
...Happy reading...
Akhir-akhir ini aku lebih banyak memberikan waktuku untuk Dani. Meski belum tahu apa dan bagaimana perasaanku padanya. Aku tidak ingin menghalangi niatnya untuk meluluhkan hatiku walau dia tidak pernah tahu apa yang aku alami sebelumnya.
Sejak berpisah sekolah dari SMP aku memang tidak pernah berhubungan dengan teman-temanku lagi. Barulah saat aku bertemu dengan Santi waktu itu akhirnya kami bisa kembali saling bertanya kabar. Karena sebagian besar mereka pindah kota dan ada juga yang memang hanya pendatang sepertiku. Sementara aku juga melanjutkan di sekolah yang berbeda dengan mereka. Hingga lulus pun aku bekerja jauh dari kota. Tapi aku bersyukur mereka tidak mengetahui masa kelamku dan untungnya lagi Kak Agil dengan sigap membatalkan undangan tepat waktu. Kalau tidak pasti aku semakin merasa malu.
Meski ada beberapa temanku yang tahu tapi mereka bisa mengerti dan langsung menghapus ucapan selamat yang sempat mereka unggah waktu itu. Karena tanggal pernikahan sama dengan tanggal ultah ada yang berfikir kalau itu hanya ucapan ulang tahun biasa.
Kali ini aku mengikuti kemana Dani membawaku untuk makan malam. Sepertinya ego ku sedang ingin mengalah padanya malam ini.
Mungkin ia merasa senang atau mungkin juga heran dengan perubahanku yang tiba-tiba memiliki banyak waktu untuknya. Tapi jika ia bertanya secara langsung maka aku akan jujur saja salah satu alasannya adalah karena aku ingin di traktir akibat pemangkasan uang jajanku. Konyol memang, tapi memang begitulah kenyataannya.
Aku bukan orang yang malu untuk mengakui hal semacam itu. Jika ada waktu yang tepat aku akan mengakui semuanya tanpa menyembunyikan sedikit pun masalah di dalam hidupku. Aku sudah tidak peduli lagi dan juga tidak takut untuk kehilangan. Karena aku sudah pernah melalui semua itu dan bisa di bilang kini sudah menjadi antibodi.
Pemangkasan uang jajan ini sepertinya menjadi suatu berkah untuknya.
Kami sudah memesan makanan yang kami inginkan. Sambil menunggu Dani banyak bertanya tentang hal-hal yang ku sukai dan yang tidak. Lagi-lagi momen ini mengingatkanku pada masa itu.
“Sampai sekarang aku masih belum percaya dengan hubungan ini.” Dani terus menatapiku dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
“Maksudnya, kamu kurang yakin?”
“Bukan begitu. Dulu aku hanya bisa melihat kamu dari kejauhan. Melihat kamu bercanda dengan teman-teman kamu. Aku nggak punya keberanian samasekali untuk mendekatimu walau hanya sekedar menyapa.” Dani tertunduk seraya menyimpan senyumnya disana.
Sebetulnya aku masih belum ingat siapa dia dan aku benar-benar menyesal kenapa tidak menyadari ada orang yang memperhatikan aku hingga sedetil itu. Bahkan dia tahu warna dan model jaket yang ku kenakan ke sekolah jika musim hujan tiba. Dia tahu model dan gaya rambutku hingga aksesoris yang ku kenakan pun dia masih ingat.
“Sumpah, aku merinding. Kamu sampai tau segitunya. Jangan bilang kamu juga tau apa yang aku sembunyiin di saku seragam sekolah ku.” Dani terkekeh mendengar ucapanku.
“Aku hanya memperhatikan luarannya aja kok. Mana mungkin juga aku sampai tau sejauh itu,aku bukan paranormal.”
Pesanan kami sudah datang. Pramusaji meletakkan semua makanan yang sudah kami pesan tadi.
__ADS_1
Sesekali Dani melirik ke arahku namun aku pura-pura tidak mengetahuinya dan fokus pada piring yang ada di hadapanku.
”Ayo.” Dani menyodorkan sesendok makanan dari piringnya padaku. Aku melihat isi piringnya khawatir itu menu daging atau makanan yang tidak aku sukai. Setelah memastikan aman aku pun membuka mulutku.
