Luka Terdalam

Luka Terdalam
APA KEINGINAN KU TERLALU BERLEBIHAN? (END)


__ADS_3

...Happy reading...


“Kalau begitu kita harus ijin dulu pada Reka, semoga dia setuju.” Arman terkekeh.


“Aku yakin dia setuju, nanti akan aku ajarkan dia bagaimana cara meracik kopi sianida.” Arman semakin tertawa keras di sampingku.


“Hai, Arman?” Seseorang datang dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Arman pun menyambutnya. “Ya, Pak Dani?”


Walau bagaimana pun aku berusaha acuh, tapi tetap saja aku tidak bisa membuang rasa gugupku saat bertemu lagi dengan Dani. Tapi semoga dia tidak mengenaliku. Aku berdo'a dalam hati.


Acara sudah di mulai sejak tadi. Haluan kapal sudah tampak penuh dengan orang-orang yang berdatangan. Aku berjalan menuju ke arah bagian belakang kapal untuk mencari tempat sepi sambil menunggu Arman yang masih berbicara dengan beberapa rekannya.


Geep!


Ada yang menarik lenganku.


“Dani!” Aku memekik kaget.


“Oh, syukurlah kamu masih ingat. Lalu kenapa kamu seakan tidak mengenalku!? Aku pikir kamu berbeda, ternyata sama saja! Bahkan kamu lebih tega! Menghilang tanpa kabar tanpa memikirkan perasaan dan keadaanku!”


“Maaf.” Hanya itu yang mampu ku ucapkan.


“Maaf? Setelah meninggalkan ku dan menghilang tapi hanya satu kata itu yang kamu ucapkan! Apa mau mu, hah!?” Dani semakin membuatku terpojok sehingga aku sudah tidak dapat lagi untuk memundurkan langkahku.


“Aku sakit!” Sahutku dengan cepat karena Dani terus saja mendekat.


“Sakit? Sakit apa?”


“Aku juga nggak tau aku sakit apa, tapi sekarang aku udah baik-baik aja.”


“Kamu sakit, tapi kamu sendiri tidak tau kamu sakit apa? Bagus.” Dani tersenyum kecut menatapku.

__ADS_1


“Percaya atau tidak itu urusanmu Menyingkir dari hadapanku,” seraya mendorong pelan tubuh Dani yang berdiri di hadapanku.


“Urusan kita belum selesai, jadi jangan kemana-mana dulu.” Dani menahan lenganku.


“Tidak ada yang perlu di selesaikan, lagi pula kita sudah tidak ada masalah lagi. Ku akui aku memang salah karena menghilang tanpa kabar tapi aku sudah meminta maaf. Terserah kamu mau memaafkan aku atau tidak!”


“Tapi kita belum putus.”


“Apa!?” Aku berbalik menatap Dani. “Kamu membahas masalah kalau kita belum putus? Dengar, awalnya aku juga berpikir begitu. Aku ingin meminta maaf jika bertemu lagi denganmu dan menjelaskan semua yang aku hadapi. Aku masih berharap pada hubungan kita yang masih gantung, tapi itu sebelum aku melihat kamu bersama wanita lain. Jadi jangan pernah katakan kalau kita belum putus!”


“Anita! Jangan pergi lagi, aku mohon. Maafkan aku juga.”


“Aku sudah memaafkan mu. Tapi aku harus tetap pergi. Percuma kamu berikan hatimu untukku, tapi ragamu bebas bersentuhan dengan wanita lain. Aku jijik!”


Ya, awalnya aku memang masih berharap padanya. Bukan tanpa alasan aku menolak para pria yang coba di perkenalkan padaku. Bahkan aku rela di anggap buruk agar beberapa dari mereka menolak ku.


Apakah aku menolak untuk hidup bahagia?


Aku bisa saja menerima ajakan kawin lari dari Bang Fauzan tapi apakah ada jaminan kalau aku bisa bahagia?


Aku bisa saja merebut Kak Ardi kembali dan hidup bahagia tanpa memikirkan orang-orang yang akan tersakiti. Tapi tidak aku lakukan. Aku bisa saja merebut seorang suami tapi aku tidak akan merebut sosok Ayah dari seorang anak.


Aku bisa saja menikah dengan salah satu pria yang datang padaku tanpa harus menelitinya. Tapi aku ingin satu untuk selamanya.


Aku bisa menerima Dani kembali dan memulai lembaran baru. Tapi kembali lagi ke soal prinsip. Jika dia masih mencintaiku kenapa tidak berusaha mencariku kembali? Bukan malah mencari pelampiasan. Jika aku bisa menjaga diriku untuknya kenapa ia tidak bisa menjaga dirinya untukku?


Pada dasarnya aku hanya ingin laki-laki yang bisa menyayangiku dengan tulus. Mau menerima kekuranganku tanpa mengeluh. Mampu menjaga hati dan jaraknya dari wanita lain di saat aku tiada di sisinya.


Apa keinginanku terlalu berlebihan?


....


Saat ini aku ingin menikmati hidupku yang mungkin hanya tinggal sedikit. Karena kita tidak tau kapan malaikat maut akan menjemput. Jadi sebaiknya nikmati saja hidup ini.

__ADS_1


Aku tidak akan menolak jodoh yang akan Tuhan berikan, tapi kini aku sudah berhenti untuk berharap ke arah sana.


....


Cinta sangat lah sakti hingga mampu membuat siapa pun rela berkorban.


Cinta tidak lah berupa benda tapi sangat lah tajam hingga mampu melukai dan memberikan sakit yang teramat parah tanpa harus berdarah-darah.


Aku bukan lah wanita naif yg tidak membutuhkan cinta. Tapi saat ini aku perlu waktu untuk memahami diriku sendiri. Hingga kelak aku menemukan seseorang yang mampu memberiku alasan untuk kembali memulai segalanya.


Semoga semoga semoga ...


...END...


-


-


Terimakasih buat yang selalu dukung karya othor yang masih kalem ini 😄


Terimakasih banget banget banget deh pokoknya.


Maaf jika ada yang kecewa, dan bertanya² kenapa ceritanya kok sad ending?


_Karena memang udah sesuai dengan judul dari novel ini 😅


Kalau di buat happy ending maka akan keluar dari konsep dan nggak nyambung sama judul 😅😂


Mohon do'anya aja buat Anita semoga kelak bisa lanjut dengan judul lain dan bisa happy ending 😂😂 🤗


Jangan lupa mampir di novel baru aku yang berjudul "I Love You My Cupu" dengan cara klik profil aku dan temukan karya.


Terimakasih semua 😍🤗

__ADS_1


__ADS_2