
...Happy reading...
Aku memikirkan apa langkah yang akan aku ambil ini sudah benar. Untuk bertemu dengan keluarganya Bang Fauzan.Sementara aku belum dapat mengartikan perasaanku saat ini.
Bagaimana jika nanti keluarganya menanyakan apa status hubungan kami saat ini?
Bagaimana jika keluarganya menuntut untuk segera meresmikan hubungan kami berdua?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku.
Kebetulan saat ini kami sama-sama berada di kota. Aku di rumahku dan Bang Fauzan seperti biasa dia menginap di hotel yang tak jauh dari rumahku.
Aku mencoba menghubunginya untuk berbicara meski sebetulnya aku juga bingung harus bagaimana menjelaskan ke ragu-raguan ku.
“Iya, Dek. Ada apa?” Sahut Bang Fauzan.
Aku masih diam tidak tau harus memulai darimana.
“Dek...?”
“Eh, iya Bang.”
“Ada apa...? Dari tadi Abang nanya tapi kamu nggak jawab.”
“Aku bingung gimana cara ngejelasinnya ke Abang.”
“Emang mau ngejelasin apa, hmm...?”
Akhh..., gumaman Bang Fauzan membuat aku jadi berdebar saja. Seketika otak ku memjadi buntu.
“Bang....”
“Hmm, kenapa?”
“Ishh, Abang jangan hm hm doang...dengerin aku ngomong.”
“Dari tadi juga Abang udah berusaha buat dengerin kamu, tapi kamu nggak ada ngomong apa-apa. Apa jangan-jangan kamu kangen sama Abang, ya?”
“Ihh, GR!” Sewot ku.
Terdengar Bang Fauzan sedang terkekeh di sana. ”Terus apa...? Dari tadi kamu belum ngomong apa-apa Dek...,” Bang Fauzan masih sabar menghadapi tingkah ku.
“Ya sudah, nanti aja bicaranya. Lagian aku sudah lupa apa yang mau aku bicarakan tadi,” ucapku.
“Ok, tapi kapan?”
__ADS_1
“Hmm, terserah saja, kapan Abang ada waktunya?” Tanya ku kembali.
“Kalau untuk kamu Abang pasti akan usahain, apa pun,” tegas Bang Fauzan.
“Aku mau bicaranya sekarang...tapi bingung mulai dari mana....”
“Kalau begitu kamu pikiran dulu, aja. Nanti kalau sudah tau harus mulai darimana barulah kita bicara lagi. Bagaimana?” Usul Bang Fauzan.
“Ya sudah, nanti kita bicara lagi.” Kami pun sama-sama menutup panggilan.
Ide muncul di kepalaku tidak lama setelah kami menutup panggilan itu. Aku menyampaikan maksudku melalui pesan saja pada Bang Fauzan. Aku merasa lebih bisa berkonsentrasi jika bicara melalui pesan dari pada harus bicara langsung. Setidaknya kata-kata yang ingin ku sampaikan bisa aku pikirkan dulu dari pada nanti aku malah salah berucap jika melalui panggilan. Belum lagi tiba-tiba aku menjadi gugup ketika tadi mendengar suara Bang Fauzan.
Pertanyaanya adalah, sejak kapan aku bisa merasa gugup seperti tadi?
Ku ketik apa yang ingin aku sampaikan kepada Bang Fauzan. Setelah pesan terkirim aku menunggu beberapa saat mungkin ia sedang membacanya. Karena pesan yang ku kirim lumayan panjang dan semoga Bang Fauzan dapat memahaminya.
Tring...
Nada pesan dari ponselku berbunyi. Aku langsung membuka pesan itu dan membaca balasan pesan dari Bang Fauzan yang tidak kalah panjangnya dengan pesan yang tadi ku kirim. Aku senyum-senyum sendiri ketika membaca pesan itu.
...Fauzan POV...
Awal perkenalan kami yang begitu singkat itu telah menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Sayangnya aku tidak sempat untuk bertanya lebih banyak lagi karena sepertinya wanita yang ku sukai ini seakan tidak ingin memberiku kesempatan untuk mengenal dirinya lebih banyak lagi.
