Luka Terdalam

Luka Terdalam
KEMBALI KE TEMPAT KERJA


__ADS_3

Kak Ardi terbangun dan membuka pintu mobilnya.


"Kakak sejak kapan ada di sini?" Tanyaku.


"Aku nggak tau jam berapa tepatnya, yang jelas sebelum adzan subuh aku sudah ada di sini."


"Kenapa nggak ketuk pintu aja?"


"Nanggung, mending aku langsung tidur aja. Lagian nggak enak kalau harus membangunkan kamu sama Om Wandy."


"Ya sudah, ayo masuk. Kita sarapan dulu," ajak ku.


"Aku mau cuci muka dulu. Di mana kamar mandinya?" Tanya Kak Ardi.


Aku mengantarkan Kak Ardi ke depan kamar mandi lalu kembali ke meja makan. Tidak lama Kak Ardi datang lalu aku menyuruh Kak Ardi duduk dan menuangkan teh untuknya. Saat aku memberikan cangkir teh padanya, Kak Ardi tiba-tiba memegang lenganku.


"An...."


"Kak, jangan macam-macam. Kalau nanti Om Wandy melihat bisa-bisa kita di nikahkan," ucapku sambil melepaskan tangan Kak Ardi.


"Kan, malah bagus," senyum Kak Ardi.


"Bagus apanya? Kakak aja masih kuliah," kataku sambil menduduki kembali kursiku.


"Sadar diri deh aku, karena masih kuliah dan belum bisa cari uang sendiri."


"Kak..., udah dong. Bukan begitu maksud aku, seharusnya Kakak bersyukur bisa melanjutkan pendidikan. Nggak seperti aku yang harus pontang panting cari uang," kesal ku.


"Iya, maaf. Aku udah lama nggak liat muka jutek kamu, jadi aku kangen, deh. Hehe...."


HPku berdering, aku langsung melihat ke arah layar handphone ku. Aku agak ragu saat ingin menerima panggilan tersebut yang ternyata dari Bang Fauzan.


"Siapa?" Tanya Kak Ardi.


"Teman," jawabku singkat. "Kakak mau teh lagi?"


"Nggak, tapi aku penasaran sama teman kamu yang sepertinya pantang menyerah banget buat nelponin kamu." Terlihat raut kecurigaan di wajah Kak Ardi.

__ADS_1


"Beneran teman, Kak. Kan aku juga baru bisa aktif, wajar lah mereka neleponin aku dari tadi. Tapi aku jawabnya nanti aja, emang Kakak mau aku cuekin?" Kata ku beralasan. Entah kenapa aku merasa takut, padahal aku tidak sedang berselingkuh.


Akhirnya rencanaku untuk pergi bersama Om Wandy kami urungkan karena tidak enak meninggalkan Kak Ardi yang kini kembali tertidur di sofa ruang tamu usai sarapan pagi tadi.


Aku pun langsung menghubungi Bang Fauzan.Ternyata Bang Fauzan hanya ingin menanyakan kapan aku ingin pulang. Aku pun mengatakan bahwa nanti akan mengabarinya. Setelah itu aku kembali ke ruang tamu tempat Kak Ardi sedang tertidur. Aku sangat kasihan padanya, hanya demi bisa bertemu denganku dia rela menempuh perjalanan yang cukup jauh di malam hari.


Kemudian aku pergi ke dapur, aku ingin membuat sesuatu untuk makan siang tapi aku bingung harus masak apa karena keahlian memasak ku sangat lah kurang. Aku teringat daerah tempat kontrakan ku dulu, yang banyak menjual berbagai masakan. Bergegas aku pergi ke sana.


"Assalamua'laikum...."


"Wa'alaikumsalam. Nak, Anita apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, Bu."


"Lama nggak kelihatan, kemana saja?"


"Saya pindah tempat kerja, Bu. Ke cabang perusahaan yang tempatnya memang jauh dari kota ini," jawabku. Kemudian aku memesan beberapa macam lauk dan Ibu pemilik warung itu pun langsung menyiapkan pesanan ku.


