
Pagi yang cerah tapi hatiku tidak secerah mentari yang bersinar pagi ini. Ku langkahkan kaki ku melewati gang yang menuju ke sekolah ku. Lagi-lagi aku teringat saat dimana aku melewati jalan itu bersama Kak Ardi. Aku sudah berusaha agar ia menjauhiku, tapi kenapa aku malah jadi memikirkan nya.
Ujian kenaikan kelas sudah berakhir, tinggak menunggu hasil akhir saja. Sudah satu tahun aku menimba ilmu disini. Banyak pelajaran berharga yang ku dapatkan namun aku belum bisa memahami diriku sendiri.
"Aku perhatiin kamu kamu sering melamun akhir-akhir ini," ucap Fatiah sambil duduk bersebelahan denganku. "Nggak baik sering-sering melamun, nanti kemasukan."
"Ehm, aku lagi mikirin hasil ujian aja kok," jawabku.
"Yakin...? Bukan karena mikirin hubungan kamu sama Kak Ardi,kan?"
Hanya mendengar namanya saja membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku menoleh ke arah Fatiah yang ada di sebelahku. "Kamu ngomong apa...? Aku dan Kak Ardi itu nggak ada apa-apa."
"Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas kita semua disini melihat waktu kamu marah sama Kak Ardi. Mulut berbicara lain, tapi hati nggak bisa bohong. Buktinya kamu sering melamun dan terlihat tidak bahagia setelah kejadian itu. Bukan hanya kamu, bahkan aku perhatiin Kak Ardi juga lebih pasif." Usai berkata seperti itu Fatiah kembali ke tempat duduknya.
Apa benar aku terlihat tidak bahagia?
Apa ini berhubungan dengan Kak Ardi?
Langit terlihat gelap, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Aku berdiri menunggu Kak Ardi di depan gang untuk mengembalikan jaketnya yang waktu itu dia pinjamkan. Beberapa saat ku lihat motor Kak Ardi lalu ia menghentikan motornya di dekatku.
"Maaf, baru bisa ku kembalikan sekarang, karena --- "
"Iya, aku ngerti," ucap Kak Ardi sambil menerima jaket tersebut.
Ingin rasanya aku berbicara dengan Kak Ardi, tapi aku tidak tau harus bicara apa. Lalu ku putuskan untuk melanjutkan langkahku untuk pulang dan menunggu ojek karena ojek langgananku tidak bisa menjemput karena sedang berhalangan. Sebelum aku benar-benar pergi dari sana ku dengar Kak Ardi memanggilku.
"Anita!"
Lalu aku pun berbalik memandang pada Kak Ardi yang berdiri di dekat motornya.
"Aku antar pulang ya? Sebentar lagi akan turun hujan," ucapnya seraya menatap langit lalu beralih memandang ke arahku.
__ADS_1
Tatapan yang masih sama, seperti sebelumnya. Tatapan yang aku rindukan, dan mata coklat itu sungguh memabukan. Ahh..., iman ku semakin goyah saja.
"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin membantu," ucap Kak Ardi, karena aku hanya diam saja sejak tadi.
Aku melangkah mendekati tempat Kak Ardi sedang berdiri. "Ehm, sebenarnya ada yang mau aku omongin ke Kakak," ucapku.
"Apa kita bicara disini saja atau cari tempat lain? Karena sebentar lagi akan turun hujan."
"A -- aku mau minta maaf atas ucapan aku tempo hari," ucapku dengan cepat meski di awal aku sempat gugup dan hampir tidak bisa mengucapkannya.
"Aku juga minta maaf, karena sudah buat kamu nggak nyaman. Dan aku janji nggak akan buat kamu sedih dan marah lagi, tapi...tolong jangan suruh aku untuk berhenti suka sama kamu."
Degg!
Jantungku kembali berdetak tak menentu.
"Jujur saja, aku merasa sangat tersiksa saat melihat kamu tanpa bisa mendekat dan berbicara. Meski kamu membenci aku, tapi aku tetap cinta sama kamu, An."
Kenapa Kak Ardi selalu seperti ini, selalu menyatakan perasaannya tanpa ragu. Lagian kapan aku bilang benci pada Kak Ardi?
