Luka Terdalam

Luka Terdalam
IKUTLAH BERSAMA KU


__ADS_3

...Happy reading...


“Tapi kenapa harus ketemu di tempat seperti ini, Bang...?”


“Andai keluarga mu mengijinkan Abang untuk menemui mu, maka Abang nggak akan ngumpet-ngumpet seperti ini....”


“Maksudnya apa?” Aku semakin tidak mengerti.


Lalu Bang Fauzan pun menceritakan kejadian saat Kak Agil dan Om Wandy datang ke kediaman keluarga Bang Fauzan. Awalnya obrolan berjalan baik-baik saja sampai ketika Adik ipar dari Mamanya Bang Fauzan yang bernama Tante Misra buka suara dan mulai menghina serta merendahkan keluarga ku. Adik ipar yang di maksud tak lain adalah Tantenya Bang Fauzan yang menanyai ku waktu itu. Di lihat dari caranya berbicara aku sudah dapat menilai seperti apa sifatnya. Namun karena ia adalah orang yang lebih tua, jadi aku tetap menghormatinya.


Akhirnya Om Wandy kehilangan kesabaran dan mulai membalas hinaan dari Tante Misra. Terjadilah kegaduhan dan membuat situasi menjadi memanas. Sebelumnya Bang Fauzan sudah meminta maaf atas sikap ipar Mamanya tersebut, tapi Om Wandy sudah terlanjur marah dan sakit atas hinaan itu. Akhirnya Om Wandy mengancam Bang Fauzan untuk tidak lagi menemui ku. Dia akan membuat perhitungan jika Bang Fauzan menampakkan batang hidungnya di hadapan keluarga kami. Akibat ulah satu Tantenya itu, kini Bang Fauzan kena imbasnya juga.


Aku tau bagaimana watak Om Wandy, meski ia orang yang terkesan santai dan humoris tapi ia bukan orang yang gampang melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain terutama orang yang menyakiti keluarganya.


Aku hanya bisa terdiam tidak tau harus bicara apa. Pikiran sudah terlalu kacau jika harus menambah dengan permasalahan keluarga lagi. Sepertinya permasalahan dalam hidup ku seakan tidak ada habisnya.


“Dek...?”


“Hm, e iya?” Aku menatap pada Bang Fauzan yang kini beralih memegang kedua pundak ku.


“Abang sangat mencintai kamu, Abang tidak ingin berpisah. Apa kamu bersedia jika kita pergi dari kota ini dan menikah di tempat lain?”


Degg!


Aku tidak menyangka akan mendengar hal ini dari Bang Fauzan. Aku bahagia ketika mendengar ucapan cintanya yang masih sama meski sudah mengetahui latar belakang ku. Tapi menikah tanpa restu bukanlah impian ku.


“Kamu mau, kan?” Bang Fauzan kembali merangkup wajah ku yang masih terbengong.


“E ta tapi...a aku belum siap,” jawab ku akhirnya seraya melepaskan rangkupan tangan Bang Fauzan dari wajah ku.


“Baik, dua hari lagi kita ketemu di sini, di waktu yang sama. Abang berharap kamu bersedia.”

__ADS_1


Aku hampir limbung karena terlalu berat menahan beban yang ada di hati dan pikiran ku. Di tambah lagi kondisi ku yang memang belum fit setelah demam semalam. Bisa bayangkan bagaimana aku masih bisa bertahan untuk hidup setelah cobaan demi cobaan yang beruntun menghantam ku.


Aku melangkah mendekati tempat tidur lalu mendudukkan tubuh ku di sana. Bang Fauzan yang tadi berdiri juga ikut duduk di samping ku.


“Dek..., kamu sakit?” Bang Fauzan meletakkan telapak tangannya di dahi ku.


“Semalam aku demam, tapi sekarang sudah mendingan,” ucap ku.


“Maaf, Abang sampai tidak memperhatikan keadaan kamu.” Bang Fauzan meraih tubuh ku dan meletakkan kepala ku di dadanya. Aku diam merasakan kehangatan yang sudah seminggu ini aku rindukan.


