Luka Terdalam

Luka Terdalam
GOMBAL


__ADS_3

...Happy reading ...


Memang benar apa yang di bilang Dani. Fisik lah yang pertama akan di nilai oleh mata. Aku juga sempat mengagumi lesu pipinya saat pertama kali melihat ia tersenyum. Tapi kekagumanku itu hanya ku katakan di dalam hati.


Hubunganku bersama Dani terbilang sangat santai dan bahkan aku merasa bahwa kami seperti berteman saja. Atau mungkin faktor akunya yang memang tidak terlalu serius dalam menanggapi hubungan ini.


Menjelang malam tiba aku sudah bersiap untuk keluar rumah dan bertemu Dani.


“Kan aku udah bilang, nunggunya agak jauhan dikit dari rumah. Kalau misalkan ada yang liat bisa-bisa gawat!” Kesalku ketika sudah di dalam mobil. Sementara Dani hanya diam sambil mengemudikan mobilnya. Aku semakin kesal saja karena dia tidak merespon ucapanku tadi.


Tidak lama ia menyetopkan mobilnya di dekat sebuah restoran mewah.


“Ayo,” ucapnya seraya membukakan pintu mobil. Aku masih diam mempertahankan ego ku.


“Sayang, ayo turun. Restoran ini tidak melayani pelanggan di dalam mobil.”


“Aku nggak mau makan di sini. Kamu aja sana!” Ketusku menolak.


“Kamu masih marah? Ya udah, aku minta maaf. Atau kamu aja yang pilih tempatnya?”


Aku tersenyum dalam hati namun di luar aku tetap menunjukkan wajah marahku. “Ok. Ayo pergi dari sini,” titahku.


Dani pun kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Beberapa saat kami sudah meninggalkan pelataran restoran tersebut.


“Mau makan di mana?” Tanya Dani seraya menatap sekilas ke arahku.


“Terus aja.” Dani pun mengemudikan mobil dengan santai. Sesekali ia menatap padaku tapi aku pura-pura acuh tidak membalas tatapannya.


“Stop, kita udah sampai,” titahku. Dani pun menepikan mobilnya tidak jauh dari sebuah tempat makan pinggir jalan.


“Sayang, nggak salah ini tempatnya?”


“Nggak, kok. Kan tadi kamu bilang biar aku yang pilih tempat makannya.” Aku mulai merajuk lagi.


“Iya iya, aku kan cuma mastiin. Jangan marah lagi dong.”


“Ya sudah, buruan.” Aku turun lebih dulu dan mencari tempat duduk. Dani hanya mengekoriku lalu ikut duduk di meja yang sudah ku pilih. Matanya melirik kesana kemari memperhatikan tempat itu. Aku hanya tertawa dalam hati melihat tingkahnya.


Meski saat ini dia sudah mandiri, tapi aku tahu dia masih sangat di manjakan orangtuanya. Memiliki usaha sendiri walau terbilang masih kecil karena dia baru di merintis usaha itu setahun yang lalu. Banyak informasi yang ku dapatkan dari Santi walau sebetulnya aku tidak pernah menanyakannya samasekali. Tapi Santi selalu bercerita dan sengaja memuji-muji Dani bila di hadapanku. Aku tahu Santi sangat mendukung hubungan kami tapi aku juga perlu waktu untuk menata semuanya akibat kekacauan dan kehancuran yang ku alami. Entah setahun, dua tahun atau selamanya. Aku belum bisa memastikan.


“Mi gorengnya satu tapi jangan terlalu pedas!” Ucapku memesan makanan untuk ku.


“Ok. Ada lagi?” Tanya seorang lelaki yang bekerja melayani pelanggan.


“Kamu mau pesan apa?” Aku menanyai Dani.


“Samain aja kayak kamu. Minumnya juga.”


“Bang, mi goreng dua sama es susunya dua!” Teriakku. Tiba-tiba aku teringat pada Bang Fauzan yang tidak suka susu. “Apa kamu suka minum susu?” Reflek aku menanyakan itu ke Dani.


iya, aku suka kok. Kenapa?” Dani bertanya kembali seraya tersenyum.

__ADS_1


“Ya aku takut aja, aku pesanin susu tapi ternyata kamu nggak suka.”


“Suka kok. Apa lagi minumnya sambil mendangain kamu.” Dani tersenyum membuat lesung pipi itu kembali terlihat.


“Gombal mulu!”


Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Perutku semakin berbunyi-bunyi berteriak agar makanan yang ada di hadapanku itu segera di transfer ke dalam perut.


Ada banyak cafe kekinian dan restoran mewah. Ada uang atau pun tidak maka aku akan tetap memilih makanan pinggir jalan ini. Meski hanya di pinggir jalan, tapi rasa boleh di adu. Tak kalah memanjakan lidah dan membuat ketagihan.


Aku sudah beberapa kali menyuap mi goreng ku. Ku lihat Dani masih mengaduk-aduk mi nya. Aku pun mengambil alih sendok yang dia pegang lalu menyendok mi itu dan menyuruhnya untuk membuka mulut.


“Ayo,” titahku. Dani membuka mulutnya walau ragu-ragu. Perlahan wajahnya berubah saat megunyah makanan yang ada di mulutnya.


“Gimana?” Tanyaku.


“Enak. Enak banget malah.” Aku meletakkan kembali sendok tadi dan Dani pun menyuap sendiri.


