Luka Terdalam

Luka Terdalam
BERUSAHA BANGKIT KEMBALI


__ADS_3

...Happy reading...


Saat kami sampai hari sudah malam jadi kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah hotel dan akan pergi ke Rumah Sakit besok.


“Om, bagaimana jika Dokter Rio sedang nggak ada di hari ini karena kita memajukan jadwal chek up nya?” Tanyaku ketika kami sudah berada di lobby dan hendak pergi ke Rumah Sakit.


“Tenang aja, Om sudah mengurusnya.”


Sebetulnya aku belum siap untuk ketemu Kak Ardi lagi.


“Kalau chek up di Rumah Sakit lain emang nggak bisa apa?”


“Bisa, tapi kan dari awal Dokter Rio yang menangani penyakitmu.” Aku sudah tidak berkomentar apa-apa lagi.


“Om tau, kamu keberatan karena ada Ardi di sana, kan?”


“Ck!” Aku hanya berdecak seraya melempar pandangan ke arah lain.


“Ini masalah kesehatanmu, jadi jangan libatkan masalah lain yang hanya akan menghambat proses kesembuhanmu.”


“Om, sih enak ngomong doang. Tapi yang ngrasain kan aku!” Rutuk ku di dalam hati


Kami sudah sampai di Rumah Sakit. Setelah menunggu beberapa saat, Dokter Rio pun menjelaskan mengenai hasil pemeriksaanku.


Aku sempat mendengar kabar kalau Dokter Rio ini sangat populer dan di akui sebagai Dokter terbaik dalam menangani pasien. Dia juga sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tapi aku tidak habis pikir kenapa waktu itu dia bisa bersekongkol untuk mempertemukan aku dengan Kak Ardi. Aku pikir orang terpelajar tidak akan melakukan hal itu.


Tidak ada yang serius seperti waktu pertama kali aku di rawat di sini. Hanya aku harus tetap menjaga makananku. Menghindari makanan yang tidak boleh di makan orang yang menderita magh. Tapi nyatanya kemarin aku hampir menghabiskan dua porsi soto ayam. Beruntung aku tidak kenapa-kenapa mungkin ayamnya sudah diet terlebih dahulu sebelum di buat soto. Diet rendah lemak.


Dan lagi-lagi aku membawa setumpuk obat setelah mendapatkan resep dan menebusnya di apotik. Tapi aku juga merasa lega kali ini tidak bertemu dengan Kak Ardi.


Perjalanan pulang sangat lancar dan tidak terasa sudah sampai saja di depan rumah. Aku keluar dari dalam mobil dan Rifqy sudah menyambutku di teras. Ia melompat-lompat merasa senang karena kemarin aku menjanjikan mainan saat berbicara di telepon.


“Tantee...,mainan?” Ia menghambur ke arahku. Sejak berumur 3 tahun dia sudah pandai berbicara hampir seperti anak-anak yang sudah berusia 5 tahun. Tapi dia hanya mau berbicara dengan orang-orang yang di kenalnya saja. Dia anak yang cerdas meski jarang mau berteman. Mungkin dia mewarisi kecerdasan Papanya.


“Tuh sama Kakek,” tunjuk ku pada Om Wandy yang mengeluarkan sebuah mobil jeep aki. Ia pun semakin bersorak kegirangan.


“Kenapa harus seboros itu hanya untuk menyenangkan Rifqy? Kamu bisa belikan dia mobil yang kecil aja atau mainan yang lain yang jauh lebih murah” tegur Kak Laras langsung menceramahiku.

__ADS_1


“Dia udah punya semua, kecuali yang seperti itu. Masa harus beli barang yang sama lagi,” sahut ku. “Kata orang bumil nggak boleh bawel. Aku capek, mau istirahat,” ucapku seraya berlalu dan masuk ke kamar.


Aku pun masuk ke kamar mandi melepaskan penat dengan berendam air hangat. Aku sedang bahagia karena kemarin saldoku mendadak ndut karena mendapat transferan dari hasil sewa lahan perkebunan. Ya, masa pemotongan sudah lunas. Aku sudah bisa menerima hasil sewa lahan tersebut setiap bulannya. Mulai bulan depan juga aku akan menerima bonus dari Pak Erik sambil memanen hasil dari perkebunanku juga. Semua itu sudah lebih dari cukup walau aku sudah tidak bekerja di perusahaan lagi.


Sebelum aku ketiduran di kamar mandi bergegas aku keluar dari sana setelah melilitkan handuk di tubuhku. Aku mengambil body lotion dan mengaplikasikannya di tubuhku. Meski tidak pernah melakukan perawatan khusus tapi aku tidak pernah melupakan untuk memakai lotion dan deodorant. Apa lagi dulu aku sering bekerja di bawah teriknya matahari. Jadi sudah menjadi suatu kewajiban untuk memakai kedua produk itu.


