
"Kamu...?"
"Hm, iya?" Aku menengadah ke Pak Adji dan uhhh...,tatapannya membuatku panas dingin saja.
"Namamu siapa?" Tanya Pak Adji lagi.
"Oh, nama saya Anita pak," jawabku.
"Anita? Jadi ada dua Anita di kelas ini, bagaimana jika nanti saya memanggil salah satu di antara kalian?" Tanya Pak Adji karena memang kebetulan salah satu temanku di kelas juga bernama Anita. "Saya panggil kamu Anita Azis saja dengan menggunakan nama belakang kamu. Nggak masalah, kan?" Tanya Pak Adji.
"I iya," jawabku. "Darimana Bapak tau nama saya?" Tanyaku lagi. Ini adalah kebiasaanku sejak dulu menanyakan hal secara langsung dan ini murni reflek saja.
"Yang ada di seragam kamu itu, bukannya nama kamu?"
Aku terdiam dan berpikir sejenak. Aku baru sadar ada namaku yang tertera di seragam sekolah ku.
"Kalau begitu, harusnya Bapak bisa baca aja sendiri tanpa harus bertanya,kan...?" Aku menyahut tidak mau kalah.
"Saya hanya ingin memastikan apakah murid-murid di kelas ini serius ingin belajar atau ada yang masih mengantuk."
Aku mengerti, Pak Adji pasti sedang menyindirku.
Pelajaran pun di mulai, Pak Adji mulai membuka buku, dan menerangkan materi-materi pada Bab tersebut. Ternyata materi yang di sampaikan Pak Adji jauh lebih mudah di terima dari Guru Biologi kami sebelumnya. Atau mungkin karena Pak Adji tampan kali ya. Haha...
Tidak terasa jam pelajaran pun telah usai. Waktunya pergantian jam pelajaran. Pak Adji pun pamit untuk mengajar di kelas lain.
Waktu istirahat teman-teman berkumpul beberapa kelompok dan membicarakan tentang cara Pak Adji mengajar. Mereka jauh lebih cepat memahami apa yang telah di sampaikan. Berarti bukan hanya aku saja yang merasa seperti itu. Kalau soal Pak Adji yang tampan, anggap saja itu bonusnya. Hehe.
__ADS_1
Tibalah masa kelulusan bagi Kak Laras dan itu artinya sudah waktunya juga aku berpisah dari Kak Laras yang akan melanjutkan pendidikannya di kota yang berbeda.
Dan ini adalah hari pertamaku tanpa kak Laras. Sebelumnya aku sudah di ajarkan untuk memasak nasi dengan menggunakan ricecooker. Dan selebihnya aku hanya membeli saja karena aku belum bisa memasak sayur atau yang lainnya. Sedangkan untuk mencuci pakaian aku menggunakan jasa Laundry.
Aku tidak pernah merasa takut saat tinggal sendirian, hanya saja aku merasa sangat kesepian. Ayah dan Bunda semakin jarang menengok ku, dan bahkan kadang hanya Bunda saja yang datang. Kata Bunda, Ayah sangat sibuk mengurus perkebunan.
Karena aku merasa kesepian akhirnya aku ikut saja beberapa kegiatan di sekolah. Aku sangat tertarik pada kelas musik dan ingin sekali belajar bermain gitar. Setelah menguasai teknik dasar bermain gitar, aku pun berinisiatif untuk membeli gitar dari hasil tabunganku selama ini. Aku benar-benar menggilai hobi baruku ini hingga akhirnya aku mulai melupakan tujuan awalku.
Suatu hari aku di ajak ikut kelas dance untuk menyemangati para siswa dari Sekolah kami di ajang lomba basket antar sekolah. Setiap pulang dari sekolah aku langsung latihan bersama teman-teman yang lain. Beberapa hari di sibukan dengan latihan aku pun sakit. Aku lupa kalau aku tidak boleh terlalu kelelahan.
Aku bingung bagaimana memberitahukan Ayah dan Bunda tentang keadaanku karena tempat tinggal Ayah dan Bunda tidak ada ada jaringan.