“Nasi gorengnya juga nggak kalah enak, lho,” ucapku seraya tertawa kecil memperhatikan Dani yang terlihat lahap.


“Aku mau coba nasi gorengnya juga deh.” Aku pun memesankan lagi nasi goreng untuk Dani.


Usai makan dan membayar semua makanan kami tadi. Kami kembali ke mobil.


“Kita mau pergi kemana?” Tanyaku pada Dani yang mengemudikan mobil dengan santai.


“Kita berkeliling sebentar. Selama ini kan kita belum pernah jalan berduaan.” Dani memandang sekilas padaku seraya tersenyum lalu kemudian ia kembali fokus mengemudi.


Setelah jadian di momen ulang tahun waktu itu, kami memang belum pernah berjalan berdua. Karena aku yang selalu beralasan setiap di ajak keluar. Aku memperhatikan wajah Dani yang tampak sangat senang. Senyum selalu menghiasi wajahnya setelah kami meninggalkan tempat makan di pinggir jalan tadi. Tidak tega rasanya jika aku meminta untuk cepat pulang.


“Ayo,” ajaknya.


“Lain kali nggak usah repot-repot bukain pintu kayak gini. Aku bisa sendiri,” ucapku ketika sudah berada di luar mobil.


“Nggak apa-apa, selagi aku bisa ya aku lakuin buat kamu.”


“Tapi lebay tau, nggak.” Dani hanya menanggapi ucapanku dengan tertawa kecil. Kemudian menggenggam tangan kananku sambil mengajakku berjalan.


“Kita mau kemana?” Aku menoleh pada Dani.


“Kesana.” Sambil menunjuk kerumunan para pedagang yang banyak menjual kudapan manis. Banyak orang juga disana.


“Bukannya kamu nggak suka ya jajanan seperti ini?” Kataku pada Dani saat ia mengajakku singgah di dekat salah satu pedagang yang ada disana.


“Siapa bilang? Sok tau.” Dani menyentil keningku.


“Ihh, sakit tau! Mau kualat kamu!?” Sewotku seraya mengusap keningku tadi. Dani malah tertawa keras.


“Hanya tua beberapa bulan doang belagu amat!” Dani malah mau mencubit pipiku tapi buru-buru aku tepis tangannya.


“Yang penting aku lebih tua.”

__ADS_1


“Mau lebih tua berapa pun kalau udah jadi istri tetap aja mesti hormat sama suami.” Rupanya pedagang tadi menyimak obrolan kami dan ikut menimpali.


“Dengerin tuh.” Dani merasa menang karena ada yang membelanya.


“Tapi aku belum jadi istri.”


“Tapi pasti akan jadi istri.” Dani menatapku sangat yakin.


Kemudian kami melanjutkan berjalan-jalan di area tempat tersebut. Ku biarkan Dani tetap menggenggam tanganku hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil.


“Terimakasih atas waktunya.” Dani tersenyum seraya menumpukan tangannya di atas tanganku. Aku membalas hanya dengan tersenyum juga.


-


-


-


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku ketika mendengar suara bunyi bel pintu yang di tekan berulang-ulang. Aku memasang pendengaranku untuk mengawasi barangkali saja aku hanya bermimpi. Ternyata suaranya sudah tidak ada lagi. Mungkin memang aku sedang bermimpi. Batinku.


Tidak lama aku mendengar bel pintu berbunyi lagi. Aku pun meninggalkan tempat tidurku keluar dari kamar lalu membuka pintu.


“Erlang?”


“Kak.” Erlang langsung menyalamiku dengan hormat. Ternyata aku bukan bermimpi. Tapi Erlang yang menekan bel dari tadi.


“Ayo masuk.” Erlang mengikuti ku hingga ke ruang tamu kemudian aku menyuruhnya untuk duduk. Aku pergi ke dapur dan mengambil minuman untuknya. Erlang adalah anak pertama dari hasil pernikahan Papa dan istri keduanya. Hubunganku jauh lebih baik dengan anak-anak Papa karena mereka juga sangat menghormatiku dan tidak pernah membantah ucapanku.


“Terimakasih Kak.” Dia meminum minuman yang ku sediakan tadi. Di lihat dari raut wajahnya aku tahu ada beban yang ia tahan. Aku diam menunggunya untuk mengatakan langsung. Namun Erlang masih saja diam dengan raut wajah yang tampak sedih.


Aku pun akhirnya mencoba bertanya. “Ada apa? Bicaralah.”


“Papa sedang sakit,” jawabnya pelan lalu tertunduk.


“Sejak kapan?”


“Lima hari yang lalu Papa masuk Rumah Sakit, keadaan Papa sudah mulai membaik dan sudah bisa di bawa pulang. Tapi ....” Erlang tidak melanjutkan ucapannya namun aku mengerti. Belum habis aku berpikir Kak Laras sudah muncul di depan pintu.


Walau hubunganku dengan anak-anak Papa baik-baik saja tapi tidak dengan Kak Laras yang menganggapnya tidak ada bedanya atau sama saja dengan anak-anak Mama. Tatapan tidak suka langsung di tunjukan Kak Laras saat itu juga.


Tanpa bersuara Kak Laras melewati kami yang sedang duduk di ruang tamu lalu menuju ke dapur.


...**Tbc ...


-


-


-


Maaf jika ada typo yg bertebaran karena othor belum sempat edit.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 👍 agar othor tetap semangat untuk menulis.


Thanks all**...


__ADS_2