Selama enam tahun aku tinggal di daerah ini, aku sudah seperti memiliki hubungan keluarga dengan para tetangga termasuk Ibu pemilik warung yang setiap hari melayani ku. Ketika Ibu tersebut masih mempersiapkan pesanan ku, aku pamit sebentar untuk melihat rumah kontrakan ku dulu. Rumah itu masih terlihat kosong, namun aku terkejut ketika ada papan promosi penjualan yang terpajang di sana.


Aku tersadar ketika ada yang memanggil ku. Aku langsung menoleh ke arah suara tersebut.


"Kak, Ina."


"Ayo mampir dulu, sini."


Aku dan Kak Ina duduk di bangku teras depan rumahnya yang terasa sangat sejuk karena di depan rumahnya ada beberapa pepohonan yang sangat rindang. Kak Ina juga suka menanam berbagai jenis bunga hingga rumahnya terlihat sangat sejuk.


Pertanyaan Kak Ina sama dengan Ibu pemilik warung sebelumnya yang menanyakan kemana aku selama ini.


"Kerja di perusahaan susah mau libur-libur, Kak. Belum lagi jarak tempat kerja yang sangat jauh," tutur ku.


"Iya, Kakak ngerti. Bila ada waktu jangan lupa mampir ke sini lagi."


"Iya, Kak. Oiya, rumah yang aku kontrak dulu, sekarang mau di jual, ya?"


"Iya, katanya mereka sudah nggak akan kembali ke sini lagi. Makanya rumah itu di jual takutnya dapat penyewa yang nggak bisa ngerawat dengan baik," jelas Kak Ina.

__ADS_1


Sebetulnya aku sangat ingin membeli rumah itu. Karena rumah itu juga memiliki banyak kenangan bagiku. Tapi itu tidak mungkin, bekerja saja belum genap setahun. Tabungan ku jauh dari kata cukup.


Aku mengambil pesanan ku lalu kembali ke rumah Om Wandy. Ku lihat Kak Ardi sudah bangun dan sudah mandi juga.


"Anita, kamu dari mana?" Tanya Kak Ardi.


"Aku habis dari membeli lauk, Kak. Sebentar aku siapin dulu," kataku.


Setelah menyiapkan semuanya, aku memanggil Kak Ardi dan Om Wandy ke meja makan.


Aku masih diam memikirkan rumah kontrakan tersebut. Entah kenapa aku tidak rela jika rumah itu jatuh ke tangan orang lain. Ada rasa yang menggebu-gebu di dalam hatiku untuk memiliki rumah tersebut.


"An,kenapa nggak makan?" Tanya Om Wandy.


"Aku nggak lapar, Om. Kalian makan saja." Aku beranjak meninggalkan meja makan lalu menuju ke kamar.


Setelah makan siang kami mengobrol sebentar hingga akhirnya aku bersiap untuk kembali ke tempat kerjaku.


Kak Ardi mengantarku ke penginapan dan aku mengatakan padanya kalau aku akan pulang bersama temanku yang sedang menginap di sana. Tapi aku tidak mengatakan kalau temanku itu laki-laki atau perempuan, karena Kak Ardi juga tidak bertanya. Aku sengaja mengatakan pada Bang Fauzan, akan datang sekitar 30menit lagi ke penginapan itu, agar dia tidak menunggu ku di depan. Dan aku datang 10 menit lebih cepat agar ia dan Kak Ardi tidak bertemu.


Aku tidak tega saja pada Kak Ardi jika ia nanti merasa cemburu dan malah berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak ingin pikiran nya jadi terganggu.


Aku melambaikan tanganku pada Kak Ardi yang mulai menjalankan mobilnya. Setelah mobil Kak Ardi sudah tidak terlihat lagi aku langsung menelpon Bang Fauzan bahwa aku sudah menunggu di bawah.


Tidak lama Bang Fauzan datang dan kami pun langsung kembali ke daerah tempat kerja ku. Kami tiba ketika hari sudah gelap. Setelah mengantarku, Bang Fauzan tidak kembali ke desa karena sudah hampir malam dan ia juga pasti lelah. Katanya dia akan numpang tidur dulu di tempat salah satu teman nya yang juga Karyawan di perusahaan tempat ku bekerja.


-


-


-


...Tbc...


**Jangan lupa like komen dan klik ❤


Thanks all...😘**

__ADS_1


__ADS_2