
Aku tak bisa menyembunyikan rasa terkejut sekaligus rasa bahagiaku ketika melihat siapa yang ada disana.
"Kak Laras!!?" Tanpa sadar aku berteriak sangat keras dan menghampiri Kak Laras lalu memeluknya. "Kangen...."
"Kakak juga," ucap Kak Laras.
"Kakak kapan datang? Gimana Kakak bisa masuk, kan rumah terkunci?" Tanyaku heran kenapa Kak Laras bisa yang bisa masuk ke rumah.
"Kakak datang udah 3 jam yang lalu dan Kakak, kan masih nyimpan kunci cadangan." jawab Kak Laras seraya meletakan beberapa piring di atas meja makan berisi masakan yang ia buat.
"Hehe, kirain siapa aku udah ketakutan tadi," ucapku. "Kakak nggak capek baru dateng udah masak?"
"Nggak dong...,ayo ganti pakaianmu dulu sana setelah itu kita makan sama-sama."
Aku segera pergi ke kamar dan mengganti pakaianku lalu setelah itu aku dan Kak Laras makan bersama. Aku rindu masakan Kak Laras. Seperti biasa setelah makan kami akan duduk di ruang tengah sambil mengobrol.
"Bukannya Kak Laras kuliah, ya?" Tanyaku.
"Ehm..., begini, dalam waktu dekat ini Kakak akan menikah."
"Apa...!?" Aku terkejut ketika Kak Laras bilang akan menikah.
"Hm,iya," Kak Laras mengangguk membenarkan.
"Itu artinya Kak Laras berhenti kuliah?"
"Liat bagaimana nanti, jika memungkinkan Kakak tetap melanjutkan kuliah setelah menikah."
"Kuliah setelah menikah,emang bisa?" Tanyaku karena belum mengerti.
"Bisa," jawab Kak Laras.
"Kenapa Kakak buru-buru pengen nikah? Nikah itu,kan nggak enak." Aku teringat Papa dan Mama yang hampir setiap hari selalu ribut. Entah apa yang menjadi masalah bagi mereka berdua hingga merusak perabotan dan membuat rumah jadi berantakan.
"Orangtua Kak Agil ingin agar kami segera menikah. Dan nggak semua pernikahan itu seburuk yang kamu pikirkan kok," jelas Kak Laras.
__ADS_1
Kak Agil dan Kak Laras sudah menjalin hubungan sejak Kak Laras duduk di bangku SMA. Namun mereka memang jarang bertemu karena tinggal di kota yang berbeda. Tapi Kak Agil masih mempunyai beberapa kerabat yang tinggal di daerah ini juga. Usia Kak Agil memang cukup dewasa di banding Kak Laras jadi wajar jika orangtua Kak Agil menginginkan agar mereka segera menikah.
Besok Kak Laras akan pulang ke rumah keluarganya untuk mempersiapkan hari pernikahannya. Itu artinya hanya malam ini saja aku bersama Kak Laras, setelah itu mungkin aku akan sulit bertemu dengannya sebab ia pasti akan ikut ke tempat kelahiran suaminya dan menetap disana. Jadi malam ini aku ingin tidur bersama Kak Laras.
"Kak, emm...," aku ingin berbicara pada Kak Laras tapi bingung harus mulai darimana.
"Iya, An?"
"Nggak jadi deh," ucapku seraya menutupi wajahku dengan selimut.
"Hmm..., Kakak tau nih. Pasti ada yang lagi kasmaran, ya?"
Aaa...,aku tidak dapat mengelak. Terkaan Kak Laras sangat telak bagiku. "Ihh..., apaan sih Kak, nggak kok," jawabku dengan wajah yang pasti sudah memerah.
"Hayoo...jujur bener, kan?"
"Hm, aku belum tau sih Kak," ucapku seraya mengelus bulu boneka pandaku.
"Ihh, udah ada yang ngerasain cinta monyet nih." Kak Laras masih saja menggodaku.
"Siapa namanya?" Tanya Kak Laras.
Ku ceritakan saja bagaimana awal mula kami bertemu dan saling mengenal serta keraguanku selama ini.
