
Sudah beberapa hari ini Kak Laras dan Kak Agil bermalam di rumahku. Pekerjaan Kak Agil pun sudah selesai dan besok pagi mereka akan segera kembali.
Selepas sholat maghrib dan makan malam, ku dekati Kak Laras yang sedang mengemasi barang-barangnya.
"Kak, apa sebaiknya Kakak nggak nginap aja lagi barang semalam?" Kataku pada Kak Laras.
"Kakak juga mau nya seperti itu, An. Tapi Kak Agil mesti harus kerja juga. Lain kali kamu akan Kakak ajak berlibur ke rumah Kakak."
"Harusnya Kakak datang di awal liburan aja kemarin, biar aku bisa ikut?" Kataku sambil mengenang masa liburan yang hanya tinggal beberapa hari.
"Belajar masak sama nyuci dulu kalau mau ikut," ucap Kak Agil yang sedang duduk di ruang tengah. Karena jarak kamar dan ruang tengah hanya di batasi sebuah tembok saja, dan pintu pun sedang terbuka. Membuat Kak Agil dapat mendengar dengan jelas apa yang kami bicarakan.
"Aku ini mau berlibur sebagai Adiknya Kak Laras, bukan mau jadi babu!" Teriak ku menyahuti dari dalam.
Selesai Kak Laras mengemas barangnya, kemudian kami keluar dari kamar dan duduk juga di ruang tengah. Masih ku lihat sisa tawa di wajah Kak Agil.
Terdengar suara bel pintu berbunyi dan aku pun langsung pergi untuk membukakan pintu setelah ku lihat dari kaca jendela, Om Wandy yang berdiri di depan pintu.
"Masuk, Om." Aku mempersilahkan Om Wandy masuk.
Seperti biasa Om Wandy tidak pernah datang dengan tangan kosong. Ia menyerahkan bawaan nya dan aku pun langsung menerimanya dengan senang.
Aku dan Kak Laras masih duduk di ruang tengah sambil menikmati buah tangan dari Om Wandy. Sementara Om Wandy sendiri duduk di ruang tamu bersama Kak Agil.
Aku sudah merasa sangat kenyang. Aku dan Kak Laras memberesi semunya dan masuk ke kamar masing-masing.
Pagi nya Kak Laras dan Kak Agil sudah siap untuk pulang. Belum lagi Kak Laras pergi meninggalkan rumah, aku sudah merasa sangat kehilangan saja.
"Jangan lupa untuk mengunci pintu dan jendela, jangan ceroboh. Ingat, jangan terlalu lama kalau nerima tamu laki-laki, apa lagi sudah di atas jam 10 malam." Kak Laras berpesan.
"Iya, Kak,"
"Ya sudah, Kakak pergi dulu. Hati-hati dan jaga diri kamu baik-baik."
Aku dan Kak Laras saling memeluk. Kemudian Kak Laras masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka.
Aku masuk ke dalam rumah yang kini terasa sangat sunyi.
Handphone ku berdering, ku lihat Kak Ardi yang menelpon ku dan aku pun langsung menerimanya.
"Halo, Kak."
"Aku kangen kamu," kata Kak Ardi dan membuat aku bagai melambung tinggi di angkasa.
Ingin rasanya aku mengatakan hal yang sama, tapi aku ragu-ragu dan masih ada rasa malu juga di hatiku. Padahal sebelumnya aku sudah pernah mengucapkan kata "sayang" sebelumnya. Tapi itu hanya reflek saja tanpa di rencanakan.
__ADS_1
"Anita...?"
"Eh, i iya, Kak." Aku tergagap mendengar suara Kak Ardi yang membuyarkan lamunan ku.
"Kamu nggak mau bilang kangen juga sama aku? Apa jangan-jangan aku aja yang kangen sama kamu."
"Siapa bilang!? Aku kangen kok sama Kakak. Bahkan aku sangat-sangat kangen." Aku jadi keceplosan. Ku tutup mulut ku namun kata-kata itu sudah meluncur dan tentunya Kak Ardi mendengar semuanya.
"Terimakasih..., aku hanya ingin mendengar kata-kata itu aja dari kamum. Oiya, besok aku akan kembali."
Rasa malu ku seketika menghilang dan berubah jadi rasa senang saat Kak Ardi mengatakan akan kembali besok.
"Jam berapa Kakak akan berangkat dari sana?" Tanya ku tidak sabar.