Seperti biasa teman-temanku akan menjemputku untuk pergi latihan. Karena aku tak kunjung keluar untuk membukakan pintu akhirnya mereka menanyai kak Ina tetangga samping rumahku. Kak Ina coba membantu memanggilku dengan mengintip lewat di kaca jendela kamarku. Aku pun terbangun dan segera membukakan pintu meski harus menahan rasa pusing dan sakit di sekujur badanku.
Setelah aku membukakan pintu aku langsung pergi ke sofa ruang tamu dan berbaring disana karena aku sudah tidak bisa lagi untuk kembali ke kamar.
Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi dan entah apa yang terjadi di saat aku sedang tidak sadarkan diri yang jelas Bunda sudah ada di kamarku saat itu. Tidak lama Ayah datang dengan masih memakai peci dan sarung. Sepertinya Ayah baru saja menunaikan sholat isya, karena jam di kamarku menunjukkan pukul 19.45.
Bunda mendekatiku lalu memegangi kening ku. "Panasnya sudah turun," ucap Bunda. "Mungkin demam karena kangen saja ya, Nak," Bunda mengusap lembut rambutku.
Aku pun menangis dan Ayah mendekatiku juga. "Apa Anita mau kembali bersama Bunda dan Ayah pulang ke rumah?"
Aku hanya menggeleng. Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Bahkan membayangkannya saja membuatku tertekan.
Sudah dua hari ini Bunda dan Ayah merawatku. Sore itu aku sudah merasa jauh lebih baik. Ku dekati Ayah yang sedang duduk di bangku teras. Lalu aku duduk di sampingnya.
Ayah melihat ke arahku, lebih tepatnya melihat pada rambutku.
__ADS_1
"Anita kenapa rambutnya seperti ini...? Sambil membelai rambut model baruku. Karena sedang ngetrend saat itu. Dan aku semakin terlihat tomboy saja.
"Ini lagi ngetrend Yah...," jawabku.
"Anita tau..., Ayah sudah punya dua orang Putra, itu artinya Anita adalah satu-satunya putri Ayah...." Ayah tidak melanjutkan kata-katanya tapi aku bisa mengerti.
"Maaf Yah..., Anita janji akan merawat rambut Anita seperti semula. Dan Anita nggak akan memotong rambut kecuali Ayah yang meminta," ku peluk Ayah dari samping dan Ayah mengusap rambutku. Rambut yang telah membuat Ayah kecewa.
"Kenapa Ayah kurusan?" Tanyaku.
"Akhir-akhir ini Ayah sangat sibuk di perkebunan. Oiya, bagaimana sekolahmu?" Tanya Ayah.
"Baik," jawabku singkat. Meski ingin rasanya aku mengatakan sangat bahagia karena ada Guru Biologi yang sangat tampan.
-
-
-
Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah libur selama beberapa hari karena sakit kemarin.
Pertama masuk udah di sambut jam pelajaran dari Guru tampan. Siapa lagi kalau bukan Pak Adji.
Semakin hari Pak Adji makin tampan saja. Cara ia berbicara cara ia bergerak dan menatap, ahhhh...membuatku ingin menghentikan waktu agar bisa berlama lama memandangi.
Setelah menyampaikan materi pembelajaran kami pun di beri tugas untuk mengisi beberapa soal.
__ADS_1
Aku sudah selesai mengerjakan tugasku. Tapi aku harus menunggu yang lain selesai dulu dan jam mengerjakan tugasnya pun masih ada. Karena bosan menunggu akhirnya terlintas ide di kepalaku. Ku buka kembali buku tugasku lalu ku tulis beberapa rangkaian kata dengan menggunakan bahasa inggris. "Dia,kan Guru Biologi, mana mungkin dia peduli dengan kata-kata seperti ini," batinku seraya aku tersenyum sambil menutup kembali buku tugasku.
Jam pelajaran pun berakhir aku pun mengumpulkan tugasku lalu setelah itu pergi ke kantin bersama teman-temanku. Setelah sembuh dari sakit kemarin aku mulai memperhatikan pola makanku karena aku tidak ingin merepotkan Ayah dan Bunda serta membuat mereka khawatir lagi.