"Hm, Kakak tidak bisa bilang ini salah namun juga tidak membenarkan. Semua kembali ke kamu, coba tanyakan pada hati kamu apa yang kamu rasakan."
"Anita masih bingung...," jawabku.
"Itu artinya kamu harus sekolah yang bener dulu biar bisa ngerti masalah hati, ginjal, paru-paru --- "
"Ihh Kakak apaan sih...?"
Lalu kami tertawa. Sudah lama kami tidak tertawa dan bercanda seperti ini. Kelak aku akan merindukan saat-saat ini.
-
__ADS_1
-
-
Sore itu setelah pulang sekolah aku di jemput Om Wandy dengan mobilnya untuk menghadiri acara pernikahan Kak Laras. Dan aku juga sudah meminta ijin pada wali kelasku untuk tidak masuk besok. Sebetulnya aku enggan rasanya untuk pergi kesana, karena aku pasti akan bertemu dengan keluarga besarku dan pasti akan ada nyinyiran dari mereka. Tapi ini besok adalah hari penting bagi Kak Laras dan aku sudah berjanji untuk hadir di acara tersebut.
"Ada apa An?" Tanya Om Wandy.
"Nggak apa-apa, Om," jawabku seraya menatap ke jendela mobil yang ku buka.
"Nggak usah khawatir..., kan ada Om yang belain Anita. Kak Laras juga pasti nggak tinggal diam kalau ada yang berani macam-macam sama Anita," kata Om Wandy seraya tersenyum untuk menghiburku. Om Wandy tau apa yang ku pikirkan.
Beberapa saat kami pun tiba di kediaman Kak Laras. Enggan rasanya aku beranjak dari dalam mobil. Rasanya aku seperti akan memasuki sebuah rumah angker ketika memasuki rumah Kak Laras.
Ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku langkahkan kaki ku dan berusaha tidak perduli dengan apa yang akan terjadi kelak.
Ku lihat Tante Irna sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan kami. "Anita sekarang udah gadis ya, cantik lagi," ucap Tante Irna memeluk serta memujiku. "Ayo kamu temuin Kak Laras, dari tadi dia sudah nungguin kamu," ucap Tante Irna seraya menggandengku masuk ke dalam.
Ku lihat Kak Laras duduk di ruang tengah dengan beberapa orang yang sedang membuat ukiran-ukiran di tangannya.
"Ayo sini," panggil Kak Laras padaku.
"Wahh, cantik," ucapku ketika melihat ukiran di tangan Kak Laras.
"Nanti Anita juga akan seperti ini kalau mau nikah," kata Kak Laras seraya tersenyum padaku.
Jangan kan untuk menikah, membayangkannya saja aku sudah merasa ngeri.
Tidak lama datang lah pasukan nyinyir dengan wajah sinis mereka memandang ke arahku.
"Hati-hati pernikahan kamu tidak awet karena ngajak dia kemari," ucap salah satu Tanteku. Lalu ku dengar yang lainnya ikut menimpali nyinyiran tersebut.
Aku hanya bisa menundukan wajahku dalam-dalam. Lalu mataku mulai terasa hangat dan buliran bening mulai berjatuhan.
"Tolong jangan buat keributan disini. Dan jangan kalian mendahului kehendak Allah. Kalau pun ada apa-apa dengan pernikahan ku nantinya itu kehendak tuhan, bukan di sebabkan kesialan dari siapa pun. Kalian lebih tua seharusnya kalian memberikan contoh yang baik, bukan bersikap seperti ini!" Kak Laras membelaku meski ucapan Kak Laras seperti angin lalu saja bagi mereka.
__ADS_1
"Ayo, ikut Oma." Aku menoleh ke sampingku ternyata itu adalah Oma Maryam. Ia menggandengku agar aku menjauh dari sana. "Anita malam ini nginap di rumah Oma aja,ya?" Ajak Oma dan aku hanya mengangguk saja.
Ku lihat Om Wandy sudah menungguku di mobilnya untuk mengantarku ke rumah Oma Maryam. Akhirnya malam itu aku dan Om Wandy nginap di rumah Oma Maryam. Aku tidur bersama Oma Maryam sementara Om Wandy tidur di ruang tengah bersama sepupunya yang lain karena kamar hanya sedikit dan sudah di isi para gadis.