"Mungkin agak siangan, karena Papa masih ada sedikit urusan. Jadi kemungkinan aku datangnya agak malam. Kamu yakin nggak mau di bawain sesuatu dari sini?"
"Nggak, aku mau nya Kakak secepatnya kembali dan kita pergi ke cafe yang dulu pernah Kakak ajak aku kesana waktu pertama kali kita pergi bersama," pintaku.
"Oh, hanya itu? Baik lah, apa pun buat kamu."
Obrolan singkat antara aku dan Kak Ardi pun berakhir.
Untuk menghilangkan rasa bosan ku sore itu aku berniat akan sedikit berolahraga.
Aku sudah mengenakan pakaian olahraga ku dan juga sudah mengepang rambutku dengan rapi. Ku ambil sepatu olahraga ku dan mengenakannya.
"Lain kali aja, Kakak lagi banyak kerjaan. Lagian kamu jogging nya nggak bilang-bilang dulu," jawab Kak Ina.
"Hehe...."
Aku pun berlalu sambil berlari-lari kecil meninggalkan halaman rumahku.
Di jalan aku seperti mendengar suara seseorang yang memanggil namaku dari arah belakang. Aku pun menghentikan lariku dan menoleh ke belakang.
OMG!
Itu Pak Adji. Hatiku tiba-tiba menjerit keras. Setelah lama tidak bertemu Pak Adji semakin terlihat tampan saja.
"Eh, Bapak. Apa kabar?" Tanyaku.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Pak Adji kembali.
"Saya juga baik, Pak," jawabku.
Kami berbicara ssmbil berjalan beriringan. Di lihat dari kostum yang Pak Adji kenakan sepertinya Pak Adji juga sedang jogging. Dengan pakaian oalahraganya, tubuh sixpack Pak Adji tercetak jelas di mataku saat itu. Sungguh suatu kebetulan yang perfect.
__ADS_1
"Bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya Pak Adji membuatku kembali tersadar.
"Hm, sekolahku baik."
"Masih jadi juara kelas?"
"Kemarin hanya masuk peringkat 3."
"Ada apa? Apa kamu menulis kata-kata puitis lagi?"
Wajahku memanas ketika Pak Adji kembali mengorek kejahilanku waktu itu.
"E..., bu -- bukan. Tapi aku kurang di bidang agama. Hehe...."
Kami sampai di sebuah tempat yang biasa menjadi tempat untuk bersantai di sore hari. Dari remaja hingga yang sudah berkeluarga pun juga menjadikan tempat itu sebagai pilihan mereka untuk menghabiskan waktu bersama. Tempat itu akan menjadi sangat ramai jika di akhir pekan.
Aku duduk di sebuah tempat yang sudah tersedia di sana. Aku sengaja memilih tempat yang agak jauh dari kerumunan.
Ternyata Pak Adji malah mengikutiku juga dan duduk di sebelahku. Tadinya aku sempat berpikir Pak Adji akan memisahkan diri dan obrolan pun ku rasa sudah selesai. Ingin rasanya aku bertanya kenapa Pak Adji malah ikut duduk bersamaku. Tapi nyatanya itu adalah tempat umum jadi aku tidak berhak samasekali untuk berbicara seperti itu.
"Apa kamu sering ke tempat ini?" Pak Adji kembali mengajak ku berbicara dengan menanyaiku.
"Baru beberapa kali saja," jawabku.
"Lalu kamu pergi kemana saja selain ke tempat ini?"
"Biasanya teman yang mengajak ku yang akan menentukan tempatnya. Aku hanya ikut saja."
"Emang nggak ada tempat yang mungkin ingin kamu datangi?"
"Ada. Aku sudah pernah sekali pergi ke sana, dan aku ingin pergi lagi kesana bila ada waktu," jawabku bersemangat.
Obrolan kami semakin akrab saja, seperti dua orang yang sedang berteman. Sebelumnya aku dan Pak Adji tidak pernah seakrab ini meski dulu Pak Adji pernah mengantarku saat pulang sekolah.
"Bagaimana jika besok kita pergi ke tempat yang kamu maksud tadi?" Tawar Pak Adji.
Aku terdiam sebentar. Apa pendengaranku tidak salah? Apa Pak Adji benar-benar mengajak ku?
"Nggak usah takut, Bapak nggak akan nyulik kamu,kok." Pak Adji pun tertawa usai berkata seperti itu.
Aku tersenyum namun masih saja canggung rasanya.
-
-
__ADS_1
-
TBC