"Ayo," ajak Kak Ardi agar aku segera naik ke motornya.
"Sebentar, aku mau ngomong lagi," ucapku. Lalu Kak Ardi menoleh ke arahku.
"Kapan aku bilang benci?" Tanyaku pada Kak Ardi. Dan Kak Ardi hanya diam dan menatapku. Mungkin masih belum mengerti. "Sesungguhnya a -- aku juga suka sama Kakak." Lalu aku membuang wajahku untuk menghindari tatapan Kak Ardi.
Tidak ada rencana samasekali dan bahkan aku tidak tau entah darimana aku mendapatkan keberanian untuk berkata seperti itu.
"Anita ngomong apa tadi? Bisa di ulang?" Tanya Kak Ardi.
Aku tidak ingin mengulangnya dan bahkan aku menyesal sudah mengucapkan kata-kata itu. Gerimis pun berubah menjadi hujan yang sangat deras, lalu Kak Ardi mengajak ku untuk segera naik ke motornya dan mencari tempat untuk berteduh sementara. Lagi-lagi tempat yang sama menjadi pilihan Kak Ardi untuk mengajak ku berteduh. Karena hanya tempat itu yang paling dekat dan ibu pemilik warungnya pun sangat baik.
__ADS_1
Aku mengibas-ngibas seragamku yang sempat basah karena kehujanan. Lalu Kak Ardi mendekatiku dan berkata, "sepertinya jaket ini memang pantas buat kamu," seraya memasangkan jaket yang barusan aku kembalikan tadi.
Aku tertunduk sangat malu karena berada terlalu dekat dengan Kak Ardi. "Terimakasih, Kak," ucapku.
"Kalau boleh aku mau dengar kata-kata kamu yang tadi. Hanya ingin memastikan saja apa aku nggak salah dengar," kata Kak Ardi.
Aku memandang ke arah lain dan coba mengacuhkan permintaan Kak Ardi. "Nggak bisa di ulang," kataku.
"Ok, jadi Anita..., apa kamu mau jadi pacar aku?" Tanya Kak Ardi padaku.
Beruntung suara hujan yang cukup deras mampu meredam suara Kak Ardi hingga tidak sampai terdengar oleh ibu pemilik warung. Kalau tidak aku bakal sangat malu lagi karena Kak Ardi selalu blak-blakan tanpa peduli dengan sekitarnya.
Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kak Ardi namun, aku tetap memandang ke arah lain karena aku sangat malu jika bertemu pandang dengan nya.
"Jawab yang benar dong, An...."
Lalu Kak Ardi berpindah ke tempat di mana aku memandang.
"Malu Kak, itu di liatin orang," kataku seraya melirik ibu pemilik warung. Tapi percuma, Kak Ardi orangnya selalu cuek dan terkesan masa bodoh. Lalu ku jawab saja dengan tegas pertanyaan Kak Ardi. "Iya, aku mau."
"Gitu dong...," ucap Kak Ardi sambil tersenyum.
Uhh...senyumnya itu loh...,hmm,,
Ku beranikan diri untuk membalas tatapan Kak Ardi lalu aku bertanya, "Kak Ardi kenapa berani bilang suka dan nyatain perasaan ke aku meski baru kenal?"
Kak Ardi tersenyum. "Aku nggak mau ada yang lebih dulu dapetin kamu, karena aku yakin bukan aku doang yang suka sama kamu An," jawab Kak Ardi.
"Oh...." Entah mengapa aku kurang puas dengan jawaban Kak Ardi.
"Dan asal kamu tau, ini pertama kalinya aku nyatain perasaan aku ke cewek," ungkap Kak Ardi.
__ADS_1
"Aku kok nggak percaya ya, karena Kakak sepertinya udah biasa banget, udah gitu nggak tau malu lagi pake nyatain perasaan di depan orang banyak." Aku mengingatkan Kak Ardi yang pernah menyatakan perasaannya pada ku ketika sedang berada di kelas.
"Aku kan udah bilang, aku nggak mau ada yang dapetin kamu. Ayo, aku antar pulang," ajak Kak Ardi.