku dan alat tulisku. Ku lihat Kak Ardi sudah menungguku.
"Ayo," ucap Kak Ardi yang sudah siap di atas motornya. Aku duduk di belakang Kak Ardi dengan perasaan tak karuan karena anak-anak yang lain ada yang memperhatikan kami. Ahh, aku jadi teringat Pak Adji yang dulu pernah memboncengku.
Ternyata Kak Ardi mengajak ku ke sebuah cafe di tepi laut dan pemandangan nya sungguh membuatku tak hentinya mengagumi keindahan tempat tersebut. Di tengah keramaian kota ini aku baru tau ada tempat seindah dan setenang ini. Bahkan aku juga bisa melihat beberapa kapal yang sedang mengarungi laut tersebut.
"Ehm, semoga kamu suka tempatnya," ucap Kak Ardi membuyarkan keterpanaanku.
"E i iya, aku suka. Ini sangat indah dan tenang," jawabku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia saat itu. Dan ku lihat Kak Ardi memandangiku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sering-sering lah tersenyum seperti itu, karena ku perhatikan kamu sangat jarang tersenyum. Dan..., aku sering melihat kamu selalu menyendiri."
Aku melayangkan pandanganku pada kapal-kapal yang sedang mengarungi laut disana. Aku kembali teringat pada julukan ku sebagai anak pembawa sial. Entah kenapa ada rasa khawatir yang muncul di hatiku setelah beberapa tahun terakhir ini aku tidak pernah memikirkannya. Tapi hari ini aku kembali teringat. Bagaimana jika ada yang tau siapa aku? Tentang aku yang tidak di inginkan keluargaku sendiri.
Tidak lama pelayan cafe tersebut datang membawakan makanan yang kami pesan.
"Ayo makan dulu, nggak usah di pikirin ucapan aku tadi. Kamu tetap terlihat manis kok meski kamu hanya diam tanpa ekspresi," puji Kak Ardi.
Aku tersenyum mendengar ucapan Kak Ardi, lalu kami pun makan dengan tenang. Suasana laut dengan hembusan angin yang bertiup membuatku betah berlama-lama di tempat itu. Tidak lama pelayan cafe yang lainnya datang membawa semangkuk eskrim dan meletakannya di hadapan kami. Lalu aku menatap pada Kak Ardi karena aku bingung dengan hidangan yang hanya di sediakan dalam satu mangkuk saja.
"Ayo di coba," ucap Kak Ardi seraya memberikan sendok eskrim padaku. "Eskrim akan lebih nikmat jika di nikmati bedua dalam satu wadah," jelas Kak Ardi seraya menyendok eskrim lalu memakannya. Aku pun ikut mengambil eskrim tersebut dengan sendok ku lalu memakannya.
Eskrim itu memang enak rasanya walau di nikmati sendiri. Hanya saja mungkin lebih romantis jika di makan berdua.
"Boleh tau apa yang di suka dan tidak kamu sukai?" Tanya Kak Ardi.
__ADS_1
"Dalam hal apa?" Tanya ku kembali.
"Dalam semua hal, apa saja. Itu pun jika kamu nggak keberatan untuk memberitahukan nya."
Aku diam sejenak untuk mengingat. "Aku suka jika aku bisa melakukan apa yang aku inginkan."
"Apa seperti bermain musik?"
"Bagiku musik hanya hiburan saja sekedar mengusir rasa sepi."
Kak Ardi menatap intens padaku. "Lalu, apa keinginan terbesar mu?"
"Ayo pulang, ini sudah terlalu sore," ucapku ingin segera beranjak dari duduk ku.
Keinginan terbesarku hanya ingin di akui oleh keluargaku. Tapi mana mungkin aku menjelaskan nya pada semua orang termasuk Kak Ardi.
"Tunggu hingga matahari terbenam. Kamu mau kan menunggu lagi sebentar?"
"Tapi ini sudah sangat sore, bukannya Kakak sudah janji untuk mengantarku pulang."
"Tapi matahari terbenam hanya bisa di lihat saat hari mulai gelap. Mau ya menunggu sebentar lagi."
Kak Ardi memohon dan lagi-lagi aku tidak tega untuk menolak. Tapi rasa jenuh ku terbayarkan ketika aku bisa menyaksikan matahari terbenam seperti yang di katakan Kak Ardi tadi. Sungguh luar biasa ciptaan yang maha kuasa menciptakan semesta dengan segala keindahan nya.
Setelah beberapa saat melihat matahari terbenam Kak Ardi pun mengantarkan ku pulang.
"Anita...."
Aku menoleh pada Kak Ardi yang memanggilku saat aku sudah turun dari motornya.
"Terimakasih untuk waktu kamu hari ini," ucap Kak Ardi tersenyum padaku.
Aku hanya mengangguk sambil membalas senyumnya. Lalu setelah itu aku masuk kedalam.
Aku pergi ke kamar mandi lalu setelah bersih-bersih aku menunaikan sholat maghrib. Usai sholat setelah melipat sajadah dan mukena aku berbaring di tempat tidur ku, memejam sejenak sambil mengingat saat aku dan Ardi menyaksikan matahari terbenam.
__ADS_1
Apa hanya aku orang yang pernah Kak Ardi ajak untuk melihat matahari terbenam? Apa jangan-jangan sebelumnya sudah banyak gadis yang dia ajak kesana? Kak Ardi,kan di juluki buaya oleh teman-temannya. Ahh...,pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepalaku. Ada apa ini!?Kenapa tiba-tiba aku peduli.