
...Happy reading...
Aku sudah tau pasti reaksi Om Wandy bakal seperti itu saat melihat ku. Aku hanya diam sambil nyengir meminta pengampunan karena sebenarnya di keluarga kami ada larangan bagi gadis yang belum menikah untuk berdandan berlebihan. Aku juga tidak tau apa alsannya dan tidak pernah menanyakannya. Sebab itu lah aku memilih gaya berdandan yang natural saja. Tapi karena aku tidak pernah samasekali berdandan menggunakan make up jadi wajar jika Om Wandy terkejut.
“Kamu kenapa jadi seperti patung yang ada di toko? Ckckck....”
“Kali ini saja, please...,” kata ku memohon.
“Kamu itu mau datang ke acara pernikahannya Fauzan, kenapa malah kamu yang terlihat seperti ingin menikah? Ck!” Decak Om Wandy seraya melangkah lebih dulu. Aku langsung mengekor di belakang Om Wandy sambil merutuki kebodohan ku karena termakan ucapan Disa yang mengatakan aku akan syok jika melihat calon istri Bang Fauzan yang menurut ku pasti sangat cantik. Sehingga membuat aku melakukan ini agar tidak terlalu ketinggalan jauh oleh kadar kecantikan wanita tersebut.
Saat kami sudah berada di luar ku lihat langit memang tampak mendung dan mungkin sebentar lagi akan hujan. Bergegas aku masuk ke dalam mobil.
“Om..., jangan bilang Oma dan Kak Laras kalau aku berdandan seperti ini,” ucap ku melirik pada Om Wandy yang sedang mengemudi.
“Ya, kita liat aja nanti,” sahut Om Wandy tanpa menoleh.
“Ishh, pelit amat!” Kesal ku.
Beberapa saat kami pun sudah tiba. Aku mengatur nafas ku dan membuat diri ku agar tenang.
“Ingat, jangan lama-lama,” pesan Om Wandy sebelum aku melangkah kan kaki ku dari mobil. Karena Om Wandy hanya akan menunggu ku di dalam mobil tanpa ikut masuk. Aku pun mengangguk lalu melangkahkan kaki ku menuju tempat acara pernikahan yang di adakan di sebuah gedung yang cukup mewah menurut ku.
Glegg!
Aku meneguk kasar ludah ku sebelum memasuki gedung itu. Aku kembali mengatur nafas ku lalu, “hufft, bismillah.”
Aku sudah berada di dalam, mata ku langsung tertuju pada para tamu undangan yang ada di sana. Tidak ada yang mengenal ku dan aku pun tidak mengenal mereka. Jadi aku masih bisa tenang dan bersikap layaknya tamu pada umumnya.
Keluarga Bang Fauzan pun tampaknya tidak menyadari kedatangan ku mungkin mereka merasa tidak mengenal ku dan mengira aku tamu biasa.
__ADS_1
Aku terus melangkah hingga dapat melihat Bang Fauzan yang tengah bersanding dengan seorang wanita yang sudah pasti itu adalah istrinya. Wanita itu terlihat biasa saja dan juga tampak dewasa, mungkin dia seumuran dengan Bang Fauzan. Tapi nyatanya wanita itu lebih beruntung dari ku. Pasti Bang Fauzan bisa bahagia memiliki pendamping yang bisa menemani dan mengurusi keperluannya. Tidak seperti aku yang mungkin malah menyusahkan hidupnya.
Dan kebodohan ku lagi adalah aku termakan ucapan Disa dan Riris tempo hari sehingga aku melakukan tindakan konyol seperti ini. Ck! Aku hanya bisa tersenyum miris meratapi nasib ku sendiri.
Tanpa ku sadari Bang Fauzan sudah memandang ke arah ku dengan tatapan elangnya. Terkejut dan tidak percaya, itulah yang ku rasakan dari tatapannya.
Teringat dengan Om Wandy yang sedang menunggu ku, aku pun melenggok naik ke atas pelaminan dan lebih dulu menyalami keluarga mempelai. Baru kemudian aku melangkah ke hadapan Bang Fauzan dan istrinya.
Sakit, sangat!