“Bagaimana?” Tanyanya.
“Rasanya biasa aja, sih. Tapi karena kamu yang nyuapin, jadi ada sensasinya gitu,” kekehku. Dani ikut tertawa kecil sambil melanjutkan makannya.
Setelah makan dan Dani membayar semua tagihannya, kami pun meninggalkan restoran itu. Di dalam mobil aku iseng melihat grup dan melihat status Santi yang kini sudah melahirkan. Pagi tadi kami memang sempat mengobrol dan dia bilang kalau dia merasa agak mules.
“Ada apa?” Tanya Dani ketika melihatku senyum-senyum sendiri.
“Coba lihat.” Aku mengarahkan layar ponselku pada Dani. Ia melihat sebentar lalu kembali fokus dengan kemudinya.
“Pengen?” Ia tersenyum dan menatap sekilas ke arahku.
“Ihh, kan tadi kamu yang nanya makanya aku kasi tau penyebab senyumku tadi.” Sambil meperlihatkan wajah sewotku. Sementara ia semakin terkekeh.
“Mau langsung pulang apa jalan-jalan dulu?” Dani bertanya dengan masih fokus melihat ke depan.
Dani pun terus mengemudikan mobilnya hingga berhenti di suatu tempat. Kami berjalan kaki mengitari tempat itu dan Dani selalu menggenggam tanganku. Kami menemukan tempat yang cocok untuk mengobrol dan duduk disana.
“Oiya, aku mau nanya,” ucapku ketika kami sudah sama-sama duduk di tempat itu.
“Mau nanya apa?” Sambil Dani merapikan rambutku yang tadi sempat di tiup angin. Aku sempat terkesima melihat wajah baby face Dani dari dekat. Sebelum Dani menyadarinya buru-buru aku memalingkan wajahku ke arah lain. Aku hampir lupa apa yang ingin ku tanyakan.
“Ada apa?”Dani meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Kenapa waktu itu kamu nggak coba untuk menyapaku atau mengajak berkenalan?” Akhirnya aku ingat apa yang ingin ku tanyakan.
Dani terdiam sebentar. “Maksud kamu waktu kita masih sekolah dulu?” Dani bertanya untuk memastikan, dan aku pun mengangguk.
__ADS_1
Ia tersenyum sementara aku tidak sabar untuk menunggu jawaban darinya.
“Andai dulu aku punya keberanian seperti ini, pasti sudah aku lakukan. Lagi pula aku sadar sebagai adik kelas, dan belum cukup umur juga. Tapi sekarang kita udah sama-sama cukup umur, ada baiknya jika kita resmikan dengan ijab qobul.”
Degg!
Mendengar kalimat ijab qobul dadaku terasa sesak dan memori itu kembali memutar semua kejadian yang sangat menyakitkan itu.
“Udah jam segini, ayo kita pulang.” Aku pun berdiri.
“Ya sudah. Ayo.” Dani merangkul bahuku hingga kami di dekat mobil dan ia membukakan pintu untukku. Aku langsung masuk tanpa banyak protes.
Dalam perjalanan pulang kami lebih memilih untuk diam. Tapi Dani tak hentinya tersenyum dan menggenggam tanganku sedangkan tangannya yang lain memegang kemudi.
Ia berhenti di tempat biasa aku meminta untuk di turunkan.
“Aku masuk dulu ya. Terimakasih udah ngajak aku jalan-jalan.” Aku memegang gagang pintu mobil hendak membukanya tapi tangan Dani masih menggenggam lenganku. “Dan, lepasin dulu, gimana aku mau keluar,” seraya menoleh ke arah Dani.
Dani mendekat dan memberikan kecupan pertamanya di keningku. Sontak aku memalingkan wajahku setelah itu dan ingin buru-buru keluar dari sana. Tapi Dani kembali menggenggam lenganku.
“Dani...lepasin, gimana kalau ada yang liat!”
“Ayo kita menikah.”
“Nanti saja kita bicara lagi, aku lelah.”
......**Tbc ......
-
-
__ADS_1
-
Jangan lupa jejaknya 👍 agar othor semakin semangat untuk menulis**.