Ada sesuatu yang menarik dari wanita ini, dari tatapannya yang menyimpan begitu banyak teka-teki. Ada tembok penghalang yang menjulang tinggi membuat ia susah untuk di gapai.
Ternyata dia tidak mengingatku. Responnya masih sama, acuh dan dingin. Aku mencoba memberikan sebotol air mineral padanya di tengah cuaca yang lumayan terik kala itu. Sekalian untuk berbasa-basi mencari bahan obrolan.Ternyata dia langsung mau menerima air yang ku berikan bahkan ia menenggak hampir setengah air dalam botol. Rasa hausnya telah mejadi berkah bagiku.
Aku mencoba berbicara bahwa kami pernah bertemu sebelumnya. Aku senang pada akhirnya dia bisa mengingat pertemuan kami yang sangat singkat di desa kala itu. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat senyumnya ketika ia membalas candaan ku. Semoga ini menjadi awal jalanku untuk bisa lebih dekat dengannya.
Aku tidak akan menyia-nyia kan kesempatan yang telah Tuhan berikan padaku.
Semakin aku mengenalnya, aku semakin memantapkan niatku memilih wanita tangguh ini sebagai teman hidupku kelak. Namun tetap saja aku belum bisa melewati tembok yang mengelilingi dirinya.
Kadang hatiku bertanya-tanya, apakah sudah ada pria lain yang memiliki hatinya?
Tapi sejauh kami saling mengenal, aku belum pernah melihat ia dekat dengan siapa pun. Walau aku tau ada beberapa teman prianya yang mungkin juga menaruh hati padanya.
Kesempatan masih ada untuk ku memperjuangkan harapan yang selama ini aku impikan. Aku tidak ingin gegabah dalam bertindak.
Namun, sebagai pria sejati aku tetap mengatakan perasaanku padanya.
Aku tau tidak segampang itu ia akan langsung menerima ku. Aku tidak ingin banyak menuntut yang malah akan membuat ia menjauh dariku.
Dengan dia mengizinkan aku untuk tetap menjadi temannya saja aku sudah bersyukur.
__ADS_1
Sampai suatu ketika ia mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin ku dengar darinya. Ternyata kesabaran ku selama ini berbuah manis.
Sedikit demi sedikit aku bisa mengenalinya. Ternyata di balik ketangguhan itu dia tetap wanita yang bisa bersikap manis. Ada satu sifatnya yang paling suka, dia selalu mengatakan hal-hal secara langsung tanpa menutup-nutupinya.
...Fauzan POV END...
-
-
-
Aku sudah berada di depan rumah keluarga Bang Fauzan. Aku melirik ke arah samping kanan ku di mana Bang Fauzan berdiri.
“Ayo,” ajaknya seraya menggenggam tanganku.
“Bang...aku takut.”
“Udah, kamu tenang aja. Selebihnya Abang yang akan menjawab pertanyaan dari keluarga Abang.”
Aku hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Bang Fauzan dengan berjalan di sampingnya.
“Assalamu'alaikum....”
“Wa'alaikumsalaam...,” jawab semua yang berada di ruang tamu.
Deg deg deg...!
Jantung ku sampai terdengar bunyinya tangan ku terasa dingin dan tubuhku hampir menggigil. Apa lagi semua yang duduk di sana tiba-tiba memandang ke arah kami berdua. Lebih tepatnya mereka fokus menatap padaku.
“Mari sini,” kata salah satu orang yang duduk di sana dan ternyata dia adalah Ibu dari Bang Fauzan.
Aku pun duduk di sana dengan perasaan yang tak karuan. Aku merasa bagai orang asing yang datang di tengah-tengah keluarga itu.
Semua mata yang ada sana masih memandang ke arahku dengan pandangan yang sulit di artikan.
...Tbc...
-
-
-
**Jangan lupa like, komen dan klik ❤
__ADS_1
Apa pun bentuk dukungan kalian sangat berarti bagi kami sebagai penulis.
Thanks all...😍**