Luka Terdalam

Luka Terdalam
DIA BUKAN KAK ARDI YANG DULU


__ADS_3

🎶Kasih...


mengapa aku di cinta


mengapa aku di manja


bila untuk di sakiti


...Happy reading...


Aku tertegun mendengar semuanya. Betapa bersikerasnya takdir mempermainkan agar aku tidak merasakan kebahagiaan itu.


Apakah ini nyata terjadi di hidupku?


Apakah hanya sebuah mimpi yang nantinya aku akan terbangun dan bangkit dari semua penderitaan ini?


“Anita....”


“Hm, a apa?” Aku tersentak dari lamunanku.


“Apa aku masih ada di hatimu?” Kak Ardi menyorotku dengan matanya yang selalu berhasil membuat gejolak di dalam jiwaku.


Aku tergagap dengan pertanyaan yang ia lontarkan.


Tolong jangan berikan aku pertanyaan itu. Karena aku tidak mampu untuk menjawabnya.


“Walau sedikit, apa masih ada rasa itu?”


“Untuk apa? Baik ada atau pun tidak ada percuma saja, kan!?”


“Kalau kamu mau menunggu, maka kita akan kembali bersama.” Kak Ardi meyakinkan aku dengan tatapannya.


“Jangan gila! Cukup!”


“Ya, aku lebih baik gila jika harus melepaskan kamu lagi!”


Bukkkh!


kak Ardi memukul meja kayu yang berlapis kaca di atasnya. Membuat kaca itu retak dan ada sedikit tetesan darah di sana.


Kak!” Aku terkejut sekaligus takut kalau suara gaduh yang di timbulkan akan menarik perhatian orang yang kebetulan lewat nantinya. Aku meraih lengan Kak Ardi untuk melihat lukanya.


“Kakak berdarah,” ucap ku panik. Kak Ardi menatap ku dengan senyum dan menyentuh pipiku. Sesaat aku terdiam beku, baru kemudian aku buru-buru mengalihkan pandangan ku dan memberi jarak karena tadi kami berada terlalu dekat.


“Kamu masih Anita yang sama, kamu masih Anita ku yang dulu.”


Aku berusaha bangkit dari tempat duduk ku agar tidak terhanyut lebih jauh lagi.

__ADS_1


“Jawab dulu, apa kamu masih mencintai ku?” Kak Ardi kembali mencekal lengan ku.


“Kak, cukup!” Aku berusaha melepaskan cekalan itu namun Kak Ardi malah semakin menguatkannya.


“Jawab dulu!”


“Tidak!”


“Bohong! Ayo katakan sekali lagi!” Kali ini ia membuat aku bersandar pada tembok ruangan itu dan mengungkung ku di sana.


“Tidak! Sudah tidak lagi!” Aku membalas tatapannya lalu berteriak di wajahnya. “Puas! Hah!?”


Tatapan yang tadi penuh harap perlahan berubah jadi kilatan kemarahan serta kekecewaan. Aku masih berdiri diam menyaksikan perubahan pada raut wajahnya dengan perasaan yang yang tidak menentu.


“Bohong, kamu pasti berbohong, kan?” Kak Ardi semakin merapatkan tubuhnya. Aku memalingkan wajahku untuk menghindari Kak Ardi yang sudah sangat dekat bahkan hanya beberapa centi saja.


“Tatap aku, An....”


Aku tetap mempertahankan posisi ku hingga kemudian ia berhasil memalingkan wajahku menatap padanya.


“Kak! Eumm...,” Kak Ardi membungkam mulut ku.


“Kamu bohong, kan...?” Kak Ardi masih meracau dengan pertanyaan itu di sela deru nafasnya.


“Kak! Jangan...,” aku mencoba menepis tangan Kak Ardi yang mulai merayapi bagian tubuhku sementara ia kembali menyerang bibirku ketika tadi aku baru berhasil lepas dan menyuruhnya untuk berhenti.


Dia berhenti lalu manatap tajam padaku. Tatapannya begitu menghujam hingga otot-otot di tubuhku mendadak terasa kaku.


“Jangan membodohi ku. Kamu pikir aku akan percaya. Aku kenal kamu dengan baik, dan aku rasa tidak ada pria yang mengenal kamu jauh lebi baik dari pada aku.”


“Kakak boleh bangga karena merasa megenal aku jauh lebih baik. Tapi nyatanya Kakak tidak seberuntung orang yang sudah mendapatkan sesuatu yang berharga dari diriku.” Aku membalas meski aku sangat ketakutan saat itu.


Kak Ardi semakin menatap garang padaku. “Kamu pikir aku perduli, hah!? Atau kita buktikan saja sekarang.” Kak Ardi membuka jas yang ia kenakan dan melemparnya begitu saja ke lantai ruangan itu. “Benar atau tidak aku tetap tidak perduli,” sambil ia melanjutkan membuka kancing bagian atas pada kemejanya. Tubuhku gemetar ketakutan bukannya berhasil tapi kini Kak Ardi malah ingin membuktikannya.


