Luka Terdalam

Luka Terdalam
PANTAI


__ADS_3

...Happy reading ...


Sejak pukul 7 pagi kami sudah berkumpul di rumah Santi tapi hingga pukul 8 lewat baru beberapa yang datang.


Sejak kemarin malam mereka sudah mengatur semuanya sementara aku hanya ngikut saja karena aku juga tidak terlalu antusias jika bukan karena keinginan Santi.


Ada beberapa mobil yang sudah di siapkan termasuk mobil Santi dan beberapa temanku yang lainnya. Aku ragu saat membayangkan perjalanan nanti, karena jarak di tempuh lumayan jauh untuk sampai ke sana.


Aku tidak terlalu banyak bicara apa lagi rata-rata mereka sudah berkeluarga. Aku tidak terlalu faham dengan pembicaraan mereka. Aku memilih diam dan hanya akan bicara jika di tanya.


Tidak lama sebuah mobil berwarna putih berhenti tidak jauh dari halaman rumah Santi. Seorang pria berkulit putih memakai jeans dan atasan kaos berwarna putih dan jaket berbahan kulit warna coklat tanah, keluar dari sana dan berjalan ke arah kami.


“Lama banget di tungguin dari tadi!” Cerca Santi pada pria itu. Pria itu hanya tersenyum lalu mengambil tempat duduk di hadapan ku dan sedikit menyamping.


“Jadi dia yang di tungguin dari tadi?” Tanya Riska yang dari tadi sudah ngomel-ngomel karena kelamaan menunggu.


“Sebentar, aku ambil tas dulu,” pamit Santi sembari masuk ke dalam. Tidak lama ia kembali dan kami siap untuk berangkat.


“Nit...kamu ikut di mobil itu aja,” tunjuk Santi pada mobil pria tadi. Tanpa banyak bicara aku pun menurut saja. Sementara Santi dan beberapa orang lainnya masuk ke mobil milik Santi yang di kemudikan oleh suaminya sendiri.


Ada beberapa yang membawa anak mereka dan ada juga yang pergi dengan pasangannya saja.


Aku masuk ke dalam mobil itu dan kembali sibuk dengan ponselku karena di perjalanan nanti ada kemungkinan sinyal hilang dan baru akan ada setelah tiba nanti di tempat tujuan.


“Bisa pindah ke depan aja?” Pria pemilik mobil itu berkata sambil berbalik ke arah ku yang duduk di kursi belakang.


Aku menatap kiri kanan barangkali ada orang lain yang dia ajak bicara. Tapi hanya ada aku di sana. Sementara yang lain sudah masuk ke mobil mereka masing-masing dan ada beberapa juga yang menumpang di sana.


Aku pun pindah duduk ke kursi depan mungkin akan ada orang nantinya yang akan duduk di sini. Pikir ku.


“Maaf, numpang sama kalian, ya. Yang lain udah penuh, kasin anak aku kalau berdesakan di sana,” ucap Maghda seraya membuka pintu mobil dan menduduki kursi di belakang.


“Yang lain mana?” Tanya ku seraya berbalik ke arah Maghda.

__ADS_1


“Ada yang nggak jadi ikut, mungkin ada kepentingan lain,” jelas Maghda. “Buruan Dan, nanti kita ketinggalan jauh," titah Maghda pada pria yang akan mengemudi di sebelah ku tadi.


“Ok,” sahut pria itu seraya tersenyum.


Sepanjang perjalanan kami yang ada di dalam mobil hanya diam dan sesekali aku menatap ke belakang melihat Maghda memangku anaknya yang mulai tertidur.


“Ehm,” pria itu berdehem memecah kebisuan di antara kami. “Kalau boleh tau,sekarang lagi sibuk apa?” Tanya nya menatap sekilas ke arah ku.


“Hm, lebih banyak di rumah aja sih, nggak terlalu banyak kegiatan.” Pria itu kembali menatapku sekilas seraya tersenyum. Sementara aku masih dengan posisi menatap ke depan.


Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Mungkin ia juga bingung harus bicara apa karena aku memang lebih memilih diam sejak tadi.


Setelah beberapa jam akhirnya kami sampai juga. Mereka yang datang lebih dulu sudah berpose di sana untuk mengambil beberapa gambar dengan latar pantai dan langit biru yang cerah.


Ternyata benar-benar indah pemandangannya. Biasanya aku hanya melihat beberapa foto temanku yang mengunggah momen liburan mereka di sini.


Aku mengeluarkan handphone ku dan mengambil beberapa gambar juga.


“Mau aku bantu buat ngambil gambar?” Tanya pria yang mobilnya ku tumpangi tadi.


Aku hanya memperhatikan mereka yang tengah asik menikmati bermain air laut dan anak-anak bermain pasir pantai dengan riangnya.


Santi dan yang lainnya mengajak ku untuk berfoto bersama.Kami pun secara bergantian menjadi juru kamera. Ada banyak foto yang di ambil dan mereka mengunggahnya di akun sosmed mereka masing-masing.


Aku sudah lama tidak mengunggah apa pun setelah kejadian tahun lalu. Entah kenapa hari itu aku kepikiran untuk mengabadikan foto ku di sana.


Tidak lama terdengar bunyi notif setelah foto berhasil terkirim. Aku menyimpan kembali handphone ku karena yang lain sudah terlihat siap-siap untuk kembali ke mobil.


Kami tiba saat malam hari menjelang sholat isya karena sempat singgah hingga beberapa kali ketika di perjalanan tadi. Ada yang singgah sekedar untuk makan ada juga yang sengaja berhenti untuk mengambil gambar karena di rasa tempat tersebut bagus untuk di jadikan latar berselfi.


Setelah bersih-bersih aku langsung beristirahat karena aku sudah merasa sangat lelah dan mengantuk.


-

__ADS_1


-


-


Sudah sehari pasca liburan ke pantai aku beristirahat di rumah karena masih merasa lelah. Bahkan lebih melelahkan jika di bandingkan saat aku pergi ke perkebunan. Pagi hari aku terbangun dan badan ku terasa sakit semua. Ku paksakan untuk berdiri dan menuju ke kamar mandi karena sudah kebelet. Setelah itu aku kembali ke tempat tidur.


Aku kembali mendapati beberapa bagian tubuhku yang lebam seperti bekas pukulan dan terasa sakit saat di sentuh.


Aku menghubungi Kak Laras untuk menanyakan obat yang mungkin bisa aku minum untuk mengurangi rasa sakit di tubuhku.


Tidak lama Kak Laras pun datang dan membuatkan aku minuman tradisional.


Agak siang rasa sakitnya berkurang, namun bekas lebam itu masih ada. Aku belum memberitahukan Kak Laras masalah lebam pada tubuhku. Aku tidak ingin membuat dia khawatir karena selama ini aku sudah banyak menyusahkannya.


Tidak lama setelah usai makan siang handphone ku berdering tanda ada panggilan masuk.Ku lihat nama Dani yang ada sana.


“Halo, Dan?” Sahut ku seraya merebahkan tubuhku di kasur.


“Apa kabar? Kamu baik-baik aja, kan?"


“Hm, ya.”


“Aku hanya agak khawatir, aku perhatikan kamu hanya diam setelah pulang dari pantai kemarin. Aku pikir kamu sedang sakit.”


“Aku hanya kecapean aja, badan sakit semua. Tapi sekarang udah mendingan, kok.” Sebetulnya aku merasa malu karena aku tidak tahu kalau pria yang mobilnya aku tumpangi kemarin adalah Dani. Harusnya aku sadar waktu Maghda memanggilnya di mobil waktu itu. Dan aku malah baru tahu ketika kami sudah menuju pulang.


...Tbc...


-


-


-

__ADS_1


**Maaf mungkin hari ini cuma bisa up satu bab karena othor ada kesibukan di dunia nyata. Semoga besok masih bisa up walau satu bab.


Thanks all**...


__ADS_2