Aku mencoba tersenyum pada mempelai wanita dan mengucapkan selamat. Karena dia tidak tau kalau sebelumnya aku adalah kekasih Bang Fauzan, jadi ia membalas ku dengan baik. Tapi tidak dengan Bang Fauzan yang kini menatap tajam kepada ku. Aku tidak berani membalas tatapannya dan sedikit menunduk saat ingin menyalaminya dan mengucapkan selamat.
Aku langsung buru-buru melepaskan tangan ku namun Bang Fauzan masih menggenggamnya bahkan semakin erat.
Aku langsung mengadah dengan tatapan memohon karena aku yakin para tamu undangan yang ada di ruangan itu sedang memandang ke arah kami berdua.
“Ini kan yang kamu inginkan?”
“Bang...,tolong,” mohon ku. Aku yang tadinya sudah membentengi diriku kini seakan benteng itu mulai roboh.
Bang Fauzan melah menarik ku dari atas pelaminan tanpa mempedulikan tatapan orang-orang dan membawa ku ke sebuah ruangan yang masih ada di dalam gedung tersebut.
“Bang, tolong jangan seperti ini!”
“Kenapa, Dek...? Kenapa!?” Aku terkejut mendengar suara Bang Fauzan yang cukup keras dan menggema di ruangan itu.
“Kamu sengaja datang untuk melihat kehancuran kita? Atau jangan-jangan kamu sengaja menyuruh Abang untuk menikah agar setelah ini kamu bisa menikah dengan orang lain. Hah!?” Bang Fauzan memukul tembok yang menjadi tempat ku bersandar. Tubuhku gemetar kekuatan ku seakan lumpuh saat itu juga. Aku tidak menyangka Bang Fauzan bisa senekat itu di hadapan tamu undangan dan keluarganya.
“A a aku...,” aku menjadi gugup dan sangat takut.
__ADS_1
“Sampai kapan pun aku tidak akan rela jika ada orang lain yang menyentuh mu. Abang tidak rela jika ada yang memiliki mu, Dek....” Bang Fauzan meraih kedua tangan ku dan berlutut di hadapan ku dengan wajah yang tetunduk.
Pertahanan ku benar-benar roboh dengan keadaan ini. Tidak dapat aku membendung air mata lagi. Aku pun ikut menangis.
Oh Tuhan...ini sangat berat bagiku, semoga setelah ini aku masih di berikan kekuatan untuk menjalani hidup ku.
“Fauzan! Apa-apaan ini!?” Terdengar suara dari arah samping tempat kami berdiri.
Terlihat kemarahan dari wajah wanita separuh baya yang berdiri di sana. Aku tidak tau siapa, karena baru pertama kali juga aku melihatnya. Yang jelas pasti Ibu itu masih memiliki ikatan kekerabatan dengan Bang Fauzan. Tidak lama beberapa orang juga datang ke ruangan itu, dan salah satunya adalah Tante Misra.
“Kamu sudah mempemalukan keluarga kita. Dan bisa-bisanya kamu berada di sini dengan wanita lain sementara istri mu berdiri di sana menahan malu!” Kini Ibu itu sudah menarik Bang Fauzan untuk segera kembali ke pelaminan.
Kini hanya ada aku dan beberapa orang yang tadi juga ikut masuk ke ruangan itu. Termasuk Tante Misra. Ia mendekati ku dengan tatapan sinisnya dan siap untuk mengintimidasi ku.
“Beruntung kami tau mengenai latar belakang kamu sebelum Fauzan benar-benar menikah sama kamu.”
“Oh, jadi dia ini calonnya Fauzan yang pernikahannya di batalin kemarin?” Tanya salah satu dari mereka yang berdiri di belakang Tante Misra.
“Iya, untung belum terlambat, kalau tidak bagaimana nasib nama baik keluarga kami. Ck, dia ini aja nggak di anggap sama keluarganya sendiri, dan katanya, orang tua dia dulunya kawin lari. Mana tau kalau misalkan dia ini ternyata anak hasil di luar nikah!”
...Tbc...
-
-
-
**Maaf jika banyak typo dan ada kata-kata yang kurang pas. Othor nggk sempat edit karena keburu banyak kerjaan. Maklum, tanggal tua, othor lagi sibuk-sibuknya kejar target 😂😅
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya 👍
klik ❤**