Baru seminggu yang lalu saat sore setelah pulang kerja kami bertemu dan bercanda. Lalu berpisah dan akan bertemu di hari yang membahagiakan. Tapi semua itu musnah dalam sekejap.


“Bang, aku harus segera pulang. Aku tadi janji hanya sebentar, khawatir Om Wandy akan mencari ku.” Aku pun beranjak ingin pergi dan kebetulan sudah merasa jauh lebih baik.


“Abang yang antar ya?” Bang Fauzan memegang lenganku.


“Aku bisa pulang sendiri, lagian bahaya kalau Om Wandy dan yang lain tau kalau kita bertemu,” tolak ku.


“Tapi Abang khawatir, Dek. Mau, ya Abang anterin?”


“Abang bantu pesanin taksi aja ya kalau gitu?” Pasrahnya dengan tatapan memohon. Dan aku pun mengangguk mengijinkan keinginannya tersebut.


Sebelum melangkah ke luar meninggalkan kamar tersebut, Bang Fauzan membalikkan badannya menatap ku yang mengekor di belakangnya. Ia mendekat lalu mendekap ku dengaan erat. Aku bahkan bisa mendengar bunyi detak jantungnya. Ku rasakan kecupan mendarat di pucuk kepala ku.


“Abang sayang kamu, Dek...,” lirih Bang Fauzan seraya mengangkat wajah ku. Aku bingung harus bagaimana menanggapinya karena rasa sayang dan cinta itu seakan percuma jika nyatanya kami tidak bersama.


Aku masih diam ketika Bang Fauzan perlahan mengecup bibir ku. Sungguh bahagia yang benar-benar hanya sesaat. Harusnya aku bisa menikmati kehangatan bibir itu, tapi semua kegelisahan yang menghinggapi hati dan pikiran ku membuat aku tidak bisa merasakannya.


Perlahan aku melonggarkan jarak di antara kami menahan dada bidang milik Bang Fauzan dengan kedua tangan ku. Ada rindu yang bergejolak, cinta yang masih bersemi, tapi ada ribuan luka dan jurang juga di sana. Bagaimana aku bisa menikmati semua itu dengan bersamaan.


Aku memutar kunci dan menekan gagang pintu ingin melangkah keluar. Namun lagi-lagi Bang Fauzan berusaha menahan lenganku.

__ADS_1


“Dek...,” ucapnya.


“Bang...nggak baik kita berada di sini, aku juga nggak mau kalau Om Wandy menyakiti Abang...,” ucap ku dengan posisi masih membelakangi Bang Fauzan yang berdiri dan memegang lengan ku.


“Minggu depan katanya akan ada wanita yang akan menjadi calon istri Abang.”


Duarr...!


Oh Tuhan...apa lagi ini?


Aku memejamkan mata ku lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba bersikap setenang mungkin meski kini luka ku menjadi semakin terkoyak.


“Sebab itulah Abang menemui mu dan ingin membawa mu pergi dari sini. Abang hanya mau hidup bersama mu. Mari kita pergi dari orang-orang yang ingin memutuskan hubungan kita.”


Aku menyingkirkan air mata yang tadi sempat mengaliri pipi ku dengan ibu jari ku sebelum menanggapi ucapan Bang Fauzan.


“Aku perlu waktu untuk berpikir. Aku harus pulang dulu,” sahut ku seraya melepaskan cekalan tangan Bang Fauzan dari lengan ku dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Bang Fauzan mengiringi langkah ku dari belakang Begitu tiba di depan hotel ia memesankan taksi untuk ku. Aku langsung masuk ke dalam taksi tersebut tanpa berkata apa-apa lagi. Aku hanya ingin secepatnya tiba di rumah dan menumpahkan segalanya.


...Tbc...


-


-


-


Hay semua...


othor dapet cover nih dari NT

__ADS_1


gimana menurut kalian, sesuai nggak sama ceritanya 😂😂🤦‍♀️


Jangan lupa jejaknya agar lelah othor terbayarkan dengan dukungan dari kalian👍


__ADS_2