Ini bukan Kak Ardi. Aku benar-benar tidak mengenal orang yang sedang berusaha menjamah ku ini. Aku tidak percaya kalau Kak Ardi tega berbuat seperti ini. Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi seperti ini?


Plaakkk!


“Cukup! Aku bilang cukup!” Aku berhasil menyadarkannya dengan sebuah pukulan yang cukup keras di wajahnya.


Ia berhenti namun kembali mencekal lenganku dan membawaku keluar dari ruangan itu.


“Kak, lepas!” Entah kemana Kak Ardi akan membawaku aku juga tidak tahu. Ia masih tampak marah dengan sesekali ia melemparkan pandangannya kesana kemari seperti mencari sesuatu.


“Kak, kita mau kemana? Kita menjadi pusat perhatian orang-orang!” Sentak ku sambil berusaha untuk lepas.


“Kita cari orang yang mau menikahkan kita berdua. Dengan begitu kita tidak akan terpisahkan lagi.”

__ADS_1


“Kak, aku mohon...jangan seperti ini. Jangan buat aku lebih menderita lagi. Hiks...hiks...hiks...," aku menangis dan berlutut agar Kak Ardi mau melepaskan aku.


“Maaf. Anita maaf kan aku.” Perlahan Kak Ardi melepaskan cekalannya lalu mensejajari posisi ku.


“Dokter Ardi, kendalikan dirimu. Jaga wibawa mu sebagai seorang Dokter di Rumah Sakit ini.” Terdengar suara seseorang yang cukup khas di telingaku.


Dokter Rio berdiri di dekat kami berdua dan memberi isyarat agar kami segera menyadari ada puluhan pasang mata yang sudah menyaksikan kami berdua.


Kak Ardi berdiri dari posisinya lalu melangkah pergi. Aku pun mencoba berdiri dengan di bantu oleh Dokter Rio. Ia membawaku ke ruangannya dan ku lihat Kak Ardi sudah ada di sana. Dengan posisi tertunduk sambil ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


“Selesaikan masalah kalian secara baik-baik.” Dokter Rio berkata seraya memberikan sebotol air mineral yang sudah di bukanya. “Bersikap lah dewasa,” lanjutnya kali ini ia menatap pada Kak Ardi.


Aku menerima air tersebut dan meminumnya walau air tersebut terasa sulit untuk melewati kerongkongan ku.


Kak Ardi mulai mendekat pada ku sementara Dokter Rio duduk di kursi kerjanya sambil mengawasi kami dari sana.


Reflek aku menggeser duduk ku berusaha menjauh karena tindakan Kak Ardi tadi masih membuatku merasa takut.


...Rio POV...


Aku dan Ardi adalah mahasiswa di fakultas yang sama. Dia dua tingkat berada di bawahku. Orangtua kami juga saling mengenal dengan baik.


Banyak wanita yang menyukainya dan mencoba mendekatinya. Tapi tak pernah satu pun ku lihat ia dekat dengan salah satu wanita tersebut. Hal ini membuat aku sedikit penasaran dan mencoba mencari tahu. Sebagai orang terdekatnya aku jadi merasa cemas tentang suatu hal yang ada di pikiran ku waktu itu.


Ketika kebetulan kami sedang istirahat dan menunggu mata kuliah selanjutnya, aku mencoba bertanya walau hanya dengan sebuah candaan agar dia tidak tersinggung dan niat ku tidak di ketahui olehnya.


Ku lihat ia tersenyum sebelum akhirnya mengeluarkan handphone nya dan memperlihatkan foto seorang gadis di sana. Seorang gadis yang tersenyum manis dengan matanya yang bulat.


“Setelah lulus nanti aku akan membawanya ke hadapan orang tua ku dan menjadikan dia pendampingku, selamanya.”


“Good!”


Setelah itu aku tidak pernah lagi mencurigainya karena sudah tahu ada seorang gadis yang sudah mengisi hatinya.


Hingga pada akhirnya aku mendengar kabar dia akan menikah karena perjodohan. Sejak itu aku selalu menjadi pendengar yang baik untuknya karena ia masih mencintai gadis yang fotonya sempat ia perlihatkan padaku waktu itu.


...Rio POV END...


...Tbc...


-


-


-


**Jangan lupa jejak dukungannya 👍 agar othor semakin semangat untuk menulis

__ADS_1


Yg mau komen silahkan login dulu menggunakan akun g*ogle mau pun face b*ok. Setelah login, nama dan foto profil bisa di ganti sesuai selera. Wkwkwk**...


__ADS_2