-


-


-


Adzan subuh berkumandang. Untuk pertama kalinya aku melangkah pergi mengambil air wudhu setelah kekacauan yang aku alami selama hampir setahun ini. Aku marah pada-Nya karena merasa tidak pernah mendengarkan do'a ku di setiap sujud ku. Manusia bisa saja meninggalkan Tuhan nya, tapi Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hambanya.


Aku menangis dan meminta pengampunan seraya menadahkan kedua tanganku.


Maafkan hamba mu yang lemah ini


Berikanlah kekuatan untuk menghadapi hari-hari selanjutnya


Aku mengambil jaketku dari dalam lemari. Kemudian mengambil sepatuku dan mengenakannya. Tak lupa kacamata hitam untuk persiapan menahan silau matahari saat di perkebunan.


Sejak pagi Kak Laras sudah sibuk mempersiapkan keperluan ku. Dari sarapan hingga memasukan obat ke dalam tas ku. Terlihat ke khawatiran di wajahnya namun aku berusha untuk membuatnya percaya bahwa aku tidak akan apa-apa. Aku tidak sendiri, tapi ada Om Wandy yang menemaniku. Kini Om Wandy bagai bodyguard yang menemani kemana pun aku pergi.


Mobil pun melaju membelah jalan yang masih tampak sepi karena kami memang pergi agak pagi agar tiba di sana lebih awal. Dan sebelum sore kami akan pulang lagi. Jadi benar-benar butuh tenaga ekstra dalam perjalanan pulang pergi. Syukur-syukur jika tidak hujan sebab akan memakan waktu lebih lama lagi karena jalan akan berubah menjadi kolam berlumpur.


Apa aku sudah melupakan jalan itu? Tentu tidak, dan mungkin tidak akan bisa aku melupakannya. Tapi yang aku lakukan saat ini adalah berusaha ikhlas dan menerima semuanya. Meski sulit!


Akhirnya kami sampai juga. Aku menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil.


Ku raskan hembusan angin dari lahan perkebunan yang menerpa tubuhku. Matahari belum terlalu terik namun karena sudah lama tidak berada di situasi seperti itu maka perlu waktu untuk aku menyesuaikan kembali. Mataku terasa perih dan sulit untuk terbuka dengan sempurna. Untungnya aku sudah cukup persiapan sejak dari rumah.


Aku menyapa beberapa buruh yang kebetulan bertugas sedang membersihkan perkebunan. Mereka tidak datang setiap hari tapi ada jadwal masing-masing. Kecuali memang lagi sedang panen.


“Mbak Anita?”


“Hay Pak Sadik!” Balasku melambaikan tangan seraya tersenyum.

__ADS_1


“Apa kabar, Mbak?”


“Alhamdulillah..., Bapak dan keluarga sehat?” Tanyaku.


“Alhamdulillah, baik.”


“Pak, saya kesana dulu ya?” Pamit ku.


“Iya, Mbak. Hati-hati.”


Sebetulnya buruh di sini rata-rata sudah berkeluarga semua. Tapi mereka selalu memanggil aku Mbak. Padahal aku sudah memperingatkan agar memanggil nama saja. Tapi tetap saja mereka memanggil dengan embel-embel Mbak. Akhirnya aku membiarkannya saja dan menikmati panggilan terhormat itu. Hehe...


Tanpa terasa aku sudah berada di tempat aku dan Bang Fauzan dulu pernah menanam sebuah pohon sebagai lambang dan tanda jadian kami.


Aku langsung berpaling dari pohon tersebut mencari jalan lain. Mental ku sedikit goyah dan rasa sakit itu perlahan muncul walau tidak sesakit waktu awal.


“Pak, tolong singkirkan pohon yang ada di sana!” Titahku pada salah satu buruh yang sedang membersihkan pohon dari dahan yang sudah mati.


“Pohon yang mana, Mbak?”


“Pohon yang tidak bisa di panen itu,” sahutku.


“Lah, iya Mbak. Tapi ada yang bilang, katanya pohon itu nggak boleh di ganggu gugat karena itu pohon sengaja di tanam oleh yang empunnya perkebunan.”


Aku melepas kacamataku yang sejak tadi bertengger dan menatap tajam ke arah pria setengah umur yang ada di hadapanku itu. Ingin ku berkata kasar jika tidak memandang kalau pria itu jauh lebih tua dariku. Segenap jiwa aku menahan gejolak amarah di dadaku.


...**Tbc...


-


-


-


Maaf, di bab kali ini ada kata² yang di tulis seenaknya akibat othor lagi kumat 😝


Jangan lupa jejak dukungannya 👍

__ADS_1


Thanks all...


lope² sekebon pisang 😍**


__ADS_2